
Sudah sebulan lebih sejak kejadian itu. Dewi panik karena sampai saat ini tamu bulanan tidak juga muncul.
Fuad sering datang ke rumah Dewi dan bertemu dengan orang tuanya.
Seharian di kantor, kepala Dewi pusing dan mual. Dewi pulang cepat. Fuad sedang duduk di depan rumahnya.
"Ngapain kamu disini!"
"Dewi muka kamu pucat. Aku antar ke dokter."
"Ngga usah. Dan ngga perlu sok peduli sama gue."
"Serius, muka kamu pucat."
"Ngapain kesini? Orang tua gue pergi. Atau sengaja mau berbuat hal yang sama di rumah gue! Pergi!"
Tiba-tiba Dewi pingsan. Untungnya Fuad sigap menangkap Dewi yang pingsan.
Fuad membawa Dewi ke dokter dan menelpon orang tua Dewi.
"Fuad, gimana Dewi?"
"Masih di cek dokter pak, bu."
"Keluarga Dewi."
"Iya suster, saya ibunya."
"Mari masuk."
Orang tua Dewi dan Fuad masuk. Dan duduk.
"Dok, gimana anak saya?"
"Bapak dan ibu, selamat. Kalian akan punya cucu."
"Iya dokter, terima kasih."
"Tolong di jaga ya, ini anak pertama bukan?"
"Iya dokter, benar."
"Nah, karena anak pertama tolong dijaga ibunya. Karena sepertinya dia tadi shock saat saya kasih tahu kalau hamil."
"Iya dokter."
"Nah, ini resepnya. Sebisa mungkin dia harus istirahat."
"Iya dokter."
Ayah, ibu sebenarnya juga shock saat dapat penjelasan dari dokter. Sedangkan Fuad terdengar senang, karena akhirnya Dewi hamil anaknya dan ia akan segera menikah dengan Dewi.
Sepanjang perjalanan pulang dari dokter, Dewi hanya diam. Fuad mengikuti mobil ayah Dewi.
Dewi langsung masuk ke dalam kamar.
"Duduk Fuad, saya mau bicara."
__ADS_1
"Iya pak."
"Kamu tadi sudah dengar penjelasan dari dokter. Dewi hamil dan orang yang menghamili Dewi tidak datang untuk sekedar menanyakan bagaimana Dewi. Dan sekarang saya mau tanya, apakah kamu yakin mau menikahi Dewi sedangkan calon bayi yang dikandung Dewi bukan anak kamu?"
"Iya pak. Saya tetap akan menikahi Dewi. Dan lusa saya akan datang bersama orang tua saya untuk melamar Dewi."
"Ok, saya tunggu."
"Kalau gitu, saya pamit pulang ya pak. Biar saya bisa kasih tahu ke orang tua saya."
"Ya, hati-hati di jalan."
Fuad keluar dari rumah Dewi.
"Gimana yah? Fuad jadi menikah dengan Dewi."
"Ya. Dan lusa dia akan datang dengan orang tuanya untuk melamar Dewi."
"Ibu sedih. Dewi harus mengalami nasib seperti ini. Seandainya saja waktu itu ibu tidak memberikan ijin kepada Tito, mungkin kejadian ini tidak menimpa Dewi."
"Ya mau bagaimana lagi. Jalan hidupnya Dewi sudah begini. Kita sebagai orang tua hanya minta yang terbaik buat Dewi dan Fuad saja. Tapi sepertinya ada yang janggal."
"Maksudnya ayah, janggal bagaimana?"
"Sudahlah nanti saja. Siapkan makan bu. Dewi pasti belum makan. Dengan kondisi dia saat ini sedang hamil. Entah anaknya siapa. Hanya Dewi yang tahu kejadian yang sebenarnya."
"Iya, Ibu siapkan makan malam dulu."
Sementara di dalam kamar Dewi hanya bisa menangis. Dunianya hancur sudah. Pekerjaannya yang baru saja dimulai pada akhirnya akan hilang.
Apa yang harus aku perbuat ya Allah. Aku tidak mau seperti ini. Kamu sudah merusak impianku Fuad. Dan kamu senang karena telah berhasil membuat satu nyawa hadir dalam tubuhku saat ini. Dan kamu, Fuad sudah mencoreng mukaku dan keluargaku."
"Dewi, buka pintunya. Ayo makan malam dulu. Ayah sudah menunggu."
"Iya bu."
Dewi membuka pintu kamarnya.
"Ayo makan. Supaya kamu jangan sakit. Ingat kamu sedang hamil dan ada calon bayi di rahimmu."
"Ibu, bisa tidak ngga usah bicara seperti itu!"
"Iya maaf. Ayo makan, ayah sudah menunggu."
Ayah, ibu dan Dewi makan malam bersama. Mereka makan dengan pikiran masing-masing. Tidak seperti biasanya yang ada obrolan.
"Ayah, ibu. Dewi duluan masuk kamar."
"Iya."
Ayah menganggukkan kepalanya.
Fuad baru saja sampai rumahnya dan melihat orang tuanya sedang makan.
"Pa, ma. Fuad mau bicara."
"Mau apa? Kamu hamilin anak orang lagi!"
__ADS_1
"Iya pa, ma. Maafin Fuad. Perempuan ini adalah cinta pertama Fuad sejak di SMA dulu."
Papa Fuad bangkit dari duduknya dan menampar Fuad berkali-kali.
"Kamu! Kenapa kamu selalu buat masalah! Apa kata orang nanti!"
Papa meninggalkan meja makan.
"Lusa Fuad mau melamar dan Fuad sudah bicara dengan orang tuanya. Mereka tidak tahu kalau Fuad yang melakukannya."
"Tetap saja, kamu salah dan berapa banyak dosa yang harus papa dan mama tanggung akibat perbuatanmu. Dan mama harap kamu harus jadi laki-laki pemberani bukan pengecut seperti yang sudah-sudah."
"Iya ma, Fuad minta maaf. Kali ini Fuad akan menikahi Dewi. Namanya Dewi."
"Ok. Lusa kita berangkat melamar. Mama akan bicara sama papa. Dan mengenai biaya hidup, kalian tanggung sendiri. Baik papa dan mama tidak mau menanggung hidupmu dan istrimu nantinya."
"Iya mama."
"Kamu ada tabungan berapa? Berikan semuanya ke mama untuk mengurus lamaran dan pernikahanmu. Tidak ada pernikahan di gedung, sederhana saja. Karena calon istrimu sepertinya terlalu bodoh hingga bisa terbujuk sama kamu."
"Tapi ma, uang tabunganku tidak banyak."
"Sudah berikan semuanya besok. Ngerti kamu?"
"Iya mama."
Sebulan sudah sejak kejadian di puncak, Tito merasa hilang. Selama sebulan ini, Tito hanya pergi ke kampus setelah itu pulang.
Sampai saat ini pun Tito tidak bisa menemukan Fuad. Tito dendam kepada Fuad. Karena Fuad, dirinya tidak bisa bertemu lagi dengan Dewi."
Jika memang Dewi di perlakukan tidak baik oleh Fuad. Tito berani untuk bertanggung jawab karena dirinya yang mengajak Dewi pergi ke puncak.
"Tito, ayah mau bicara."
"Nanti sajalah, Tito mau istirahat dulu, baru juga pulang dari kampus."
"Sebentar saja."
Akhirnya Tito duduk di sebelah ayahnya.
"Teman ayah butuh abk untuk kapal pesiar. Dan dia minta apakah anak ayah ada yang mau untuk jadi abk. Ayah menawarkan kamu."
"Tito belum lulus kuliah. Sedang menyusun skripsi. Jadi kalau harus berangkat sekarang tidak bisa. Kalau mau menunggu sampai Tito lulus kuliah."
"Ok, nanti akan ayah sampaikan. Karena minggu depan ayah sudah berangkat lagi. Kamu kenapa, kok ayah lihat lesu sekali."
"Tito capek ayah. Lapar pengen makan dan setelah itu tidur."
"Ya sudah sana, makan. Sebentar lagi ayah mau pergi ke jalan bawang."
"Ngapain kesana? Istri ayah baru lagi?"
"Kamu anak kecil. Ngga perlu tahu urusan ayah."
"Kalau Tito anak kecil, kenapa ayah menawarkan kerjaan jadi abk?"
"Kamu! Selalu jawab omongan ayah! Di ajarin apa kamu sama ibumu?"
__ADS_1
"Ibu ngajarin Tito hal yang baik. Ibu setia nunggu ayah yang berlayar. Tapi ternyata? Ayah yang tidak setia sama ibu. Ayah selalu kdrt sama ibu! Kurang apa sama ayah? Ayah harusnya berpikir!"
Tito berjalan ke kamarnya. Ia tidak peduli lagi jika ayahnya marah kepada dirinya."