
Sisil kemudian menceritakan semuanya pada Kyai Ibrahim. Tentang bagaimana kejamnya Christina yang sudah menculik dirinya lalu membuang dirinya ke lokalisasi.
"Sungguh wanita yang begitu keji! Abi akan menyuruh kepada Devan untuk menjauhi perempuan itu ketika dia sudah siuman nanti. Maafkan Abi, Sisil. Karena Abi selama ini hanya diam saja melihat penderitaan kamu. Tapi, kamu juga harus mulai membatasi pergaulanmu di luar sana bersama dengan laki-laki yang bukan mahram kamu. Kurangi pergaulan kamu dengan Andreas dan teman-teman laki-laki yang lain. Pikiran bagaimana perasaan Devan. Kamu merasa sakit hati melihat Devan bersama dengan Christina. Abi yakin, Devan juga pasti merasa sakit hati dan sedih juga seperti kamu, sewaktu melihat kebersamaan Devan dan Christina. Devan mengendarai motor secara ugal-ugalan pada waktu itu, hanya untuk mengejar kamu yang pergi meninggalkan dia. Sehingga akhirnya mengalami kecelakaan. Abi sudah melihat CCTV di tempat kejadian Devan kecelakaan." Sisil terus menunduk.
Sejujurnya Sisil memang merasa bersalah dengan kejadian itu. "Ya, Abi. Maafkan Sisil. Abi! Sisil janji akan berubah dan menjadi istri yang baik untuk Devan. Sisil janji, Abi!" Sisil menangis terisak.
"Alah! Emang dasar kamu aja istri yang gak ada akhlak! Udah punya suami juga, masih aja kau kegatelan dekat dengan Andreas. Devan pasti cemburu buta makanya dia mengejar kamu seperti orang gila!" tiba-tiba saja ibu tiri Sisil sudah berada di antara mereka dengan kata-kata pedas yang memojokkan Sisil.
Halimah dan Kyai Ibrahim saling menatap satu sama lain. Mereka terlihat tidak suka dengan perangai ibu tirinya Sisil yang tidak sopan begitu. Datang-datang langsung menjelekkan Sisil seperti seorang wanita tanpa akhlak yang baik.
"Benar, Sisil! Papa benar-benar sangat kecewa dengan kamu! Papa dengar kamu juga sampai saat ini masih suka dekat dengan Rehan ya? Kamu apa tidak tahu kalau Rehan itu sekarang adalah suami saudara tiri kamu?" tanya ayahnya Sisil yang ternyata mendukung pendapat istrinya.
Sisil begitu terkejut dengan kata-kata mereka berdua yang memojokkan dirinya.
Sukma terlihat begitu puas melihat Sisil yang tidak bisa berkata-kata karena serangan dari kedua orang tuanya.
Sisil melihat Sukma yang begitu bahagia melihat dirinya di perlakukan begitu oleh ayahnya sendiri.
"Sebenarnya aku ini anaknya papa atau bukan sih? Kenapa Papa seperti itu padaku, Pah?" tanya Sisil dengan air mata yang meleleh di pipinya. Umi Halimah bahkan sampe ga tega melihat penderitaan Sisil yang ditekan oleh keluarganya sendiri.
__ADS_1
"Kamu bukan anakku! Ngapain juga aku belain kamu? Sukma itu baru anak kandung aku. Makanya aku sayang dengan dia!" bagaikan di sambar petir di siang bolong rasanya saat Sisil mendengar pengakuan ayahnya sendiri.
Ya! Laki-laki yang selama ini dipikirkan oleh Sisil sebagai ayah kandungnya, ternyata bisa mengatakan hal yang mengerikan seperti itu.
Sisil dan semua orang yang ada di ruangan itu terlihat terkejut akan fakta yang baru mereka ketahui. Sama seperti Glane yang juga terkejut dengan hal itu.
Glane yang tidak sengaja lewat di ruang perawatan Sisil, dia tanpa sengaja berhenti di depan pintu dan mendengarkan semua yang dikatakan oleh Rahmat yang selama ini di kira sebagai ayah kandungnya Sisil.
"Kalau aku bukan anakmu, lalu siapa kedua orang tuaku?" tanya Sisil dengan suara bergetar dan kesedihan yang luar biasa.
Rahmat kemudian menceritakan semuanya dengan jujur kepada Sisil. Bagaimanapun juga Sisil berhak mengetahui tentang sejarah kelahirannya. Itulah yang menjadi pemikiran Rahmat saat ini.
Glane tidak kalah shock dengan semua itu. Kini terjawab sudah rasa penasaran di hatinya.
"Apakah mungkin Sisil adalah adikku? Karena wajahnya mirip sekali dengan almarhum Mama yang menghilang ketika dia sedang hamil besar." monolog Glane ketika dia mendengar semua cerita yang disampaikan oleh Rahmat pada semuanya.
Sisil sekarang mengerti kenapa ayahnya selama ini selalu menomor 2 kan dirinya ketimbang Sukma yang merupakan anak kandung dari Rahmat dan Amelia.
"Terima kasih karena Anda sudah merawat anak yatim-piatu ini dengan baik lebih dari 20 tahun lamanya. Maafkan aku kalau selama ini hanya menjadi beban untuk Anda dan istri Anda. Mulai sekarang, hubungan kita berakhir dan kita tidak memiliki hubungan apapun di masa yang akan datang." Setelah mengatakan hal itu Sisil kemudian pergi meninggalkan ruangan perawatan dirinya.
__ADS_1
Hati Sisil saat ini sedang kesal dan benci dengan nasibnya sendiri yang seakan sedang di permainkan.
Rehan tadi melihat semua yang terjadi di dalam ruangan itu. Rehan sangat marah sekali kepada Sukma yang sudah memfitnah Sisil sebagai seorang wanita penggoda. Padahal selama ini hubungan dirinya dan Sisil tidak lebih hanya sebagai sahabat yang saling mendukung satu sama lain. Sama seperti hubungan Sisil dan Andreas.
Rehan dan Andreas hanya bisa mengejar Sisil yang pergi dengan menggunakan taksi. "Sil, lebih baik ikut dengan kami saja. Sebaiknya kamu jangan pergi sendirian dalam keadaan seperti ini. Itu sangat berbahaya!" ucap Rehan sambil menarik tangan Sisil yang tadi hendak masuk ke dalam taksi.
Melihat kehadiran Rehan, membuat hati Sisil menjadi sedih. Sisil kembali mengingat fitnah yang dilontarkan oleh Sukma atas dirinya di hadapan mertuanya. Sisil benar-benar merasa sangat kecewa dan malu sekali.
"Sebaiknya Kak Rehan tidak usah mendekati Sisil lagi. Jangan sampai istrimu berfikir bahwa aku sedang berusaha untuk merebut Kak Rehan!" ucap Sisil sambil tersenyum kecut karena merasakan kesedihan yang luar biasa di dalam hatinya.
Hari ini adalah hari terberat bagi Sisil sepanjang hidupnya. Karena dia mengetahui siapa dirinya yang sesungguhnya.
"Kamu jangan kayak gitu, Sil! Bagi Kak Rehan, kamu udah kayak adikku. Kak Rehan sayang sama kamu dengan tulus. Percaya sama Kakak, Sil!" Rehan berusaha meyakinkan Sisil yang saat ini sedang menangis dan juga marah kepada semuanya.
"Udahlah, Kak Rehan! Pergilah! Kakak tidak usah mempedulikan aku yang merupakan anak tanpa identitas yang jelas. Entah siapa orang tuaku." Sisil terlihat begitu sedih memikirkan tentang hidupnya yang seketika menjadi anak yatim-piatu, sejak pengakuan yang dikatakan oleh Rahmat yang begitu tiba-tiba baginya.
Glane yang tadi terus mengikuti Sisil sekarang mulai mendekatinya.
"Tampaknya aku tahu siapa kedua orang tuamu!" ucapan Glane sontak membuat Sisil kaget dan langsung mendekati Glane.
__ADS_1