Anak Yang Tidak Diakui

Anak Yang Tidak Diakui
Part 1


__ADS_3

"Halo, bisa saya bicara dengan Dewi."


"Iya, saya dengan Dewi. Maaf ini dengan siapa ya? Karena nomernya tidak ada di kontak handphone saya."


"Kamu Dewi Puri kan? Teman SMA ku."


"Maaf, salah sambung, aku bukan Dewi Puri teman kamu."


"Oh iya maaf kalau begitu. Maaf sudah mengganggu."


"Ok."


Dewi, gadis dengan postur tubuh tinggi besar dan potongan rambut pendek. Dari dulu sekolah Dewi tidak pernah berambut panjang. Postur tubuhnya yang tinggi besar membuat orang mengira dia laki-laki jika dilihat dari belakang. Orang yang melihat dari depan akan semakin bingung karena jika memakai lipstik Dewi terlihat cantik dan ayu. Tetapi jika tidak memakai lipstik Dewi terlihat tampan.


Dewi, yang dari kecil memang tidak diperbolehkan menjadi anak perempuan karena ayahnya menginginkan seorang anak laki-laki. Kedua kakak Dewi adalah perempuan dan mereka selalu dibelikan boneka dan baju-baju perempuan tetapi tidak dengan Dewi.


Ayahnya suka membelikan kaos dan celana pendek untuk Dewi. Semua permainan anak laki-laki diperkenalkan oleh ayahnya. Main gundu, main layangan, main bola.


Dewi tidak pernah boleh bermain boneka oleh ayahnya. Obsesi ayah yang menginginkan anak laki-laki membuat Dewi tumbuh menjadi gadis tomboy.


Dewi, gadis tomboy berusia 28 tahun, tidak pernah merasakan jatuh cinta. Normal sahabatnya sempat bertanya kepada Dewi.


"Dewi, sorry. Elo tuh suka sama laki-laki tidak sih? Gue udah 3 kali ganti pacar. Tapi sampai saat ini gue tidak pernah lihat elo pecah telor."


"Hah, pecah telor elo tidak pernah lihat? Sebentar kalau gitu."


Dewi mengambil telur mentah


"Nih, gue kasih lihat pecah telor ya."


"Maksud gue bukan telor dipecahin tapi pecah yang akhirnya gue lihat elo pacaran sama cowok sama laki. Elo masih suka batangan kan?"


"Oh maksudnya pacaran sama laki?


"Iya, bukan elo ambil telur mentah terus di pecahin di mangkuk habis itu elo goreng bukan itu."


"Iya gue ngerti maksud elo. Gue masih normal. Gue suka sama laki-laki, gue tidak belok yang suka sama perempuan. Tapi laki tidak ada yang mau sama gue, terus gue mesti gimana dong?"


"Ya, tampilan elo di rubah lah, mana ada laki yang mau sama elo kalau elo tidak berubah."


"Norma, bukannya gue tidak mau berubah. Tapi laki-laki lihat gue bisa bingung sebenarnya gue laki apa perempuan. Tulang gue gede dan kasar seperti tulang laki sedangkan elo kan tulang kecil dan halus."


"Ibu elo ngidam apa waktu lagi hamil elo? Kakak-kakak elo cantik dan mungil, elo sendiri yang gede benar."


"Nah itu dia, katanya waktu lagi hamil gue, ibu gue belajar naik motor rx king. Karena pengen banget naik rx king sampai di bela-belain belajar naik rx king."


"Oh ya pantes, rx king itu motor kan? Bukan mobil?"


"Ya iyalah motor memangnya elo pikir apaan? Odong-odong yang pakai musik abang tukang bakso mari-mari sini aku mau beli."


"Gue ngga minta elo nyanyi Dewi, suara elo jelek."


"Ya emang jelek suara gue kalau nyanyi, kalau ngomong di telpon kadang gue di bilang pak or mas."


"Hahahahah jangan-jangan elo manusia hemaprodite."


"Reseh"


 

__ADS_1


Dewi melanjutkan pekerjaannya kembali membuat website. Dewi bekerja di perusahaan kontraktor dan Dewi di divisi IT.


Handphonenya berbunyi kembali.


"Halo, sorry ini aku yang tadi telpon kamu dan salah sambung. Aku boleh kenalan sama kamu? Namaku Tito."


"Ya salam kenal. Tapi maaf. Aku masih kerja. Kalau mau kenalan nanti saja ya. Saat jam pulang kerja. Sorry banget. Bye."


Lagi ribet ganggu aja ini orang. Pakai acara ngajak kenalan lagi.


Dewi melanjutkan kerjanya.


Telpon internal di meja Dewi berbunyi.


"Halo, Dewi bisa ke meja gue tidak?"


"Kenapa?"


"Laptop gue blue screen nih."


"Dicat aja biar tidak blue screen. Bentaran gue minta Dayat bantu elo. Gue lagi ngurusin website bos nih."


"Ok."


Finally selesai juga website bos. Waduh, udah jam 5 aja. Cepat benar waktunya.


"Mas Andri, Dewi pamit pulang duluan yak."


"Tumben kamu jam 5 sudah cabut. Biasanya pulang barengan mbak yang rambut panjang di toilet pakai baju putih semua matanya merah."


"Mau pacaran sama supermarket. Dewi do'ain mas Andri pulangnya barengan si mbak yang di toilet yak."


"Makanya jangan iseng. Sok nakut-nakutin yang ada dari ruang atas ada bau kentang goreng loh."


Mas Andri melempar buku ke arah Dewi yang sudah berlari sambil tertawa karena membuat mas Andri ketakutan.


Haduh, jam segini jam-jamnya macet. Mana ayahanda minta dibelikan susu diabetnya. Kenapa tidak titip mbak saja sih.


Dewi berjalan ke parkiran motor. Handphonenya berbunyi dari nomer yang tadi siang. Hari ini sudah 3 kali orang itu menelpon Dewi.


"Halo. Aku yang tadi telpon kamu. Aku boleh kenalan. Kan sudah jam pulang kantor?"


"Iya, tapi lagi buru-buru harus ke supermarket. Mau beli susu diabet ayahku."


"Aku samperin kamu ke supermarket ya. Supermarket mana?"


"Happy Mart.


"Ok. Aku susul kamu ya."


"Ya. Bye."


Ini cowok siapa sih? Kenapa heboh banget mau kenalan sama gue?"


Dewi naik motornya dan langsung pergi ke Happy Mart.


Ampun deh. Hari ini handphone gue laku banget ya. Baru sampai supermarket sudah nelpon lagi. Untungnya bukan misscalled.


"Kenapa sih telpon terus. Baru juga sampai supermarket."

__ADS_1


"Dewi, kenapa marah-marah. Ini ibu. Kamu sudah di supermarket?"


"Maaf Bu, maaf. Dewi pikir teman Dewi. Kenapa Bu. Ada tambahan belanja?"


"Iya, ayah minta buah anggur yang black autumn, jangan banyak-banyak."


"Ada lagi?"


"Sama beli sabun cuci baju yang buat mesin cuci."


"Ok Bu, siap. Ada lagi?"


"Ada, jangan lama-lama."


"Iya Bu, Dewi kan beli sesuai pesanan, lama itu kalau antri dan nanti pulangnya macet karena jam-jamnya pulang kantor."


"Ok."


Dewi baru mematikan handphonenya dan memasukkan ke dalam tas. Tiba-tiba handphonenya bunyi lagi.


Ya Allah, kapan belanjanya ini. Ibu Suri di rumah bisa marah kalau kelamaan.


"Halo, kamu dimana Dewi?"


"Di Happy Mart."


"Kamu di dalam dekat apa?"


"Dekat parkiran motor."


"Aku juga di parkiran motor tapi yang aku lihat cuma cowok pakai flanel dan tas selempang."


"Ya. itu gue. Dewi."


"Serius?"


"Seriuslah."


Dewi membalik badan dan melambaikan tangan ke Tito teman baru yang dari siang menelpon karena salah sambung dan dilanjutkan sampai akhirnya bertemu


"Telponnya gue matikan ya. Kan elo sudah lihat gue."


"Eh iya."


Tito menghampiri Dewi yang sedang memasukkan telpon.


"Hai akhirnya kita bertemu ya."


"He-eh, tapi sorry gue ngga bisa lama karena gue harus buru belanja. Ibu gue bilang jangan lama-lama."


"I-iya Dewi."


"Kenapa kok jadi salah tingkah? Kaget lihat gue? Laki bukan perempuan bukan? Hahahah sudah biasa."


"Iya, loe tingginya sama seperti gue. Jarang ada cewek tingginya 180. Gue 180."


"Ok."


"Sekali lagi gue tidak bisa lama-lama dan basa-basi. Gue harus belanja. Ditungguin sama ibu gue di rumah."

__ADS_1


"Iya Dewi."


__ADS_2