
Sisil dan Devan menatap satu sama lain ketika mendengar semua ocehan Andreas.
"Bagaimana bisa Loe berada di rumah seorang wanita yang sudah bersuami? Apa Loe tahu? Semalaman gue nggak bisa tidur karena memikirkan tentang kalian berdua yang berada di satu rumah." Andreas tertawa terbahak melihat ekspresi Devan yang terlihat tidak senang saat mengatakannya.
Hubungan mereka berdua tidak akur, itu sudah bukan rahasia umum lagi. Devan dan Andreas keduanya sama-sama memiliki status sebagai ketua geng motor yang selama ini selalu terkenal bermusuhan.
"Sil, Elu nggak mau bikinkan gue sarapan? Gue lapar banget tau nggak?" tanya Andreas dengan wajah memelas di hadapan Sisil.
Mendengar apa yang dikatakan oleh Andreas, Devan tidak terima mendengar hal itu. " Kenapa Elu minta-minta makan sama istri gue, huh? Gue aja suaminya nggak pernah minta makan sama dia." protes Devan dengan raut wajah yang tidak menyenangkan.
Andreas mendekati Devan dan langsung merangkul bahunya, persis seperti sahabat lama yang tak bertemu.
"Elu mengenal dia belum ada satu tahun. Sedangkan gue? Gue kenal dia sejak dia orok. Dia juga Queen Geng Motor Scorpio. Wajar kalau Queenku memberi makan king nya buka?" tanya Andreas dengan senyum tengil yang sukses membuat hati Devan kebat-kebit.
Devan langsung mentoyor kepala Andreas yang menurutnya telah terlalu lancang karena berani memberi perintah kepada istrinya. Sementara dia saja sebagai suaminya tidak pernah memerintah apapun.
"Bikin makan sendiri sana! Jangan coba-coba kau memberi perintah pada istriku!" Devan benar-benar sedang menunjukkan kuasanya sebagai seorang suami di hadapan Andreas.
Melihat kelakuan mereka, Sisil hanya bisa menatap dengan pasrah. "Masih pagi, kalian berdua udah sukses bikin kepala gue mau meledak! Udah sana pada minggat!" Sisil langsung mengusir mereka berdua karena merasa terganggu dengan pertengkaran mereka yang tidak ada ujungnya.
Devan tentu tidak terima kalau dirinya di usir di kontrakan istrinya sendiri. 'Kamu apa-apaan sih, Sil? Bisa-bisanya aku mengusir suamimu?' tanya Devan kesal luar biasa.
Sisil hanya memutar bola matanya dengan malas mendapatkan protes dari Devan.
__ADS_1
"Aku bukan hanya mengusirmu! Aku juga mengusir Andreas. Kalian berdua sangat mengganggu!' cicit Sisil tanpa tedeng aling-aling.
Devan tetap kekeh tidak mau pergi dari kontrakan itu."Sisil, kontrakan ini Gue yang mencarikan dan juga membayarnya. Jadi gue rasa, gua berhak ada di tempat ini." Andreas dan Devan sama-sama keras kepala dan sama-sama tidak ingin pergi dari hadapan Sisil.
Melihat kedua pemuda tampan itu tidak mau beranjak dari sana. Akhirnya Sisil pun memutuskan untuk pergi meninggalkan kontrakan dan kedua pemuda itu.
Devan langsung menangkap tangan Sisil.
"Kamu tidak bisa pergi begitu saja dari hadapanku. Karena kita berdua harus bicara serius soal kepergian kamu dari rumah yang tanpa kabar berita." Andreas cukup terkejut mendengar apa yang dikatakan oleh Devan.
Andreas benar-benar tidak faham, Bagaimana mungkin Devan dan Sisil bisa menjadi pasangan suami istri dengan tingkah mereka yang seperti itu.
"Kalian berdua yakin kalau kalian itu suami istri? Kenapa aku tidak melihat bahwa kalian sebagai suami istri?" tanya Andreas.
Andreas yang terkejut mendengar perkataan mereka hanya bisa mengelua dada. "Astaga! Entah punya dosa apa diriku di masa lalu, sehingga kenal kalian berdua! Sisil, jangan lupa nanti malam datang ke markas besar kita. Karena kita harus melakukan evaluasi masalah misi kita yang terakhir." Sisil hanya menggguk saja.
Devan melirik kepada sisir yang kemudian mengantarkan Andreas untuk keluar dari rumah kontrakan yang sempit itu.
Andreas tidak mau menjadi obat nyamuk di antara mereka berdua. Andreas bisa merasakan ada hal serius di antara mereka berdua yang pasti tidak diketahui olehnya.
Sisil selama ini memang terkenal sebagai pribadi yang tertutup dan enggan untuk bercerita tentang kehidupan pribadinya pada siapapun juga.
"Jangan berantem di sini. Udah sana kalian berantem di kasur aja! Ingat, ya! Anak kalian nanti akan menjadi anak angkatku kalau wanita dan kelak jadi calon menantu Gue kalau seorang anak lelaki!" Devan melotot sempurna mendengar pesan yang dikatakan oleh Andreas pada mereka sebelum meninggalkan tempat itu.
__ADS_1
"Eh, kenapa begitu?" tanya Devan cengo dan mendadak bego.
Memikirkan bahwa dirinya akan memiliki anak dari sesil benar-benar sesuatu yang luar biasa bagi Devan. Membayangkan hal itu saja dia sudah bahagia sekali.
"Kami dulu mempunyai perjanjian sekarang Gue hanya mengingatkan saja pada Sisil!' ucapan Andreas hanya di tanggapi acuh oleh Sisil.
Entah kenapa, hati Sisil merasakan kepedihan luar biasa memikirkan rumah tangganya dengan Devan yang sejak dulu tidak pernah ada kemajuan apapun.
"Sudahlah jangan terlalu banyak bacot! Loe pergi sana! Gue dan dia, selamanya tidak akan mempunyai anak bersama. Karena kami akan bercerai secepatnya!" Devan terkejut luar biasa mendengar pernyataan Sisil yang tidak pernah dia pikirkan sama sekali.
Devan dan Andreas mendekati Gadis itu yang langsung melorot ke lantai. Sisil sangat lemas tubuhnya.
"Sebenarnya apa yang kau katakan itu Sisil? Aku selamanya gak akan pernah bercerai denganmu!" ucapan Devan malah membuat emosi Sisil naik tinggi.
"Punya hak apa kamu bilang begitu, huh? Di saat aku kesulitan dan hampir di jual ke pria hidung belang oleh kekasih tercintamu, apa yang kau lakukan, huh? Kau perduli dengan hidupku? Suami? Pikir pakai otakmu! Apa Kau layak berstatus sebagai suamiku?" tanya Sisil dengan mata memerah penuh amarah.
Devan terkesiap mendengar semua perkataan Sisil yang menohok hatinya. Devan tahu kalau selama ini dirinya terlalu disetir oleh Christina yang selalu berusaha memisahkan mereka berdua sebagai suami istri.
"Aku terus berusaha untuk mencari keberadaan kamu. Christina mengatakan bahwa kau pergi dengan kekasihmu. Dia bahkan menunjukkan foto-foto kemesraanmu bersama seorang laki-laki. Aku saat itu sangat marah sekali. Aku benar-benar tidak mampu berpikir jernih ketika melihat semua itu! Lihalah!" Devan kemudian menunjukkan foto-foto yang diberitahukan oleh Christina kepadanya ketika Sisil pergi beberapa bulan yang lalu.
Andreas yang mengambil ponsel Devan. Lalu meneliti semuanya dengan jelas. "****** emang pacar Loe yang penyakitan itu! Bisa-bisanya dia memfitnah sahabat gue! Anjirrrrr!" Andreas tidak bisa menutupi rasa kekesalan di hatinya.
Sisil melirik sekilas ke ponsel Devan. Andreas kemudian menunjukkan foto itu pada Sisil.
__ADS_1
"Loe kan sudah memilih untuk mempercayai pacar Loe! Jadi sebaiknya segera lepaskan gue sebagai istri Loe. Temani saja pacar Loe yang baik hati di penjara! Tinggalin Gue!' Sisil benar-benar terluka hatinya gegara tahu fakta itu dari Devan yang lebih percaya dengan fitnah keji dari Christina atas dirinya.