
Hari ini adalah hari terakhir Fuad dan Dewi tinggal di rumah orang tua Dewi. Besok mereka akan pergi dan akan tinggal di rumah orang tua Fuad.
"Harus ya kita pindah dan tinggal di rumah orang tuamu? Apakah tidak bisa tinggal di rumah ayah dan ibu saja. Kasihan ayah dan ibuku. Apalagi ayah kesehatannya tidak stabil."
"Ingat Dewi, kamu sudah jadi istriku. Apapun yang suami minta harus kamu turuti bukan membantah terus."
"Siapa yang membantah. Aku kan bilang apa tidak bisa tinggal di rumah sini saja. Karena kasihan mereka."
"Kita sudah menikah. Sudah saatnya kamu meninggalkan keluargamu tapi bukan tidak akan datang lagi. Kamu harus mengurus suami dan anak yang ada di dalam rahimmu saat ini. Kamu adalah tanggung jawabku."
"Susah punya suami yang tidak open mind. Pikiranmu terlalu picik. Sampai saat ini pun aku tidak tahu apakah kamu bekerja atau hanya luntang lantung saja."
"Aku bekerja kok. Buktinya aku bisa menikahi kamu dan lebih banyak uangku untuk biaya pernikahan."
"Sebenarnya aku tidak mau dan tidak akan pernah mau menikah sama kamu. Karena kamu pintar menarik hati ayah dan ibu sampai akhirnya mereka setuju sama kamu."
"Terserah kamu. Yang penting besok kita sudah pergi."
"Aku masih mau disini. Jarak dari rumah ke kantorku tidak terlalu jauh dan lagi kesehatan ayahku yang tidak stabil."
"Kamu masih boleh kesini kok. Tapi tidak untuk tinggal selamanya disini."
"Terserah kamulah. Aku sudah ngantuk. Mau tidur?"
"Kapan kamu akan melayani aku? Aku ini suamimu. Aku berhak minta tanpa ada kekerasan lagi."
Dewi pura-pura tidur dan tidak mendengarkan omongan Fuad.
Ok, sekarang kamu bisa tidur. Tapi nanti di rumahku kamu harus melayani aku sebagai seorang istri.
Fuad berusaha tidur. Dewi seperti biasa selalu memunggungi Fuad.
Pagi-pagi seperti biasa Dewi bangun untuk sholat dan seperti yang sudah-sudah Ahmad tertidur.
Selesai sholat Dewi keluar kamar dan dilihat ibunya sedang memasak untuk sarapan mereka berempat.
"Ibu, Dewi bantu masak."
"Tidak usah Dewi. Yang penting nanti saat kamu tidak di rumah ini, di rumah orang tuanya Fuad, kamu harus masak untuk mereka dan layani suamimu dengan baik."
__ADS_1
"Ya, lihat saja nanti bu. Dewi sebenarnya tidak mau tinggal di rumah Fuad. Dewi merasa ibunya tidak menerima Dewi. Terlebih sebenarnya ini anaknya Fuad, bu. Bukan anaknya Tito. Fuad telah memperkosa Dewi, sedangkan saat kejadian itu Tito tertidur di ruang tamu karena Fuad membawa minuman yang mungkin sudah dicampur dengan obat tidur."
"Hah! Kenapa kamu baru bilang sekarang? Kenapa tidak dari awal? Kalau dari awal ibu dan ayah tahu bahwa Fuad yang telah melakukan, ayah tidak akan mengusir Tito saat datang kesini."
"Semuanya sudah terlambat bu. Dewi ingin ayah dan ibu tidak selalu memikirkan kapan Dewi punya pacar. Kapan Dewi akan menikah dan punya suami, Kapan Dewi akan mengakhiri masa lajangnya. Baik dan buruknya Fuad ya harus Dewi terima. Karena ada calon bayi yang saat ini Dewi kandung adalah anak Fuad. Ya, Fuad sudah bertanggung jawab atas perbuatannya. Ini jalan hidup Dewi. Dewi hanya ingin membuat ayah dan ibu bahagia."
Ibu segera mematikan kompornya dan memeluk Dewi.
"Dewi, ibu benar-benar minta maaf. Mungkin kalau ibu tidak terlalu memaksa kamu untuk punya pacar dan akhirnya mempunyai suami, saat ini kamu bekerja dengan baik tanpa ada tekanan dari pihak manapun."
"Sudah Dewi maafkan kok bu. Ini jalan hidup Dewi. Ini takdirnya Dewi. Harus Dewi terima dengan lapang dada dan berusaha untuk ikhlas. Walaupun Dewi tidak tahu apa pekerjaan Fuad. Dan ini bukti bakti Dewi sama ayah dan ibu."
Dewi menceritakan semuanya kepada ibu tanpa ada lagi yang di sembunyikan. Baik ibu maupun Dewi tidak tahu bahwa ayahnya ikut mendengarkan. Selesai berbicara Dewi meninggalkan ibunya dan masuk ke kamar.
"Fuad, bangun. Fuad, bangun. Sholat subuh."
Huh, susah amat sih dibangunin untuk sholat subuh. Harusnya kamu jadi imam aku. Tapi kamu sendiri tidak pernah sholat. Aku tahu bahwa nantinya pernikahanku tidak akan berjalan mulus seperti mbak-mbak aku.
Dewi memasukkan baju-bajunya ke dalam koper. Tidak semua baju yang ia bawa untuk tinggal di rumah Fuad.
Saat Dewi masih membereskan baju-bajunya, Fuad terbangun dan melihat Dewi.
Fuad hanya melihat saja. Ia tidak membantu Dewi yang masih packing baju dan barang-barangnya.
"Dewi, Fuad. Ayo keluar kamar. Kita sarapan. Ayahmu sudah menunggu."
"Iya bu, sebentar. Dewi bangunkan Fuad dulu. Ia belum bangun."
"Jangan lama-lama."
Dewi tidak tahu bahwa sebenarnya Fuad sudah bangun. Saat Dewi membalikkan badannya, ia melihat Fuad yang sudah duduk di kasur.
"Bangun, mandi. Ibu sudah kasih tahu untuk sarapan. Jangan lama-lama mandinya."
"Iya. Aku sudah bangun dari tadi."
Fuad egera bangun dan pergi ke kamar mandi.
Dewi keluar dari kamarnya duluan. Sebelumnya Dewi sudah menyiapkan baju Fuad untuk dia pakai setelah selesai mandi.
__ADS_1
"Loh Fuad mana Wi?"
"Lagi mandi ayah. Kalau ayah dan ibu mau duluan makan, silakan saja. Dewi menunggu Fuad."
"Kita ini keluarga. Jadi ada baiknya ditunggu saja sampai Fuad selesai mandi."
ibu melihat ekspresi muka Dewi yang terlihat kesal.
Tidak berapa lama, Fuad keluar dari kamar.
"Pagi pak, bu. Maaf harus selalu menunggu saya untuk makan."
"Ya dimaafkan. Lain kali bangun siang sekalian. Kamu itu imam anak saya. Harusnya kamu menjadi panutan untuk istrimu."
"Bu, ayah sudah lapar. Ngobrolnya nanti saja."
"Iya ayah, maaf."
Dewi melihat muka ayah dan ibu yang tidak suka dengan Fuad.
Apakah ibu sudah men menceritakan kepada ayah. Dewi hanya bisa menduga-duga saja.
"Fuad, acara kamu apa hari inj?"
"Tidak ada pak. Saya sama Dewi akan packing baju dan barang-barang untuk dibawa ke rumah orang tua saua."
"Saya minta seminggu sekali Dewi dan kamu menginap disini. Karena saya juga melakukan hal yang sama terhadap mbak-mbak Dewi."
"Baik pak. Saya akan usahakan."
"Jangan diusahakan tetapi harus. Ayah dan ibu berterima kasih karena kamu sudah mau menikah dengan Dewi terlepas bayi yang ada didalam kandungan Dewi adalah anakmu atau anaknya Tito."
"Iya pak. Tapi yang dikandung oleh Dewi adalah anaknya saya sendiri buka anaknya Tito. Saya yang telah berbuat kepada Dewi dan saya pun sudah bertanggung jawab."
"Ya, ya ayah sudah tahu bahwa itu anak kamu. Dan ayah sudah tahu bahwa bukan Tito yang melakukannya. Kamu sudah memfitnah Tito. Dan kamu juga sudah menikah dengan Dewi. Jadi ayah berharap, kamu jangan sakiti Dewi!"
"Saya tidak akan menyakiti Dewi, pak. Saya sangat mencintai Dewi."
"Ok, kita lihat nanti ke depanya apakah kamu akan menyalahkan Dewi atau menyalahkan orang lain atas ketidak mampuan dirimu."
__ADS_1
Ayah bangkit berdiri dan meninggalkan Fuad juga Dewi dan ibu.
Dewi dan ibu mengikuti ayah, lalu membereskan meja makan. Fuad hanya terdiam.