
"Bi, bibi ikut aku ke rumah mbak ku ya. Fuad tidak tahu rumah mbak ku, jadi kita aman."
"Iya non. Saya ikut saja."
Mereka berdua tiba di rumah mbak Ayu setelah menempuh perjalanan satu setengah jam.
"Dewi? Masuk-masuk."
Dewi dan bi Atik masuk.
"Duduk bi, Dewi ambilkan minum dulu."
Dewi pergi mengambil minum ke belakang diikuti oleh mbak Ayu. Sedangkan bibik duduk, menunggu di ruang tamu.
"Wi, kamu dari mana dan itu siapa?"
"Sebentar mbak, Dewi haus biar Dewi minum dulu nanti Dewi ceritakan semuanya."
"Minum bi Atik."
"Iya non, terima kasih."
Mbak Ayu yang dari tadi mengikuti Dewi akhirnya duduk.
"Jadi?"
"Kenalkan bi, ini mbak Ayu, mbaknya Dewi."
Setelah memperkenalkan diri, lalu Dewi menarik napas panjang.
"Cepat ceritakan ada apa? Jangan buat mbak jadi penasaran dan bingung."
"Aku sama bi Atik, kabur dari rumah Fuad."
"Iya nyonya, benar apa yang dibilang non Dewi."
"Ngga usah panggil saya nyonya, panggil saja Ayu"
Bi Atik menggangguk dan bi Atik menceritakan semua kejadian secara runtut. Dewi melihat muka mbak Ayu yang merah karena menahan marah.
"Bi Atik, bi Atik mulai hari ini kerja di tempat saya. Jadi tidak usah kerja di tempat lain. Mereka tidak tahu dimana rumah saya. Dewi antarkan bi Atik ke kamarnya. Dan setelah itu kamu ke kamar mbak. Ada yang mau mbak bicarakan. Bi Atik, nanti siang ikut saya jemput anak-anak sekolah."
"Iya nyonya."
"Jangan nyonya, panggil saja saya ibu atau Ayu. Dan saya nanti akan kasih tahu bi Atik apa saja yang harus dikerjakan. Setidaknya dengan adanya bi Atik, bisa bantu saya untuk jaga anak-anak selama saya kerja."
"Baik bu."
"Ayo bi Atik, Dewi antarkan ke kamar bi Atik."
Bi Atik mengikuti Dewi.
"Ini bi, kamarnya."
"Subhanallah, ini benaran kamar buat bibi, non?"
"Iya bi. Kenapa?"
__ADS_1
"Gede kamarnya, dan bersih. Bibi jadi ngga enak hati sama bu Ayu."
"Ngga papa bi, santai saja. Mbak Ayu memang gitu orangnya, kelihatan judes tapi hatinya baik."
"Iya non, sama kayak non Dewi."
"Ya sudah ya bi, Dewi tinggal."
"Iya non."
Dewi masuk ke kamar mbaknya.
"Dewi, apa rencana kamu sekarang dan ke depannya?"
"Sekarang Dewi mau berangkat kerja mbak. Biar bagaimanapun Dewi harus bekerja buat biaya hidup Dewi juga anak yang saat ini masih di dalam perut Dewi."
"Coba kamu jelaskan sama mbak, awal mulanya bagaimana sampai kamu bisa hamil di luar nikah? Apa kamu tidak bisa untuk hari ini tidak masuk kantor?"
"Haduh." Dewi menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Mbak mau tahu, supaya mbak tahu, langkah apa yang harus diambil."
"Iya. Tapi Dewi telpon ke kantor dulu ya. Kasih tahu ke orang kantor kalau Dewi tidak bisa masuk kerja hari ini. Mbak sendiri tidak kerja?"
"Sudah cepat telpon ke kantor dan ijin tidak masuk!"
"Iyaaaaa"
Dewi menelpon ke kantor dan setelah itu Dewi menceritakan semua kejadian saat di puncak. Dimana ayah dan ibu tidak tahu kejadian yang sebenarnya.
"Jadi yang ayah dan ibu ceritakan itu hanya akal-akalan Fuad? Jadi sebenarnya Fuad sendiri yang sudah menghamili kamu! Pengecut! Lalu Tito kemana saat ini?"
"Untuk sementara kamu tinggal disini. Biar mbak yang bicara sama mas mu. Dan jangan sampai masalah kamu, ayah sama ibu tahu. Apalagi ayah."
"Iya mbak, tapi motor Dewi di rumah Fuad bagaimana? Ngga mungkinkan Dewi balik ke rumah Fuad. Bisa gempar nanti."
"Biar mbak yang urus mengenai motor kamu. Ribet benar sih hidup kamu!"
"Mbak, bagi uang dong. Dewi belum ke ATM untuk ambil uang."
"Loh, kamu bilang ATM mu di pegang sama Fuad."
"Iya, tapi kan sebelum Fuad minta ATM Dewi, Dewi punya ATM satu lagi, jadi gaji Dewi di transfer ke yang Dewi pegang."
"Memang kamu mau beli apa?"
"Ngga beli apa-apa, buat besok jalan ke kantor. Kan naik ojek online. Masa ngga punya uang?"
"Besok berangkat bareng mas mu. Mbak mau ke bi Atik. Jangan stress kasihan bayi yang ada di perutmu."
"Siap mbak ku yang cantik."
Dewi berjalan ke kamar tamu. Jadi untuk saat ini Dewi tinggal dengan mbak Ayu. Dewi mengeluarkan laptopnya dan mulai bekerja. Setidaknya tanpa harus ke kantor masih bisa bekerja di rumah.
Berkali-kali Fuad membunyikan klakson mobilnya tetapi bi Atik maupun Dewi tidak ada yang keluar untuk membuka gerbang. Dengan kesal Fuad membuka gerbang dengan kunci cadangan. Lalu memasukkan mobilnya.
Fuad melihat amplop coklat yang di tujukan untuk orang tua dan dirinya dari bi Atik. Segera Fuad mengambil amplop tersebut dan membukanya. Ternyata ada kunci rumah dan surat dimana bi Atik ternyata sudah keluar dari rumah ini.
__ADS_1
Dewi, Dewi masih ada kan? Atau jangan-jangan Dewi juga pergi? Tapi hari ini dia kerja, Aku akan jemput dia di kantor.
Fuad membuka pintu rumah. Keadaan rumah bersih dan tidak ada barang yang hilang. Fuad melihat ada kertas diatas meja makan.
]Tuan, nyonya, makanan sudah saya siapkan ada di kulkas tinggal dipanaskan saja. Baju sudah saya cuci dan saya strika, semua sudah beres.Dan semua barang yang di kasih sama nyonya dan tuan ada di kamar saya. Saya tidak bawa. Terima kasih, mohon maaf sekali lagi saya keluar dari rumah ini tanpa minta ijin lagi pula nyonya tadi juga sudah pecat saya.
Fuad membuka kulkas dan banyak kotak makanan. Lalu Fuad menuju ke kamar yang di tempati oleh bi Atik. Dan semua pakaian bi Atik sudah tidak ada kecuali barang-barang yang diberikan oleh mamanya, termasuk baju yang masih terbungkus plastik.
Fuad membuka kamar yang di tempati oleh Dewi.
"What! Kamar ini juga kosong! Jadi Dewi ikutan kabur bareng bi Atik! Kurang ajar! Kamu tidak akan bisa lolos dari aku! Dan sampai detik ini gaji kamu belum masuk, pasti di kasih cash sama kantornya. Ok, aku akan jemput kamu di kantor!"
Sebelum pergi, Fuad menelpon mamanya dan memberitahu bahwa bi Atik dan Dewi sudah keluar dari rumah. Suara mama terdengar marah di ujung sana. Mama Minta Fuad menunggu Dewi di kantor supaya Dewi tidak bisa kabur lagi.
Sepanjang jalan ke kantor Dewi, Fuad mengeluarkan kata-kata cacian untuk Dewi.
Fuad sudah menunggu di lobby kantor Dewi dan sudah titip pesan agar Dewi ke lobby karena ada tamu. Fuad hanya bilang mau bertemu dengan Dewi, tanpa menjelaskan bahwa dirinya adalah suami Dewi.
"Pak Fuad."
Fuad segera mendekat.
"Ya pak, bagaimana?"
"Katanya bu Dewi hari ini belum masuk kantor."
"Ngga mungkin! Sebelum kesini saya sudah menelpon dan Dewi bilang ia ada di kantor."
"Mungkin bapak bisa coba telpon lagi ke bu Dewi."
Fuad menelpon Dewi tetapi nomer handphone Dewi tidak aktif.
Fuad segera keluar dari kantor Dewi dan pergi ke rumah orang tua Dewi.
Fuad ragu untuk masuk tapi ia harus bawa pulang Dewi. Akhirnya Fuad memberanikan diri untuk masuk ke rumah Dewi.
"Fuad! Apa kabar? Masuk, sini masuk."
"Iya pa, bu."
Fuad masuk dan duduk.
"Dewi mana? Tumben kamu kesini? Kamu sama Dewi?"
"I-iya eh ngga pak, bu. Dewi kan hari kerja. Kebetulan Fuad lewat sini dan sekalian jenguk bapak dan ibu. Fuad mohon maaf karena waktu bapak di rumah sakit, Fuad tidak sempat menengok bapak."
"Ngga papa Fuad, yang penting doanya saja."
Ayah dan Fuad mengobrol. Fuad berharap Dewi pulang sampai akhirnya handphone Fuad berdering ternyata dari mamanya.
"Iya sayang, ini lagi di rumah bapak dan ibu. Ya sudah aku jemput sekarang ya." Fuad buru-buru mematikan handphonenya.
"Dewi yang telpon?"
"Iya bu. Fuad pamit ya untuk jemput Dewi. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam. Hati-hati. Titip Dewi ya, dia sedang hamil. Dijaga baik-baik."
__ADS_1
"Iya bu, pak."