
Hari ini ayah dan ibu pindah rumah. Dewi tidak bisa membantu karena ada meeting di kantor.
"Halo Dewi, kamu nanti pulang sendiri bisa ya. Karena supir mbak dipakai sama anak-anak dan bi Atik ke rumah opa oma. Ngga papa kan?"
"Iya mbak Ayu, tenang saja. Nanti Dewi bisa naik taxi."
"Ya sudah hati-hati ya."
"Eh iya mbak. Terus bagaimana ayah sama ibu. Apakah sudah selesai pindahan rumahnya?"
"Sudah. Ini lagi beberes rumah baru mereka."
"Ya sudah, maaf ya mbak Ayu, Dewi ngga bisa bantu."
"Iya ngga papa. Kamu kan kerja dan tidak bisa di tinggal."
Dewi menutup telpon dari mbak Ayu.
"Wi, elo nanti pulang jam berapa? Dijemput sama supir atau sama suami elo."
"Belum tahu mas Andri, kenapa? Pulang sendiri, ini lagi banyak kerjaan."
"Wi, elo kan lagi hamil ya. Kok kayaknya santai saja sih."
"Heheheh, itulah Dewi. Anak gue anteng kok mas, ngga buat ibunya panik heheheh."
"Eh, ikut cari gorengan yuk. Jam 4 gini jamnya cemilan. Udah lama banget kita ngga jajan gorengan."
"Wah, boleh mas. Yuk."
Dewi mengikuti mas Andri membeli gorengan.
Fuad yang melihat Dewi keluar gedung kantor ingin menghampiri Dewi. Tetapi tidak jadi karena Dewi tidak sendiri. Fuad hanya melihat Dewi yang berjalan ke arah tukang jajanan.
Semoga hari ini gue bisa bawa elo pulang ke rumah mama. Gara-gara elo, papa tidak pernah pulang lagi ke rumah. Dan gue tidak jadi menikah sama Sisi. Gue akan buat perhitungan sama elo!
"Dewi! Elo masih lama?" Mas Andri sudah menghampiri Dewi.
"Iya mas, sorry ya."
"Ya sudah kalau gitu, gue duluan ya. Sudah jam 7 malam, jangan di forsir dulu kasihan anak elo yang di dalam perut."
"Siap bos. Makasih sudah di ingatkan."
Andri meninggalkan Dewi yang masih berkutat dengan pekerjaannya. Walaupun mereka sudah beda lantai, Andri suka datang untuk sekedar mengobrol dengan Dewi.
__ADS_1
"Halo Dewi, kamu dimana?"
"Mbak Ayu, aku masih di kantor. Kalau mau makan malam duluan tidak papa. Kemungkinan aku baru pulang dari kantor jam 8-an."
"Oh ya sudah, sopir mbak jemput kamu ya."
"Ngga usah mbak. Aku bisa naik taxi. Sudah dulu ya mbak, kerjaan masih banyak ini."
"Ya, hati-hati."
Fuad masih setia menunggu Dewi di depan kantor.
Ah, akhirnya selesai juga kerjaan hari ini. Pesan taxi atau naik ojek saja biar cepat sampai rumah. Ya ampun ternyata sudah jam 10 malam.
Dewi keluar dari kantor dan berdiri di depan kantor menunggu taxi yang lewat. Setelah menunggu taxi tidak ada yang lewat Dewi mengambil handphonenya untuk memesan ojek online dan ternyata handphonenya mati.
Aduh, mana ini jalannya sudah sepi, tumben amat hari ini sepi. Mobil hanya 1 2 yang lewat. Mana ini pohon nutupin lagi, jadi tidak kelihatan dari depan gedung kantor.
"Kalau mau selamat, ngga usah teriak. Gue bisa tusuk elo. Ikut gue! Dan ngga usah nengok ke belakang! Cepat jalan!"
Dewi kaget karena ada yang berbicara di belakangnya dan memperlihatkan pisau.
"Fu, Fuad!"
"Jangan banyak omong! Jalan sekarang. Kecuali kalau elo mau mati sama anak haram elo!"
"Apa elo bilang! Anak haram!, Kalau memang anak yang gue kandung ini anak haram, lantas sesuci apa laki-laki yang sudah menabur benihnya di rahim gue!"
"Jalan sekarang! Cepat!"
"Gue ngga mau ikut elo! Lebih baik gue mati sama anak elo yang elo bilang haram. Biar elo puas sekalian! Dan gue tahu bahwa sebenarnya elo tidak mau bertanggung jawab atas kehamilan gue! Gaya elo cuma sok pahlawan tapi alih-alih gue sudah tahu tujuan elo menikahi gue! Sekali pengecut, selamanya akan pengecut!'
"Diam!"
Fuad langsung mendorong Dewi yang membuat Dewi jatuh dan merasakan sakit yang amat sangat. Fuad jongkok mendekati tubuh Dewi yang terkapar dan menahan sakit dan memegang dagu Dewi dengan sangat kencang."
"Elo perempuan yang tidak tahu terima kasih! Gue sudah menyelamatkan muka elo dan keluarga elo karena hamil di luar nikah."
Tanpa Fuad sadari ada beberapa orang yang berjalan kaki ke arah mereka.
"Wooooiiii ngapain elo!"
Fuad yang mendengar teriakan orang langsung menampar Dewi sekuat tenaga membuat Dewi pingsan. Fuad segera. berlari dan masuk ke dalam mobil.
"Astaghfirullah, perempuan hamil. Ayo, ayo bawa ke rumah sakit."
__ADS_1
"Masih napaskan?"
"Masih, masih. Gue stop taksi dulu."
Mereka langsung naik ke taksi dan membawa Dewi ke rumah sakit. Dan langsung dibawa ke IGD.
"Kasihan mbaknya. Tadi elo sempat lihat no plat mobilnya ngga?"
"Keburu pergi. Ini tas mbaknya, handphonenya dia mati. Gimana cara kita hubungi keluarganya?"
"Gini aja, handphonenya kita charge sebentar, setelah itu telpon keluarganya baru kita bisa pulang."
"Ok"
Mereka menelpon dari panggilan terakhir. Dan memberitahu bahwa Dewi di rumah sakit.
Mbak Ayu dan mas Sigit, segera datang ke rumah sakit.
"Mas, terima kasih sudah menolong adik saya. Kejadiannya bagaimana ya?"
Lalu mereka menceritakan bahwa mereka baru pulang kerja dan melihat Dewi yang di dorong oleh seorang laki-laki tapi mereka tidak bisa melihat wajahnya karena tertutup topi.
Setelah menceritakan, mereka berdua pamit untuk pulang. Dewi tersadar.
"Dimana aku?"
"Dewi, kamu sudah sadar. Alhamdulillah. Kamu ada di rumah sakit. Apa yang kamu rasakan? Siapa yang membuat kamu seperti ini?"
"Mbak, bisa tidak satu-satu. Jangan banyak-banyak kasih pertanyaan. Badan Dewi sakit. Bayi Dewi gimana?"
"Untungnya bayi kamu tidak papa. Tapi kamu harus bedrest karena cairan ketuban kamu berkurang. Untungnya tadi ada pejalan kaki yang menolong kamu."
"Mbak, Dewi mau pulang. Kasihan ayah sama ibu."
"Ngga bisa, kamu harus di opname sampai kondisi kamu pulih. Mas Sigit lagi ngurus kamar kamu."
"Tapi mbak Ayu, besok Dewi ada meeting."
"Susah banget sih dikasih tahu! Kamu dan bayimu mau mati! Kalau kamu sampai di pecat, biar nanti mas Sigit bantu kamu. Yang penting kamu tenang dulu dan istirahat."
"Iya mbak Ayu."
Dewi akhirnya di pindah ke ruang perawatan. Mas Sigit dan mbak Ayu menunggu Dewi di rumah sakit.
"Wi, siapa yang buat kamu seperti ini? Kamu tidak usah takut! Kasih tahu sama mas, biar besok mas labrak! Sembarangan saja melakukan kekerasan sama istri sendiri!"
__ADS_1
"Wi, mbak Ayu juga mau tahu, siapa orangnya? Apa benar dugaan mbak dan mas, bahwa yang buat kamu seperti ini apakah Fuad? Jawab Wi."
"Mbak Ayu, mas Sigit, Dewi capek dan badan Dewi sakit semua. Besok Dewi akan kasih tahu. Dewi mau tidur dulu ya."