Anak Yang Tidak Diakui

Anak Yang Tidak Diakui
Bertikai


__ADS_3

Akhirnya, aku bisa dapat kamar di rumah ini. Tidak jadi masalah walaupun kamarnya di sebelah kamar bi Ati jadi aku punya teman ngobrol. Ada apa ya? Kok ribut sekali?


Dewi keluar dari kamarnya.


"Bi Ati, ada apa?'


"Eh non Dewi. Itu den Fuad sama non Sisi baru sampai rumah dan berantem. Bibi ngga tahu ada apa?"


"Coba aku ke sana saja."


"Jangan non, nanti non Dewi malah dipukul sama den Fuad."


Bi Ati menahan Dewi untuk tetap di dapur jangan ke ruang tengah.


"Mana janji kamu! Katanya kamu mau ceraikan perempuan itu! Buktinya kamu masih mempertahankan dia!'


"Sisi! Kamu bisa sabar tidak! Aku belum mau ceraikan Dewi karena dia sedang mengandung dan aku butuh uang untuk biaya hidup kita nanti! Harusnya kamu mikir!"


"Oh, karena dia kerja dan aku tidak jadi kamu lebih sayang sama dia! Sejak kamu menikah sama dia dengan alasan hamil, sifat kamu berubah!"


"Dengar! Aku menikah agar dia tidak malu! Aku tidak cinta sama dia! Uangku habis waktu menikah sama dia! Karena itu aku harus bisa mengambil uangnya agar aku bisa punya uang lagi! Dan mama sama papa sudah tidak mau memberikan aku uang karena tahu dia bekerja!"


"Salah kamu sendiri! Buat apa menikah sama dia! Jelas-jelas mama kamu suka sama aku! Seharusnua kalau kamu menikah sama aku saat ini kamu tidak akan menderita. Aku bisa minta papaku untuk memberikan kamu pekerjaan! Kalau aku tidak segera menikah sama kamu, papa akan mengirimkan orangnya untuk membawa aku balik pulang!"


"Ok, ok, aku akan segera menceraikan Dewi! Tunggu sampai uangku kembali!"


"Jangan sebut nama itu perempuan di depan aku!


Dewi menahan kemarahannya karena ternyata Fuad menikahi bukan untuk bertanggung jawab tapi untuk mengambil semua uang yang Dewi punya dari hasil kerjanya.


Dewi menepis tangan bi Atik dan berjalan mendekati mereka berdua. Fuad dan Sisi terlihat kaget


" Bagus! Jadi aku tahu sekarang! Kamu menikah sama aku karena bukan untuk bertanggung jawab atas perbuatan sama aku sampai aku hamil!


"Plakkkk"


Fuad langsung menampar pipi Dewi.


"Diam kamu! Aku menikah sama kamu biar kamu tidak malu! Dan belum tentu itu anak aku!


Gantian Dewi yang menampar Fuad.


" Plaakkk"


"Kamu yang memperkosa aku saat di puncak! Kamu ingat! Kamu tahu bahwa saat itu aku baru pacaran dengan Tito! Tapi kamu yang merusak semuanya!"


Sisi menjambak rambut Dewi.

__ADS_1


"Dengar p*****r! Kamu yang menggoda Fuad. Mana ada kucing yang tidak mau daging hidup! Dan kamu sengaja hamil biar kamu bisa menikah dengan Fuad!"


Sisi menghempaskan Dewi. Membuat Dewi jatuh. Fuad hanya melihat Dewi yang terjatuh dengan tersenyum sinis. Dewi merasakan kesakitan pada perutnya karena terjatuh dan berusaha untuk bangun.


Bi Ati yang melihat Dewi jatuh segera berlari dan menolong Dewi. Membantu Dewi berdiri.


"Non Sisi dan den Fuad. Sudah jangan memukul non Dewi, kasihan non Dewi. Bibi mohon sudah hentikan. Non Dewi sedang hamil muda."


Sisi berjalan menuju Dewi yang berdiri di sebelah bi Ati. Tetapi bi Ati menghalangi.


"Kamu lihat sendiri! Pembantu kamu saja melindungi dan membela dia karena alasan hamil." Sisi menatap Fuad dengan tajam.


Fuad mendekati bibi dan menarik paksa tangan Dewi.


"Masuk kamu! Kenapa kamu keluar dari kamar!"


Bibi menarik tangan Dewi yang satunya dan terjadi tarik menarik antara bibi dan Fuad.


"Den Fuad, biarkan bibi yang jaga Non Dewi. Non Dewi tidak dikamar depan lagi. Non Dewi tidur di kamar sebelah kamar bibi. Lepasin tangan non Dewi, den. Bibi mohon."


Bibi mengiba pada Fuad. Dewi tidak bisa berbuat banyak karena merasakan perutnya yang sakit dan juga kepalanya karena rambutnya yang tadi di jambak oleh Sisi.


"Bagus! Jadi kamarnya bisa saya pakai sama Fuad! Ayo Fuad, biarkan dia diurus sama bibi!"


Fuad melepaskan tangan Dewi dan berjalan masuk ke kamar diikuti oleh Sisi.


"Non Dewi, ayo non, kita istirahat."


"Bi, terima kasih ya sudah menolong saya."


"Sama-sama non. Perutnya non kencang banget ini. Sakit banget pasti tadi non jatuh. Maaf bibi telat menolong non Dewi."


"Ngga kok bi. Untungnya bibi menolong saya. Kalau tadi bibi tidak menolong saya, entah apa yang terjadi."


"Sudah non istirahat dulu. Bibi buatkan teh hangat."


Dewi merebahkan badannya di kasur dibantu dengan bibi.


"Bibi, bibi!!


"Iya den, sebentar!


" Sudah bi. Sudah tidak papa. Itu Fuad memanggil bibi. Saya bisa sendiri."


Bibi menutup pintu kamar Dewi dan berjalan ke dapur.


"Iya deb Fuad!"

__ADS_1


"Buatkan kopi hitam dan kopi susu, taruh di depan sana. Saya mau nonton tv."


"Iya den, sebentar bibi buatkan kopinya."


Bibi mengantarkan kopi yang diminta Fuad.


"Bi, nanti kalau papa dan mama pulang, baru Dewi suruh pindah ke kamarku. Untuk saat ini biar saja Dewi dikamar belakang. Dan mulai besok, pagar aku kunci. Tidak boleh ada yang keluar rumah."


"Tapi den, bibi mau beli sayuran bagaimana?"


"Ok, bibi bisa belanja pagi. Bangunin saya saja. Jangan bantu Dewi keluar dari rumah. Kalau sampai bibi bantu Dewi, bibi akan tahu akibatnya!"


"Iya den."


"Sudah bibi istirahat, sudah malam. Besok siapkan makan buat saya sama Sisi juga bibi saja. Jangan disiapkan makanan buat Dewi, saya lagi kasih hukuman buat Dewi."


"I-iya den. Tapi non Dewi sedang hamil den Kasihan."


"Jangan bantah saya!"


"Iya den."


Bibi membawa teh manis hangat buat Dewi.


"Non Dewi sudah tidur?"


"Iya bi, masuk saja."


"Non, ini tehnya. Diminum non."


"Iya bi, terima kasih. Bibi istirahat. Sudah malam."


"Iya non. Besok non tidak usah melakukan apapun seperti yang diminta sama nyonya. Biar bibi yang kerjakan."


"Tidak papa bi. Aku besok bantu bibi."


"Jangan non, biar non istirahat kasihan sama dede yang di perut non."


"Iya bi."


"Ya sudah, bibi tidur dulu ya non. Kalau ada apa-apa ketok saja kamar bibi."


"Iya bi. Sekali lagi terima kasih."


Bibi keluar dari kamar Dewi.


Dewi menyesap teh manis yang diberikan oleh bi Ati.

__ADS_1


Ya Allah, kuatkanlah aku menghadapi Fuad dan keluarganya. Bagusnya tadi pagi aku sudah ke bank dan buat rekening baru. Jadi Fuad tidak tahu kalau aku masih ada uang. Dan untung saja tadi uang sengaja aku ambil seluruhnya.


Bagaimana ya besok buat makanan non Dewi. Kasihan non Dewi bisa masuk di keluarga ini. Untung saja tadi tidak terjadi pendarahan. Besok aku siapkan makanan untuk non Dewi juga dan harus bisa sembunyikan dari den Fuad. Ya Allah, mohon lindungi non Dewi dari den Fuad dan orang tuanya."


__ADS_2