
"Wi, mas sudah di lobby kantormu."
"Iya mas, sebentar. Dewi turun ke bawah."
Dewi pamitan dengan teman-temannya. Dan menuju ke lift.
"Mas, ayo kita pulang."
"Ya, mobil di depan kantor karena tadi parkiran penuh katanya. Jadi kita jalan ke depan ya. Kamu jangan jauh-jauh dari mas, Wi."
Dewi dan mas Bima keluar dan berjalan ke depan gedung kantor. Dewi melihat ke kanan dan kiri, takut apabila Fuad melihat dirinya keluar kantor.
"Kenapa kamu Wi? Kok kelihatan takut."
"Iya mas, eh ngga mas."
"Fuad? Kamu tenang saja. Tidak ada Fuad!"
"Heheheh, iya mas. Dewi ngga takut kok. Kan Dewi di jemput sama mas Bima. Jadi aman."
"Ayo masuk. Kamu sudah di tunggu di rumah sama ayah, ibu dan mbak-mbaknya mu."
Dewi masuk ke mobil dan mereka pergi meninggalkan gedung kantor.
Ketakutan Dewi beralasan, karena Fuad melihat Dewi keluar dari gedung kantor. Fuad tidak jadi menghampiri Dewi karena Fuad melihat mas Bima.
"Ooo, jadi elo sudah berani main kucing-kucingan ya sama gue? Lihat saja nanti, akan gue habisin! Gue akan kasih waktu sampai elo ngga sadar kalau elo tiap hari gue pantau"
Dewi tidak tahu bahwa Fuad ada di parkiran yang sama. Fuad meminjam mobil temannya.
Dewi dan mas Bima sampai rumah.
"Ayah, ibu, mbak Shinta, mbak Ayu, mas Sigit. Kok tumben pada ngumpul semua disini."
Ibu yang melihat kedatangan Dewi langsung menghampiri dan memeluk Dewi.
"Wi, maafin ibu ya. Seandainya ibu tidak memaksa kamu mungkin kejadiannya tidak seperti ini."
__ADS_1
"Ibu kenapa sih? Terus ini ada apa? Ada rapat keluarga? Ayah mana?"
"Ayah lagi keluar sama cucu-cucu ke minimarket depan. Dewi, ibu sudah tahu kondisi kamu dan Fuad. Ayah tidak tahu masalah kamu. Jadi ibu dan mbak-mbak mu berharap ayah tidak tahu supaya jangan sakit lagi."
"Iya bu. Maafin Dewi. Dan sekarang Dewi tidak mau lagi tinggal di rumah Fuad. Dewi tidak tahu kenapa orang tuanya Fuad berubah dan ternyata Fuad tidak bekerja. Mengenai kehamilan Dewi."
"Wah, ada Dewi juga. Senangnya ayah, semua anak ayah kumpul semua. Ini ada acara apa sih? Kok mukanya jelek semua? Ada sesuatu yang dirahasiakan ya dari ayah?"
"Ngga ayah. mbak Ayu, mbak Shinta, Dewi, mas Bima, mas Sigit dan cucu-cucu ayah berkumpul untuk syukuran karena ayah sudah keluar dari rumah sakit."
"Karena kalau dikasih tahu sama ayah, pasti ayah ngga mau ada acara syukuran. Ayu, Mbak Shinta dan Dewi memang mau mengadakan acara syukuran.
"Ngga usahlah, doa dari kalian semua supaya ayah tetap sehat itu sudah ucapan syukur buat ayah. Lagi pula kalian sudah habis uang banyak saat ayah menginap di rumah sakit."
"Uang bisa dicari ayah, kesehatan ayah lebih penting. Dan Bima sama Sigit sudah membelikan ayah dan ibu rumah yang baru dekat dengan Ayu. Tinggal renovasi sedikit lagi. Kemungkinan bulan depan ayah dan ibu bisa pindah."
"Lalu rumah ini bagaimana?"
"Rumah ini akan dirubuhin dan dibangun ulang. Rumah yang kami berikan adalah hadiah ulang tahun pernikahan ayah dan ibu."
Akhirnya semua bergembira dan Dewi dapat bernapas lega karena ayah tidak mendengar ucapannya yang belum selesai.
"Terus Dewi gimana? Baju kerja Dewi kan di rumah mbak Ayu."
"Nanti bi Atik ke sini, untuk bantu-bantu ibu, sekalian bawa bajumu. Ngga usah kuatir, semua sudah mbak Ayu pikirin. Kamu harus senang, jangan sedih terus, kasihan anakmu."
"Memangnya kenapa Dewi sedih?"
"Heheheh, ngga sedih ayah. Namanya orang hamil kan hormonnya naik juga kadang sedih, kadang senang."
"Ngomong-ngomong Fuad tidak diajak kesini?"
"Mmm, Fuad ada kerjaan ayah. Dia tadi pagi berangkat keluar kota. Jadi salam saja buat ayah sama ibu."
"Oh gitu. Sudah lama ayah tidak ketemu Fuad. Kamu sama Fuad baik-baik sajakan?"
"Bbbaik, baik kok ayah."
__ADS_1
"Kok bicara kamu gagap? Ada apa?"
"Ngga ada apa-apa ayah. Dewi baru ingat harus kirim email kerjaan. Sebentar ya ayah."
"Ayo semuanya, kalau ngobrol terus kapan kita makan malam. Ibu sudah lapar ini dan ayah harus minum obat. Dewi biarkan saja dulu. Dia kan harus kirim kerjaan dulu. Nanti dia nyusul."
Bi Atik keluar dari mobil, membawa koper Dewi dan masuk ke dalam rumah.
Fuad kaget melihat bi Atik yang keluar dari mobil.
Jadi, Dewi dan bi Atik bersekongkol kabur dari rumah? Bagus! Sabar, sabar Fuad. Belum waktunya kamu buat perhitungan sama Dewi.
Fuad menjalankan mobilnya dan pergi dari rumah Dewi. Fuad pulang ke kost Sisi.
"Gimana? Sudah ketemu Dewi?"
"Belum, dan ternyata Dewi masuk kantor tapi dia di jemput sama kakak iparnya. Aku tidak bisa menghampiri mereka."
"Kenapa? Dewi kan istri kamu. Apa urusannya sama kakak iparnya? Memang kamu menikah sama kakak iparnya?"
"Sudahlah, aku capek mau tidur!"
"Kalau kamu mau tidur, pulang saja sana! Jangan disini. Ternyata kamu tidak berani bawa pulang Dewi! Kalau kamu berani setidaknya kamu bisa dapat uang dari Dewi."
"Sisi, kamu tidak usah mencampuri urusanku sam Dewi! Yang penting apapun yang kamu mau, kamu bisa dapat!"
"Oh ya? Mana buktinya? Kamu saja tidak punya uang! Semenjak kamu menikah sama Dewi, apa kamu mikirin aku? Mana yang katamu mau ambil semua gaji Dewi! Terserah kamu! Aku mau pergi sama teman-temanku!"
"Sisi! Kenapa kamu jadi berubah begini! Kamu harus ngerti posisi aku! Kenapa! Kenapa Sisi!"
"Ngomong aku berubah? Kamu yang berubah! Aku jadi mikir, gimana aku nanti menikah sama kamu? Jangan-jangan apa yanh kamu lakukan sama Dewi akan kejadian juga di aku! Dan kamu tidak berani untuk menceraikan Dewi! Kalau kamu memang mau menceraikan Dewi saat ini juga, lusa kita menikah! Aku capek, aku mau pergi!"
Sisi meninggalkan Fuad di kamar kost. Fuad mengejar Sisi yang sudah dihalaman dan menarik tangan Sisi.
"Ok, ok. Aku akan cerai sama Dewi. Besok kamu antar aku ke pengadilan agama. Sambil proses cerai, kita menikah segera!"
"Ok, kita lihat nanti. Aku ngga percaya sama kamu, karena kamu hanya janji-janji saja. Sedangkan kamu tidak tahu bagaimana posisi aku. Aku di push terus sama papa kapan akan menikah sama kamu! Kita sudah sejauh ini. Bagusnya aku tidak hamil seperti Dewi. Perempuan bodoh itu! Dan kamu jadi ikutan bodoh juga pengecut!"
__ADS_1
"Ok, ok, terserah kamu mau ngomong apa Si. Besok aku akan ke pengadilan agama untuk mengurus perceraianku sama Dewi! Lebih baik sekarang kamu masuk tidak usah pergi sama teman-teman kamu."
Ada mobil yang datang dan berhenti di depan mereka. Sisi segera masuk ke dalam mobil. Fuad melihat Sisi pergi tanpa mengejarnya. Lalu Fuad masuk ke kamar kost Sisi.