Anak Yang Tidak Diakui

Anak Yang Tidak Diakui
Dijemput Fuad


__ADS_3

"Dewi, aku di depan. Jemput aku karena aku tidak punya kartu untuk jaga pasien. Cepat!"


"Iya, iya sabar kenapa?"


Dewi bergegas keluar dari kamar dan menghampiri Fuad yang menunggu di pintu masuk. Dan meminta satpam untuk membuka pintu masuk yang menyerupai gerbang.


"Aku tidak mau lama di rumah sakit ini. Cepat kamu berkemas, aku harus membawa kamu pulang ke rumahku!"


"Kamu bisa tenang tidak! Ini rumah sakit dan mulut kamu bau minuman!" Muka Dewi memerah menahan marah


"Karena itu cepat pulang. Ayah kamu tidak perlu di jaga lagi."


"Tidak bisa, aku harus nunggu ibu datang baru aku bisa pulang ikut kamu!"


"Huh, menyusahkan saja! Aku minta uang buat beli makan, aku lapar."


"Aku tidak ada uang. Kalau kamu lapar, masuklah, di dalam ada roti dan kue-kue. Kamu bisa memakannya."


"Ok, sekalian kopi. Aku minta kopi."


"Ini rumah sakit, bukan warung kopi! Terserah kamu sajalah. Yang pasti aku tidak ada uang Sebelum kamu ke ayah, lebih baik kamu ke kamar mandi, basuh mukamu dan sikat gigi, kalau perlu mandi sekalian!"


Dewi meninggalkan Fuad yang masih duduk di luar dan masuk ke dalam.


Punya suami menyusahkan saja. Tidak ingat sudah punya istri dan sebentar lagi jadi ayah!


"Dewi, ada apa? Siapa yang ada di luar?"


"Ayah sudah bangun. Fuad ada di luar mau menjemput Dewi. Tapi tidak Dewi ijinkan masuk karena baju Fuad kotor, dia baru pulang kerja."


"Ya kan Fuad bisa masuk, mandi dan pakai baju ayah."


"Tidak usah ayah. Kelihatannya dia masih ngantuk. Biar dia di luar untuk istirahat. Ayah, Dewi keluar sebentar mau kasih roti dan minum untuk Fuad."


"Iya."


Dewi keluar membawa 2 bungkus roti dan air mineral.


"Ini, makan dulu roti ini dan minumlah. Sebentar lagi ibu akan datang dan biasanya bawa makanan untuk aku sarapan."


Fuad menerima roti dan air mineral yang diberikan oleh Dewi.


"Aku ke kantin dulu. Cari kopi. Dan kamu jangan pergi sebelum aku kembali kesini."


"Iya."

__ADS_1


Dewi masuk kembali ke dalam. Tidak berapa lama ibunya dan mbak Ayu datang.


"Pagi ayah, hari ini kita pulang ya."


"Iya. Selama ayah di rumah sakit, Kenapa Shinta tidak datang menengok ayah?"


"Mbak Shinta sudah telpon ibu. Hari ini dia akan datang dengan suami dan anak-anak nya dan menginap di rumah. Shinta kan tidak bisa menengok ayah karena rumah Shinta di Bandung, masa ayah lupa."


Ayah menganggukkan kepalanya.


"Bu, ibu bawa sarapan? Dewi lapar."


"Ada, minta sama mbak Ayu."


"Mbak Ayu di luar sedang menelpon. Dewi minta 2 bungkus. Yang satu untuk Fuad dan Dewi nanti tidak bisa nunggu sampai ayah keluar dari rumah sakit. Fuad sudah menjemput Dewi."


"Ada Fuad toh, dimana dia?"


"Di kantin. Dia sedang beli kopi. Dan Dewi mau nyusul Fuad ke kantin, sekalian Dewi pamit pulang ya bu, ayah. Nanti sore Dewi datang ke rumah."


"Ya, hati-hati. Tidak usah dipaksakan. Kamu ibu hamil nanti kecapean lebih baik kamu istirahat. Biar ayah nanti sama ibu dan mbak Ayu."


"Ok, makasih."


Dewi bergegas pergi ke kantin setelah mengucapkan salam ke ayah dan ibu juga mbak Ayu.


"Ibu dan mbak Ayu baru datang. Ini ada nasi bungkus. Kita makan sama-sama."


"Makannya nanti saja. Sekarang kita pulang! Aku sudah ngantuk."


Dewi cemberut melihat Fuad yang sudah berjalan duluan.


"Ini kuncinya, kamu bawa mobilnya. Aku mau duduk di belakang."


"Hah! Kamu pikir aku supir? Aku ini istrimu!"


"Sudah jangan banyak cakap. Masuk."


Dewi membuka pintu mobil dan mencium bau yang tidak enak dari dalam mobil. Dewi tidak segera masuk, ia merasa mual menciun bau yang tidak enak lebih tepatnya bau busuk.


Sementara Fuad sudah masuk duluan ke dalam mobil dan duduk di belakang.


"Cepat masuk! Apa kamu mau dimarahin mama!"


Dewi segera masuk ke dalam mobil. Dewi tidak tahu kalau di bangku belakang ada Sisi yang sedang tertidur. Pandangannya tetap ke depan dan jendela mobil dibuka karena Dewi tidak mau sampai muntah di dalam mobil karena tidak tahan dengan bau busuk.

__ADS_1


Butuh waktu 45 menit akhirnya sampai di rumah Fuad. Dewi segera keluar dari mobil dan berlari ke depan rumah dan mencari selokan lalu Dewi memuntahkan semua isi dalam perutnya yang sudah ia tahan dari tadi.


Dewi melewati mobil dan Fuad sudah tidak ada.


Akhirnya aku bisa terbebas dari bau itu. Dan sudah bisa makan.


Dewi mengucapkan salam sebelum masuk ke dalam rumah dan melihat mamanya Fuad sedang duduk memperhatikan Dewi.


"Akhirnya kamu pulang juga! Sudah puaskan lihat ayah dan ibumu. Sekarang kamu sudah tidak bisa kemana-mana lagi. Kamu harus tinggal di rumah. Dan urusan kerjaanmu lebih baik kamu berhenti dari sekarang. Tidak usah bekerja lagi."


"Mama, ayah masih di rumah sakit dan baru hari ini pulang. Dan kalau Dewi tidak bekerja bagaimana nanti untuk hidup sehari-hari dan untuk biaya persalinan cucu mama."


"Hmmm, siapa bilang itu cucuku? Fuad sudah kasih tahu mama kejadian yang sebenarnya! Kamu yang sudah menggoda Fuad saat di puncak. Dan kamu yang memaksa Fuad melakukan hal itu. Kamu sengaja agar Fuad mau menikahi kamu!"


"Astaghfirullah, ngga ma. Itu semua ngga benar! Fuad yang memaksa Dewi sampai Dewi dipukuli."


"Jangan cari pembelaan. Mama yang melahirkan Fuad. Mama tahu anak mama seperti apa! Sekarang kamu masuk dan segera bantu bi Atik beberes rumah!"


"Iya ma Dewi mau makan dulu ma. Dewi belum sarapan."


"Tidak ada sarapan, tidak ada makanan. Karena kamu yang harus buat makanan untuk siang ini! Masuk!"


Dewi masuk ke kamar yang ditempati oleh Fuad tapi ternyata pintunya di kunci dan Dewi melihat ke meja makan ada bungkus makanan yang tadi ia berikan sama Fuad tetapi 2 bungkusan itu sudah habis. Dewi mengetuk pintu kamar Fuad.


"Dewi! Kamar kamu di belakang! Sebelah kamar bi Atik! Ini kamar Sisi dan Fuad!"


"Hah! Bagaimana bisa ma? Kenapa mama mengijinkan Sisi dan Fuad dalam satu kamar! Aku istrinya Fuad, ma!"


"Bi Atik!"


Bi Atik yang mendengar teriakan mamanya Fuad segera berlari.


"Iya nyonya."


"Bawa Dewi ke kamarnya! Dan suruh dia beberes pekerjaan yang belum sempat kamu pegang!"


Bi Atik menganggukkan kepalanya dan mengajak Dewi ke kamar di belakang.


"Non, ini ada nasi goreng sengaja bibi siapkan untuk non Dewi. Dimakan dulu non. Pintunya di kunci saja. Takutnya nyonya buka pintunya. Jadi non bisa makan."


"Iya bi Atik. Terima kasih."


Dewi segera masuk ke kamar. Dan mengunci pintu seperti yang diminta bi Atik. Dewi memakan nasi goreng dengan cepat dan mengganti bajunya.


Ya Allah, kenapa jadi seperti ini. Apa salah aku? Kuatkan lah aku ya Allah untuk menerima cobaan ini.

__ADS_1


Dewi keluar kamar dan membantu pekerjaan bi Atik.


__ADS_2