Anak Yang Tidak Diakui

Anak Yang Tidak Diakui
Part 10


__ADS_3

Jam 8 pagi, Tito baru bangun sedangkan teman-temannya belum ada yang bangun.


Tito berjalan ke kamar yang semalam dipakai oleh Fuad. Dan Tito masuk ke kamarnya.


Loh, kok kamarnya berantakan. Dan ini kenapa ada bercak merah di sprei? Kemana Dewi dan Fuad?


"Dewi, Dewi, Fuad, Fuad!"


Tito memanggil nama Dewi dan Fuad. Ia keluar kamar dan mengetuk kamar teman-temannya.


"Woiiii, keluar! Dewi sama Fuad ngga ada!" Woooooiiiii keluar kalian atau gue dobrak pintunya!"


Satu persatu teman Tito keluar dari kamar.


"Ada apa sih ribut-ribut. Kenapa elo? Ngga berhasil bobol Dewi?'


"Gimana mau berhasil? Gue bangun di sofa. Gue ke kamar untuk lihat Dewi ternyata sudah berantakan. Noh ada bercak darah di sprei. Jangan-jangan Dewi sama Fuad. Dan Mereka ngga ada di kamat."


"Seriusan?"


"Gue coba telpon Fuad. Elo sabar, tenang jangan emosi."


"Eh, gimana gue ngga emosi? Gue yang minta ijin sama orang tuanya Dewi. Dan ibunya Dewi titip supaya jagain Dewi. Nah gue nyentuh Dewi aja ngga! Mau ngomong apa gue sama orang tuanya Dewi?!"


"Handphone Fuad ngga aktif."


"Br*****k si Fuad. Kita semalam di kasih minuman jangan-jangan sudah dikasih obat tidur sama Fuad!"


"Ya sekarang kita bersih-bersih dulu, mandi terus turun ke Jakarta. Kita temanin elo ketemu sama orang tuanya Dewi."


"Gue yakin, Dewi sudah di rumah."


"Aaaarrrrgggghh gue hajar si Fuad nanti. Gue yakin dia sudah ambil keperawanan Dewi. Ba****t."


Dewi masih di dalam kamar rumah Fuad. Tidak ada air mata yang keluar tapi Dewi merasakan sakit yang amat dalam di hatinya. Fuad tega menghancurkan hidupnya. Dan ia tidak bisa bergerak karena tangannya diikat keatas tempat tidur dan kakinya diikat di kedua sisi tempat tidur. Badan Dewi hanya ditutupi oleh selimut.


Fuad masuk ke dalam kamar membawakan makanan dan meletakkan di meja samping tempat tidur.


Fuad membelai kepala dan mencium pipi Dewi. Dewi tidak bisa menghindar, karena tangan dan kakinya diikat.


"Hei jangan marah sama aku. Ini makan dulu. Setelah makan, kamu mandi dan pakai baju. Aku akan antar kamu pulang."

__ADS_1


"Aku mau pulang sekarang. Kamu telah merusak hidup aku! Mana handphone dan tas aku yang berisi baju."


"Tenang Dewi. Aku akan tanggung jawab. Aku akan menikahi kamu. Karena kalau semalam aku tidak melakukannya kamu pasti tidak mau menikah sama aku."


"Aku memang tidak pernah mau menikah sama kamu. Karena aku tahu kamu waktu kita sekolah dulu. Lepasin tali dari tangan dan kakiku. Aku mau pulang sekarang!"


"Tenang Dewi. Aku akan melakukan sekali lagi sampai aku puas dan yakin kamu mau menikah sama aku." Fuad tersenyum licik.


"Lepasin aku, Fuad!"


"Kamu mau teriak tidak akan ada yang dengar dan menolong kamu. Kamu ternyata tidak sekuat yang aku kira."


"Kamu sudah menonjok perut aku! Dan saat aku kesakitan kamu melakukan hal itu. Itu perbuatan laki-laki pengecut!"


"Bukan pengecut! Aku akan nikahi kamu hari ini juga kalau kamu mau."


"Ciiihhh, aku tidak mau menikah sama kamu sampai kapanpun!"


"Kita lihat nanti. Ok kalau kamu tidak mau makan. Aku yang akan makan kamu!"


"Pengecut kamu! Lepasin aku!"


"Ternyata kamu menikmatinya? Buktinya kamu tidak melawan. Hahahahhaha."


Fuad keluar dari kamar. Ia mengambil rokok dan menyalakan rokok tersebut. Selesai menghabiskan satu batang rokok. Fuad masuk ke kamar dan melepaskan ikatan tangan dan kaki Dewi dari tempat tidur. Tetapi Dewi tetap tidak bisa berlari karena Fuad mengikat kembali tangan dan kakinya. Fuad menggendong Dewi dan memandikan Dewi.


"Fuad, mau sampai kapan tangan dan kakiku kamu ikat?"


"Sampai di rumah kamu, baru aku lepaskan."


"Jahat kamu! Kamu benar-benar jahat!"


"Tidak, aku tidak sejahat yang kamu kira!"


Fuad mengantarkan Dewi pulang ke rumahnya.


Setelah sampai rumah Dewi. Fuad melepaskan semua ikatan. Dewi segera keluar dari dalam mobil Fuad


"Kamu sudah pulang Wi, diantar siapa?"


Dewi diam saja saat ditegur ibunya dan langsung masuk ke kamarnya dan mengunci pintu. Dewi menangis di dalam kamarnya dan ia merasa kotor dengan dirinya.

__ADS_1


"Permisi pak, bu. Kenalkan saya Fuad."


"Ah iya, silakan duduk."


"Iya Pak Bu."


Fuad duduk.


"Begini pak bu. Saya akan bertanggung jawab apabila Dewi hamil. Semalam saya ke puncak menyusul Tito, Dewi dan teman-teman. Saya tidak bareng mereka perginya karena saya ada urusan pekerjaan. Saya tadi turun langsung dari puncak karena ternyata Tito melakukan hal yang buruk terhadap Dewi. Tito telah... "


Muka bapak dan ibu sudah merah karena menahan marah.


"Sudah Fuad, jangan selesaikan. Ibu terima kasih sama kamu. Ibu mau kamu pegang omongan kamu untuk bertanggung jawab. Sekarang ibu mau masuk dulu. Silakan kamu bicara sama bapak dan bagaimana nantinya."


Ibu masuk ke dalam dan mengetuk kamar Dewi.


"Dewi, buka pintunya sayang. Dewi. Ayo nak buka pintunya. Ayo Dewi sayang, buka pintunya sayang. Ibu sudah tahu semuanya. Maafin ibu sayang karena sudah mengijinkan kamu pergi dengan Tito."


Dewi yang mendengar ketukan dan suara ibu akhirnya menyahut.


"Ibu, Dewi masih ingin sendiri dulu. Nanti Dewi keluar. Tolong Dewi, biar Dewi sendiri dulu bu. Jangan ganggu Dewi sementara waktu."


"Ya Dewi. Mandi kamu nak, terus sholat."


"Iya bu."


Ibu berjalan keluar rumah. Fuad dan ayah masih bicara.


"Jadi bagaimana? Kamu yakin? Kamu akan menikahi Dewi setelah kamu tahu apa yang sudah menimpa Dewi?"


"Iya bu. Jika memang bapak dan ibu mengijinkan, minggu depan saya akan datang membawa kedua orang tua saya untuk melamar Dewi. Karena orang tua saya baru balik dari luar kota rabu besok."


"Baik, bapak dan ibu akan tunggu itikad baik kamu. Terima kasih karena kamu bersedia untuk menikahi Dewi yang telah dirusak oleh Tito. Ibu minta no handphone kamu dan alamat rumah kamu."


Fuad memberikan alamat dan no handphonenya setelah itu Fuad permisi pamit pulang.


"Bapak, ibu mohon maaf karena sudah mengijinkan Dewi pergi dengan Tito. Dan ternyata kejadiannya seperti ini. Ibu benar-benar marah sama Tito."


"Sudahlah bu, tidak usah memperkeruh suasana. Dan nanti saat Tito datang, biar ayah yang ngomong sama Tito."


"Tidak bisa pak. Ibu akan ikut ngomong sama Tito. Karena Tito telah kurang ajar sama Dewi. Bagusnya ada Fuad yang bersedia menikahi Dewi, padahal Fuad tidak bersalah. Itu namanya pemberani bukan pengecut seperti Tito."

__ADS_1


__ADS_2