
Sisil dan Devan yang saat ini sedang pingsan, setelah jatuh ke jurang dengan motor mereka yang terlihat hancur berkeping-keping jadi jauh dari lokasi mereka saat ini.
Untung saja di dasar jurang itu merupakan rumput tebal bukannya batu tajam yang mengerikan. Devan terlihat membuka kelopak matanya yang terasa begitu berat.
Sekujur tubuhnya terasa sakit semuanya. Devan mengedarkan padangan matanya, Devan pun duduk. Devan terus berusaha mengingat apa yang terjadi terhadap dirinya.
Devan memukul kepalanya pelan yang terasa begitu sakit. Devan menolehkan pandangannya ke samping, ketika mendengar suara Sisil yang mengaduh karena kesakitan.
"Aw, ya ampun! Apa yang terjadi kepadaku? Aish! Kenapa sekujur tubuhku rasanya sakit semua?" hati Devan mencelos seketika. Saat melihat Sisil yang terlihat begitu menderita dengan luka-luka di sekujur tubuhnya. Darah bahkan menetes dari dahi Sisil.
Devan kemudian bangkit dan mendekati Sisil dengan susah payah. Sisil terkejut ketika mendapatkan Devan mendekatkannya dengan tatapan khawatir.
"Kamu baik-baik saja?" tanya Devan ketika dia sudah berada di samping Sisil yang masih sampai saat ini belum menyadari tentang kondisinya.
Sisil menyadari ada yang salah dari tatapan Devan kepada dirinya. Tatapan yang tidak biasa dan itu membuat hati Sisil menjadi berdebar sangat kencang sekali.
Hati Sisil memcelos ketika dia ingat soal Devan yang jauh lebih mencintai Christina daripada dirinya.
Sisil menepis tangan Devan ketika pemuda itu hendak menolongnya untuk bangun. "Lepaskan aku! Kau jangan macam-macam sama aku!" Sisil terlihat kesal dan jengkel kepada Devan.
'Bagaimana mungkin dia bisa memperlakukan aku seperti itu? Sementara hatinya milik Christina bukan tertuju kepadaku!' rintih hari Sisil merasa sangat sedih dan juga cemburu dengan kenyataan itu.
__ADS_1
Hati Devan merasakan pilu saat menerima penolakan dari Sisil saat dia hendak menolongnya.
"Kita terjatuh ke jurang. Sekarang kita harus mencari cara untuk bisa keluar dari tempat ini." Sisil menatap Devan dengan Jengah.
"Kalau bukan karena kamu yang berstatus sebagai ketua geng motor, tidak mungkin ada seseorang yang ingin membunuh kita. Pasti musuh kamu yang sudah merusak motormu, sehingga remnya tidak berfungsi. Jadi kita berakhir disini." Devan terkesiap mendengar apa yang dikatakan oleh Sisil.
Devan seketika mengingat-ingat berbagai kejadian yang membahayakan dirinya. Sampai saat polisi yang tiba-tiba datang di arena balapan liar yang akhirnya mengantarkan dirinya ke kamar Sisil dan berakhir dengan pernikahan mereka.
"Sepertinya kau benar. Kalau ada seseorang yang ingin mencelakai ku. Kejadian saat aku jatuh dan bertemu denganmu, itu pun sepertinya karena dijebak oleh seseorang yang sudah melapor polisi pada saat acara balapan liar itu. Aku akan segera menyelidiki semua ini begitu kita keluar dari tempat ini. Ayo, aku akan membantumu untuk berjalan." Devan melihat kaki Sisil yang berdarah dan kesulitan berjalan. Sisil tidak banyak protes lagi.
Karena dirinya saat ini memang benar-benar sedang membutuhkan bantuan dari Devan. "Sebentar lagi gelap. Kita harus mencari tempat untuk beristirahat dulu. Dan mencari pertolongan. Aku takut kalau sampai ada hewan buas di sekitar sini." Devan mengangguk setuju dengan apa yang dikatakan oleh Sisil yang terus meringis karena kakinya yang terkilir dan juga berdarah.
Mereka cukup beruntung, karena tidak sampai mati. Setelah mengalami kecelakaan seperti itu. Ya, Allah kelihatannya memberikan kesempatan untuk mereka masih bisa hidup.
Devan melirik ke arah motornya yang sudah hancur, dia sudah tidak memperdulikannya lagi. Saat ini fokusnya adalah mencari jalan keluar dari dasar Jurang dan mencari pertolongan.
Karena bagaimanapun juga motor itu sudah tidak bisa diselamatkan lagi karena sudah hancur berkeping-keping.
"Kasihan motormu. Pasti kamu merasa sedih karena harus kehilangan motor kesayanganmu. Nanti kau boleh menggunakan motorku, kalau mau melakukan balapan lagi. Aku tidak masalah kok, karena aku mempunyai beberapa koleksi dari hasil balapan ku." Devan menatap jengah kepada Sisil yang terkesan sedang meremehkannya.
"Apa kau lupa dengan statusku sebagai ketua geng motor? Mungkin koleksi motorku denganmu jauh lebih banyak milikku. Karena aku sudah ratusan kali memenangkan pertandingan dengan lawan-lawan ku. Sebagian ada yang aku jual untuk membangun bisnis yang sekarang aku miliki. Kau jangan khawatir denganku. Aku tidak akan kekurangan motor kok. Walaupun motor itu sudah tidak bisa diselamatkan lagi." Sisil tersenyum mendengar apa yang dikatakan oleh Devan tadi.
__ADS_1
Dirinya juga memiliki beberapa koleksi motor yang menjadi kesayangannya. Tetapi dia sembunyikan dari ayahnya. Karena pasti beliau akan sangat marah kalau mengetahui Putri kesayangannya memiliki hobi balapan liar di belakangnya.
Akan tetapi Sisil tidak pernah bergabung dengan geng motor manapun juga. Sisil selama ini selalu melakukan balapan liar sendiri tanpa naungan geng motor manapun. lawan-lawannya hanya mengenal Sisil sebagai Queen of Dark. Mengingat Sisil yang sangat hobi menggunakan pakaian hitam dan motornya pun selalu berwarna hitam.
Mereka pun terus berjalan menyusuri tempat itu dan berusaha untuk mencari bantuan. "Coba cek ponselmu. Apakah masih bisa digunakan?" tanya Devan yang terlihat sedang memeriksa ponselnya Setelah dia membantu Sisil untuk duduk di sebuah batu yang terlindung dari sengatan matahari.
Semalam suntuk mereka berada di sana dan berusaha untuk mencari jalan keluar. Tapi masih juga belum menemukan cara untuk bisa keluar dari tempat itu.
Sisil dan Devan terlihat putus asa melihat kondisi ponsel mereka yang sudah almarhum. Ponsel Sisil di temukan tidak terlalu jauh dari tempat dia jatuh dan sudah hancur berantakan tidak berbeda juga dengan ponsel milik Devan.
Mereka tampak begitu lemas karena merasa seperti sudah kehilangan harapan untuk mendapatkan bantuan dari seseorang. "Apakah kita akan mati di tempat ini? Aih, Aku belum punya anak bahkan masih belum buka segel perawanku, tetapi kenapa aku sudah harus mati disini? Apakah Papaku akan sedih setelah mendengar kematianku?" Devan menggelengkan kepalanya mendengar rengekan Sisil yang tidak dia juga sebelumnya.
Devan terlihat tersenyum dan mendekati Sisil, " Bagaimana kalau aku membantumu untuk mengubah segel keperawananmu jadi Kalaupun kita mati sekarang kau tidak akan penasaran dengan hal itu. Bagaimana?" Sisil terkesiap mendengar apa yang dikatakan Devan yang ambigu banget menurutnya.
Sisil langsung mundur-mundur melihat tatapan Devan yang terus mengarah kepadanya. "Jangan dekat padaku! Jangan macam-macam kau!" Sisil terlihat begitu cemas dan ketakutan melihat tatapan Devan kepada dirinya yang seakan hendak menerkamnya hidup-hidup.
Devan tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi Sisil yang sangat menghibur hatinya saat ini.
Pernah mengalami kesulitan bersama-sama sedikit demi sedikit perasaan keduanya mulai terbuka dan mulai bisa melihat bahwa ada perasaan cinta di hati keduanya yang ingin diperjuangkan oleh Devan.
Akan tetapi Sisil tidak percaya dengan Devan karena selama ini dia selalu melihat Devan yang selalu bermesraan dengan Christina seperti yang tidak ingin berpisah dengan wanita itu.
__ADS_1
Devan berjanji bahwa dia akan segera putus dengan Christina dan meminta kepada Sisil untuk menjalani pernikahan mereka secara normal dan melupakan masa lalu yang terjadi di antara mereka.