
Begitu Rehan pulang, Christina terlihat memikirkan apa yang di katakan oleh Rehan padanya sebelum pulang tadi.
"Apa benar kalau yang kulakukan adalah sebuah kesalahan? Lalu, bagaimana caranya agar aku bisa mendapatkan Devan?" monolog Christina.
Christina terlihat begitu frustasi. Dia bahkan tidak mendengar ketika ibunya terus memanggilnya dari luar pintu kamarnya.
***
Sisil menasehati Devan agar bisa lebih mengendalikan nafsu dan keegoisan dirinya agar tidak merusak nama baik pondok pesantren kedua orang tuanya.
"Kau harus ingat! Walaupun kau ketua geng motor, kau tetaplah seorang Gus!! Anak seorang Kyai!" Devan memutar bola matanya dengan malas mendengarkan semua perkataan Sisil.
Devan masih diam mendengar semua kata-kata Sisil yang langsung mengena ke dalam hatinya.
"Bagaimana mungkin seorang anak Kyai berpacaran dengan seorang wanita non muslim yang selalu berpakaian seksi? Apa kau pernah memikirkan bagaimana perasaan kedua orang tuamu saat mengetahui hal itu?" tanya Sisil pada Devan.
"Minimal kau harus bisa menasehati pacarmu itu, agar menggunakan pakaian yang sopan dan tidak mengumbar aurat!! atau jangan-jangan memang itu adalah selera kamu, ya?" tanya Sisil sambil menatap tajam kepada Devan yang langsung melotot.
Devan merasa tertampar dengan semua kata-kata pedas yang dikatakan oleh Sisil kepadanya.
" Jadi kau juga harus ingat kalau kau adalah menantu seorang Kyai! Jaga pergaulanmu di luar sana jangan terlalu dekat dengan laki-laki lain! Ingat!! Kau itu sudah mempunyai seorang suami!" Sisil cukup terkejut mendengar apa yang dikatakan Devan tadi.
"Maksud kamu?" tanya Sisil merasa bingung.
"Pikir aja sendiri! Kau punya otak kan?" tanya Devan yang akhirnya meninggalkan Sisil yang masih bengong dan bingung dengan maksud perkataan Devan. Devan sendiri kemudian masuk ke kamar mandi dan mulai termenung memikirkan kembali semua yang terjadi antara dirinya dan Sisil seharian.
__ADS_1
Devan merasa bahwa hubungannya bersama Sisil semakin menjauh setiap harinya.
"Apakah ada yang salah dengan hubungan kami berdua?" tanya Devan sambil terus melihat bayangan dirinya sendiri di cermin.
Devan terus merenung sampai tidak mendengarkan suara Sisil yang sejak tadi tidak sabar ingin ke kamar mandi. "Eh, kau sedang apa?? Kenapa lama sekali?" Sisil kesal bukan kepalang karena Devan sudah dua jam lebih di kamar mandi.
Devan akhirnya tersadar dan bergegas menyelesaikan ritual mandinya. "Kau ngapain aja sib di sana? Aneh banget!" Sisil terus menggerutu kepada Devan yang hanya melirik sekilas padanya.
Karena tidak hati-hati, tiba-tiba saja Sisil malah terpeleset di depan kamar mandi dan tanpa sengaja dia malah menarik handuk yang digunakan oleh Devan. Devan dan Sisil auto berteriak karena kaget luar biasa. Sisil walaupun sudah hampir sebulan lebih tinggal bersama dengan Devan, tapi baru kali itu dia mengalami kejadian seperti itu.
"Ih, kamu apa-apan sih? Main tarik-tarik handuk aku segala! Jangan bilang sama aku kalau kamu mau memperko$a aku ya!" Devan melotot pada Sisil yang masih bengong di tempat.
Untung saja Devan masih menggunakan CD milik nya, sehingga Sisil tidak terlalu shock gara-gara kejadian itu.
"Ya ampun! Kau hampir saja membunuhku!" Pipi Sisil bahkan sampai memerah karena menahan rasa malu karena kejadian itu.
Ketika Sisil hendak masuk ke dalam kamar mandi, dia sengaja menginjak kaki Devan hingga pemuda itu meringis kesakitan.
"Kau!! Sungguh bar-bar sekali kelakuan kamu!" Devan terlihat begitu menderita akibat perbuatan Sisil tadi.
"Bodo amat!" Sisil memeletkan lidahnya sambil masuk ke dalam kamar mandi.
Jarak rumah Devan dengan kedua orang tuanya tidak terlalu jauh jadi mereka masih bisa diawasi oleh keduanya. Masih dalam lingkungan pondok pesantren milik ayahnya Devan, Kyai Ibrahim.
Bagaimanapun juga Devan adalah seorang anak Kyai Dan suatu saat akan mewarisi pondok pesantren milik ayahnya.
__ADS_1
"Mereka berdua setiap hari ribut terus! Kalau seperti itu terus, kapan kita bisa punya cucu?" tanya Kyai Ibrahim pada istrinya yang saat ini sedang tersenyum ke arahnya.
Halimah tersenyum pada Kyai Ibrahim yang masih terus menatap rumah yang ditempati oleh Devan dan Sisil. "Lebih baik mereka tinggal bersama kita saja, supaya kita bisa menegur mereka agar bisa hidup akur sebagai pasangan!" ucap Kyai Ibrahim pada istrinya yang sejak tadi tersenyum saja.
Halimah yang mengetahui kalau Devan selama ini tidak pernah menerima kehadirannya sebagai ibu sambungnya, dia merasa sangsi dan ragu, apakah Devan mau untuk tinggal bersama mereka?
"Yang Umi khawatirkan, Devan malah nanti meninggalkan pondok pesantren dan memilih untuk hidup di luar sana bersama istrinya. Kalau kita memaksa mereka untuk tinggal di sini." Halimah terlihat begitu sedih kalau sudah berbicara tentang Devan yang tidak pernah mau menerimanya hingga sekarang.
Padahal dirinya sudah menjadi istri dari Kyai Ibrahim bertahun-tahun lamanya. Tapi Devan masih bersikap dingin dan acuh terhadapnya.
"Sabarlah! Abi sangat yakin, suatu saat Devan pasti bisa menerima kehadiranmu dan menganggapmu sebagai ibunya!" Kyai Ibrahim mencoba untuk menghibur istrinya agar tidak sedih lagi.
"Jangan pernah bermimpi aku akan menerimamu sebagai ibuku!" Tiba-tiba saja Devan sudah berada di antara mereka dengan Sisil yang mengikutinya di belakang Devan.
Devan yang tadinya mau meminta izin kepada ayahnya untuk pergi keluar dengan alasan ingin mencari makan malam bersama Sisil. Padahal mau pergi balapan liar. Mereka mau melanjutkan acara balapan liar yang kemarin gagal gara-gara Sisil yang pulang bersama Rehan.
"Jaga mulutmu Devan!" Kyai Ibrahim terlihat murka kepada putranya yang selalu saja bermulut pedas kepada istrinya.
Halimah menyentuh telapak tangan suaminya dan menggelengkan kepala padanya. Halimah paling tidak senang kalau melihat Devan dan suaminya bertengkar apalagi dengan alasan gara-gara dirinya.
"Tidak usah sok menjadi malaikat yang berhati baik! Karena aku tahu siapa kamu sesungguhnya!" Devan langsung pergi meninggalkan pondok pesantren dan meninggalkan Sisil yang masih membeku di tempat.
Sisil benar-benar kehabisan akal ketika melihat Devan yang selalu saja mengamuk kalau berhadapan dengan ibu tirinya.
"Aku akan mengejar suamiku!" Sisil kemudian mencium telapak tangan kedua mertuanya dan langsung berlari menuju ke arah Devan yang sedang mengeluarkan motor besarnya.
__ADS_1
Sisil berniat untuk ikut dengan Devan karena dia akan mengambil motornya sendiri yang masih ada di bengkel. Sisil biasanya menitipkan motor kesayangannya dirumah temannya.