
"Wuih, masuk juga elo?"
"Heheheh, iya, Yat. Harusnya kemarin masuk. Berhubung ayah gue masuk rumah sakit jadinya baru hari ini deh. Gue mau ke satpam dulu Yat, elo duluan aja.
Dewi menghampiri satpam dan memberitahu apabila ada yang mencarinya bilang tidak masuk kerja.
Saat Dewi masuk ke dalam lift. Fuad datang.
"Pagi pak, saya mau ketemu dengan Dewi."
"Mbak Dewi hari ini tidak masuk pak. Baru saja tadi mbak Dewi telpon, minta tolong kasih tahu ke HRD."
"Ngga masuk lagi pak? Dia telpon ke handphone pak satpam?"
"Ngga pak. Telpon ke nomer kantor."
"Kalau boleh tahu alasan dia tidak masuk apa ya pak?"
"Sakit pak. Mbak Dewi tadi bilang ijin tidak masuk karena sedang di rumah sakit."
"Rumah sakit mana pak? Saya mau jenguk Dewi."
"Wah, saya ngga tahu pak. Karena mbak Dewi tidak kasih tahu di rumah sakit mana."
Fuad keluar dari gedung kantor Dewi.
Di rumah sakit mana? Kenapa tidak kasih tahu? Coba telpon ke ibunya sajalah. Siapa tahu tahu kalau Dewi di rawat di rumah sakit mana. Ah lebih baik datang saja ke rumah Dewi.
Fuad segera pergi ke rumah Dewi.
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam." Mbak Shinta yang membuka pintu dan kaget saat melihat Fuad yang datang.
"Mbak Shinta."
"Ngapain kamu kesini!"
Teriakan Shinta membuat suami dan ibunya keluar.
"Fuad! Dimana Dewi! Sampai mbak-mbaknya mencari Dewi."
"Maaf bu, mbak dan mas. Fuad sendiri juga sedang mencari Dewi. Karena Dewi kabur dari rumah Fuad."
__ADS_1
"Fuad! Dewi tidak akan kabur dari rumah kamu jika kamu memperlakukan dia sebagai istri! Sampai sekarang kami tidak tahu keberadaan Dewi dimana! Dia sedang hamil! Sebenarnya apa sih tujuan kamu menikahi Dewi. Sok jadi pahlawan dan bertanggung jawab? Atau jangan-jangan anak yang di kandung Dewi saat ini adalah anak kamu! Bukan anak laki-laki lain! Jawab!"
Suami mbak Shinta yang selama ini diam dan terkesan cuek tiba-tiba marah.
"Mas, maaf mas. Maaf. Fuad memang berniat menikahi Dewi. Dalam kondisi Dewi hamil ataupun tidak hamil. Fuad memang sayang dan cinta sama Dewi."
"Kalau memang kamu sayang dan cinta sama Dewi bagaimana Dewi bisa kabur? Saya tahu adik saya. Dia tidak pernah lari dari masalah. Dan saya yakin kamu sudah melakukan kekerasan terhadap Dewi! Sampai saya tahu kalau Dewi mengalami kekerasan bersiaplah kamu masuk penjara. Sekarang cari Dewi sampai dapat, jangan bawa ke rumah kamu! Tapi bawa ke rumah ini! Dan saya akan pastikan bahwa anak yang ada di kandungan Dewi adalah anak kamu! Saya kasih kamu waktu 3 hari untuk mencari Dewi! Sekarang pergi kamu dari rumah ini! Jangan pernah injak rumah ini lagi sebelum kamu bisa membawa Dewi pulang!" Mbak Shinta berusaha menahan suaminya agar tidak memukul Fuad.
Brakkkkk
Pintu dibanting oleh suami mbak Shinta.
Fuad berjalan ke mobilnya.
"Ah sial, sial! Kamu kemana sih Wi? Atau jangan-jangan Dewi ada di rumah mbak Ayu? Aaarrrggghhh, aku ngga tahu dimana rumah mbak Ayu!"
Fuad melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
"Pa, kamu tadi tidak bisa menahan emosi."
"Ma, laki-laki seperti Fuad itu pengecut. Ayu dan Dewi sudah ceritakan semuanya. Dewi adik papa juga. Terima kasih tadi mama sudah menghalangi papa untuk tidak menghajar Dewi."
"Maafin ibu. Semua ini salah ibu. Karena selalu bertanya kapan Dewi pacaran, kapan Dewi menikah. Sampai akhirnya ada yang mulai mendekati Dewi namanya Tito dan seandainya ibu tidak mengijinkan permintaan Tito untuk mengajak Dewi jalan-jalan ke puncak pasti saat ini Dewi masih kerja dengan baik, dengan gayanya yang tomboy. Untungnya ayah sedang pergi, kalau papa sampai tahu bisa-bisa ayah masuk rumah sakit lagi!"
"Sebenarnya ibu mau ketemu Dewi tapi bagaimana ayah?"
"Biar nanti sore Bima jemput Dewi ke kantor. Pulang ke rumah ini."
"Iya pa, tolong ya."
"Kalian disini sampai kapan?"
"Hari minggu baru kami pulang bu."
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam. Itu suara ayah, bu. Ibu cuci muka dulu sana biar ayah tidak curiga. Pa, minta tolong buka pintunya."
"Loh, ada kamu. Sama Shinta?"
"Iya ayah. Kamii baru saja sampai."
"Kalian nginap disini?"
__ADS_1
"Iya. mohon maaf ya ayah. Saat ayah masuk rumah sakit. Bima dan Shinta tidak bisa nengokin karena Bima ada urusan keluar kota. Kami menginap disini dan akan balik hari minggu."
"Anak-anak bagaimana?"
"Ada di kamar Dewi. Mungkin tidur."
Hari ini Dewi sibuk, banyak pekerjaan yang harus ia selesaikan. Sampai makan siang pun Dewi lewati.
"Ngapain kamu kesini tapi marah-marah! Pergi sana. Bukannya papa dan mama mu mau Dewi tetap jadi istrimu!"
"Aaaarrrggghhh, bisa diam tidak? Aku butuh tenang. Semua keluarga Dewi sudah tahu dan Dewi sudah menceritakan kejadian yang sebenarnya."
"Nah, kamu sendiri egois. Karena dendam kamu dari sekolah sampai merusak masa depan Dewi. Apa jadinya aku kalau tetap menikah sama kamu!"
"Beda Sisi, beda. Jangan samakan kamu dengan Dewi!" Aku tidak mau ada laki-laki yang menikah dengan Dewi. Karena itu aku juga tidak mau cerai dengan Dewi. Aku harus bisa dapatkan uang dari Dewi."
"Ya, kalau kamu mau mendapatkan Dewi, jual saja Dewi sama om-om. Terus gaji Dewi sudah masuk? Belum kan?"
"Belum, makanya aku tadi ke kantornya sekalian mau minta gaji Dewi. Tapi ternyata Dewi tidak masuk kantor."
"Eh, jadi laki jangan t***l. Dewi pasti sudah minta orang kantornya untuk uang gaji di transfer ke rekeningnya yang lain. Memangnya kamu tahu Dewi punya tabungan berapa banyak? Balas dendam pakai nafsu akhirnya ribet sendiri!"
"Diam! Aku capek dari kemarin. Bi Atik dan Dewi kabur. Aku berkali-kali telpon ke handphone Dewi tidak aktif. Mama bilang kalau aku tidak bisa bawa pulang Dewi, aku tidak boleh pulang ke rumah. Tadi kakak iparnya Dewi bilang hal yang sama. Kalau tidak bisa bawa Dewi tidak boleh ke rumahnya."
"Terus sekarang kamu maunya apa? Ini akibat keegoisan kamu!" Sisi meninggalkan Fuad di kamar kostnya.
Handphone Dewi berdering.
Mas Bima? Ngapain mas Bima telpon aku?
"Halo mas Bima. Ada apa?"
"Kamu masih di kantor?"
"Iya mas."
"Kamu jangan pulang sendiri. Nanti mas yang jemput kamu ke kantor."
"Tapi mas."
"Mbak Ayu ada di rumah ibu nanti sore. Kamu jangan keluar kantor. Kalau nanti mas sudah sampai kantormu, mas telpon dan kamu bisa keluar."
"Iya mas."
__ADS_1
Kok mas Bima mau jemput. Terus katanya mbak Ayu mau ke rumah ibu. Ini ada apa sih? Jangan-jangan? Ah terserah lah. Lihat nanti saja gimana.