
"Dewi, sudah hampir dua bulan tidak ada kabar dari Fuad. Kamu sama Fuad baik-baik sajakan?"
"Iya ayah, Dewi baik-baik saja."
"Terus apa kamu sudah kasih tahu Fuad kalau kita sudah pindah rumah?"
"Su-sudah ayah. Ayah, ibu, Dewi berangkat kerja dulu ya. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam."
Dewi baru saja sampai kantor.
"Bu Dewi, Bu Dewi. Ada tamu."
"Astaghfirullah, ada Fuad dan mamanya."
Dewi membatin.
"Iya pak."
"Ma, Fuad. Dari jam berapa sampai kantor Dewi. Pagi-pagi sudah di sini?" Dewi memberikan salam kepada Fuad dan mamanya.
"Dari pagi jam 7. Sekarang kamu harus ikut mama dan Fuad!"
"Tapi ma, Dewi kan hari ini masuk kantor. Dan nggak bisa ijin. Cuti Dewi sudah habis."
"Apa kamu mau mama teriak disini, biar semua orang kantor kamu tahu bahwa kamu hamil anak haram!"
"Ma, ini anak Fuad, cucu mama! Silakan saja mama teriak, Dewi tidak takut!"
"Ok, kalau kamu maunya begitu! Masih untung anak saya nikahin kamu yang sudah hamil duluan! Ngaku-ngaku hamil sama anak saya! Kamu, perempuan yang tidak punya harga diri!"
Beberapa orang kantor yang lewat mendengar teriakan mamanya Fuad. Mereka melihat Dewi dengan pandangan yang tidak dapat diartikan.
Muka Dewi memerah menahan marah.
"Puas ma! Dewi juga bisa kasih tahu ke mama kejadian yang sebenarnya!"
Andri yang sempat mendengar suara mamanya Fuad mendekati Dewi.
"Dewi, kamu kenapa? Jangan teriak-teriak di kantor. Ngga enak ketahuan sama orang kantor. Nanti yang ada jadi gosip dan timbul masalah! Ayo, ikut saya, mas dan ibu juga. Kita ngobrol di ruang itu."
Dewi, Fuad dan mamanya mengikuti mas Andri yang masuk ke ruangan kosong.
"Maaf sebelumnya, saya tidak mau ikut campur masalah keluarga kalian. Tapi alangkah baiknya jika masalah keluarga dibicarakan di rumah jangan dibawa ke kantor!"
"Bagaimana saua tidak marah sama Dewi. Dia punya suami tapi dia tidak pernah mengurus suaminya malah asik sendiri dan memilih tinggal sama orang tuanya. Sudah hampir 3 bulan. Anak saya sudah baik mau bertanggung jawab menikahi dia dalam kondisi sudah hamil."
"Mama! Ini anak Fuad! Fuad yang sudah memperkosa Dewi. Seandainya waktu bisa diputar, Dewi tidak mau bertemu dengan Fuad saat itu! Dan Dewi baru saja pacaran sama Tito! Teman Fuad!"
__ADS_1
"Banyak alasan lo! Gue juga ngga mau nyentuh lo! Tapi lo yang mepet terus sama gue!"
"Tenang-tenang, sabar. Kalau kalian panas semuanya tidak akan selesai masalahnya."
"Saya sengaja datang pagi-pagi karena mau menjemput Dewi untuk pulang ke rumah saya. Tetapi dia tidak mau dengan alasan masuk kerja."
"Loh, memang Dewi masuk kerja. Kalau Dewi di rumah mama, yang ada Dewi dijadikan pembantu bukan menantu! Dan semua uang gaji Dewi diambil sama Fuad untuk pacaran dengan perempuan lain!"
"Plak!"
Mas Andri yang melihat Dewi ditampar oleh Fuad menonjok Fuad.
"Jangan kasar sama perempuan! Dewi ini istri kamu dan sedang mengandung anak kamu! Lebih baik ibu dan kamu pergi dari kantor ini. Dewi tetap akan bekerja!'
"Tidak bisa! Dewi harus ikut kami pulang sekarang. Karena pasti Dewi akan kabur lagi!"
Mama langsung menarik tangan Dewi dengan kasar dan keluar dari ruangan. Sementara Fuad menghadang Andri yang mau menolong Dewi Dan Fuad menendang tulang kering Andri dengan keras mengakibatkan Andri jatuh ke belakang.
"Mas Andri, tolong mas. Dewi ngga mau ikut mereka. Tolong mas! Tolong."
"Jangan teriak minta tolong! Mama akan permalukan kamu lagi lebih dari yang tadi!"
"Ma, lepasin ma. Tangan Dewi sakit! Pak satpam, tolong mas Andri di ruangan itu!"
Satpam segera berlari ke ruangan yang dipakai oleh Andri bersamaan Fuad keluar dan berlari.
"Si*l. Makasih pak, saya akan kejar Dewi!"
Andri berlari ke motornya dan mengejar mobil Fuad. Tetapi Andri tidak bisa mengikuti mereka. Karena mobil Fuad masuk ke jalan tol.
Mama mengambil tas Dewi dengan paksa.
"Ma, jangan diambil tas Dewi. Ma."
Plak
Plak
Belum sempat Dewi mengambil tasnya, mama menampar muka Dewi dengan keras sampai pinggir mulut Dewi berdarah sampai Dewi pingsan karena kepalanya terbentur jendela mobil.
"Fuad, ini ATM Dewi, dan ada uang 500 ribu di dompetnya. Handphone Dewi kita jual."
"Iya ma. Tapi ATM yang ini Fuad tidak tahu pinnya. Dewi ngga mati kan ma?"
"Nanti kita minta nomer pinnya. Setidaknya kita ada uang 500ribu setelah itu kita jual handphonenya. Hanya pingsan saja. Kamu tenang saja. Kita pulang dulu dan sekap dia di rumah."
Akhirnya mereka tiba di rumah. Fuad menggendong Dewi dan membawa ke kamar belakang meletakkan tas Dewi lalu mengunci pintu.
"Ma, apa nanti kita tidak di tangkap polisi karena menyekap Dewi di rumah."
__ADS_1
"Siapa bilang di sekap? Dewi tinggal di rumah ini dan tugas dia membersihkan rumah juga masak buat kita berdua."
"Tapi apakah orang tua Dewi tidak akan cari ke sini?"
"Itu urusan mama. Kamu tenang saja."
Dewi terbangun dari pingsan.
Aduh, kepalaku sakit. Aku dimana?
Dewi bangun dari tempat tidur dan menyalakan lampu.
Ya Allah, aku di rumah Fuad. Apa yang sudah mereka lakukan sama aku?
Dewi membuka pintu dan ternyata di kunci. Dewi menggedor pintu agar dibukakan pintu.
"Jangan berisik! Aku akan buka pintunya, setelah kamu memberitahu berapa nomer pin ATM kamu!"
Dewi membuka tas dan ternyata dompet serta handphonenya sudah tidak ada.
"Fuad, buka pintunya dulu, aku akan kasih tahu nomer pin-nya."
"Ya sudah kalau kamu tidak mau kasih tahu pin-nya."
"Fuad, Fuad! Ini nomer pinnya."
Dewi menyebutkan nomer pin ATM nya. Setelah mendapatkan pin ATM Dewi, Fuad pergi meninggalkan Dewi yang masih terkunci di kamar.
"Ma, ayo kita pergi. Mumpung belum siang, kita ambil semua uangnya lalu jual handphonenya."
"Nah gitu, good. Ok sekarang kita pergi!"
Mama dan Fuad pergi meninggalkan Dewi. Dewi mendengar suara mobil dan berteriak memanggil Fuad dan mama. Tetapi tidak ada yang datang. Sekuat apapun Dewi memanggil, mereka tidak ada.
Dewi hanya bisa menangis, merasakan perutnya yang sakit dan tidak ada bantuan sama sekali.
Ya Allah, apa dosaku. Sampai hidupku seperti ini. Suami dan mama mertua tidak ada belas kasihan sama sekali. Maafin ibu ya sayang, ayahmu seperti itu. Kamu harus kuat ya sayang biar nanti saat kamu besar bisa jaga ibu.
Dewi mengelus-elus perutnya yang sakit, ia berharap anak yang ada di rahimnya mengerti.
"Dayat, anterin gue ke rumah orang tuanya Dewi."
"Tumben lo mau ke rumah Dewi, mas. Ada apa?"
"Gue mau kasih tahu orang tuanya Dewi. Dewi tadi di bawa paksa sama mertua dan suaminya. Gue kejar mereka tapi mereka masuk ke tol. Sialnya hari ini gue bawa motor jadi tidak bisa ngikutin mereka."
"Kok bisa mas?"
Andri menceritakan kejadian yang tadi kepada Dayat. Akhirnya Dayat dan Andri pergi ke rumah orang tua Dewi. Dan sebelum pergi, Andri sudah memberitahu apabila ada keluarga Dewi yang menelpon ke kantor, diminta untuk menghubungi nomer handphone Andri.
__ADS_1