
Setelah berjuang yang amat keras, akhirnya Sisil dan Devan bisa kembali ke keluarga mereka.
Karena keadaan mereka yang cukup memprihatinkan. Mereka pun dirawat di rumah sakit selama beberapa hari untuk memulihkan kondisi kesehatan mereka pasca kecelakaan.
"Lihatlah! Apa yang kalian dapatkan dari balapan liar. Kalian hampir saja mati konyol. Devan!! Kalau kau suka sekali dengan balapan liar, kau lakukan sendirin Jangan kau mengajak-ngajak menantuku juga. Kalau sampai terjadi apa-apa dengan Sisil. Bagaimana Abi mempertanggungjawabkannya kepada kedua orang tuanya?" tanya Kyai Ibrahim kepada Devan.
Sejak Kyai Ibrahim datang ke ruangan mereka, dia terus saja memarahi Devan dan menasehati Sisil bentuk tidak mau mengikuti keinginan Revan yang mengajaknya balapan liar.
"Jangan kau mau, kalau nanti Devan mengajakmu lagi balapan liar. Kau dengar itu, Sisil?" tanya Kyai Ibrahim pada menantu kesayangannya.
Sisil hanya bisa mengangguk dan merasa tidak enak kepada Devan. Karena sejak tadi Devan yang terus dimarahi. Padahal mereka melakukan balapan liar karena memang Hobi mereka berdua.
"Sudah Abi! Jangan marah-marah terus. Kasihan anak-anak. Pasti jadi merasa tertekan karena di marahin terus. Sudah syukur alhamdulillah mereka bisa keluar dari tempat berbahaya itu." Halimah kemudian menyuruh suaminya untuk duduk di kuris yang ada depan ruangan Devan dan meninggalkan mereka berdua.
Kyai Ibrahim tidak protes. Karena dia mendengarkan apapun yang dikatakan istrinya. Devan mendengus kesal setelah kepergian mereka berdua dari kamarnya.
"Mereka yang memaksa kita untuk melakukan perawatan di rumah sakit. Tetapi mereka juga yang bikin kita stress sampai sulit untuk sembuh. Dasar menyebalkan!" cicit Devan saking kesalnya kepada ayahnya yang selalu marah kepadanya.
Hati Sisil mencelos setiap kali melihat pertengkaran antara Devan dan ayahnya. Dalam hati Sisil, ingin sekali memperbaiki hubungan mereka berdua agar bisa membaik layaknya ayah dan anak.
__ADS_1
Tetapi, tampaknya sangat sulit untuk membujuk Devan yang terlanjur membenci ayahnya.
"Sudahlah istirahatlah! Kau mau cepat sembuh atau tidak?" tanya Sisil pada Devan yang masih saja misuh-misuh dan marah pada Kyai Ibrahim.
Tidak lama kemudian terlihat Rehan dan beberapa orang suster lainnya yang datang ke sana. Sisil merasa senang melihat kedatangan Rehan.
Sejak pernikahan Rehan dengan Sukma, Sisil memang tidak pernah bertemu lagi dengan sahabatnya itu. "Bagaimana kabarnya Sisil? Kau baik-baik saja, kan? Aku benar-benar sangat khawatir sekali mendengar kabar berita dari rekanku yang mengatakan kalau kau mengalami kecelakaan dan di rawat disini." Rehan mengelus pucuk kepala Sisil dengan sayang.
Devan terlihat mengeram melihat adegan yang begitu lembut. "Jangan sembarangan menyentuh istri orang lain!" Devan berteriak dengan mata melotot ke arah Rehan.
Rehan hanya tersenyum simpul melihat kemarahan di wajah Devan yang selalu sukses membuat hatinya bahagia. Ya!! Rehan ingin sekali membantu mereka berdua untuk menyadari perasaan mereka masing-masing. Rehan tidak tega kalau harus melihat Sisil yang selalu menahan diri ketika melihat Devan bersama kekasihnya.
"Aku sudah terbiasa melakukan ini kepadanya. Dia sudah kuanggap sebagai adikku sendiri. Kenapa kau cemburu kah?? Padahal Sisil tidak pernah protes denganmu. Walaupun kau mencium kekasihmu di depan matanya." Devan mengerjakan matanya karena terkejut mendengar apa yang dikatakan oleh Rehan yang sama persis dengan ucapan Sisil saat mereka bertengkar soal yang sama.
Padahal ayahnya saat ini juga berada di rumah sakit. Kyai Ibrahim paling tidak menyukai kehadiran Kristina di sekitar anaknya. Devan bisa dikuliti habis-habisan oleh Kyai Ibrahim kalau di ketahui masih berhubungan dengan Christina.
"Sayang!! Kamu baik-baik saja, kan? Lihatlah apa yang sudah kau lakukan pada kekasihku! Dia selama ini kalau balapan liar selalu denganku dan selalu menjadi juara. Lihatkan?? Baru satu kali dia memboncengmu dan kalian sudah masuk ke jurang seperti ini. Untung saja kekasihku tidak mati. Kalau tidak, aku pasti akan memasukkanmu ke dalam penjara!" Christina melotot sempurna kepada Sisil yang saat ini sedang melihat interaksi mereka berdua yang seakan dunia hanya milik mereka saja.
Sisil hanya mendengar kesah mendengar semua perkataan Christina yang gak masuk akal. Rehan menggelengkan kepalanya ketika dia berniat untuk membalas apa yang dikatakan oleh Sisil.
__ADS_1
"Biarkan saja anjing menggonggong! Kau tidak ada dalam level untuk melayani dia berbicara. Ayo, aku akan menemanimu untuk jalan-jalan supaya kau bisa melatih kakimu." Rehan kemudian mengajak Sisil untuk pergi bersamanya. Sementara suster yang lain memeriksa Rehan yang masih ditahan oleh Christina untuk pergi menyusul Sisil dan Rehan.
Devan terlihat kesal melihat kelakuan Christina yang selalu bertingkah seperti istrinya. Padahal Devan sudah berkali-kali memutuskan dia, tetapi Christina tetap saja ngotot tidak mau putus dengan alasan penyakitnya. beberapa anak buah Devan terlihat hanya bisa menggelengkan kepala melihat nasib ketua mereka yang sekarang terjepit di antara dua wanita yang sangat mencintai dirinya.
Orang lain bisa melihat kalau Sisil juga mencintai Devan. Mungkin hanya Devan yang masih meragukan perasaan cintanya
"Kamu apaan sih Christina? Kau selalu saja nyambar seperti petasan. Kenapa kau selalu saja merusak hubunganku dengan Sisil?" tanya Devan dengan mata memerah karena amarah.
Christina melotot sempurna mendengar apa yang dikatakan oleh Devan. "Kenapa?" tanya Christina yang merasa sedih dengan perlakuan Devan yang sudah mulai berubah.
Devan yang dulu akan selalu melindungi dan juga menjaga perasaannya. Devan menatap tajam pada Christina."Kita putus! Tolong jangan temui aku lagi! Mengertilah aku Christina! Aku ingin rumah tanggaku dengan Sisil berjalan baik-baik saja!" Christina langsung berlari dan meninggalkan Devan.
Hatinya hancur dan marah mendengar semua perkataan Devan yang tidak ingin dia dengarkan.
Christina yang tidak terima diputuskan oleh Devan. Akhirnya dia menculik Sisil dan membuangnya ke luar kota dan dijual ke mucikari yang jahat.
"Pastikan kau hancurkan kehidupan perempuan itu! Aku tidak suka dia mempengaruhi kekasihku untuk meninggalkan aku!" perintah Christina pada anak buahnya yang kemaren dia perintahkan untuk mencelakai motor Devan yang dia kira akan di gunakan oleh Sisil dalam balapan liar.
Itu semua karena Badri yang mengatakan pada Christina bahwa Devan akan meminjamkan motornya kepada Sisil. Christina yang merasa cemburu langsung memerintahkan anak buahnya untuk mengotak-atik motor Devan supaya kecelakaan. Tapi Christina terkejut saat Devan juga ternyata ikut dengan motor itu bersama Sisil.
__ADS_1
Sisil harus berjuang mati-matian untuk bisa keluar dari tempat terkutuk itu.
Sementara itu Devan yang sudah dicuci otaknya oleh Christina berpikir bahwa Sisil melarikan diri bersama kekasih gelapnya dengan beberapa bukti foto yang sengaja dibuat oleh Christina dan mucikari yang bekerja sama dengan Christina untuk memisahkan Devan dan Sisil.