
Sudah jam 2 siang, Fuad belum jemput aku. Katanya jemput pagi. Hmmm, baguslah kalau tidak jadi jemput.
Dewi merasa senang karena sepertinya Fuad tidak jadi menjemput dirinya.
"Dewi, Dewi. Fuad datang ini."
Ibu mengetuk kamar Dewi.
Hufht, baru saja senang eh tiba-tiba datang. Panjang umurnya.
"Iya bu, sebentar. Dewi keluar."
"Fuad, duduk dulu atau mau ke kamar saja?"
"Fuad tunggu disini saja bu."
"Oh ya sudah. Nah itu Dewi sudah keluar kamar."
Ibu melihat Dewi yang berjalan ke ruang tamu sambil membawa tas.
"Dewi sayang, maaf aku baru jemput karena tadi antar mama sama papa ke bandara dulu."
"Iya tidak papa. Ini mau langsung pergi atau bagaimana?"
"Langsung saja, karena aku ada kerjaan. Jadi aku antar kamu dulu baru berangkat lagi."
"Oh ok. Bu, Dewi dan Fuad pamit ya. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam, hati-hati."
Fuad dan Dewi pergi. Dan mereka sampai rumah. Dewi segera masuk ke kamar diikuti oleh Fuad.
"Dewi, aku butuh uang 1.5 juta untuk modal buka usaha. Ada barang yang kurang."
"Memangnya kamu buka usaha apa? Kamu tidak ada uang?"
"Uangku habis buat biaya nikah kita kemarin. Aku buka toko jualan pulsa."
"Tapi tadi pagi uangku sudah aku kasih ke ibu. Dan semalam kamu ambil uangku yang 500ribu."
"Ya, kalau sudah menghasilkan uangnya aku kembalikan. Aku janji pasti aku kembalikan."
Dewi menghela napas panjang. Dan mengeluarkan dompetnya.
"Ini aku hanya ada 1.3 juta. Yang 300 pegangan buat aku. Minggu depan aku sudah masuk kerja."
"Masa uang kamu tinggal itu saja?"
"Bukannya semalam kamu sudah ambil uangku 500ribu? Terus uang itu kamu pakai buat apa?'
"Aku tidak percaya uang kamu tinggal segitu. Di ATM pasti masih ada sisa uang. Sini dompetmu!"
Fuad merebut dompet yang Dewi pegang.
"Kembalikan dompet aku!"
Fuad segera mengeluarkan isi dompet Dewi. Hanya ada 1 ATM saja. Dan ada print out dari ATM.
"Nah kamu lihatkan? Tadi aku baru ambil 1.5 juta, yang 200ribu aku kasih ke ibu. Sisanya tinggal 1.3 juta! Saldo aku tinggal 10ribu!"
"Aku ambil semuanya!"
__ADS_1
"Loh! Jangan dong! Kalau kamu ambil semuanya bagaimana aku mau jalan untuk ke kantor? Terus aku juga harus periksa kandungan! Ini anak kamu! Darah daging kamu!"
"Diam! Tidak usah membantah! Kamu itu harusnya support suami kamu yang sedang berusaha!"
"Oooo, berusaha?! Mana bukti kalau kamu berusaha? Mana bukti kalau kamu bekerja?"
"Diam kamu! Istri kurang ajar!"
Plaaakkkk
"Kalau kamu tidak diam, Aku akan buat kamu diam selamanya! Ngerti kamu!"
Dewi memegang pipinya yang ditampar oleh Fuad. Semua uang yang ada di dompet Dewi diambil oleh Fuad.
"Ingat! Aku ini suami kamu!"
Fuad keluar dari kamar dan membanting pintu kamar.
Dewi masih memegang pipinya yang sakit dan ia mendengar Fuad sedang berbicara sambil tertawa-tawa.
Suara perempuan? Bi Atik kah? Tapi sepertinya bukan.
Dewi memasang telinganya baik-baik di dekat pintu kamar.
"Ini uang ada 1 juta, Jadi kamu bisa bayar kost kamu. Dan 300 aku pegang."
"Makasih sayang. Terus kapan kamu akan ceraikan perempuan itu!'
"Nanti, tunggu saatnya. Aku menikah sama Dewi belum ada 1 bulan."
"Ok, aku akan sabar. Banyak uangnya si Dewi itu?"
"Ya sudah kalau gitu, kita pergi sekarang. Dan nanti malam baru kita pulang."
"Ok."
Fuad menghampiri bibi ke dapur.
"Bi Atik, saya keluar dulu. Jangan sampai Dewi keluar dari rumah! Kalau sampai Dewi pergi, bibi akan tahu akibatnya!"
"I-iya den Fuad."
Setelah dirasa aman. Dewi keluar dari kamar dan menuju ke dapur.
"Bi Atik."
"Iya non Dewi. Kenapa pipi non Dewi merah? Non ditampar ya sama den Fuad."
Dewi hanya tersenyum.
"Bi, sini aku bantu beres-beres."
"Ngga usah non. Oh iya, sebentar non."
Bibi berjalan ke ruang makan dan mengambil surat titipan dari mamanya Fuad.
"Non, tadi pagi sebelum tuan dan nyonya pergi, nyonya ada kasih surat sama bibi untuk dikasih ke non. Ini suratnya."
"Surat? Kenapa harus kasih surat? Kan bisa langsung telpon aku atau kirim pesan. Kok aneh? Eh iya, makasih ya bi."
Dewi membuka surat dari mamanya Fuad dan membacanya.
__ADS_1
Hah! Apa-apaan ini? Gila kali ya! Dia pikir gue mesin uang! Dan.... aaarrrrggghhh Dewi mengacak-ngacak rambutnya saking kesal membaca surat tersebut.
"Non, kenapa non."
"Ngga papa bi, aku cuma mikir saja. Ini keluarga gila ya? Kenapa mereka seperti itu?"
"Ya non. Bibi tidak bisa bilang banyak. Biar nanti non yang merasakan sendiri. Takutnya kalau bibi bilang dipikirnya bibi ghibah ke mereka"
"Aku sudah tahu kok bi. Oh iya bi. Tadi aku dengar suara perempuan bicara sama Fuad. Itu siapa bi?"
"Emmm, anu, anu."
"Anu, anu? Ada apa bi? Ngomong saja tidak perlu takut. Perempuan tadi itu siapa?"
"Namanya Sisi, non. Dia pacarnya den Fuad, kalau bibi tidak salah dengar dan semalam Sisi menginap di sini. Di kamar den Fuad dan non Dewi."
"Hah! Mereka berdua di kamar?"
"Iya non. Tadi pagi nyonya tanya sama saya. Tapi saya tidak kasih tahu kalau den Fuad bawa perempuan itu ke sini."
"Oh ok. Papa dan mama berapa lama di luar kota?"
"Biasanya paling cepat seminggu. Kalau untuk yang sekarang, bibi tidak tahu non akan berapa lama tuan dan nyonya di luar kota."
"Bi, saya mau pakai kamar tamu saja."
"Maaf non. Seperti tadi mereka juga pakai kamar tamu. Karena bibi tadi yang membersihkan kamar tamu sebelum mereka berangkat."
Dewi menepuk jidatnya.
Terus aku tidur dimana? Ngga mungkin aku tidur di kamar dan kamar tamu. Pasti mereka sudah melakukan itu.
"Kenapa non? Kok kelihatannya bingung?"
"Ngga papa bi. Eh iya. Selain kamar tamu di rumah ini ada kamar kosong yang lain tidak?"
"Emm, ada sih non. Kamar di sebelah kamar saya. Kan sebelumnya di rumah ini ada dua pembantu. Tapi akhirnya yang satu pulang. Masih muda. Karena..."
"Karena apa bi?"
"Karena sakit non. Dia pergi satu hari setelah den Fuad dan non menikah. Yang antar pulang ke kampung nyonya dan tuan."
"Baik juga papa dan mama, mau mengantarkan pembantunya pulang ke kampung."
"Ya, bagaimana lagi non. Bentuk tanggung jawab tuan dan nyonya akibat..."
"Akibat apa bi? Bibi kenapa sih? Dari tadi bicaranya tidak selesai dan dibuat gantung?"
"Bibi takut non. Bibi masih mau kerja. Kalau bibi cerita takutnya nanti bibi dipecat."
"Ya sudah tidak papa kalau bibi tidak mau cerita. Biar saya yang tempati kamar di sebelah bibi ya."
"Eh, i-iya non. Tapi kamarnya sempit ngga ada AC nya. Hanya ada kipas angin."
"Ngga papa bi. Ada yang mau dibantu tidak bi?"
"Ngga usah non.. Istirahat saja."
"Ok, saya ambil pakaian saya saja untuk pindah kamar."
Dewi berjalan ke arah kamarnya.
__ADS_1