
Pagi-pagi Tito sudah rapi. Hari ini jumat dan besok Tito berencana mengajak Dewi pergi.
"Pagi bu. Tito berangkat ya."
"Pagi. Jam 5.30 pagi kamu mau berangkat? Memangnya mau kemana sepagi ini?"
"Mau mengembalikan dompet teman yang tertinggal di mobil semalam. Dan dia berangkat kerja jam 7 pagi. Kasihan kalau telat Tito tidak tahu kantornya dimana."
"Oh, hati-hati di jalan. Kamu tidak sarapan dulu? Ibu sudah masak nasi, kalau mau ibu gorengan telur."
"Tidak usah bu. Tito juga jarang sarapan. Yang ada nanti perut sakit. Tito berangkat dulu ya Bu."
Tito pergi ke rumah Dewi.
"Assalamu'alaikum, selamat pagi."
"Wa'alaikumsalam. Siapa bu? Pagi-pagi sudah ada yang bertamu."
"Mana ibu tahu. Dari tadi ibu di dalam siapin makanan untuk sarapan."
"Biar bapak yang buka pintu."
"Hmmm."
Bapak membuka pintu.
"Pagi pak. Maaf saya datang pagi-pagi. Saya mau jemput Dewi."
"Pagi Tito, masuk, masuk. Duduk. Saya panggilkan Dewi. Soalnya Dewi belum bangun."
"Baik Pak. Terima kasih."
Bapak menghampiri ibu yang sedang menyiapkan sarapan di meja makan.
"Siapa pak?"
"Tito. Dia mau jemput Dewi."
"Wong Dewi masih tidur. Rajin amat si Tito. Jam 06.30 sudah jemput Dewi."
"Ya baguslah bu. kekuatiran ibu mengenai Dewi yang belum punya pacar akhirnya bisa hilang."
__ADS_1
"Ealah. Memangnya bapak ndak kuatir. Anak gadis kita yang bontot belum punya pacar. Dan baru sekarang ada laki-laki yang antar jemput Dewi. Tapi Dewi pun belum bilang kalau Tito itu pacarnya."
"Kita berdoa saja Bu. Biar Dewi bisa membuka hatinya kepada Tito ataupun laki-laki lain sesuai pilihannya. Bu bangunin Dewi, kasihan Tito nunggu terlalu lama."
"Iya."
Ibu berjalan ke kamar Dewi. Dan membuka pintu kamar Dewi
"Dewi kamu sudah bangun? Itu ada Tito di depan."
"Dewi belum tidur."
"Ya sudah sana temuin Tito. Cuci muka dulu baru keluar temuin Tito."
"Malas. Nanti saja cuci mukanya."
"Dewi, kamu itu perempuan, gimana mau dapat suami kalau kamu seperti itu."
Dewi tidak mengindahkan omongan ibunya.
Perkara tidak cuci muka saja sampai harus teriak tidak dapat suami. Dewi geleng-geleng kepala.
"Mana tas gue. Kalau elo tahu dompet gue ketinggalan di mobil elo harusnya elo balik lagi ke rumah gue. Elo pasti sudah bongkar isi dompet gue!"
"Tidak usah. Aku hari ini tidak kerja."
"Kalau kamu tidak masuk kerja. Bagaimana kalau kita jalan-jalan sekalian refreshing. Kamu butuh biar tidak meledak-ledak terus seperti bom."
"Tidak, aku mau di rumah saja. Mau tidur. Gara-gara kamu tidak balikin tas aku, sampai aku belum tidur. Harusnya kamu ngerti bahwa aku itu kerja. Dan handphone aku bukan sekedar untuk telpon, kirim pesan atau photo-photo. Tapi ada email yang setiap saat aku cek kalau ada kerjaan dadakan. Harusnya kamu tahu. Susah ya ngomong panjang kali lebar kali tinggi kalau kamu tidak mengerti karena kamu belum bekerja dan handphone kamu urusannya cuma telpon, kirim pesan dan photo-photo saja."
"Hahahahhaha, kamu sadis Dewi. Ngomong segitu banyak dalam satu tarikan napas tanpa jeda. Ya aku minta maaf. Aku kemarin malam mau balikin tasmu. Tapi aku takut kamu sudah tidur."
"Memangnya kamu cenayang yang tahu aku sudah tidur. Kamu tidak akan tahu kalau kamu tidak datang. Mikir pakai otak bukan pakai jempol kaki."
"Iya Dewi, aku minta maaf. Sekali lagi aku benar-benar minta maaf. Sekarang jadi bagaimana?"
"Ya sini tasnya jangan di pegang terus. Dan kamu pulang saja!"
"Pagi nak Tito."
"Pagi bu."
__ADS_1
"Ayo sekalian ikut sarapan. Ngga usah sungkan. Dewi ajak Tito sarapan bareng kita."
"Noh diajak makan sama ibu dan bapak."
Dewi pergi meninggalkan Tito setelah mendapatkan tasnya.
"Terima kasih bu, saya lanjutan pulang saja."
"Eh, pamali kalau menolak rejeki dari orang tua. Dewi biasa gitu kalau tidak tidur semalaman. Maafin Dewi ya. Ayo nak Tito, kasihan bapak sudah menunggu di meja makan."
Tito mengikuti ibunya Dewi untuk sarapan.
Dewi di dalam kamar. Ia masih kesal dengan Tito. Dan handphonenya harus dia charge karena habis baterainya.
Ayah, ibu dan Tito masih duduk. Mereka sudah selesai sarapan.
"Tito, bapak mau tanya. Kamu sebenarnya ada hubungan apa dengan Dewi?"
"Tito suka sama Dewi, Pak. Dan Tito mau menikahi Dewi tapi sepertinya Dewi tidak suka sama Tito. Mungkin karena Tito masih kuliah dan belum bekerja. Sedangkan Dewi sudah bekerja."
"Oh gitu. Ya kamu pelan-pelan kalau mau mendekati Dewi. Karena Dewi itu keras orangnya. Kalau sudah A ya A."
"Makanya pak. Mikir kan sekarang? Yang ngebentuk Dewi seperti itu siapa? Bapak sendirikan. Anak perempuan ya dididik seperti anak perempuan bukan dididik seperti anak laki-laki."
Dewi yang mendengarkan percakapan bapak dengan Tito segera keluar kamar.
"Bapak, ibu. Cukup. Ngga usah bongkar rahasia keluarga dengan orang luar. Tito! Kamu sudah selesai sarapankan? Ya sudah sana pulang atau pergi kuliah jangan rusuh dan cari tahu mengenai gue sama bapak dan ibu. Hormati dan hargai privasi orang. Kuliah kan? Tahu etika hidupkan?"
"Dewi, kamu kenapa sih. Ketus banget sama Tito. Memang Tito salah apa sama kamu?"
"Ibu kenapa sih bela Tito terus. Anak ibu itu aku atau Tito. Tuh lihat gara-gara kamu, Tito. Selama ini hidup gue adem ayem aja. Bokap nyokap gue ngga pernah ribut pagi-pagi. Tapi pagi ini gegara elo, nyokap nyalahin bokap karena salah didik. Bokap dan nyokap gue tidak salah didik gue. Mending elo pulang deh. Daripada bokap nyokap gue ribut. Masing-masing cari pembenaran."
"Bapak, ibu. Tito mohon maaf. Terima kasih karena diajak sarapan. Tito pamit pulang."
"Nak Tito jangan dipikirkan omongan Dewi. Tadi ibukan sudah kasih tahu. Dewi itu keras orangnya."
"Tidak bu, Tito malah yang merasa tidak enak karena sudah membuat gaduh di rumah ibu dan bapak. Tito juga harus kuliah bu. Tito permisi bu. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam. Hati-hati di jalan."
Tito keluar dari rumah Dewi dan masuk ke dalam mobil.
__ADS_1
Aku harus cari cara agar Dewi mau sama aku. Susah sekali mendapatkan Dewi. Sedangkan untuk mendapat perempuan lain, sangat mudah tetapi tidak dengan Dewi. Baru kali ini aku mendapat penolakan dari perempuan yang bernama Dewi. Kita lihat saja nanti, kamu akan bertekuk lutut sama aku."