Anak Yang Tidak Diakui

Anak Yang Tidak Diakui
part 13


__ADS_3

Sudah 2 hari Dewi tidak masuk kerja. Dan hari ini ibu sibuk memasak ditemani oleh kedua kakaknya. Mereka datang semalam dengan anak-anak dan suami.


"Bu, aku masih bingung sama Dewi."


"Bingung kenapa? Ya hari ini Fuad melamar Dewi. Entah nanti berapa orang yang datang, kita siapkan saja."


"Ibu tidak manggil orang untuk dandanin Dewi?"


"Iya bu. Masa Dewi nanti tidak dandan sama sekali."


"Ya mau gimana?" Kalian kan tahu sendiri gimana adikmu? Dan adikmu sebenarnya sedang pegang satu divisi baru. Dan dia merasa tertantang, tapi kondisi badannya ternyata berbeda."


"Jalani sajalah bu. Namanya juga orang hidup."


"Iya, ini semua salah ibu. Seharusnya ibu tidak mengijinkan Dewi waktu itu. Tapi ibu malah mengijinkan Dewi pergi ke puncak sama Tito. Karena ibu melihat Tito anak yang baik. Tapi siapa sangka ternyata seperti itu. Dan ibu takut Dewi tidak punya jodoh. Jadi lamaran kali ini terkesan Dewi di jodohkan karena keadaan yang memaksa."


"Sudah, sudah. Dalam hal ini tidak ada yang salah dan tidak ada yang benar. Semua dalam porsinya. Yang sudah terjadi ya harus dijalani dan di terima. Kalau Dewi tidak mau pergi harusnya Dewi bisa bilang kalau tidak mau, nyatanya Dewi mau pergi. Terus kalau saat itu Dewi berteriak minta tolong sama temen-temen yang ikut pasti mereka akan menolong nyatanya Dewi tidak teriak dan menerima sampai akhirnya hamil. Jadi ya sudah biarkan Dewi bertanggung jawab atas kejadian itu walaupun membuat malu ayah dan ibu."


"Ya iya juga sih mbak. Tapi tidak tahu juga kalau dari sisi Dewinya. Aku sendiri jadi malu sebenarnya. Apalagi ayah dan ibu."


"Sama, aku pun malu. Ngga tahu kalau ibu."


Dewi yang mendengar ibu dan mbaknya ngobrol menjadi marah. Dewi keluar dari kamarnya.


"Kalian semua, merasa paling benar, merasa paling cantik, merasa malu. Kalian tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi! Kalian dari dulu hanya menyalahkan Dewi. Sebenarnya kalian malu punya adik seperti Dewi. Kalau kalian malu kenapa kalian datang. Lebih baik kalian pulang saja. Kalian tidak tahu rasanya dari kecil, ayah selalu mau aku jadi seperti anak laki-laki. Dan ibu selalu bertanya dan memaksa aku untuk punya pacar. Mereka takut otakku akan belok. Mereka pikir aku bukan perempuan normal seperti kalian yang cantik, manis dan mudah mendapatkan pacar!"


"Dewi, bukan begitu maksud mbak."


"Sudahlah, Mbak Ayu dan mbak Sinta pasti pikir aku tidak bisa menjaga diri. Kalian yang cantik saja bisa menjaga diri kalian."


Ayah dan suami dari mbak Ayu mendengar omongan Dewi. Ayah segera masuk ke dalam rumah dan menghampiri Dewi.


"Dewi, ayah minta maaf karena sudah salah mendidik kamu dari kecil, karena ayah menginginkan anak laki-laki tapi ayah ternyata punya 3 anak perempuan yang cantik dan pintar. Ayah dan ibu benar-benar minta maaf."


"Sudah terjadi sekarang tidak perlu minta maaf ayah. Ini jalan hidup Dewi yang harus Dewi lalui dengan pria yang bukan pilihan Dewi. Pria yang kalian minta untuk menikah dengan Dewi. Karena ayah dan ibu takut Dewi tidak punya suami dan takut Dewi akan mencintai seorang perempuan juga."

__ADS_1


Dewi langsung masuk ke kamar dan membanting pintunya.


Ayah hanya terdiam melihat anak bungsunya marah. Ibu hanya bisa menangis. Sedangkan mbak Ayu dan mbak Sinta terdiam.


Ya mereka tahu, bagaimana ayah mendidik Dewi secara berbeda. Sampai mereka malas untuk berbicara dengan Dewi karena buat mereka Dewi kecil adalah anak yang nakal dan kasar.


Jam 1 siang Fuad datang bersama orang tuanya.


Dewi masih di kamar dengan mbak Sinta. Mbak Sinta merias wajah Dewi agar terlihat lebih cerah.


"Dewi, maafin ayah dan ibu terutama ayah karena telah mendidik kamu menjadi seorang laki-laki. Mbak tahu saat ini kamu ingin marah dan menangis. Jika ada yang mau kamu katakan, ngomong saja sama mbak. Dan mbak janji tidak akan memberitahukan siapapun."


Dewi menatap mbak Sinta. Sebentar kemudian Dewi menggelengkan kepalanya.


"Nah sudah lebih segar sekarang. Kamu tidak ganti baju?"


"Ya gimana mau ganti baju. Mbak Sinta masih di kamarku."


"Iya mbak Sinta keluar. Itu Fuad sudah datang bersama keluarganya."


"Iya tahu."


Bapak, ibu, kakak ipar Dewi dan kedua mbaknya bersalaman dengan kedua orang Fuad dan Fuad


"Saya Wirawan dan ini istri saya Tuti, serta anaknya saya Fuad Kami datang ke sini hendak melamar anak bapak dan ibu yang bernama Dewi."


"Baik pak Wirawan, saya Hendra, ayah dari Dewi. Kami sekeluarga berterima kasih atas kedatangannya untuk melamar anak kami, Dewi. Sebenarnya saya ingin menyampaikan bahwa saat ini Dewi sedang berbadan dua dan Fuad bersedia untuk bertanggung jawab atas kondisi Dewi saat ini."


"Iya pak Hendra, Fuad sudah menceritakan semuanya. Karena itu kedatangan kami kesini selain melamar juga ingin menentukan tanggal pernikahan secepatnya."


"Baik pak Wirawan. Saya dan keluarga senang mendengarnya. Saya akan menghitung tanggalnya dan saya akan infokan secepatnya."


"Ya pak Hendra."


"Sebentar saya panggilkan Dewi agar acara lamaran ini segera dimulai."

__ADS_1


Ayah meminta Sinta memanggil Dewi.


Dewi keluar dari kamar, mukanya tanpa ekspresi.


"Kenalkan ini Dewi. Ayo Dewi, ini pak Wirawan dan bu Tuti. Mereka datang untuk melamar kamu."


"Ya pak."


"Dewi ternyata cantik ya. Fuad tidak salah memilih Dewi. Dan kata Fuad, dulu kamu teman SMA Fuad. Cinta lama bersemi kembali ya."


Dewi tersenyum miris mendengar kata-kata bu Tuti.


"Nah, sekarang kita mulai saja acara lamaran Fuad dan Dewi, ya pak Hendra."


"Baik pak Wirawan."


Acara lamaran dimulai. Fuad menyematkan cincin ke tangan Dewi tetapi kekecilan.


"Ya untuk saat ini cincin bisa dipakai di jari kelingking dulu sebagai formalitas dan saat menikah nanti, bapak harap Fuad dan Dewi membeli cincin pernikahan bersama biar jangan ada yang kekecilan ataupun kebesaran."


"Iya pak. Besok saya akan datang lagi kesini untuk memberikan cincin yang baru yang pas di jari manis Dewi."


"Ok, acara lamaran sudah selesai. Mari pak Wirawan, bu Tuti dan Fuad, kita makan. Istri saya sudah menyiapkan makanan alakadarnya"


"Baik pak Hendra."


Mereka semua menuju meja makan. Hanya Dewi yang masih duduk di ruang. Fuad berbalik dan menemani Dewi.


"Dewi, akhirnya kita sebentar lagi akan jadi suami istri. Aku senang sekali."


"Ya, kamu senang di atas penderitaan orang lain. Dan kamu itu pengecut bagiku karena kamu tidak memberi tahu kejadian sesungguhnya sama orang tua kamu dan juga orang tuaku."


'Terserah kamu mau bilang apa. Yang penting kamu akan jadi istriku dan aku bisa berbuat apa saja dengan kamu. Terlebih jika kamu menolakku nantinya."


"Pergi kamu. Aku benar-benar tidak suka dengan kamu.'

__ADS_1


"Ok, sekarang bisa jadi kamu tidak suka sama aku. Tapi nanti kamu akan mengiba-ona untuk tetap bersamaku."


Fuad meninggalkan Dewi seorang.


__ADS_2