
"Bos! Ini beneran dirimu? Apa jangan-jangan kau adalah hantunya Bos Devan? Tapi, tidak mungkin bos Devan meninggal begitu cepat. Aku dengar kalau dia masih koma di rumah sakit. Karena dia mengalami pendarahan di otak. Bos! Apakah kau sudah meninggal? Kenapa kau bisa ada di sini?" tanya Ginting yang bukannya mendengarkan perkataan Devan dia malah sibuk dengan pertanyaannya sendiri. Benar-benar membuat Devan sangat frustasi di buatnya.
"Aku Devan! Rohku yang saat ini sedang masuk ke dalam alam mimpi kamu! Ginting!! Stop dengan semua kegilaan dan kebodohan kamu itu! Dengarkan aku bicara!" bentak Devan sangat keras karena mulai merasa kehilangan kesabarannya.
Ginting kemudian diam dan menatap Devan dengan serius. "Bantu aku cari Surya dan suruh dia datang ke markas kita. Aku ingin bicara dengan dia! Paham?" tanya Devan pada Ginting yang akhirnya mengangguk.
Setelah itu Devan keluar lagi dari tubuh Ginting. Ginting sontak terbangun dan melihat ke sekeliling.
"Aih, bodohnya kau Devan! Kenapa tidak bilang ke Ginting untuk merahasiakan semua ini dari yang lain? Bagaimana kalau pengkhianat itu juga tahu soal aku yang sedang mencari Surya?" Devan terlihat begitu frustasi atas kecerobohannya sendiri.
Devan lupa kalau Ginting adalah tipe laki-laki yang mulutnya ember. Begitu bangun Ginting langsung heboh dan lagi ceritakan perihal mimpinya bertemu Devan.
Terlihat laki-laki penghianat itu keluar dari ruangan rahasia bersama Rina. Mereka sudah seperti pemilik markas itu. Padahal markas besar Geng Motor Galaksa adalah milik Devan. Devan yang telah membangun markas itu dengan uangnya sendiri.
"Sedang apa kalian? Kenapa pada ribut begitu, huh? Bukannya berlatih yang serius!" pria itu kemudian pergi bersama Rina.
Devan mengelus dadanya karena merasa lega sekali. "Ah, untung saja bajingan itu tidak mendengar ucapan mereka yang sedang ribut soal aku!" Devan terlihat duduk lemas di sofa sambil terus memperhatikan kelakuan Ginting yang lebay abis dan tidak ada habisnya bercerita tentang dirinya.
"Hadeuh! Hidupku sudah susah begini malah tambah ribet oleh kelakuan Ginting bukannya memenuhi apa yang kukatakan dia malah sibuk bergosip dengan yang lain. Benar-benar cari mati saja! Awas saja! Nanti kalau aku sudah bangun dari koma, aku pasti akan kasih dia pelajaran!" Gemas sekali Devan memperhatikan kelakuan Ginting yang super absurd dan nambah kepala pusing untuk Devan.
Saat Devan dalam keadaan putus asa, terlihat Surya yang masuk ke dalam markas bersama seorang gadis yang merupakan anggota Geng Motor Galaksa juga.
__ADS_1
Bisa di katakan, gadis itu merupakan queen dari Geng Motor Galaksa. Kalau Sisil merupakan queen dari Geng Motor Scorpio.
Devan begitu bahagia melihat kedatangan Surya. Devan mendekati Surya. "Surya! Apa Elo bisa lihat Gue?" tanya Devan yang berdiri di hadapan Surya.
Surya terkejut sejenak tetapi kemudian dia pergi dari sana seolah-olah tidak melihat Devan. Devan mengurutkan keningnya karena heran dengan apa yang dilakukan oleh Surya yang seperti tidak bisa melihat dia.
"Aneh banget ih, kenapa Surya kagak bisa lihat Gue, ya? Apa Surya cuma bisa melihat hantu doang? Aiya!! Gue belum mati, jadi Surya kagak bisa lihat Gue?" pupus sudah harapan Devan untuk bisa berkomunikasi dengan orang lain.
Devan terlihat begitu lemas di pojokan. Seumur hidup Devan baru merasakan patah hati yang demikian besar.
"Musnah sudah!" Devan tepar seketika.
"Masuk ke dalam! Kita bicara di dalam saja!" Devan sangat terkejut ketika melihat Surya yang sudah berdiri di hadapannya sambil menatapnya dengan serius.
Surya menatap tajam kepada Devan,"Kenapa roh Elo ada di sini? Bukannya berada di dalam tubuhmu?" tanya Surya pada Devan.
"Gue juga tidak mengerti. Kenapa tubuh Gue sangat sulit untuk masuk ke dalam tubuh Gue sendiri. Aneh banget tahu ga sih? Surya! Mungkin lo bisa bantuin gue untuk bisa balik ke tubuh Gue sendiri!" Pinta Devan sambil menggenggam telapak tangan Surya.
Tapi Devan merasa sangat kecewa karena dia tidak bisa menggenggamnya sama sekali.
"Elo itu cuma Roh tanpa tubuh. Makanya gak bisa sentuh Gue atau pegang apapun juga. Kecuali Elo berhasil menguasai tubuh seorang manusia yang jiwanya hilang atau berkelana juga kayak Elo!" Devan terlihat antusias mendengar penjelasan dari Surya.
__ADS_1
Devan seperti sedang mendengarkan kuliah seorang dosen. Dia begitu serius mendengar semua penyiksaan Surya. Padahal dosen saja gak pernah dia dengar kalau sedang menjelaskan mata kuliah di kelasnya. Devan itu sama seperti Sisil. Selalu mengantuk kalau sudah masuk jam pelajaran.
Tapi anehnya mereka tidak pernah kesulitan saat ujian ataupun melakukan tugas kuliah mereka. Sungguh jenius bukan?
"Kenapa Elo datang kemari?" tanya Surya pada Devan yang sekarang duduk di depan Surya dengan raut wajh penuh kesedihan.
Devan kemudian menceritakan semua yang dialaminya dan juga penghianatan sahabat kepercayaan Devan yang kini sedang merencanakan pembunuhan seseorang dengan pasangan mesumnya.
"Kau temuilah ayahmu dan minta tolong kepadanya untuk bisa mengembalikan rohmu ke dalam tubuhmu. Beliau pasti bisa bantu Elo!" perintah Surya kepada Devan.
Tanpa berpikir panjang Devan langsung menjalankan kepalanya. "Kagak mau! Elo kan tahu sendiri, kalau gue tuh benci banget sama bokap Gue!" cicit Devan dengan kesal.
Surya mendengus kesal melihat kelakuan dasar yang selalu saja tidak mau berubah dan keras kepala.
"Bokap Elo itu Kyai, anjirrrrr!!! Elo durhaka banget sih ama Bapak sendiri? Ibu Elo udah meninggal lama sekali dia pasti sangat sedih kalau melihat kelakuanmu ini." Surya berusaha membuka hati dan agar mau berubah dan bisa memaafkan ayahnya sendiri.
"Ayo ikut Gue ke rumah sakit! Biar Elo lihat seperti apa orang-orang yang Elo benci sampai ke tulang rusuk itu!" Surya kemudian mengajak Devan untuk pergi ke rumah sakit tempat di mana tubuhnya saat ini sedang terbaring koma di sana.
Devan terkesiap ketika melihat begitu banyak santri yang ada di dalam ruangannya dan saat ini sedang sibuk mengaji membacakan Yasin dan Alfatihah untuk dirinya.
"Bro! Apakah gue sudah meninggal? Kenapa mereka semua bacain yasin buat Gue?" Devan terlihat begitu panik sambil menatap Surya yang kemudian mendekati Kyai Ibrahim dan Halimah yang sedang sibuk mengatur segala urusan tentang acara itu.
__ADS_1
Devan menatap tubuhnya di atas ranjang rumah sakit. Dia terlihat menetes air mata penuh kesedihan. "Ya Allah! Apakah benar gue sudah meninggal? Bagaimana bisa? Gue bahkan belum pernah malam pertama dengan Sisil. Astagfirullah! Devan! Elo mahluk bego banget!" Devan terus menatap nanar kepada tubuhnya sendiri yang begitu pucat dan tak berdaya.