
Christina yang merasa terancam dan takut kehilangan Devan kemudian menemui Sisil di kampus tempat mereka sama-sama belajar.
Christina mencari informasi tentang Sisil dari teman-teman Devan. Tapi anehnya, diantara semua teman-teman Devan tidak ada yang mengenal sosok Sisil yang dia ceritakan.
"Istri Devan?? Emangnya kapan Devan menikah? Bukannya dia adalah Kekasihmu?" tanya salah Seorang anggota geng motor yang merupakan anggota Devan.
Christina hanya bisa menyengir saat dia mendengar pertanyaan tersebut. "Kalian kan tahu kalau pernikahan kami tidak direstui oleh kedua orang tua Devan yang seorang Kyai. Karena agama kamu berbeda." Christina menundukkan kepalanya merasa sedih karena sangat sulit sekali cinta mereka untuk dipersatukan tanpa salah satu di antara keduanya yang mengalah.
Sementara Devan maupun dirinya tidak mungkin untuk melakukan hal itu. Dia tidak mungkin pindah agama demi Devan. Kedua orang tuanya bisa murka kalau sampai dia nekat melakukan itu. Begitu pula dengan Devan, yang merupakan seorang Gus dari seorang Kyai yang sangat terkenal di daerah mereka.
"Baiklah aku akan menghubungi Devan saja kalau begitu," Christina kemudian bertanya kepada Devan tentang identitas istrinya yang sekarang.
"Apa aku boleh tahu nama istrimu dan dia kuliah di mana?" tanya Christina pada Devan yang terkejut mengetahui kekasihnya bertanya tentang istrinya.
Devan sebenarnya khawatir kalau sampai Christina melakukan sesuatu kepada Sisil. Padahal gadis itu tidak bersalah sama sekali dalam masalah mereka berdua. Semua yang terjadi kepada mereka berdua murni karena takdir yang telah mempertemukannya.
"Kamu mau apa sayang, bertanya soal istriku? Jangan buang waktu untuk menemui dia." Devan seperti merasa khawatir dengan pertemuan istri dan juga wanita yang dia cintai.
Christina merasa sangat cemburu mendengar Devan mengatakan kata istriku terhadap wanita lain. Christina misuh-misuh ga jelas."Jangan panggil dia istrimu karena hanya aku yang boleh memiliki status itu darimu!" Devan kesulitan menelan salivanya sendiri mendengar Christina yang marah.
Devan meminta kepada Christina untuk tidak menemui Sisil. Devan tidak mau kalau terjadi masalah di antara mereka bertiga.
Akan tetapi Christina berhasil meyakinkan Devan bahwa dia bertemu dengan Sisil hanya ingin berkenalan saja, tidak lebih.
__ADS_1
Devan pun kemudian mempercayai apapun yang dikatakan Christina padanya. "Baiklah kau boleh menemui Sisil. Tapi ingat, sayang! Kamu jangan berantem dengan dia. Karena dia mempunyai jarus taekwondo yang hebat. Aku takut kalau kau sampai babak belur gara-gara dia." Devan memberikan peringatan kepada Christina.
"Ya, tenang saja. Aku cuma mau ngobrol dan berkenalan saja. Sayang, percayalah. Aku tidak akan melakukan hal lainnya, hanya ngobrol dan tidak lebih dari itu. Aku janji!" Christina berusaha meyakinkan Devan.
Setelah mendapatkan izin dari Devan, Christina pun menutup panggilan telepon tersebut dan mulai mencari Sisil seperti data-data yang telah di berikan oleh Devan. Christina langsung meninggalkan kelasnya dan mencari Sisil di fakultas Kedokteran.
Christina mencari Sisil dengan berbekal foto yang dikirimkan oleh Devan di aplikasi hijaunya.
Dengan semangat yang membara Christina mencari Sisil dan langsung berhadapan dengan gadis itu yang baru saja keluar dari kelasnya karena dosen yang tidak hadir pada jam pelajarannya.
"Apa kita boleh bertemu dan berbincang sejak?" tanya Christina pada Sisil yang masih melongok dan tidak mengerti dengan maksud Christina.
Sisil memang belum mengetahui kalau Devan sudah memiliki seorang kekasih secantik Christina.
"Kamu jangan pernah berharap mendapatkan cinta Devan. Karena Devan hanya mencintaiku!" Kata-kata Christina sama sekali tidak berefek apapun kepada Sisil karena dia memang tidak mencintai Devan.
Sisil hanya tersenyum miring ketika mendengar apa yang dikatakan oleh Christina.
"Maksudmu apa mengatakan hal seperti itu!" tanya Sisil pada Christina yang memaksanya untuk bertemu dia di kantin kampus.
"Kamu jangan bermimpi untuk benar-benar menjadi istri Devan karena dia hanya mencintaiku!" entah kepercayaan diri dari mana sehingga Christina berani mengatakan itu di hadapan Sisil yang terlihat begitu cuek ketika dia memberikan peringatan itu kepada Sisil.
Sisil hanya menatap dari ujung rambut hingga ujung kaki kepada Christina. "Kamu siapa sehingga berani mengatakan hal seperti itu padaku?" tanya Sisil yang seperti menyepelekan Christina.
__ADS_1
"Aku adalah kekasih Devan yang sangat dia cintai!" Christina terlihat begitu bangga ketika mengatakan hal itu di depan Sisil.
"Ya ampun! Kau itu cuma kekasihnya kan, ya? Eh, nona! Aku ini istrinya, biasa aja tuh. Tidak bangga sama sekali seperti dirimu yang membanggakan diri menjadi kekasih dari pria yang sudah punya istri." ucapan Sisil benar-benar sangat tegas dan keras.
Christina benar-benar merasa tersinggung dengan sikap maupun respon yang ditunjukkan oleh Sisil yang tampak begitu biasa dalam menghadapi dirinya yang mengaku sebagai kekasih Devan.
Sementara itu Devan dia tampak terlihat panik setelah mendapatkan telepon dari sahabatnya bahwa Christina sedang berhadapan dengan Sisil.
"Aku tidak menyangka kalau Christina benar-benar akan menemui istriku!" Devan langsung masuk ke dalam mobilnya dan segera pergi ke Fakultas kedokteran untuk menemui Sisil dan Christin.
Begitu Devan sampai di tempat yang diberitahukan oleh sahabatnya. Devan cukup tercengang melihat dua wanita yang hadir dalam hidupnya tampak berhadapan satu sama lain.
"Keduanya sama-sama cantik. Satu kekasih yang aku cintai akan tetapi tidak direstui oleh kedua orang tua kami. Satu lagi istriku, yang direstui oleh kedua orang tuaku. Dia bahkan sangat disayangi oleh ayahku. Pria yang paling aku benci di dunia ini!" Devan terlihat geram ketika dia mengingat tentang ayahnya sendiri.
Devan terlihat memperhatikan kedua wanita yang saat ini sedang berbicara serius membicarakan tentang dirinya.
"Pokoknya kau tidak usah bermimpi untuk menjadi istri Devan yang sesungguhnya! Karena Dengan hanya mencintai aku!" Christina sudah tidak bisa mengontrol emosinya lagi karena Sisil yang sepertinya biasa saja menanggapi semua yang dia katakan pada Sisil, saingan cintanya
"Ku tenang saja! Aku tidak tertarik kok dengan kekasih yang kau cintai itu. Kalau bukan karena dipaksa oleh kedua orang tua kami, kami juga tidak akan menikah!" ucapan Sisil benar-benar sukses membuat Christina merasa kesal.
Sisil memastikan kepada Christina bahwa dirinya tidak akan pernah merebut Devan dari tangannya. Devan yang mendengarkan semua yang dikatakan Sisil hatinya merasa kesal karena dianggap tidak berharga oleh istrinya sendiri sehingga membuat Devan mulai memperhatikan Sisil dalam diam.
' Ya ampun lancang sekali dia mengatakan begitu! Aku akan lihat di masa yang akan datang, apakah dia benar-benar tidak akan pernah jatuh cinta padaku?" monolog Devan terlihat kesal setengah mati pada Sisil yang menurutnya terlalu sombong dan tidak menghargainya sebagai suaminya.
__ADS_1