Anak Nakal Pak Kyai

Anak Nakal Pak Kyai
Bab 35


__ADS_3

"Glane? Kenapa kamu ada di sini?" tanya Sisil pada Glane yang saat ini sedang menatap Sisil dengan penuh perasaan.


Sisil sendiri bingung dengan tatapan Glane kalian terhadap dirinya. "Aku tahu siapa kedua orang tua kamu," Glane mengulang kembali apa yang dia katakan kepada Sisil tadi.


Sisil dan Andreas saling menatap satu sama lain. Mereka kenal dengan Glane. Saat acara pembebasan Sisil dari lokalisasi milik Christina yang jahat sekali.


"Kau tahu siapa kedua orang tua Sisil? Bagaimana bisa?" tanya Rehan terlihat begitu bingung dengan pernyataan dari Glane.


Glane kemudian mengambil ponselnya dan memperlihatkan sebuah foto kepada Sisil.


Sisil terbelalak ketika melihat dirinya di dalam foto tersebut. "Dia adalah ibuku yang menghilang saat aku berusia 8 tahun. Saat itu dia sedang hamil besar. Ibuku menghilang tiba-tiba saja. Sampai saat ini kami masih belum mengetahui kabarnya. Entah sudah meninggal atau masih hidup." Glane terlihat begitu sedih ketika menceritakan tentang ibu kandungnya yang menghilang tanpa bekas.


Sisil terlihat begitu bingung mendengar keterangan yang disampaikan oleh Glane kepada dirinya tentang wanita yang mirip dirinya yang ada di ponsel milim Glane.


"Wajahmu sangat mirip dengan ibuku yang menghilang. Kalau melihat usia kamu sekarang, ada kemungkinan bahwa kamu adalah adikku yang waktu itu masih ada di dalam kandungan ibuku ketika dia menghilang." Sisil terlihat menggaruk tengkuk yang tidak gatal.


Sisil benar-benar sangat bingung dengan semua kejadian yang menimpa dirinya hari ini.


"Hanya karena wajah ibumu mirip denganku, hal itu tidak berarti bahwa kita bersaudara. Harus ada bukti konkret yang membuktikan semuanya adalah kenyataan, bukan hanya spekulasi semata. Pahamkan?" tanya Sisil yang terlihat cuek dan acuh.


Sikap tak perduli yang di tunjukkan Sisil hanyalah topeng semata. Akan tetapi saat ini hati Sisil sedang berdebar sangat kencang. Karena berharap bahwa yang dikatakan oleh Glane adalah sebuah kebenaran. Glene tenyum mendengar perkataan Sisil.

__ADS_1


''Saat ini kita berada di rumah sakit. Sisil, bagaimana kalau kita melakukan tes DNA?' tanya Glane sambil menatap penuh jerinduan kepada Sisil yang dia yakini sebagai adiknua.


Sisil menatap kepada Rehan dan Andreas, dia meminta pendapat dari kedua sahabatnya.


"Lakukan saja! Tidak apa-apa kok. Hanya untuk membuktikan sebuah keraguan. Siapa tahu kalau memang Loe bertemu dengan keluarga kandung Loe. Bukankah itu bagus sekali?" tanya Andreas memberikan dukungan kepada Sisil yang tentu saja menjadi bersemangat untuk melakukan tes DNA bersama Glane.


"Kita akan Tes DNA bertiga sama Papa kita. Biar kamu yakin apakah hasil tes itu vakid atau gak." Glane kemudian meminta kepada ayahnya untuk datang ke rumah sakit.


Handoko awalnya merasa keberatan untuk mengikuti keinginan putranya. Tetapi akhirnya dia pun menurut dan datang ke sana.


Handoko terkesiap ketika berhadapan dengan Sisil, "Arimbi? Kamu di sini, sayang?" hampir saja Handoko memeluk Sisil.


Sisil langsung mundur ketika Handoko tadi hendak memeluk dan menciumnya.


Sisil mengerutkan keningnyanya mendengar apa yang dikatakan oleh Handoko. Sisil merasa tidak nyaman dengan perkataan Handoko yang seperti sedang memfinah wanita yang menurut Glene mirip dengan dirinya. Wanita yang ada kemungkinan besar adalah ibu kandungnya.


"Pah, menurut dugaan Glene, dia adalah adikku yang di kandung oleh Mama ketika Mama menghilang dulu!" Handoko melirik kearah Glane.


Glane kemudian bertanya kepada Handoko, "Dari mana Papa mendapatkan kesimpulan kalau mama pergi bersama pacarnya?" tanya Glane sambil menatap sang ayah.


Handoko kemudian menceritakan semuanya kepada Glane. Cerita dan foto yang di tunjukkan oleh Rina setelah satu minggu kepergian istrinya.

__ADS_1


"Rina menunjukkan foto mesra ibu kamu dengan seorang pria. Dia terlihat begitu bahagia. Lihatlah!" Handoko kemudian menunjukkan foto yang dimaksud olehnya kepada semua orang yang ada di sana.


Sisil yang juga merasa penasaran akhirnya ikut mendekat kepada Handoko. Mata Sisil dan Handoko beradu. "Kau memang benar-benar mirip dengan Arimbi. Bagaikan pinang di belah dua." Terlihat Handoko yang menatap Sisil dengan penuh kerinduan. Sama seperti tatapan Glane ketika melihat Sisil untuk pertama kali sewaktu di lokalisasi.


Hati Sisil saat ini masih bingung dan belum bisa menerima kenyataan itu dengan mudah. Bagaimana mungkin dirinya tiba-tiba saja menjadi yatim piatu dan sekarang malah tiba-tiba bertemu dengan keluarga kandung yang 20 tahun tidak pernah dia temui.


"Kenapa pria itu seperti Papa Rahmat, ya?" tanya Sisil kepada dirinya sendiri ketika mengenali laki-laki yang sedang bersama dengan Arimbi.


"Rahmat? Jadi nama selingkuhan Arimbi adalah Rahmat? Sungguh lancang sekali dia membawa kabur istriku yang sedang hamil!" Handoko terlihat begitu murka ketika mengatakan hal itu.


Sisil seketika merasa lemas sekali kakinya. Mendengar cerita yang sepertinya saling bertaut satu dengan lainnya.


'Tapi menurut Papa Rahmat, dia dan istrinya menemukan ibuku yang tenggelam dan hampir mati. Mamaku meninggal ketika melahirkan aku." Ucap Sisil lirih dan di setujui oleh Glene karena dia juga tadi mendengar sendiri ketika Rahmat bercerita kepada Sisil.


Handoko terlihat begitu kesal karena apa yang dia tahu dengan apa yang di ceritakan oleh Sisil benar-benar berbeda.


"Kelihatannya aku mengalami nasib yang sama seperti ibu kandungku yang difitnah oleh pelakor yang ingin menyingkirkan Ibuku dari kehidupan kalian." Sisil Kemudian menceritakan tentang dirinya yang diculik kemudian dibuang ke lokalisasi oleh Christina dan di paksa untuk menjadi seorang pelacur.


"Sementara Christina memberikan foto disaat aku dengan Glane sedang bersama. Christina mengatakan bahwa aku telah kabur dengan kekasihku. Hal itulah yang membuat Devan akhirnya tidak pernah mencariku karena dia merasa cemburu dan merasa dikhianati. Kisah kami benar-benar sama," Entah kenapa Sisil seakan begitu kenal dekat dengan wanita bernama Arimbi yang memiliki nasib sama seperti dirinya.


Akan tetapi dirinya jauh lebih beruntung. Karena masih hidup hingga sekarang dan bisa lepas dari skema jahat yang telah diatur oleh Christina dengan begitu rapi.

__ADS_1


"Tidak mungkin Rina melakukan kejahatan seperti itu terhadap Arimbi yang merupakan sepupu dia. Kamu jangan ngarang dan memfitnah!" Handoko terlihat tidak terima ketika Sisil mengutarakan pendapatnya.


"Memangnya aku mengatakan kalau Rina melakukan itu? Oh.. maksud Anda, Anda berselingkuh dengan perempuan bernama Rina itu? Sungguh jahat sekali Anda ini! Berselingkuh saat istri Anda hamil besar. Sehingga akhirnya istri Anda harus bernasib malang karena dibuang dan di fitnah oleh selingkuhan Anda." Handoko melotot sempurna demi mendengar ketajaman mulut Sisil yang lebih tajam dari pada silet.


__ADS_2