
"Bagaimana keadaan Devan?" tanya Sisil begitu dia sadar dari pingsannya.
Andreas kemudian mengambil air putih untuk Sisil, "Minum dulu, ya? Devan masih belum sadar dari koma. Dia masih di awasi dokter yang menangani dia. Kamu tenangin diri dulu di sini. Nanti kalau kamu sudah sehat, kita bisa menemui Devan di kamarnya." ucap Andreas pada Sisil.
Akan tetapi Sisil mulai histeris karena merasa bersalah dengan Devan, "Gue istri yang jahat, Dre! Devan pasti ngebut gara-gara mau kejar Gue! Makanya dia sampai tertabrak mobil." Sisil menangis begitu pilu.
Andreas tidak tega melihat air mata sahabat tersayangnya. Bagi Andreas, Sisil udah seperti saudara yang begitu dia sayangi sejak dulu. Apalagi Sisil yang selama ini selalu disakiti oleh keluarganya sendiri.
Andreas orang yang selalu berada di samping Sisil dan memberikan kekuatan kepadanya di saat terlemahnya. "Kamu harus kuat, Sil! Suami kamu masih koma. Kecelakaan itu sangat fatal. Untung saja Devan masih bisa diselamatkan. Pelaku juga sudah diamankan oleh pihak kepolisian. Kita masih harus bersyukur karena Devan selamat. Walaupun sekarang keadaannya masih belum sadar. Setidaknya masih ada harapan untuk sembuh. Kita doakan, ya?" Andreas kemudian memeluk Sisil dan berusaha menenangkan pikiran Sisil yang pasti sedang ruwet dan merasa bersalah kepada Devan.
Seketika Sisil mengingat kebersamaan mereka yang terakhir kali. Di mana Devan yang begitu sabar menghadapi dirinya yang terus saja marah soal Christina.
"Gue mau ketemu sama Devan, tolong Andreas! Bantu Gue buat ketemu sama Devan!" Sisil memohon kepada Andreas agar membantu dirinya.
Andreas akhirnya memutuskan untuk membantu Sisil, karena bagaimanapun juga Sisil dan Devan itu suami istri yang sah. Walaupun mereka belum pernah melakukan hubungan intim karena Devan yang memang saat itu masih mencintai Christina.
Sisil menangis begitu melihat Devan di balik jendela ruangan perawatan Devan. Kyai Ibrahim dan Halimah menyambut kedatangan Sisil. Halimah memeluk Sisil dan berusaha menenangkan hatinya agar tidak menangis terus.
"Sabar ya, Devan pasti akan sembuh. Kita harus banyak berdoa untuk kesembuhan dia." Halimah memeluk Sisil dengan lembut.
__ADS_1
Kyai Ibrahim sejak tadi hanya diam saja. Entah apa yang dipikirkan olehnya ketika dia melihat Sisil yang datang bersama Andreas.
Kyai Ibrahim sejujurnya sangat tidak suka dengan kedekatan Andreas dan Sisil yang telalu dekat seakan-akan tidak menghargai Devan sebagai suami.
Kyai Ibrahim tidak tahu soal Sisil yang juga merupakan anggota geng motor seperti Devan. Selama ini Kyai Ibrahim tidak pernah menunjukkan perasaan yang begitu khawatir dengan pernikahan Devan dan Sisil.
Kyai Ibrahim sebagai orang tua hanya bisa mendoakan dan mendukung apapun yang dilakukan oleh anak dan juga menantunya.
"Kamu pergi ke mana selama berbulan-bulan, tidak kelihatan di rumah bersama Devan?" tanya Kyai Ibrahim menatap Sisil dengan tidak suka.
Halimah memeluk suaminya. Dia berusaha untuk menjadi penengah antara Sisil dan Kyai Ibrahim.
"Devan mencarimu seperti orang gila selama berbulan-bulan. Tapi tidak ada kabar berita dari kamu. Sekarang tiba-tiba saja kau muncul di hadapan kami dengan air mata. Apa mau kamu?" tanya Kyai Ibrahim jengkel.
"Kyai Ibrahim! Sisil di culik oleh Christina dan di buang ke lokalisasi. Christina hampir saja menjadikan Sisil sebagai seorang pelacur! Untung saja ada orang baik yang membantu Sisil agar selamat dari sana!" Andreas berusaha menjelaskan kepada Kyai Ibrahim.
Kyai Ibrahim kenal Andreas sebagai kerabat dekat Halimah. Tapi dia tidak tahu kalau selama ini Sisil dan Andreas adalah sahabat dekat yang begitu kental.
"Abi, sudahlah jangan marah lagi. Kasihan! Sisil juga pasti sedih melihat keadaan Devan sekarang yang masih koma." ucap Halimah dengan lembut dan terus membujuk Kyai Ibrahim agar bisa tenang.
__ADS_1
Kyai Ibrahim kemudian memilih pergi dari sana menuju musholla yang ada di rumah sakit. Hati Kyai Ibrahim sebagai seorang ayah tentu saja merasa sakit melihat anaknya yang terlihat tidak pernah di urus oleh istrinya.
Kyai Ibrahim malah mendapatkan kabar bahwa Sisil akan meminta bercerai dari Devan. Kyai Ibrahim tentu saja merasa miris ketika mengetahui hal itu. Bagaimana mungkin pernikahan putranya yang baru seumur jagung harus berakhir begitu saja?
Kyai Ibrahim sepanjang malam terus saja menangis dan berdoa di mushola untuk rumah tangga putranya yang katanya sedang berada di ujung tanduk. Dan kesehatan Devan yang masih koma.
Halimah hanya bisa membiarkan suaminya melakukan apa yang dia inginkan. Sebagai orang tua Devan, Kyai Ibrahim pantas untuk bersedih karena melihat kehidupan rumah tangga anaknya yang seperti sebuah permainan saja. Padahal pernikahan adalah ikatan yang begitu sakral dan suci. Janji suci yang di lakukan di hadapan Allah. Kenapa menjadi tidak berharga ketika berada di tangan mereka berdua?
"Abi sudah jangan terlalu dipikirkan, ya? Umi takut kalau nanti Abi jadi sakit karena hal ini. Mereka seperti itu pasti karena memiliki alasan yang kuat. Kita sebagai orang tua lebih baik tidak usah ikut campur urusan mereka. Biarkan mereka menyelesaikan urusan rumah tangga mereka sendiri." Halimah terus berusaha membujuk suaminya.
Kyai Ibrahim memang mendengar laporan dari santri yang dia tugaskan untuk mengawasi Devan. Bahwa anaknya masih berhubungan dengan Christina.
Hati Kyai Ibrahim sungguh sedih sekali. "Abi, hanya merasa sebagai seorang ayah telah gagal mendidik anak untuk menjadi seorang suami yang bertanggung jawab. Abi malu Umi. Bagaimana bisa? Seorang Kyai seperti Abi, malahan gagal mendidik anak sendiri untuk menjadi suami yang baik bagi istrinya? Abi tahu perasaan Sisil. Dia pasti sangat sakit setelah mengetahui bahwa suaminya masih menjalin hubungan dengan mantan kekasihnya yang sejak dulu tidak pernah Abi restui untuk menjadi istrinya. Umi! Apakah kita biarkan saja kalau memang mereka ingin bercerai?" tanya Kyai Ibrahim pada Halimah.
Namun tiba-tiba saja Sisil masuk ke dalam sana dan bersujud kepada Kyai Ibrahim.
"Tidak Abi! Sisil mohon jangan mengatakan itu. Sisil emang pernah berniat ingin bercerai dari Devan. Tetapi tidak pernah benar-benar melakukannya. Semua itu hanyalah kata-kata emosi dariku. Maafkan Sisil, Abi!" pinta Sisil pada Kyai Ibrahim.
Sisil berusaha meminta maaf kepada Kyai Ibrahim yang saat ini benar-benar sedang sedih karena memikirkan nasib anaknya yang masih koma dan juga rumah tangganya yang terlihat begitu kacau.
__ADS_1
Kyai Ibrahim bisa merasakan kepedihan hati Sisil yang pasti sangat sakit karena melihat Devan yang tidak bisa melepaskan Christina sebagai kekasihnya.
"Yang Abi dengar katanya Christina sudah masuk penjara karena terbukti sebagai pemilik lokalisasi. Dan itu karena kamu, apa itu benar?" tanya Kyai Ibrahim pada Sisil.