Anak Yang Tidak Diakui

Anak Yang Tidak Diakui
Kecolongan


__ADS_3

Dewi merebahkan badannya di kasur.


Capek banget. Mandinya nanti dululah.


Dewi tertidur.


"Dewi...Dewi... Dewi.. bangun. Bangun. Cepat bangun!"


Ibu membangunkan Dewi yang masih memakai pakaian kantor.


"Iya ibu. Sebentar lagi mandi. Dewi lagi rebahan dulu. Capek."


"Ealah. Anak perempuan itu pulang kerja langsung mandi jangan tidur. Mata belum kebuka bisa jawab. Buka mata! Bangun ada Tito!"


"Hah! Apaan sih bu, teriak-teriak di kuping Sakit tahu."


"Kamu itu bangun. Mandi sana cepat. Tito datang."


"Aduuuuhhh itu cowok ngapain sih."


"Udah cepat bangun. Mandi. Ibu tungguin disini."


Ibu menarik tangan Dewi untuk bangun dan segera mandi.


"Iya, iya Dewi bangun, mandi. Jangan ditarik tangan Dewi. Sakit bu. Udah ibu keluar kamar dulu. Ini Dewi mandi."


"Ibu akan duduk disini sampai kamu selesai mandi."


"Ah ibu mah ribet."


Dewi segera masuk kamar mandi.


Ngapain juga Tito kesini. Ganggu tidur gue aja.


"Ibu, Dewi sudah selesai mandi. Ini mau keluar terus pakai baju. Kalau ibu masih disitu bagaimana Dewi mau pakai baju."


"Iya. ibu keluar. Ibu tunggu depan pintu. 5 menit tidak keluar ibu masuk lagi."


"Iya ibuku sayang."


Dewi segera memakai kaos dan celana pendek.


"Ya ampun ibu, Dewi kaget!"


"Lah kamu main buka pintu saja. Sana temuin Tito."


"Iyaaa."


Dewi melangkah ke ruang tamu dengan malas.


"Tito, ngapain kamu kesini?"


"Dewi. Maaf, aku mau ngajak kamu makan di luar."


"Oh elo mau makan di luar. Sebentar gue ambilin makanan."

__ADS_1


"Bukan, bukan gitu maksudnya."


"Terus?"


"Aku mau ajak kamu makan keluar. Makan ke restoran."


"Sorry gue lagi capek banget. Lebih baik elo makan sendiri saja."


"Malam nak Tito. Maaf ya tadi Dewi ketiduran pulang kantor. Jadi kamu lama nunggu Dewi."


"Malam bu, saya harusnya tadi telpon Dewi dulu. Jadi Dewi bisa siap-siap. Tadinya saya mau ajak Dewi makan di luar. Tapi sepertinya Dewi capek banget."


"Oh gitu. Dewi mau kok nak Tito. Sebentar ya biar Dewi ganti baju dulu."


Ibu menarik tangan Dewi untuk pergi dari ruang tamu dan masuk ke kamarnya.


"Ibu, Dewi capek. Dewi mau tidur. Kenapa jadi ibu pengen banget Dewi pergi keluar makan sih."


"Dia udah jauh-jauh kesini. Terus nunggu kamu lama dan dia mau ngajak kamu makan keluar. Kamu itu harus menghargai orang."


"Tapi ibu juga harus menghargai Dewi juga dong. Jangan seperti ini. Dewi ngga suka, bu."


"Wis, jangan ngeyel. Biar kamu punya pacar. Jangan seperti sekarang ngga jelas."


"Maksudnya ibu? Dewi harus pacaran sekarang juga. Iya kali masalah hati harus ikutan juga."


"Sudah ganti baju. Jangan ngeyel. Nurut sama ibu."


Ibu mengambil baju yang akan dikenakan Dewi dan menarik tangan Dewi keluar kamar.


"Baik bu, saya permisi bu. Ayo Dewi."


Tito dan Dewi pergi meninggalkan rumah


"Puas elo! Udah minta bantuan ibu gue Sampai gue dipaksa ikut makan sama elo!"


"Aku ngga minta bantuan ibumu. Aku cuma bilang mau ajak kamu makan keluar. Kalau aku minta tolong, pasti tadi ada kata-kata, ibu, Tito minta tolong bujuk Dewi supaya mau makan malam keluar sama saya. Gitu."


"Aaaahhh ngeles aja. Sama aja, beda bahasa aja. Elo harusnya menghargai gue. Seharian gue kerja, capek. Kalau elo kan hanya kuliah. Kerja juga belum. Secapek-capeknya kuliah lebih capek kerja. Gue juga pernah kuliah jadi gue tahu."


"Iya aku minta maaf."


Mereka sampai di kafe. Tito dan Dewi makan tanpa banyak bicara.


"Udah selesai. Gue mau pulang. Ngantuk."


"Iya aku antar kamu pulang."


Tito mengantarkan Dewi pulang. Rumah Dewi sudah gelap karena orang tuanya sudah tidur.


"Sudah sampai. Rumahmu sudah gelap. Orang tuamu sudah tidur?"


"Iya."


Dewi membuka pintu mobil.

__ADS_1


"Dewi."


Dewi menolehkan mukanya ke hadapan Tito karena dipanggil dan secepat kilat Tito mencium bibir Dewi. Reflek Dewi menampar muka Tito.


"Buka pintu mobil elo! Gue ngga suka cara elo!"


"Aku minta maaf. Tapi aku suka sama kamu. Aku cinta sama kamu."


"Udah cepat buka! Atau gue telpon ibu gue. Dia belum tidur. Biasanya bapak gue yang tidur duluan."


"Iya Dewi. Maaf banget."


"A***** elo!"


Tito membuka pintu mobilnya dan Dewi segera keluar dari mobil Tito. Dewi lupa membawa turun tas kecilnya.


Dewi, kamu susah aku taklukkan akan ada waktunya kamu akan tekuk lutut sama aku dan mohon-mohon untuk dinikahkan. Kita lihat saja nanti.


Dewi masuk ke rumah dan langsung ke kamarnya. Iya mencari handphonenya yang tadi sudah habis baterai.


Ya ampun, tas kecil gue ketinggalan di mobil si anak songong. Haduuuhhh. Hancur deh gue. Dan gue ngga inget lagi nomer handphone tuh anak.


Tito sudah sampai rumah. Saat akan keluar mobil. Ia melihat tas kecil milik Dewi yang tertinggal.


Bagus berarti besok ada alasan untuk jemput Dewi dan sekalian minta maaf lagi. Tito tersenyum senang.


Tito masuk ke dalam rumah dan ia melihat ayahnya yang baru datang sedang memarahi ibunya.


Tito tidak bisa membantu ibunya yang sedang dimarahi oleh ayahnya. Tito segera masuk ke kamarnya.


Tito mendengar ayahnya yang semakin keras memarahi ibunya. Tapi Tito tidak bisa berbuat apapun karena sempat beberapa kali Tito menolong ibunya, Tito yang kena dipukul ayahnya sampai masuk rumah sakit.


Tito mendengar suara braak pintu ditutup oleh ayahnya. Tito membuka pintu kamarnya dan melihat pecahan gelas dan piring yang sedang dibersihkan oleh ibunya. Muka ibunya lebam dan ada darah di bibir ibunya. Tito menghampiri ibunya.


"Ibu, Tito bantu. Itu bibir ibu berdarah."


"Tidak usah, kamu masuk kamar saja. Kamu kan capek kuliah."


"Bibir ibu berdarah karena sedang sariawan. Kamu sudah makan?"


"Sudah tadi sama teman. Ayah kemana bu?"


"Ayah pergi ke rumah ibu Nani."


"Ibu, ibu kenapa sih tidak pisah saja sama ayah. Bu Nani, Bu Ida, Bu Rahma itu istri-istri ayah. Dan ibu tahu itu. Kenapa ibu tidak pisah."


"Tito, ibu sudah menikah dengan ayahmu dan tidak akan pernah ada cerai. Ayahmu ada pegangan hidup ibu yang harus ibu hormati sebagai suami dan ayah dari anak-anak ibu. Ibu hanyalah ibu rumah tangga yang berkewajiban mengurus suami, rumah dan anak-anak. Ibu menerima semua yang telah ayahmu lakukan karena itu adalah bakti ibu kepada suami ibu, ayah kalian."


"Ibu sudah tidak dianggap sama ayah."


"Bukan tidak dianggap tapi ayahmu ada istri-istri yang lain yang harus diberikan kasih sayang lahir dan batin yang sama. Dan ayah sudah berlaku adil."


Tito miris mendengar omongan ibunya. Ia tidak tahu lagi harus bagaimana.


"Tito

__ADS_1


__ADS_2