
Saat Sisil dan Rehan dalam perjalanan menuju ke lokasi balapan liar, tiba-tiba saja ponsel Rehan berdering terus menerus.
Rehan meminta kepada Sisil agar berhenti dulu. Karena dia harus menerima panggilan telepon tersebut karena khawatir kalau panggilan itu penting mengingat profesinya yang sebagai seorang dokter.
Sisil kemudian menepikan motornya sesuai dengan keinginan Rehan agar Rehan bisa menerima panggilan telepon tersebut. Rehan khawatir kalau itu adalah panggilan penting dari rumah sakit tentang adanya operasi mendadak yang harus dijalankan oleh Rehan pada saat itu juga.
"Sil, maafkan aku ya. Kelihatannya aku tidak bisa untuk ikut denganmu ke balapan liar. Ada panggilan mendadak dari rumah sakit kalau ada operasi yang darurat dan harus segera di lakukan." Sisil hanya menatap Rehan dengan kecewa. Bagaimana pun juga Sisil senang ketika melihat wajah Devan yang cemburu dengan kedekatannya bersama Rehan.
Sisil sadar kalau dirinya tidak bisa memaksakan kehendaknya untuk menahan Rehan di sampingnya. Bagaimanapun juga pasien Rehan membutuhkannya dan itu menyangkut nyawa seseorang yang harus diperjuangkan oleh seorang dokter seperti Rehan.
Sisil sebenarnya merasa kecewa dengan apa yang dilakukan oleh Rehan yang hendak meninggalkan dirinya begitu saja. Tetapi Sisil sadar bahwa dia tidak bisa berbuat banyak tentang hal itu.
"Ya, Kak! Tidak apa-apa. Kak Rehan pergi aja ke rumah sakit dan lakukan operasi itu. Kakak Jangan khawatir denganku. Aku baik-baik saja kok!" Sisil dengan lapang hati membiarkan Rehan untuk meninggalkannya dengan menggunakan sebuah taksi menuju ke rumah sakit.
Devan mengerutkan keningnya ketika melihat motor Sisil yang berhenti di jalan. "Apa yang mereka lakukan di pinggir jalan?" tanya Devan yang merasa tidak senang melihat Sisil terlihat begitu dekat dan sangat memperhatikan Rehan.
Christina merasa tidak senang ketika melihat Devan yang melambatkan laju kendaraannya ketika melihat Sisil berhenti di pinggir jalan.
Christina sengaja memeluk Devan dengan erat. Dia bahkan menempelkan wajahnya ke punggung Devan. Sisil hanya melirik sekilas apa yang di lakukan oleh Christina yang seperti sengaja melakukannya hal itu di hadapannya.
'Cih!! Dasar pasangan menyebalkan!' rutuk Sisil yang merasa tidak senang melihat mereka berdua yang suka sekali
__ADS_1
Sisil yang merasa muak melihat kelakuan Devan yang walaupun anak seorang Kyai tetapi tidak mempunyai akhlak yang baik dan tidak layak untuk dicontoh siapapun. Akhirnya memutuskan untuk mengantarkan Rehan saja ke rumah sakit.
"Ayo aku antar kau ke rumah sakit saja. Pasti pasien mu sekarang sudah menunggumu di sana." Sisil menyuruh Rehan untuk naik ke atas motornya.
"Lalu bagaimana dengan balapan liarmu bersama Devan?" tanya Rehan merasa bimbang menerima tawaran Sisil.
Tetapi ponsel Rehan kembali berdering. Sisil tersenyum kepada Rehan dan meminta kepadanya untuk segera naik karena sekarang pasien Rehan benar-benar sedang membutuhkannya untuk operasi darurat.
Rehan pun tersenyum kemudian dia mengikuti Sisil. Rehan mengucapkan terima kasih atas kebaikan Sisil yang mau mengantarnya ke rumah sakit.
"Terima kasih sudah menolongku. Kamu hati-hatilah saat balapan liar. Ingatlah kau tidak boleh ceroboh! Utamakan keselamatan. Teleponlah aku kalau ada apa-apa, ya?" Sisil kemudian tersenyum kepada Rehan yang langsung masuk ke dalam rumah sakit dan segera menangani operasi pasiennya yang sudah menunggunya sejak tadi.
Sementara itu Rehan terlihat misuh-misuh dan terus saja melihat ke arah jalanan karena sejak tadi Sisil tak kunjung datang ke tempat itu.
"Awas saja kamu, Sisil! Sudah punya suami, tapi kamu sebebas itu pergi bersama laki-laki lain. Aku akan minta kepada Abi untuk melarang dia untuk pergi keluar rumah. Aku tidak akan membiarkan dia pergi bersama dengan Rehan lagi!" Monolog Devan yang terlihat begitu gugup dan juga kesal.
Christina yang sejak tadi terus memperhatikan kelakuan Devan, terlihat kesal karena kekasihnya sejak tadi tidak memperdulikan dirinya sama sekali. Bahkan teman-teman geng motornya sejak tadi sudah memanggilnya untuk masuk ke arena balapan, sama sekali diacuhkan olehnya.
Christina kemudian langsung mendekati Devan dan menegur kekasihnya yang tidak bisa fokus ketika bersamanya.
"Kamu lagi mikirin apa sih sayang? Astaga! Hey!! Di sini ada aku ya! Dan kamu malah sibuk mikirin orang lain?" tanya Christina sambil berkaca pinggang di depan Devan.
__ADS_1
Devan kemudian mendekati Christina. "Orang lain yang kau bilang itu adalah istriku. Aku mempunyai kewajiban untuk memastikan dia baik-baik saja. Lihatlah! Sejak tadi dia tidak kunjung datang kemari. Apakah dia mengalami kecelakaan atau ada keadaan lain yang menundanya datang kemari?" tanya Devan yang terlihat begitu mengkhawatirkan keselamatan Sisil yang merupakan istri sahnya.
Christina benar-benar marah sekali mendengar apa yang dikatakan oleh Devan yang sejak tadi terus saja mengakui Sisil sebagai istrinya.
"Istri terus! Istri, terus! Apa kau pernah memikirkan perasaanku gimana? Ketika kau menyebut wanita itu sebagai istrimu?" tanya Christina kesal setengah mati pada Devan.
Kecemburuan benar-benar sudah menguasai diri Christina, sehingga dia tidak sadar dengan status dirinya dan juga lokasi saat ini dirinya sedang mengamuk.
Christina benar-benar sudah lepas kontrol. Dia marah kepada Devan yang seperti tidak memikirkan bagaimana saat ini dirinya, merasa sakit hati dan juga cemburu yang luar biasa kepada Devan yang sepertinya mulai menyukai Sisil.
"Pergi saja sana! Kamu cari istrimu yang tercinta itu dan tidak usah temuin aku lagi!" Christina terlihat begitu marah kepada Devan.
Devan yang merasa bersalah kepada Christina kemudian dia pun memeluk Gadis itu dan berusaha untuk menenangkannya.
Sisil yang kebetulan motornya mogok di tengah jalan. Sisil akhirnya memilih untuk menservis motornya dulu. Sementara dia pergi ke arena balapan dengan menggunakan taksi.
"Huh! Benar-benar seorang suami yang sangat merepotkan sekali. Entah apa maksudnya dia ketika mengundangku untuk datang ke acara konyol itu." Sisil kesal luar biasa karena dirinya sejak tadi sangat kesulitan untuk mendapatkan taksi yang menuju lokasi terjadinya balapan liar antara geng Scorpio dan Geng Motor Galaksa.
"Baiklah aku akan lihat apa sih yang diinginkan oleh bocah berandalan itu? Dia sampai memaksaku untuk datang kesana!" Sisil langsung naik ke dalam taksi yang dia pesan begitu taksi itu datang.
Akan tetapi ketika Sisil sampai di tempat itu dia melihat Devan dan Christina yang sedang berpelukan dan berciuman di tempat remang-remang yang jauh dari teman-teman lainnya.
__ADS_1
Sisil kemudian menelpon Rehan untuk menjemputnya. Karena dia sudah tidak tahan lagi untuk melihat Devan dan Christina yang sudah kelewatan menurutnya.