Anak Yang Tidak Diakui

Anak Yang Tidak Diakui
Ketahuan


__ADS_3

"Mbak, maaf ya, baru sampai rumah sakit."


"Iya, lama banget sih? Kamu kemana? Ketiduran?"


"Hehehhe." Dewi hanya tertawa melihat wajah mbak Ayu yang kesal."


"Dewi, ingat, kamu itu sudah nikah dan sedang hamil harusnya jangan sering-sering tidur."


"Iya, iya. Kan tadi Dewi sudah minta maaf." Dewi tidak mau kasih tahu alasan yang sebenarnya apalagi kondisi ayah sedang dirawat.


"Dewi, nanti malam kamu yang jaga ayah ya. Ibu diajak sama mbakmu nginap dulu. Bagaimana?"


"Siap bu, tenang saja. Semoga nanti malam ayah bangun, Dewi pasti telpon ke ibu."


"Dewi, Fuad sudah kamu kasih tahu kalau ayah masuk rumah sakit? Kamu harus kasih tahu loh dan minta ijin untuk jaga ayahmu nanti malam."


"Sudah kok bu, tenang saja. Tadi Dewi lama karena Fuad datang ke rumah sama temannya."


"Oh ya sudah kalau gitu. Ayu, habis maghrib saja ya kita pulangnya."


"Iya bu."


Handphone yang ada di kantong celana Dewi bergetar. Tapi Dewi tidak mempedulikan.


Bagusnya tadi aku rubah jadi getar saja. Jadi tidak akan buat ibu dan mbak Ayu curiga. Dewi membatin.


Bi Atik segera berlari ke depan rumah untuk membuka pintu pagar dan yang datang orang tua Fuad.


'Kok buka pintu gerbangnya lama bi? Teman bibi yang satu lagi kemana? Apa dia tidur?"


"Maaf nyonya, tadi bibi sedang kemarin. Karena cuciannya banyak."


"Hah, sudah sore gini masih cuci! Memangnya si Dewi tidak bantu bibi! Benar-benar itu anak mantu tidak tahu diri!"


"Maaf nyonya kalau non Dewi bantu saya. Tadi sebelum berangkat kantor, dia bantu beberes rumah dan cuci baju. Cuma den Fuad dan non Sisi berkali-kali ganti baju."


"Sisi? Siapa Sisi!"


"Ma, masuk dulu ke dalam. Teriak-teriak di luar."


Bibi sudah masuk ke dalam membawa koper orang tua Fuad.


Aduh, kelepasan deh ngomong sama nyonya kalau ada non Sisi. Bisa-bisa aku di pecat sama nyonya ini! Ya Allah cobaan apa lagi sih ini.


Bibi membatin dan kuatir bahwa ia akan di pecat.


"Bi, sekarang si Fuad kemana?"


"Sedang pergi nyonya."


"Sama siapa? Jawab jujur!"

__ADS_1


"Sama non Sisi."


"Jadi selama saya dan tuan tidak di rumah, Fuad bawa perempuan lain selain Dewi istrinya!" Pandangan ibunya Fuad menelisik dan terkesan mengancam.


"Iya nyonya. Dan non Dewi akhirny tidur di kamar sebelah kamar saya. Karena kamarnya dipakai oleh den Fuad dan non Sisi."


"Hmm, bagus kalau Dewi bisa tidur di sebelah kamar bibi."


"Ma, papa harus ketemu dengan pak Ganda. Ini mendadak. Baru saja pulang."


"Ya, hati-hati pa. Nanti pulang jam berapa?"


"Belum tahu Ma."


Papanya Fuad segera mengeluarkan mobil dan pergi.


"Bibi, saya mau istirahat, jika nanti Fuad datang, jangan bilang kalau saya sudah pulang. Saya ingin tahu yang namanya Sisi itu."


"Iya nyonya."


Bibi segera membereskan koper-koper orang tua Fuad.


"Dewi, kamu mau makan apa? Mbak mau pesan makan malam."


"Apa saja mbak. Yang penting makan hehehhe."


"Kamu hamil tapi kok santai sekali."


"hehehhe, mungkin dede yang di dalam perut aku tahu kalau ibunya pecicilan jadi sudah digantikan sama ibunya."


"Ngga tuh mbak. Aku ngga ngidam. Biasa saja. Cuma memang perut aku rasanya full banget."


"Hahahah, orang hamil pasti perutnya penuhlah. Kamu itu ada-ada saja sih."


"Kan mbak Ayu sudah tahu gimana rasanya hamil. Ada yang ngidam dan ada yang tidak ngidam. Malah ada yang harus bedrest. InsyaAllah Dewi baik-baik saja."


"Amin." Ibu dan mbak Ayu menjawab serentak.


Setelah sholat maghrib dan makanan datang. Mereka bertiga segera makan. Lalu mbak Ayu dan ibu pamit untuk pulang.


Fuad dan Sisi baru sampai rumah selepas maghrib.


"Terima kasih sayang, hari ini kamu memanjakan aku walaupun pakai uang dari papa."


"Ya, nanti aku akan manjakan kamu lagi dengan uangku."


"Uangmu atau uangnya Dewi?"


"Sudah, jangan buat masalah lagi. Aku cape dan mau segera mandi, makan terus tidur!"


"Ok."

__ADS_1


Fuad dan Sisi masuk ke dalam rumah. Dan mereka terkejut melihat mamanya Fuad sedang duduk di ruang tamu.


"Ma, kapan mama sampai rumah?"


"Duduk! Dan kamu, siapa kamu!"


Fuad dan Sisi duduk


"Malam tante, kenalkan saya Sisi. Saya pacarnya Fuad." Sisi menjulurkan tangannya untuk memperkenalkan diri tapi diabaikan oleh mamanya Fuad.


"Sejak kapan kamu pacaran sama Fuad!"


"Hampir 2 tahun, tante." Dan rencana kami akan segera menikah.' Sisi tersenyum.


"Sudah 2 tahun, dan mau menikah! Kamu hamil! Dan kamu tahukan kalau Fuad itu sudah punya istri dan sedang hamil! Atas dasar apa bahwa saya akan merestui hubungan kalian sampai menikah nanti!"


"Ma, biar Fuad jelaskan mengenai Sisi."


"Mama tanya sama dia, bukan sama kamu! Jadi diam kamu tidak usah jadi pahlawan kesiangan untuk perempuan ini! Dan tumben kamu tidak membuat anak orang hamil! Apa dia kamu kasih pil kb!"


Mama memandang Fuad dan Sisi bergantian dengan wajah marah.


"Jawab!"


"Kata mama tadi disuruh diam. Makanya Fuad tidak jawab!"


"Kamu bukan anak b**o kan! Harusnya tahu mana pertanyaan yang dijawab oleh dia dan oleh kamu!"


"Ngga Ma, Sisi tidak hamil. Fuad jaga dia supaya tidak hamil."


"Oh?! Jaga supaya dia tidak hamil! Dan kenapa kamu malah menghamili istrimu sedangkan kamu pacaran dengan dia."


Mama berkali-kali menunjuk ke arah Sisi.


"Ya, karena waktu itu Fuad khilaf Ma, makanya Dewi bisa hamil. Kalau dengan Sisi... "


"Iya dengan Sisi, kamu jaga supaya tidak hamil tapi kamu pakai tiap malam! Apalagi selama beberapa hari mama dan papa keluar kota!"


"Tante, sabar dulu, tenang dulu. Sisi akan jawab pertanyaan tante, takutnya Sisi lupa. Jadi Sisi itu pacaran sebelum Fuad menghamili Dewi. Sisi tidak hamil karena Sisi pasang alat kontrasepsi terus tante dan om akan merestui karena setelah Sisi dan Fuad menikah, papa Sisi akan buka perusahaan disini, di kota ini dan yang menjalankan Fuad. Jadi selepas menikah sama Sisi, Fuad tidak akan tinggal disini tapi sudah disiapkan rumah sama papa. Makanya papa selalu tanya kapan Sisi akan menikah sama Fuad."


"Memangnya seberapa kaya orang tua kamu?! Tante tidak yakin papa kamu akan berikan semua hal yang kamu sebutkan tadi sama Fuad tanpa ada pamrih!"


"Pamrih tidak ada tetapi Fuad harus menikah sama Sisi."


'Terus Dewi bagaimana? Dia sedang hamil dan pernikahan Fuad dengan Dewi kemarin itu memakai tabungan Fuad seluruhnya sampai uang Fuad habis! Bagusnya Dewi bekerja jadi Fuad tidak perlu lagi minta uang sama tante dan om."


"Mengenai Dewi, Fuad dan Sisi tetap akan menikah dan Dewi tidak boleh tahu, jadi nanti di rumah ini, Dewi tetap bisa tidur di sebelah kamar bibi. Sisi dan Fuad tidur di kamar Fuad. Cukup adilkan tante. Dan semua kebutuhan Fuad, ya Fuad harus minta sama Dewi."


"Hmmm, gitu ya? Nanti tante pikirkan. Dan akan tante tanyakan sama papanya Fuad. Lebih baik sekarang kamu pulang, jangan menginap disini."


"Tapi ma, Fuad capek kalau harus antar Sisi pulang. Biarkan Sisi menginap dulu di sini."

__ADS_1


"Huh! Menyusahkan saja. Sisi jangan keluar kamar karena sebentar lagi papa pulang!"


Mama Fuad bangkit berdiri dan masuk ke kamarnya. Fuad dan Sisi pun masuk ke kamar.


__ADS_2