Anak Yang Tidak Diakui

Anak Yang Tidak Diakui
Part 8


__ADS_3

Dayat menelpon Dewi.


"Halo Dewi, jam 1 elo harus di kantor. Dipanggil sama bos besar."


"Aduuuuhhh, gue sakit Dayat."


"Iya gue tahu, tapi bos besar ngga mau tahu."


"Iya, iya, gue berangkat sebelum jam 1 gue sudah sampai kantor."


Dewi segera bersiap-siap untuk mandi. Selesai mandi dan berpakaian, Dewi keluar kamar. Dan menghampiri ibunya yang sedang memasak.


"Ibu, Dewi pamit ke kantor?"


"Loh, tadi katanya ngga ke kantor. Ayah baru berangkat pakai motor kamu. Dan ayah tidak bawa handphone."


"Aduuuuhhh, kenapa tidak bilang sih. Ijin sama Dewi."


"Telpon Tito saja. Minta ia antar kamu ke kantor."


"Huh, Tito lagi Tito lagi."


"Sudah sana telpon Tito. Ini sudah jam 10."


"Iya, iya."


Dewi menelpon Tito


"Tito, sorry. Bisa minta tolong untuk antar gue ke kantor. Bokap gue pergi dan bawa motor gue. Tadi teman kantor telpon. Jam 1 gue ada meeting."


"Iya, gue ngga mau antar elo, kalau elo ngga mau turutin maunya gue."


"Ya sudah ngga usah. Kenapa juga gue harus nurutin elo."


"ok."


Tito mematikan telponnya.


"Iiiihhh, dimatiin lagi."


Dewi menelpon Tito lagi, tapi tidak diangkat. Beberapa kali menelpon tidak diangkat akhirnya Dewi mengirimkan pesan ke Tito.


"Iya gue turutin apa maunya elo. Bisa minta tolong antar gue ke kantor."


Tito membaca pesan Dewi dengan senang. Ia segera melajukan mobilnya ke rumah Dewi.


Dewi mendengar bunyi klakson dari mobil Tito.


"Bu, Dewi berangkat ya. Tito sudah jemput. Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam, iya hati-hati."


Dewi segera masuk ke dalam mobil Tito. Sudah jam 11.30.


"Tito, terima kasih sudah mau antar gue."


"Sama-sama, tapi kamu harus turutin apa maunya aku?"


Dewi melihat jalan ke kantornya yang agak tersendat karena macet. Dewi takut Tito akan menyuruhnya turun apabila ia tidak menuruti maunya Tito.


"Memangnya elo mau apa?"


"Ya jawab dulu. Elo mau nurutin maunya gue ngga?"


"Iya, gue turutin."


"Bagus, nanti sore elo pulang kerja, gue jemput, terus elo mau jadi pacarnya gue Dan besok elo harus mau ikut gue ke puncak."

__ADS_1


"Hah, banyak banget! Kan cuma nganterin gue ke kantor hari ini dan tidak selamanya kenapa juga harus jadi pacar elo dan harus ikut elo ke puncak."


"Kalau elo ngga mau ya sudah. Gue antar elo sampai sini saja. Macet. Elo bisa turun sekarang."


"Ok, ngga papa. Turunin aja disini. Gue bisa naik ojek. Bisa lebih cepat sampai kantor karena bisa nyelip sana sini."


"Ok, silakan turun disini nona cantik. Terima kasih."


Dewi langsung keluar dari mobil Tito, ia berjalan mencari tukang ojek. Tapi ternyata ojeknya sudah pergi dan belum ada yang kembali.


Tito melihat Dewi yang kebingungan. Dan membuka kaca mobilnya.


"Masih mau naik ojek dan nunggu tukang ojek yang datang? Atau menyetujui dan menuruti permintaan gue?


Dengan cemberut Dewi masuk kembali ke mobil Tito


"Iya, gue setuju."


"Ok." Tito tersenyum, akhirnya Dewi menjadi pacar Tito.


Sampai kantor Dewi sudah jam 12.45.


"Nanti gue jemput. Ngga ada alasan."


"Iya. Thank you."


Dewi segera berlari ke dalam gedung kantornya.


"Dayat, gue sudah sampai."


"Ya sudah ditunggu saja. Tadi sekretaris bos besar telpon minta loe jam 1 ke ruangannya bos besar."


"Ok."


Jam 1 kurang 5 menit. Dewi ke lantai 2, ke lantai khusus BOD.


"Iya mbak, silakan masuk. Bapak sudah di dalam."


"Baik mbak. Terima kasih."


Dewi mengetuk pintu. Lalu masuk.


"Dewi, silakan duduk. Kita masih menunggu pak Hendry, sebentar lagi dia akan datang."


"Baik Pak."


Tidak berapa lama pak Hendry datang. Dan ternyata Dewi mendapatkan jabatan untuk memimpin divisi baru. Mulai Senin depan, Dewi sudah mulai di divisi baru dan pindah ke lantai 4.


Setelah selesai. Dewi segera keluar ruangan bos besar dan naik ke ruangannya.


"Cie, cie ada yang naik jabatan nih."


"Jabatan pala elo. Yang ada gue pusing. Mesti gimana ngejalanin tuh divisi. Cuma gue sama Yesi saja berduaan untuk mengurus dokumen perusahaan yang baru."


"Ya baguslah, at least elo ngga pusing lagi baca bahasa program."


"Lebih baik gue baca bahasa program daripada ngurusin dokumen legal divisi baru."


Dewi membereskan mejanya dan menyelesaikan kerjaannya di IT untuk di serahkan ke Dayat.


Tito sampai kampus dan tertawa.


"Tumben datang-datang ketawa lebar benar. Dapat perawan elo?"


"Yoi, dapat perawan yang sudah mapan."


"Maksudnya?"

__ADS_1


"Gue udah jadian sama cewek yang sudah kerja di kantoran."


"Wew, kok tuh cewek mau sama elo? Elo main pelet ya sampai itu cewek mau?"


"Sembarangan elo! Gini-gini gue punya Tuhan. Ngga ada ceritanya gue main santet."


"Aaahhh, gue tahu. Pasti loe kasih lihat titi elo yang gede ke tuh cewek."


"Elo kalau ngomong asal ya. Udah deh jangan nuduh, kalau mau tanya."


"Terus kita makan-makan dong."


"Belum, nunggu sampai besok. Gue besok ada acara sama tuh cewek. Baru gue kabarin elo."


"Nanti malam, jangan lupa kita latihan band."


"Siap, sekalian nanti gue ajak tuh cewek. Biar kalian pada kenal."


"Siplah. Gue pengen tahu ceweknya Tito kayak apa."


Tito masuk ke dalam ruang kuliah.


Sore, Tito sudah menelpon Dewi untuk menjemput Dewi pulang kantor.


Pulang dari kantor Dewi, Tito mengajak Dewi makan. Dewi berusaha enjoy walaupun di hatinya ia kesal.


"Tito, gue capek. Habis makan pulang ya. Gue harus selesaikan kerjaan kantor."


"Ok, gue antar tapi sebelumnya gue kenalin dulu sama teman-teman gue sekalian minta ijin kalau hari ini gue ngga bisa latihan band."


"Hah, ngga deh. Kalau gitu gue pulang sendiri."


"Tidak bisa, perjanjian masih berlaku."


"Hmppfft, ya sudah tapi jangan lama-lama."


Tito mengajak Dewi bertemu dengan teman-teman band nya.


"Sorry gue telat datang. Oh iya kenalin ini cewek gue namanya Dewi."


"Anjrit tinggi banget. Sejajarlah sama Tito."


"Fuad mana?"


"Lagi ke kamar mandi."


Fuad teman Tito yang lain datang


"Fuad, kenalin ini Dewi, cewek gue."


"Dewi, kamu Dewi? Apa kabar? Sudah lama kita ngga ketemu sejak lulus dari SMA."


"Iya Fuad Gue baik. Elo apa kabarnya? Masih ingat aja elo sama gue?"


"Gimana gue ngga ingat, elo kan nolak gue sampai 5 kali waktu SMA. Elo pacaran sama Tito?"


"Belum, belum resmi. Baru tadi itupun juga belum sreg guenya."


"Elo ngomong apa sih Wi. Udah deh ngga usah bahas masalah sreg atau shrek. Oh iya, besok gue mau ajak kalian termasuk Dewi ke puncak, nginap di Villa gue. Kalian bisakan?'


" Iya siap. Bisalah. Ngga tahu kalau Fuad. Secara doi masih jomblo."


"Gimana Fuad. Bisa ngga?"


"Iya, gue bisa."


"Ok, kalau gitu. Gue antar Dewi pulang dulu, nanti gue balik lagi."

__ADS_1


"Ok Tito."


__ADS_2