Anak Yang Tidak Diakui

Anak Yang Tidak Diakui
Part 4


__ADS_3

Dewi, gue tergila-gila sama elo. Mungkin umur elo sama gue tidak beda jauh. Gue akan kejar elo sampai dapat. Dan gue yakin elo pasti mau jadi pacar gue. Sudah jam pulang kantor, pasti Dewi sudah bersiap untuk pulang


Tito segera mengambil handphonenya dan menelpon Dewi.


"Halo Dewi."


"Kenapa lagi?"


"Gue jemput elo sekarang ya."


"Tidak usah, gue bawa motor. Kalau mau jemput itu saat gue tidak bawa motor. Kalau sekarang gue ikut elo, gimana ceritanya motor gue terus besok pagi gimana gue berangkat kerja. Cari mati kalau sekarang gue iyain."


"Besok gue antar elo ke kantor."


"Tidak usah lagipula elo siapa gue? Tukang ojek bukan, pacar juga bukan apalagi suami gue juga bukan kan?"


"Tapi gue udah di depan kantor elo."


"Jangan becanda deh. Hari gini masih bercanda dan gue juga pulang malam. Gue lembur hari ini. Baru pulang nanti jam 10 malam."


"Tidak papa, gue tunggu elo di lobby kalau perlu gue tunggu elo di parkiran motor."


"Elo kenapa sih cari ribut sama gue. Lagipula gue kan bukan pacar elo. Udah deh. Kerjaan gue banyak nih."


"Ok, gue tunggu elo."


"Iiiihhh."


Dewi segera mematikan handphonenya.


"Cieeee, Dewi udah punya gacoan nih."


"Gacoan kepala elo peyang. Ngapain sih mas Andri nguping aja pembicaraan orang."


"Ya gue pengen tahu, elo suka laki apa suka perempuan?"


"Gue suka amuba. Puas elo!"


"Elo kenapa Wi, biasanya diajak bercanda asik kok ini marah-marah. Elo lagi dapat ya?"


"Iya dapat lampu merah, hijau, kuning di langit yang biru."


"Jiah dia malah nyanyi. Gue mau pesan makanan, akhirnya ada yang nemenin gue lembur hari ini."


"Gue mau gorengan sama kopi mas. Jangan manis-manis kopinya. Pakai rawit yang banyak."


"Kopinya dikasih cabe rawit yang banyak? Situ sehat Wi? Bab elo lancar?"


"He-eh lancar jaya. Elo yang sakit mas. Mana ada orang minum kopi pakai rawit yang ada pakai gula atau pakai garam kalau mau jadi dukun."


"Hahahahah. Ternyata Dewi melet anak orang biar mau jadi pacarnya."


"Reseh elo, mas."

__ADS_1


"Dayat, elo lembur juga tidak?"


"Lembur mas, kecuali Felix saudaranya ada yang meninggal."


"Innalillahi, saudara yang sebelah mana? Sebelah kanan kiri atau tengah?"


"Belahan fanta*. Mas Andri, elo kenapa rusuh banget dan bawel sih sore ini?" Habis makan kentang goreng dari atas ya."


"Elo Wi, selalu deh nakutin gue?"


"Mas, tidak usah takut, kan elo raja demit. Masa raja demit takut sama kentang goreng."


"Terserah elo Wi."


Mas Andri berjalan ke pantry untuk minta tolong dibelikan gorengan dan dibuatkan kopi oleh Gito.


"Dayat, nenek bawel kemana si Dewi?"


"Lagi turun mas. Temannya baru aja telephone katanya ada di lobby."


"Oh, ok."


Dewi bergegas turun ke lobby kantor.


"Dewi."


Dewi menghampiri Tito yang sedang duduk di lobby kantor.


"Sebenarnya elo mau apa sih? Tolong jelasin ke gue. 2 hari ini hidup gue ke ganggu sama telpon dari elo."


"Atas dasar apa elo mau pacaran sama gue?"


"Gue suka sama elo."


"Hah, elo suka sama gue? Yang suka sama gue banyak. Elo berani bersainh sama Omen?"


"Omen? Siapa Omen? Dia udah kerja? Kerja dimana? Biar gue samperin dia dan ngomong sama dia untuk jauh-jauh dari elo."


"Elo ngga akan sanggup bersaing sama Omen. Dia sering nemenin gue duduk di teras rumah. Tiap hari Omen datang ke rumah gue. Elo tidak akan sanggup seperti Omen."


"Kalau boleh tahu Omen itu gimana? Ganteng banget ya? Tajir banget?"


"Omen itu, dia gembul, giginya ada taringnya, kumisnya kayak kucing. Kulitnya abu-abu dan satu lagi..."


"Satu lagi apa? Dia kaya? Dia tajir?"


"Satu lagi dia punya buntut panjang. Soalnya Omen itu tikus got."


"Su'e gue pikir Omen itu nama laki yang jadi saingan gue untuk dapatin elo."


"Gini aja. Mendingan elo pulang sekarang. Sampai rumah cuci kaki, cuci tangan, ganti baju terus tidur. Kalau elo niat, besok elo jemput ke rumah gue. Kalau sekarang tidak bisa karena gue bawa motor. Dan gue biasanya pulang lembur mau nongkrong dulu sama teman-teman gue."


"Tidak papa, gue tetap nunggu elo dan gue akan antar elo ketemu teman-teman elo dan setelah itu gue antar ke rumah. Besok pagi gue jemput elo dan antar elo ke kantor."

__ADS_1


"Hah, terserah elo deh. Keras kepala banget sih elo. Gue mesti balik kerja lagi. Terserah elo. Mau nunggu boleh, mau pulang juga boleh. Tidak ada larangan."


"Ok"


Dewi naik kembali ke atas ke ruang kerjanya.


"Udah berantem sama pacarnya?"


"Apaan sih mas. Iseng benar deh."


"Kata Gito tadi elo marah-marah sama cowok. Tuh cowok ganteng, setinggi elo. Cool habis Katanya seperti EsMud."


"Iya benar seperti Esmud karena Cool. Kalau Esmud tidak cool tidak enak."


"Maksudnya Wi?"


"Ya kalau es lilin yang diemut tidak cool tidak enak mas. Namanya es lilin yang diemut dan dijilat-jilat itu harus cool."


"Lah jadi es lilin sih. Bukan cool tadi cold."


"Ya sama aja kali. Cool bahasa Indonesia nya dingin. Cold kan juga dingin."


"Mas Andri, udah iya in aja omongannya Dewi. Daripada nanti Dewi marah. Muka mas yang mulus itu bisa digaruk sama Dewi."


"Ya kali muka gue gatal. Kalau gatal bolehlah di garuk heheheh. Iya ngga Dayat."


"Hahahah iya mas. Udah mas stop, Bibirnya Dewi manyun tuh."


"Intermezo dikit lah Yat. Biar jangan stress yang baru punya pacar."


"Mas Andri, elo kenapa sih? Elo jelaous sama pacar gue ya. Kan selama ini gue udah jadi bini elo."


"Amit-amit, 7 tanjakan, 8 kelokan, 9 turunan. Dewi jadi bini gue."


"Hahahah, mas Andri langsung diam, malu ketahuan Dayat kalau gue sebenarnya bininya mas Andri."


"Udah jangan bawel, kerja. Mau lembur sampai jam berapa? "


"Sampai jumpa lagi mas. Hahahahah."


"S**l elo Wi"


Dewi senang akhirnya bisa membuat mas Andri mati kutu karena ucapannya mengenai bini


Akhirnya ruangan kembali tenang. Mereka bertiga lanjut bekerja.


Jam 10. Dewi sudah siap-siap pulang. Sedangkan Dayat dan mas Andri masih bekerja.


"Gue duluan pulang ya mas Andri dan Dayar. Kalian hati-hati ya nanti dipanggil ke ruang makan di atas untuk makan kentang goreng. Hahahahaha."


Mas Andri kesal dengan becandaan Dewi.


Akhirnya Dewi mengalah. Tito mengantarkan Dewi pulang ke rumah.

__ADS_1


"Besok jam 7 pagi, aku jemput kamu."


"Suka-suka kamu Tito."


__ADS_2