
Alhamdulillah, akhirnya aku bisa keluar dari rumah Fuad. Dewi bernapas lega.
Dewi sudah sampai di rumah orang tuanya. Dewi mengucap salam tetapi tidak ada jawaban dari ayah ataupun ibunya. Dewi membuka pintu tapi ternyata pintunya terkunci.
Tumben, pintunya masih terkunci. Apa ayah sama ibu masih tidur? Atau mereka pergi. Di tunggu saja dulu lah yang penting aku sudah sampai rumah. Dewi duduk di bangku yang biasanya dipakai ayah saat duduk di teras rumah.
Handphone Dewi berbunyi, ada pesan masuk.
Dewi mengambil handphonenya dan melihat pesan masuk ternyata dari Fuad.
Pulang kamu sekarang, sebelum orang tuaku datang menjemput kamu! Atau kamu akan tahu akibatnya nanti kalau tidak segera pulang. Aku tahu kamu berbohong!
Dewi tidak membalas pesan dari Fuad. Sudah hampir 15 menit Dewi menunggu di teras rumahnya. Dewi segera menelpon ibunya.
"Assalamu'alaikum bu. Ibu ada dimana? Dewi datang ke rumah tapi pintunya terkunci."
"Wa'alaikumsalam Dewi. Kamu bisa ke rumah sakit sekarang. Tadi habis sholat subuh, ayah jatuh dan pingsan di depan rumah setelah dari mesjid. Ayah masih di UGD dan belum sadar." Suara ibu terdengar seperti orang panik.
"Iya bu, Dewi segera ke rumah sakit. Ibu tenang ya."
Dewi segera memesan taxi online.
Handphone Dewi berdering. Ternyata dari Fuad. Dewi tidak mau mengangkat telpon dari Fuad. Dewi segera mematikan handohonenya.
"Ibu, gimana ayah?"
"Dewi, gula darahnya ayah tinggi dan harus diopname. Ibu belum mengurus kamar buat ayah."
"Biar Dewi saja. Ibu tunggu ayah disini. Mbak sudah dikabarin?"
"Belum, mbak-mbak mu belum ibu kasih tahu."
"Ya sudah, nanti Dewi telpon. Dewi tinggal sebentar ya bu."
Dewi segera ke ruang pendaftaran untuk tawar inap. Setelah beres, Dewi keluar dari rumah sakit, membeli makanan untuk ibunya sarapan dan juga minum. Dan menelpon mbaknya.
__ADS_1
"Ibu, ini ada nasi buat ibu makan dan ini air putih. Ibu pasti belum makan. Ibu harus makan, biar tidak sakit juga. Kan sudah di kamar. Jadi ngga ada alasan ngga mau makan."
Dewi memberikan makanan untuk ibunya.
"Dewi, kamu nanti bisa pulang ke rumah untuk ambil baju ibu dan ayah?"
"Bisa bu. Nanti Dewi temani ibu di rumah sakit. Nunggu mbak Ayu, katanya mau datang. Jadi nanti mbak Ayu datang baru Dewi pulang untuk ambil baju."
"Tidak usah, kan kamu lusa sudah masuk kerja. Terus tadi untuk biaya rumah sakit bagaimana? Ini pakai uang yang ada di ATM ini untuk ganti uang kamu yang dipakai buat pendaftaran tadi."
"Sudah, ibu ngga usah kuatir. Nanti Dewi yang atur ya. ATM nya ibu simpan saja. Dewi masih ada uang buat bayar rumah sakit."
"Ayah, ayo bangun. Katanya mau lihat anak Dewi, cucu ayah. Ayah harus bangun dulu. Nanti kalau ayah bangun, Dewi akan bawakan makanan kesukaan ayah, tapi kalau ayah tidak mau bangun, yang ada makanannya bisa basi."
Dewi berusaha mengajak bicara agar ayahnya segera sadar. Ibunya tertidur. Jam 12, mbak Ayu datang dengan suaminya.
"Dewi, gimana kondisinya ayah?"
"Belum ada kemajuan mbak. Oh iya mbak Ayu masih lama kan disini. Dewi mau pulang ke rumah untuk ambil bajunya ibu. Jadi nanti malam Dewi dan ibu yang akan jaga ayah."
"Santai saja mbak. Kalau Dewi kehabisan uang nanti minta sama mbak hehehehe. Ya sudah kalau gitu Dewi pulang dulu ya bu, mbak. Mana kunci mobilnya mbak?"
Suami mbak Ayu memberikN kunci mobil kepada Dewi. Dewi segera pergi dari rumah sakit.
Mobil siapa yang ada di depan rumah? Jangan-jangan Fuad. Untungnya tadi pakai mobil mbak Ayu dan kacanya lumayan gelap jadi ngga kelihatan.
Dewi menjalankan mobil mbak Ayu dengan pelan untuk melihat siapa yang ada di teras rumahnya.
Fuih, benarkan dugaanku. Fuad dan Sisi, ngapain mereka ke sini? Jangan-jangan minta uang lagi. Lebih baik aku pergi saja. Dan nanti kembali lagi. Aku tidak mau ketemu Fuad sementara waktu.
Dewi menjalankan mobilnya dan menjauhi rumahnya.
"Kemana sih orang tuanya Dewi. Tumben banget mereka tidak ada di rumah!"
"Terus, kita mau nunggu mereka sampai kapan? Kita sudah hampir 3 jam disini!"
__ADS_1
"Sampai bisa dapat uang lagi dari Dewi. Semua uang Dewi kan sudah dikasih ke kamu! Aku sudah tidak ada uang lagi!"
"Aku sudah bilang, ceraikan Dewi, biar kita bisa nikah dan papaku pasti akan kasih uang banyak. Jadi kamu tidak perlu pusing lagi!"
"Gampang banget kamu ngomongnya? Aku tidak akan ceraikan Dewi sampai uangku untuk nikahan kemarin balik lagi dengan jumlah yang sama. Sukur-sukur lebih, jadi aku bisa nikah sama kamu tanpa membuat pusing papa dan mama."
"Tapi aku capek dan lapar Fuad! Kita pergi dulu cari makan. Nanti sore kita balik lagi. Siapa tahu mereka sudah pulang."
"Makan dimana? Aku tidak pegang uang. Memangnya kamu punya?"
"Ada, aku ada uang. Kemarin papa transfer uang ke aku karena aku bilang mau ketemu calon mertua. Jadi papa transfer uang."
"Terus, kamu pikir aku mau pakai uang dari papa kamu walaupun untuk makan. Apa kata papa kamu kalau tahu aku tidak kerja?"
"Susah banget sih ngomong sama kamu. Apa kamu sudah benar-benar jatuh cinta sama Dewi!"
"Bukan gitu. Kamu kan tahu sebenarnya apa yang membuat aku berbuat seperti itu dan menikahi Dewi. Jadi sabar dulu kenapa sih! Selama ini juga kamu dapat apa yang kamu mau dari aku. Tapi untuk saat ini biarkan aku menjalankan rencanaku!"
"Iya tapi sampai kapan? Aku tidak bisa nunggu terlalu lama lagi. Sudah deh, kamu keras kepala banget. Aku pergi saja!"
Sisi pergi meninggalkan Fuad yang masih duduk di bangku teras rumah orang tua Dewi.
Fuad mengusap wajahnya dengan kasar.
Awas kamu Dewi, jangan pernah bermain-main dengan saya.
Fuad segera mengejar Sisi dan mengajaknya masuk ke dalam mobil. Mereka pergi meninggalkan rumah orang tua Dewi.
Dewi masih berputar-putar di sekitar lingkungan rumahnya.
Ah, coba lagi depan rumah siapa tahu mereka sudah pergi. Kelamaan gini boros bensin. Mbak Ayu, benar-benar deh, punya mobil kok boros banget bensinnya.
Dewi ngedumel sendiri karena melihat indikator bensin mobil mbaknya.
Dewi menjalankan mobilnya menuju ke rumah.
__ADS_1
Alhamdulillah mereka sudah tidak ada. Jadi aku bisa segera masuk ke rumah dan mengambil baju ganti untuk ibu juga ayah.