
"Dewi hari ini pulang malam ya Bu."
"Iya, hati-hati. Kalau jatuh bangun sendiri ya."
"Apaan sih Bu. Malah doa anaknya jatuh."
"Benar dong Wi, kamu naik motor harus hati-hati. Kalau tidak hati-hati kamu bisa jatuh. Kalau jatuh masih bisa bangun sendiri ya sudah bangun sendiri. Masa teriak-teriak minta tolong dibantuin bangun."
"Ampun deh punya ibu begini amat, bukannya di doa kan supaya anaknya berangkat kerja sampai kantor dengan selamat malah begitu."
"Kamu itu pintar masa kata-kata ibu seperti itu terus kamu marah-marah."
"Assalamu'alaikum ayah ibu, Dewi berangkat."
"Wa'alaikumsalam"
Si ibu kebiasan deh pagi-pagi. Dewi menyalakan motor sambil ngedumel sendiri."
Sampai kantor Dewi sudah diributkan dengan jaringan yang tidak terkoneksi di salah satu divisi.
Ya kali gue dukun. Gimana mau nyambung belum dibayar. Sampai loe tua juga tidak akan nyambung itu jaringan.
"Mbak Dewi halo."
"Iya halo, kenapa Vava"
"Mbak, gue mau minta laptop baru. Laptop gue rusak."
"Mintanya jangan sama gue. Gue cuma bisa kasih spek nya buat kebutuhan kerja loe. Minta sama bos loe lah. Gimana sih? Baca SOP perusahaan."
"Iya mbak, maaf. Vava pikir bisa minta langsung sama mbak Dewi."
"Sana minta persetujuan sama bos loe. Terus gue email spek yang sesuai kebutuhan kerjaan loe."
"Siap mbak Dewi. Makasih ya."
"Oh ya harus."
"Harus apa mbak?"
"Harus bilang terima kasih."
Dayat yang duduk di sebelah Dewi senyum-senyum saja.
"Eh kembaran D, kenapa elo senyum-senyum. Kurang sajen."
"Iiihhh ogah amat gue di jadiin kembaran sama cewek hemaprodite."
"Tidak papa hemaprodite yang penting gue mewakili semuanya. Cantik dan juga ganteng. Huahahahahhaha."
Dewi tertawa puas. Dayat manyun mendengar omongan Dewi.
__ADS_1
Dewi melanjutkan pekerjaannya.
Duh perut gue keroncongan. Jam berapa sih. Baru juga jam 11. Masih nunggu 1 jam lagi baru bisa keluar makan siang. Ya ampun, lama amat yak nunggu 1 jam.
Handphone Dewi berbunyi.
Tito lagi. Kenapa sih itu cowok telpon gue terus berasa punya hutang.
"Halo siang Dewi.
" Siang. Ada apa nelpon gue?"
"Jangan galak-galak. Gue mau ngajak elo makan siang. Mau tidak?"
"Memangnya punya uang mau ngajak gue makan siang? Nanti uang jajan loe habis lagi."
"Buat traktir elo makan aja gue masih bisa."
"Gini aja deh. Elo kuliah dulu yang benar, terus elo kerja terus elo baru boleh traktir gue."
"Tega amat. Gue ada di depan kantor elo. Gue tunggu elo di lobby kantor elo ya."
"Hah?! Kok elo tahu kantor gue? Elo ngikutin gue ya."
"Gue tunggu sekarang. Nanti gue jelasin."
Dewi mematikan handphonenya.
Itu cowok kenapa sih? Dia siapa yah? Sampai gue diikutin?
"Elo ada masalah apa sih sama gue. Kenal juga baru kemarin karena salah sambung. Terus dari kemarin sampai sekarang elo telpon gue, elo sampai tahu kantor gue. Memangnya gue punya hutang sama elo?"
"Maaf, bukan gitu. Kemarin memang gue salah sambung mau telpon teman SMA gue, Eh nyambungnya ke elo. Terus gue tidak yakin kalau salah sambung. Pas gue ketemu elo kemarin ternyata memang beda orang."
"Nah, ya sudah jangan ganggu hidup gue."
"Gue suka sama elo sejak gue lihat elo di Happy Mart."
"Eh, kuliah dulu yang benar. Elo pacaran sama gue, tapi elo masih minta uang jajan sama orang tua elo buat apa?"
"Gue kerja sambil kuliah. Gue kerja juga kok tapi freelance."
"Oh, terus gue percaya?'
" Dewi, gue serius gue suka sama elo. Gue mau elo jadi pacar gue."
"Hah, mimpi apa gue, di tembak sama anak bawang."
"Walaupun gue anak bawang, tapi gue bisa buat anak bombay punya anak bawang."
"Terus?!"
__ADS_1
"Terus gue akan antar jemput sama elo."
"Maaf ya, gue mabok kalau naik mobil. Gue lebih suka naik motor dan gue tidak suka di bonceng."
"Tidak papa jalan kaki juga tidak papa untuk antar jemput elo."
"Ogah, elo aja jalan kaki sama keluarga elo sambil pegangan tangan."
"Sarap! Gegara elo gue tidak jadi makan siang. Mana perut gue lapar lagi. Elo udah ngerusak jam makan siang gue tahu!"
"Ini buat elo. Gue yakin elo pasti ngga mau gue ajak makan. Jadi gue bungkusin aja nasi padang buat elo. Ini sama juice juga. Ya sudah ya, selamat makan. Gue cabut dulu. Makasih Dewi sayang."
Tito sudah kabur duluan sebelum Dewi ngomel lagi.
Hari ini gue ditembak sama brondong. Terus tuh brondong kasih gue nasi padang sama juice. Hahahahha.... mimpi apa gue semalam.
Dewi naik ke atas dan makan di pantry.
"Wah, tumben makan di pantry mbak? Biasanya makan di mejanya."
"Ya elah Gito, gue numpang sebentar makan di sini. Kalau gue makan nasi padang di meja gue yang ada laptop gue ikutan makan."
"Iya mbak. Tapi tumben makan nasi padang. Kan mbak Dewi paling makan nasi rames. Antara nasi, telor balado sama bakwan atau nasi, telor dadar, sama sayur toge. Mentok-memtok makan siomay."
"Ini nasi padang di kasih. Gue juga ngga minta. Daripada mubazir ya gue makanlah. Gito, nanti gue mau kopi seperti biasa ya."
"Siap mbak Dewi. Eh ini juice alpukat siapa?"
"Buat elo aja. Gila aja yang kasih gue. Nasi padang, nasinya banyak banget terus minum juice alpukat. Bisa tambah gedaa badan gue."
"Seriusan mbak ini buat Gito?"
"Iya. Gue minta kopi dingin yak."
"Ok."
Kenyang banget sampai b**o gue. Dewi keluar dari pantry dan melanjutkan kerjanya.
"Dewi, hari ini gue ngga bisa lembur. Ada saudara gue yang meninggal."
"Turut berduka cita Lix. Tapi sejujurnya gue bingung. Saudara elo ada berapa banyak sih? Setiap dapat jatah lembur ada aja saudara elo yang meninggal."
"Seriusan saudara gue meninggal."
"Ya berarti tiap minggu keluarga elo tahlilan mulu ya."
"Kok elo gitu sih. Gue tidak bohong."
"Perkara elo bohong atau tidak. Itu urusan elo sama Tuhan bukan sama gue. Gue cuma bingung aja. Kalau mau cari alasan yang masuk akal. Tiap minggu saudara elo meninggal. Apa elo tidak kasihan sama saudara elo? Berarti elo sudah doain saudara elo meninggal. Berarti elo stock perlengkapan jenazah sama oeti mati dong ya."
"Terserah elo percaya syukur tidak percaya syukur."
__ADS_1
"Gue ngga mau percaya sama elo. Secara elo bukan Allah. Elo masih manusia seperti gue yang tidak luput dari dosa dan kebohongan. Ya, semoga saudara elo husnul khotimah. Elo doa juga semoga elo sampai rumah dengan selamat jadi bisa doain saudara elo yang meninggal yak."
"Sakit loe Wi! "