Anak Nakal Pak Kyai

Anak Nakal Pak Kyai
Bab 40


__ADS_3

"Mereka sedang membantu supaya roh Elo mudah untuk masuk ke dalam tubuh Elo. Sekarang coba buat masuk ke dalam tubuh Elo. Apa masih susah atau gak?" tanya Surya sambil tersenyum kepada Devan yang langsung melirik kepadanya.


Devan merasa lega mendengar ucapan Surya yang itu artinya dirinya belum meninggal. "Ada yang ngerjain Elo pakai ilmu hitam. Makanya roh Elo kesulitan buat masuk ke dalam tubuh Elo. Oleh karena itu Kyai Ibrahim membawa para santri utamanya untuk menolong roh Elo supaya lebih mudah untuk masuk lagi ke wadag Elo lagi." Devan mengangguk tanda bahwa dia mengerti dengan penjelasan dari Surya.


Walaupun dalam hati Devan dia merasa heran dan penasaran. Siapakah gerangan orang jahat yang begitu tega mengirimkan ilmu hitam kepada dirinya sehingga rohnya terpisah dengan tubuhnya.


"Lihatlah ayah dan ibu tiri Elo yang selama ini Elo benci setengah mati. Mereka yang tanpa lelah terus berjuang dan berusaha untuk mengembalikan roh Elo supaya bisa kembali ke tubuh Elo dan bisa kembali sadar. Van! Please!! Bukalah pintu hati Elo dan belajarlah untuk menyayangi mereka berdua sebagai keluarga Elo. Van! Pikir pakai otak Elo, mau berapa lama Elo memusuhi mereka?" tanya Surya sambil terus menatap Devan yang saat ini sedang memperhatikan Kyai Ibrahim dan Halimah yang terlihat begitu khusyuk mengaji dan berdoa untuk keselamatan dirinya.


Banyak santri yang sudah selesai mengaji dan akhirnya menunggu di luar ruangan. Karena kelelahan dan malam memang yang kini sudah semakin larut. Devan terus memperhatikan wajah ayahnya yang begitu teduh dan begitu khusyuk dalam doanya.


"Kasihanilah ayah Elo, Van! Jangan sampai suatu saat nanti Elu menyesal atas semua sikap buruk Elo kepada beliau. Mungkin juga Allah sedang menegur Elo dan menunjukkan kepada Elo tentang kasih sayang ayah Elo yang luar biasa. Agar Elo sadar sebagai seorang anak tidak baik menyimpan dendam dan amarah kepada orang tua Elo seperti itu." Surya terus memberikan nasehat kepada Devan tanpa merasa lelah sama sekali.


Devan sampai meneteskan air matanya. Devan yang saat ini berdiri di hadapan ayahnya, yang tidak melihat keberadaan dirinya di sana. Devan merasa hatinya begitu hangat sekali. Devan juga melirik kepada Halimah yang wajahnya terlihat begitu lelah tetapi tidak juga berhenti untuk mengaji di samping ayahnya.


Mereka berdua adalah Hafizh dan Hafidzah, entah sudah berapa kali mereka mengirimkan Yasin dan Alfatihah untuk Devan. Hingga shubuh mereka berdua masih terdengar mengaji. Hati Devan benar-benar terharu sekali melihat semua itu. Suara merdu mereka sungguh menentramkan hati Devan. Air mata Devan menetes tanpa dia sadari.


Tanpa terasa tangan Devan terhulur dan menyentuh kepala sang ayah yang lama sekali tidak pernah dia tatap secara langsung. Lebih tepatnya sejak ibunya meninggal dan ayahnya itu menikah lagi dengan Halimah.


Sejak itu Devan seperti menutup dirinya dan menjauh dari Kyai Ibrahim dan tidak pernah mau memperlihatkan hubungan dirinya dengan mereka di mana pun juga. Devan benar-benar telah menjelma menjadi anak nakal yang tidak mengakui Ayah kandungnya sendiri kepada orang yang kenal dengannya.

__ADS_1


Sungguh miris memang. Tapi itu benar adanya. Devan terlihat menyesal dengan begitu banyak waktu yang telah dia lewati dalam kedurhakan kepada ayahnya.


"Ya Allah ampunilah diriku dan maafkanlah aku yang sudah begitu bersalah dan berdosa kepada ayahku dan juga ibu tiriku yang selama ini selalu aku dzalimi. Maafkan hamba ya Allah! Hamba iklas, ya Allah! Apabila usiaku cukup sampai di sini saja. Tapi, tolong berikan aku kesempatan untuk meminta maaf kepada mereka berdua! Aku mohon ya Allah!" Doa Devan dengan lirih dan penuh kesedihan.


Devan sadar bahwa dirinya telah melakukan begitu banyak kesalahan sepanjang hidupnya terhadap ayah dan ibu tirinya.


Devan ingat betapa sabarnya Kyai Ibrahim dan Halimah dalam menghadapi kenakalan dirinya selama ini. Hati Devan semakin perih ketika dia melakukan berbagai cara hanya untuk membuat ayahnya marah. Dia bahkan begitu jahat telah membuat Halimah keguguran berkali-kali sampai akhirnya di vonis mandul oleh dokter.


Devan menangis sejadi-jadinya saat itu juga. Air mata Devan menetes sampai jatuh ke tangannya yang sedang terbaring koma.


Entah kenapa, dari air mata itu seperti ada sebuah benang yang menarik roh Devan untuk memasuki tubuhnya kembali.


Devan kaget luar biasa. Surya tersenyum melihat apa yang terjadi kepada Devan secara langsung. "Syukurlah! Penyesalan yang mendalam yang Elo rasakan telah menjadi asbab diri Elo bisa kembali ke tubuh Elo lagi. Devan! Gue sangat berharap setelah ini hubungan Elo dengan ayah dan ibu tiri Elo akan semakin lebih baik!" monolog Surya.


Halimah yang kebetulan saja sudah selesai mengaji dan hendak mengambil air minum untuk membasahi tenggorokan yang terasa kering. Tanpa sengaja, Halimah melirik ke arah Devan. Halimah melihat mata Devan yang sedang menangis deras.


"Abi! Kemari dan lihatlah! Devan sedang menangis, Abi!" Halimah terlihat begitu bahagia dengan perkembangan Devan.


Kyai Ibrahim yang sejak tadi memejamkan matanya sambil terus menggulirkan tasbih di tangannya untuk menghitung berapa banyak surat yasin yang dia baca untuk Devan.

__ADS_1


"Ada apa, Umi?" Tanya Kyai Ibrahim yang kemudian mendekati Halimah.


"Lihatlah, Abi!" Halimah kini melihat mata Devan yang sedikit demi sedikit mulai terbuka.


Kyai Ibrahim dan Halimah benar-benar sangat bahagia melihat Devan yang akhirnya siuman.


"Alhamdulillah ya Allah!" Kyai Ibrahim bahkan sampai bersujud syukur atas karunia itu.


Devan menatap kedua orang yang selama ini selalu dia benci."Abi! Umi!" Suara Devan begitu pelan dan bergetar.


Kyai Ibrahim dan Halimah seakan berada dalam mimpi. Mereka tidak percaya mendengar Devan yang memanggil mereka Abi dan Umi. Padahal sudah bertahun-tahun Devan tidak pernah melakukannya.


Halimah bahkan sampai memeluk suaminya karena rasa haru yang luar biasa. Wanita paruh baya itu merasakan kebahagiaan karena melihat Devan yang sudah siuman dan akhirnya memanggil dia Umi untuk pertama kalinya.


Kyai Ibrahim memeluk Devan dengan erat. Hati pria tua itu amat bahagia. Sungguh! Bukan main kebahagiaan yang di rasakan oleh Kyai Ibrahim dan istrinya saat ini.


Kyai Ibrahim mencium Devan dengan penuh rasa syukur. Air matanya mengalir deras. Devan juga merasakan keharuan yang luar biasa yang sudah lama sekali tidak pernah dia rasakan terhadap ayahnya sendiri.


"Abi! Maafkan Devan selama ini sudah jahat sama Abi. Maafkan Devan, Abi!" Devan meneteskan air matanya suaranya bergetar karena penuh penyesalan di hatinya.

__ADS_1


Dokter yang menangani Devan sudah datang ke sana karena tadi beliau di panggil oleh Surya. Dokter terlihat senang dengan Devan yang sudah siuman.


"Semuanya Mohon tolong keluar dulu ya? Karena kami akan memeriksa kondisi pasien dulu." Perintah dokter kepada mereka semua.


__ADS_2