Anak Nakal Pak Kyai

Anak Nakal Pak Kyai
Bab 15


__ADS_3

Christina sangat marah ketika Devan meminta putus kepadanya hanya karena permintaan dari Sisil dengan alasan sebagai hadiah dari pertaruhan mereka melakukan balapan liar pada malam itu.


Christina yang menolak putus dengan Devan. Dia akhirnya mengancam Devan bahwa dirinya akan bunuh diri kalau kekasihnya meninggalkannya.


Devan yang memiliki hati lembut. Walaupun seorang ketua geng motor. Akhirnya mengalah kepada Christina dan melanjutkan hubungan mereka, walaupun bertentangan dengan hati nuraninya sendiri.


Sisil benar-benar merasa kecewa dengan keputusan Devan yang ternyata kalah oleh Christina yang merajut dan mengancam.


"Baiklah terserah padamu, Devan! Kau lanjutkan saja hubunganmu dengan Christina. Aku tidak peduli lagi! Tapi ingat! Kau juga tidak boleh menghalangi apapun yang kulakukan di luar rumah kita!" Devan sampai kesulitan menelan salivanya sendiri mendengar apa yang dikatakan oleh Sisil yang begitu keras dan tegas.


Sisil langsung masuk ke dalam kamarnya sendiri dan meninggalkan Devan yang masih membeku di tempat. Devan benar-benar merasa sedang dilema.


Di satu sisi, dia ingin melaksanakan apa yang dia janjikan kepada Sisil. Akan tetapi dia pun tidak bisa untuk mengorbankan nyawa Christina yang hanya tinggal beberapa bulan lagi. Karena mengingat Christina yang saat ini sedang mengidap penyakit kanker stadium tiga.


"Sisil, aku mohon padamu!! Dengarkan aku dulu! Aku mempunyai penjelasan yang logis buat kamu untuk keputusanku ini!" Devan kemudian mengejar Sisil yang sudah menutup pintu kamarnya.


Di depan pintu kamar terlihat Devan yang duduk dengan lesu,"Kamu harus tahu Sil, bahwa Christina saat ini sedang berjuang untuk melawan mautnya. Setiap dua minggu sekali dia diharuskan untuk melakukan kemoterapi. Nyawanya saat ini hanya sedang menunggu waktu saja. Aku hanya ingin dapat memberikan kebahagiaan sebelum ajal menjemputnya!" terlihat Devan yang meneteskan air mata karena merasa sedih membayangkan Christina yang akan meninggalkan dirinya.


"Kita masih memiliki kehidupan yang panjang yang masih bisa kita lalui, tapi berbeda dengan Christina. Umurnya mungkin tidak akan lebih dari satu tahun lagi. Aku mohon! Tolong agar kamu tidak terlalu menjudge dia sebagai pribadi yang buruk!" Devan terus saja berbicara. Walaupun dia tidak tahu, apakah Sisil mendengarkan apa yang dia katakan atau tidak. Bagi Devan hal itu tidak penting sama sekali. Baginya, yang penting isi hatinya sudah bisa dikeluarkan dan dia merasa plong setelahnya.


Sementara itu Sisil yang berada di balik pintu, dia hanya bisa terdiam dan tidak menanggapi apapun yang dikatakan oleh Devan.

__ADS_1


Mereka pun kemudian terlelap di kamar mereka masing-masing. Karena mulai malam itu, mereka sudah berjanji untuk menjalani kehidupan mereka tanpa saling mengganggu.


Devan tidak bisa memaksakan kehendak Sisil yang ingin hal tersebut terjadi.


Bagaimanapun juga Sisil tidak mau kalau dirinya mengalami kerugian. Apabila suatu saat nanti Devan pergi meninggalkannya demi Christina yang katanya sedang berjuang melawan maut.


Sisil ingin mempersembahkan segala hal di dalam dirinya untuk suaminya yang mencintainya suatu saat nanti. Bukan untuk kekasih orang lain.


Keesokan harinya Sisil meminta kepada Rehan untuk menjemputnya. Karena dia mulai hari ini akan mulai menjalani pendidikan koasnya di rumah sakit milik keluarga Rehan.


Sisil tidak pernah menduga kalau ternyata dia masuk ke dalam tim yang akan merawat Christina ketika dia menjalani perawatan di rumah sakit.


Hal itu benar-benar sangat mengganggu Devan. Walaupun dia juga sibuk dengan mengurus Christina yang terus semakin menurun kondisinya karena penyakit yang dideritanya.


Padahal bagi Sisil sendiri dia hanya menganggap Rehan sebagai kakaknya. Karena Rehan lah yang selama ini selalu mendampinginya di saat tersulit hidupnya. Karena dirinya yang harus selalu menahan cemburu melihat suaminya yang selalu bermesraan dengan kekasihnya di depan matanya sendiri.


"Kondisi Christina semakin hari semakin menurun. Tolong kau jangan menyakiti hatimu sendiri dengan perasaan cemburu yang berlebihan kepada Devan. Sisil, hatimu terlalu baik. Tolong! Jangan kau nodai hatimu untuk memikirkan hal yang buruk tentang Christina yang akan menerima karmanya sendiri karena sudah mengganggu rumah tangga kalian. Percayalah padaku bahwa Tuhan tidak pernah tidur!" Rehan berusaha menasehati Sisil agar bisa tenang dan tegar dalam menghadapi cobaan rumah tangga yang sedang dihadapi bersama Devan.


"Jangan lupa untuk selalu mendoakan suamimu agar kembali ke jalan yang benar dan bisa melupakan cintanya kepada kekasihnya yang sejak dulu tidak pernah direstui oleh kedua orang tua mereka." memang sejak dulu hanya Rehan yang bisa menasehati Sisil dengan baik.


Bagi Sisil sendiri Rehan sudah lebih daripada sekedar kakak kandung yang tidak pernah dia miliki.

__ADS_1


Sisil memiliki saudara tiri tetapi mereka tidak dekat malah bisa dikatakan sebagai musuh bebuyutan karena perilaku mereka yang bertolak belakang.


Sisil malah lebih sering bertengkar dengan saudara tirinya yang selalu saja iri dan dengki dengan semua yang dia miliki khususnya perihal Rehan.


Menurut kabar dari ayahnya, beberapa hari lagi saudara tirinya yang suka jahat pada Sisil itu akan kembali dari tugasnya di luar negeri.


Bisa dipastikan kehidupan Sisil tidak akan lagi baik-baik saja. Setelah kedatangannya yang pasti akan selalu mencari gara-gara perihal Rehan.


"Kau tahu kan kalau saudara tiriku sebentar lagi pulang?" tanya Sisil pada Rehan.


Rehan langsung menghela nafas berat karena dia tidak suka ketika Sisil sudah berbicara tentang saudara tirinya yang tidak pernah merasa lelah untuk mengejarnya sejak dulu.


"Kau tidak usah khawatir kepadaku! Aku pasti bisa menghindari dia! Sekarang ini, kau khawatirkan saja pernikahanmu bersama Devan. Akan di bawa sampai ke mana pernikahan kalian?" Sisil hanya bisa menatap air laut yang saat ini sedang pasang.


Memang sudah menjadi kebiasaan Sisil dan Rehan ketika mereka merasa suntuk dengan pekerjaan sehari-hari, mereka pasti akan menepi ke pinggir pantai untuk sekedar mencari ketenangan.


Sementara itu Devan saat ini berada di rumahnya. Terlihat Dia terus mondar-mandir di dalam kamar dan terus melihat ke arah pintu di mana Sisil belum juga datang dari tugasnya sebagai seorang koas.


"Sebenarnya pergi ke mana gadis itu dengan Rehan? Kenapa sampai jam segini dia belum juga pulang? Padahal kata rekan-rekannya di rumah sakit, mereka sudah meninggalkan Rumah Sakit sejak tadi siang." Devan berusaha beberapa kali menghubungi Sisil tetapi tidak diangkat sama sekali.


"Kebiasaan sekali! Dia selalu mengacuhkan panggil aku. Apa dia tidak tahu kalau aku sangat khawatir dengannya?" Devan sudah seperti orang yang kebakaran jenggot. Padahal saat ini baru jam 07.00 malam. Belum terlalu larut untuk seseorang pulang dari aktivitas mereka di luar.

__ADS_1


__ADS_2