Anak Yang Tidak Diakui

Anak Yang Tidak Diakui
Mama Mertua


__ADS_3

"Bu, bu. Ibu dimana? Ayah haus."


"Alhamdulillah, ayah. Ayah akhirnya bangun. Ini ayah, diminum airnya tapi pakai sedotan dulu ya."


Ayah segera minum air dari sedotan yang diberikan Dewi.


"Dewi, ayah dimana? Ibu mana? Ayah lapar. Ayah mau makan, Dewi."


"Pelan-pelan ayah. Ayah sekarang lagi di rumah sakit, karena dari tadi subuh sepulang sholat subuh ayah pingsan. Ibu baru saja pulang ke rumah mbak Ayu. Ada roti, ayah makan roti dulu ya."


Ayah menganggukkan kepalanya dan menerima roti yang diberikan oleh Dewi. Dan memakan rotinya dengan pelan.


'Ayah, sebentar ya. Dewi telpon ibu dulu. Mau kasih tahu ke ibu kalau ayah sudah bangun. Ayah makan rotinya pelan-pelan saja biar tidak tersedak."


Dewi segera menelpon ibunya dan mengatakan bahwa ayah sudah bangun.


"Dewi, ayah mau minum lagi."


"Iya ayah. Ini minumnya."


"Dewi, kamu yang nunggu ayah malam ini?"


"Iya ayah, kasihan ibu. Jadi tadi ada mbak Ayu juga. Akhirnya ibu diajak nginap di rumah mbak Ayu, biar bisa istirahat. Bagusnya ayah punya istri yang hebat. Ibu yang bawa ayah ke rumah sakit dan ibu tidak panik."


Dewi memberikan acungan jempol untuk ibunya. Ayah tersenyum.


"Dewi, ayah tidak mau lama-lama di rumah sakit. Besok ayah mau pulang."


"Wohooo, tenang ayah. Jangan mikir macam-macam. Ayah harus sehat dulu baru bisa pulang. Dan besok kalau dokternya datang, baru ayah bisa tanya boleh pulang tidak."


"Iya, tapi ayah memang tidak mau lama di rumah sakit. Makananya tidak enak."


"Ya pasti makanan rumah sakit tidak enak, mulut ayah pasti pahit. Mau kata besok pagi makanannya lontong sayur pakai ayam dan telor juga tahunya pasti ayah tetap bilang tidak enak. Kalau ayah dan semua orang yang di rawat bilang makanan rumah sakit enak pasti tiap hari ke sini. Hahahhaha."

__ADS_1


Ayah tersenyum mendengar bercandaan Dewi.


"Fuad mana? Dia tidak kesini nemenin kamu?"


"Fuad masih kerja ayah. Dan tadi juga sudah telpon, dia masih di kantor."


Ayah tersenyum.


Ya di kantor yang ukurannya 3 x 4. Lagi kerja keras sampai telanjang bareng sama sekretaris jadi-jadian.


Dewi membatin dalam hatinya.


"Dewi, ayah mau tidur lagi ya. Masih ngantuk."


"Iya, obatnya diminum dulu ini. Obat untuk malamnya." Dewi memberikan obat kepada ayahnya.


'Obatnya pahit Wi. Besok minta sama dokter, obatnya yang manis."


"Iya, besok Dewi minta permen nano-nano, biar rasanya macam-macam."


"Dewi ngga hilang ayah. Buktinya sekarang Dewi disini sambil bawa gendang."


"Hahahah, kamu ada-ada saja. Masa cucunya ayah di bilang gendang. Semoga ayah dapat cucu laki-laki dari kamu ya Wi."


"Amin. Ya sudah ayah tidur. Dewi ngga kemana-mana kok. Dewi nemenin ayah disini. Mumpung belum masuk kantor lagi. Jadi nanti saat Dewi masuk kantor, ayah sudah pulang ke rumah."


"Iya, Amin. Semoga ya Wi."


"Harus. Sudah tidur. Apa mau di mpok-mpok biar cepat tidur." Dewi tertawa.


"Memangnya ayah bayi, kalau tidur harus di mpok-mpok segala."


Dewi tertawa. Tidak berapa lama, ayahnya tertidur.

__ADS_1


Handphone Dewi berbunyi.


"Assalamu'alaikum ma."


"Dewi, ini sudah malam kenapa kamu tidak pulang! Sampai tidak ngurusin Fuad, suami kamu. Dan katanya Fuad, selama mama dan papa pergi ke luar kota, kamu tidak dirumah. Kamu ke rumah orang tuamu! Punya mantu tidak punya tata krama dan adab sama sekali!"


"Maaf ma, ayah masuk rumah sakit. Dan tadi pagi Dewi buru-buru pergi karena ibu telpon dan bilang ayah masuk rumah sakit. Selama mama dan papa pergi, Dewi tinggal di rumah. Kalau mama tidak percaya tanya saja sama bi Atik. Karena Dewi menempati kamar belakang di sebelah kamar bi Atik."


"Oh, sudah berani bohong sama mama ya! Kalau memang ayah kamu masuk rumah sakit, kirim photonya dan di rumah sakit mana! Kamar nomer berapa! Sekarang!"


"Gimana mau photo sekarang ma. Kan mama masih nelpon Dewi. Kalau sudah di tutup telponnya Dewi bisa kirim photonya dan sama nomer kamarnya!"


"Ya sudah, segera kirim photonya. Dan besok subuh, kamu harus sudah sampai rumah!"


"Ngga bisa ma. Ini Dewi jaga ayah sendiri. Ibu pulang untuk istirahat. Kalau besok ibu sudah datang ke rumah sakit, Dewi bisa pulang!"


"Huh! Pantas saja Fuad cari perempuan lain yang bisa mengurus dirinya. Kamu sebagai istri tidak ada hormat sama sekali dengan suami!"


"Oh, jadi mama sudah ketemu dengan Sisi. Terus mama tidak marah karena Fuad bawa perempuan lain ke rumah dan tidur sama Fuad!"


"Buat apa mama marah sama Sisi? Dia bisa mengurus dan melayani Fuad seperti suaminya sendiri. Sedangkan kamu yang jelas-jelas istrinya malah pergi seenaknya saja! Harusnya orang tua kamu paham, bahwa kamu sudah punya keluarga sendiri!"


"Maaf ma. Dewi memang sudah menikah dengan Fuad, anak mama. Tapi Dewi masih dan harus tetap harus bertanggung jawab sama orang tua Dewi. Orang tua Dewi yang sudah mendidik Dewi dari kecil sampai sekarang!"


"Hah! Didikan apa? Didikan orang tua kamu tidak benar! Bisa-bisanya kamu pura-pura hamil agar di nikahi Fuad! Buktinya Sisi, sudah pacaran dengan Fuad, karena dia bisa jaga diri, dia tidak hamil. Dan mama lebih memilih Sisi untuk jadi istrinya Fuad. Tapi karena kamu mengaku hamil anaknya Fuad, sampai akhirnya Fuad menikahi kamu!"


"Ma, sudah malam. Dewi mau istirahat. Nanti Dewi kirimkan photo ayah yang ada di rumah sakit sesuai permintaan mama. Dan Dewi tidak mau mama menghina orang tua Dewi! Selamat malam, assalamu'alaikum."


Dewi segera menutup sambungan telpon. Dan segera mengirimkan photo ayahnya dan nomer kamarnya lalu dikirimkan ke mamanya Fuad dan juga Fuad.


Sebenarnya apa sih maunya mama. Awal waktu melamar aku, kelihatan baik. Ternyata setelah menikah ketahuan semua kejelekannya. Mana ada mertua yang malah membebaskan anaknya membawa perempuan lain. Apa mereka tidak mikir ya, aku sedang hamil akibat perbuatan Fuad. Aaaarrrggghhh.


Dewi merasa kesal kepada mertuanya, ditambah menghina orang tuanya.

__ADS_1


Seandainya aku kasih tahu ke mama dan papa, bagaimana kejadian yang sebenarnya sampai aku bisa hamil. Ah, ya pasti mereka tidak akan percaya! Segala perempuan itu lebih dibela sama mama. Ngga mikir apa ya. Aku harus menunggu ayah di rumah sakit. Coba kalau posisiku dibalik dengan Fuad saat ini! Terserah lah mama mau bicara apa. Yang pasti aku akan mendahulukan orang tuaku terlebih dahulu.


__ADS_2