Anak Yang Tidak Diakui

Anak Yang Tidak Diakui
kehilangan uang


__ADS_3

"Dewi, ini sudah malam. Kamu tidak pulang ke rumah Fuad?"


"Dewi masih kangen sama ayah dan ibu. Besok baru Dewi pulang ke rumah Fuad, ayah."


"Dewi, kamu kan sudah menikah sama Fuad. Dia itu suamimu."


"Kamu sudah telpon Fuad kalau kamu mau menginap di sini?"


Dewi menggelengkan kepalanya.


"Sana telpon Fuad dulu. Minta ijin kalau kamu mau menginap disini."


"Iya ayah."


Dewi beranjak dari sofa di ruang tamu menuju kamarnya. Mengambil handphone dan menelpon Fuad.


"Halo Fuad."


"Ngapain elo telpon pacar gue terus! Perempuan mur*h** tidak usah lagi telpon Fuad."


"Mbak, maaf ya. Fuad itu suami saya. Saya mau bicara sama Fuad. Tolong berikan handphonenya ke Fuad."


Dewi mendengar suara perempuan itu yang memberikan handphonenya ke Fuad dan ada suara bising lainnya tetapi Dewi bisa mendengar pembicaraan Fuad dan perempuan itu.


"Fuad, istri elo telpon lagi nih. Kenapa sih masih nelpon elo terus! Apa perlu gue siksa tuh perempuan biar cerai dari elo!"


"Tenang, gue butuh uang buat nikah sama kamu, sayang! Kan dia kerja dan dia bisa gue mintain uangnya kalau dia tidak kasih baru gue main kasar. Sabar dikit kenapa. Bilang gue lagi sibuk ngga bisa diganggu."


"Ok, gue pegang omongan elo ya."


"Halo, Fuadnya lagi sibuk. Kalau ada pesan sampaikan saja ke gue. Nanti biar gue kasih tahu Fuad. Lain kali jangan telpon-telpon lagi dan jangan kabur. Hormat sama suami biar anak elo diakui sama bapaknya! Paham!"


"Hmmm, ok. Bilang ke Fuad. Hari ini saya tidak pulang, saya menginap di rumah orang tua saya. Terima... "


Perempuan itu sudah menutup telponnya terlebih dahulu sebelum Dewi menyelesaikan kalimatnya.


Maksudnya Fuad apa ya ngomong seperti itu? Jadi sebenarnya Fuad tidak bekerja? Terus yang harus bertanggung jawab gue gitu? Ok, gue ikutin permainan elo, Fuad. Perkara elo suami gue atau bukan nantinya.


Dewi menghela napas panjang dan meletakkan handphonenya di meja lalu keluar dari kamarnya.


"Ibu, kok belum tidur? Ayah mana?"

__ADS_1


"Ayah sudah masuk kamar. Mungkin sudah tidur karena baru saja minum obat. Dewi, kamu kapan mau cerita sama ibu? Dan kamu sudah telpon ke Fuad, ijin bahwa kamu mau menginap disini?"


"Kebiasaan deh ibu. Nanya itu satu-satu biar Dewi tidak bingung jawabnya."


Ibu memandang Dewi.


"Ok, ok. Dewi sudah ijin sama Fuad. Dia masih ada kerjaan kemungkinan malam ini tidak pulang. Dewi tidak ada apa-apa bu. Lagian buat apa nutupin dari ibu. Ibu kan tahu sendiri kalau ada apa-apa, Dewi pasti cerita."


"Ibu merasa tidak tenang saja sejak kamu pindah ke rumah Fuad. Dan kejadian tadi pagi membuat ibu yakin pasti ada apa-apa."


"Ibu, ibu percaya saja sama Dewi. Tidak ada apa-apa. Ini sudah jam 10 malam. Ibu tidur, istirahat. Nanti Dewi yang kunci dan matikan lampu."


"Ya sudah, ibu percaya sama kamu walaupun hati ibu tidak tenang."


"Jangan mikir aneh-aneh nanti malah kepikiran terus sakit deh."


"Ya sudah, ibu masuk kamar ya. Sebenarnya juga sudah ngantuk heheheh."


"Iya ibuku sayang."


Dewi berjalan ke arah pintu dan mengunci pintu lalu mematikan lampu setelah itu ia masuk ke kamar.


Dewi mengambil handphonenya di meja. Ternyata ada 5 panggilan masuk dari Fuad dan ada pesan dari Fuad.


Apa sih maunya ini orang! Aneh! Dewi menggerutu sendiri setelah membaca pesan dari Fuad.


Sambil menunggu Fuad datang, Dewi membuka sosial media miliknya. Dan ada permintaan menjadi teman dari Tito dan Tito juga mengirimkan pesan di inbox sosial medianya


Tito? Apa kabar itu orang?


Dewi membuka pesan dari Tito.


Halo Dewi, apa kabar kamu? Long time no see. Kebetulan aku baru dapat sinyal. Aku lagi ada di negeri antah berantah ikut papaku berlayar. Gimana kandungan kamu? Oh iya selamat ya atas pernikahan kamu. Salam buat Fuad.


Halo Tito, Wah kamu sekarang berlayar. Hebat kamu. Kandunganku baik-baik saja. Terima kasih ucapannya. Ya nanti aku salamin ke Fuad.


Setelah membalas pesan dari Tito. Dewi segera menerima permintaan teman dari Tito.


Dewi merebahkan badannya di kasur. Baru beberapa menit merebahkan badannya ada panggilan masuk dari Fuad.


"Halo, aku di depan. Ayo kita pulang sekarang. Aku tunggu dan jangan lama!"

__ADS_1


"Ya ngga bisa pulang ke rumah orang tuamu sekarang. Ayah dan ibu sudah tidur. Kasihan mereka kalau di bangunin. Yang ada kamu menginap disini saja!"


"Kamu itu istri aku! Jadi harus nurut apa kata suami!"


"Iya memang aku istri kamu. Tapi tidak semena-mena gitu juga. Coba kalau kamu di posisi aku!"


"Buka pintunya sekarang. Aku mau masuk!"


"Iya sebentar. Aku bukain."


Dewi menutup handphonenya dan keluar kamar lalu membuka pintu rumahnya.


"Ayo masuk. Ini sudah malam. Jangan berisik kasihan ayah dan ibu."


Fuad mencengkram pipi Dewi dengan kasar.


"Ok, sekarang aku ijinin kamu menginap di sini. Tapi besok saat aku jemput, kamu harus ikut sama aku. Aku akan masuk!"


Fuad melepaskan cengkraman di pipi Dewi dengan kasar lalu segera masuk ke dalam rumah menuju kamar Dewi.


Dewi melihat ada mobil yang masih menyala tetapi Dewi tidak melihat siapa yang ada di dalam mobil itu karena kacanya terlalu gelap.


Saat Dewi mau masuk ke dalam rumah ternyata Fuad sudah berjalan keluar dan menabrak pundak Dewi.


"Aku pergi sekarang! Ingat besok harus pulang sama aku!"


"Iya."


Dewi melihat Fuad yang berjalan dan menghampiri mobil yang masih menyala. Dan mobil itu langsung jalan setelah Fuad masuk.


Dewi hanya bisa menghela napas panjang. Lalu masuk ke dalam rumah dan mengunci pintu lalu masuk ke dalam kamarnya.


"Astaga, kok tas dan dompet aku berantakan!"


Dewi segera merapikan tas dan dompetnya yang jatuh ke lantai. Dan Dewi membuka dompetnya.


Astaghfirullah, uang aku ada 500ribu hilang! Padahal itu uang untuk aku kasih ke ayah dan ibu. Fuad, kamu jahat! Harusnya kamu bilang kalau kamu mau uang jangan mencuri seperti ini! Apa ini yang memang Fuad katakan sama perempuan itu? Tapi masa Fuad sejahat itu? Aaaahhh pusing aku. Besok aku harus ke ATM dulu pagi-pagi untuk memberikan uang ke ayah dan ibu. Aku harus pergi pagi sebelum Fuad datang. Berarti permainan sudah dimulai ya. Ok, kita lihat.


Dewi menarik napas panjang berkali-kali. Dirinya marah terhadap Fuad. Seorang suami yang belum sepenuhnya bisa ditebak oleh Dewi. Begitu juga dengan kedua orang tua Fuad.


Akhirnya Dewi merebahkan tubuhnya kembali dan berusaha untuk tidur. Pikirannya kemana-mana membuat Dewi hanya berguling-guling saja di tempat tidur.

__ADS_1


Ah, kenapa jadi pusing. Lebih baik aku sholat saja biar hati dan pikiranku tenang menghadapi hari-hari selanjutnya.


Dewi segera bangun dari tempat tidurnya dan berjalan ke kamar mandi untuk mengambil wudhu kemudian sholat.


__ADS_2