
"Ayo kita lakukan tes DNA bersama Glane dan Sisil. Kita buktikan! Apakah benar kalian itu anak-anak Papah. Sejujurnya sejak dulu Papah juga merasa ragu apakah kamu anak Papah atau bukan." cicit Handoko sambil menatap Glane yang tentu saja merasa tersinggung dengan ucapan ayahnya.
Rina pernah bercerita kepadanya, kalau Arimbi seorang wanita yang tidak baik. Arimbi sering gonta-ganti pasangan setiap kali Handoko melakukan perjalanan bisnis.
Wajar kalau Handoko ragu. Laki-laki itu sebenarnya pernah melakukan tes DNA atas Glane. Hasilnya memang Glen adalah putranya bersama Arimbi.
"Apa maksud Papa bilang kayak gitu, Pah? Bagaimana mungkin Papa merasa ragu dengan Glene juga?" tanya Glane sambil menatap tajam kepada Handoko yang berwajah begitu dingin dan keras.
"Cobalah bertanya pada dirimu sendiri! Apakah Kau layak disebut sebagai seorang anak?" tanya Handoko kepada Glane yang kemudian mendekati Sisil.
Handoko kemudian menyuruh asistennya untuk memanggil petugas rumah sakit. Dia sudah bertekad akan membereskan semua masalah itu hari ini, agar tidak menjadi beban pikiran di masa depan.
Sisil sejak tadi hanya menatap mereka berdua dengan heran. Karena interaksi antara Glane dan Handoko tidak seperti interaksi antara ayah dan anak.
"Baiklah! Ayo kita selesaikan semua masalah tentang hal ini hari ini juga. Aku juga sangat penasaran sekali. Apakah benar kalau aku adalah anak kandung Papa?" tanya Glane tidak kalah sengit seperti Handoko.
Handoko sebenarnya hanya sedang bermain-main saja dengan Glane. Karena dia sudah yakin kalau Glane adalah anaknya. Handoko sudah dua kali melakukan tes DNA atas putranya. Setelah Rina banyak bercerita tentang Arimbi. Handoko bukan pria bodoh yang bisa di setir oleh wanita seperti Rina.
Setelah petugas mengambil sampel mereka untuk dilakukan tes DNA, "Rahasiakan semua tes Ini dari siapapun. Agar tidak ada yang menginterupsi ataupun mengganggu hasilnya nanti. Kalian paham atau tidak?" tanya Handoko kepada mereka yang ada di sana.
__ADS_1
Rehan dan Andreas juga diminta berjanji oleh Handoko untuk merahasiakan semua itu. Apapun yang terjadi pada hari ini akan menjadi konsumsi mereka saja.
"Jangan khawatir Om! Kami pasti tidak akan membocorkan rahasia ini." janji Andreas dengan senyum tengilnya yang malah membuat Handoko sebal melihatnya.
Handoko mendekati Andreas. Dia menetap Andreas dari ujung rambut hingga ujung kaki.
"Apakah kau yang menjadi kekasih putriku? Ohh, aku melihat kamu di CCTV saat lokalisasi milik Christina di gerebek polisi." Andreas terkesiap mendengar ucapan Handoko.
Glane mendekati ayahnya. "Pah, Andreas itu sahabatnya Sisil. Oh ya Pah. Papah bukankah merasa ragu kalau aku adalah darah daging Papa?" Glane tersenyum pada Handoko, "Aku akan tinggal di kontrakan adikku, sampai hasil tes DNA keluar." ucap Glane yang kemudian mendekati Sisil.
Handoko langsung mengkeplak kepada Glane dengan keras, "Dasar anak kurang ajar! Apa kau berharap sekali untuk tidak menjadi darah dagingku, huh? Belum apa-apa kau sudah mau hengkang dari rumahku!'' Glane malah meringis mendengar ucapan ayahnya yang terdengar begitu keras.
"Ajaklah adikmu ke mansion kita yang ada di Bintaro. Jangan biarkan Rina mengetahui tentang Sisil. Papa takut kalau dia melakukan sesuatu yang jahat. Oh ya, perintahkan pasukan bayangan untuk melindungi adik kamu! Papa pergi dulu." ucap Handoko yang kemudian berpamitan kepada mereka semua.
Sisil sebenarnya merasa sangat heran. "Glane! Ada apa dengan laki-laki tadi, yang kemungkinan merupakan ayah kandungku itu? Kenapa dia begitu yakin bahwa diriku adalah anaknya? Padahal hasil tes DNA saja belum keluar, kan?" tanya Sisil pada Glane yang kemudian mendekati Sisil.
Rehan dan Andreas juga penasaran dan ingin mengetahui jawabannya. "Wajah kamu mirip banget dengan ibuku. Tentu saja Papa yakin kalau kau adalah anaknya. walaupun Papa terlihat keras di luar, tetapi dia seorang pria yang berhati lembut. Dia selama ini selalu membantuku dalam menyelesaikan kasus yang aku tangani. Dia bahkan tidak pernah merasa keberatan ketika aku meratakan bisnis haramnya. Hehe!" ucap Glane sambil meringis bahagia. Sisil merasa ada yang tidak beres dengan kakaknya itu. Aneh saja rasanya, ya kan?
Apa ada seorang anak yang begitu bahagia. Setelah menghancurkan bisnis ayahnya sendiri? Sisil mulai merasa khawatir dengan dirinya sendiri karena dirinya akan mulai berhubungan dengan orang-orang aneh itu.
__ADS_1
"Sudahlah, jangan dipikirkan! Sekarang ayo ikut aku ke mansion yang tadi dikatakan oleh papa. Kau akan aman di sana!" Sisil sebenarnya hendak menolak tetapi Glane sudah menarik tangannya dan membuat Sisil masuk ke dalam mobil nya.
Andreas terkesiap juga melihat hal itu." Sil, jangan lupa hubungi aku kapanpun juga! Kalau kau memiliki masalah. Ok?" tanya Andreas pada Sisil.
"Tidak perlu! Karena dia sudah memiliki guardian angel terbaik di atas dunia ini, yaitu diriku sendiri! Glane yang hebat dan keren karena memiliki 100 pengawal bayangan nomor satu yang telah Aku pilih dari orang-orang terbaik yang ada di negeri ini!" ucap Glane dengan begitu angkuhnya.
Andreas hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat hal itu. "Terang saja kau memiliki pengawal bayangan sebanyak itu! Karena profesi kamu yang selain sebagai seorang penegak hukum, kamu juga seorang penerus dari mafia nomor 1 di Indonesia. Wajar kalau kamu punya pengawal bayangan sebanyak itu. Pasti setiap detik banyak musuh yang menginginkan nyawa kamu!" cicit Andreas menyindir Glane yang tadi merendahkan dirinya.
Sisil kemudian berdiri di antara laki-laki tampan yang saat ini sedang ribut. Entah apa yang sedang mereka ributkan Sisil sendiri tidak tahu. Dan tidak mau tahu akan hal itu.
"Aku akan pulang ke kontrakanku sendiri. Kalian semua kembalilah ke habitat kalian masing-masing!" perintah Sisil dengan mata melotot sempurna.
Rehan yang kebetulan saat ini harus melakukan tugasnya sebagai seorang dokter, karena dia dapat tugas untuk shift malam, dia pun berpamitan kepada Sisil dan yang lainnya.
''Sil, Kak Rehan permisi dulu ya? Dari tadi tugas memanggil Kak Rehan untuk pergi ke ruang operasi. Nanti jangan lupa kabari kak Rehan, kalau terjadi apa-apa sama kamu. Ok?" tanya Rehan dengan tatapan serius.
Sisil mendekati Rehan dan menitipkan Devan, "Kak, aku mohon padamu untuk menjaga Devan. Apapun yang terjadi padanya, tolong kabari aku. Aku saat ini tidak bisa bersama dengan Devan. Karena ada hal yang harus aku urus segera." Ucap Sisil pada Rehan.
Rehan pun kemudian berpamitan kepada mereka, "Kalian hati-hati, titip Sisil!" pesan Rehan sebelum pergi ke ruang operasi.
__ADS_1