
"Braaakkkk"
Fuad memukul setir mobilnya.
Jangan pikir kamu bisa lari dari aku, Dewi. Aku akan cari kamu sampai dapat! Tidak ada yang boleh memiliki kamu!
"Halo Dewi. Kamu dimana?"
"Ibu, Dewi lagi di kantor. Ada apa bu? Ibu sama ayah sehatkan?"
"Sehat, tadi Fuad ke rumah. Dia cari kamu. Terus katanya dia mau jemput kamu ke kantor."
"Oh, ya Dewi masih di kantor bu."
"Dewi, Dewi! Tolong keluar dulu." Dewi kaget karena mbak Ayu berteriak. Lalu memperlihatkan handphonenya kalau yang menelpon adalah ibu."
Mbak Ayu menutup mulutnya.
"Wi, kamu di kantor beneran?"
"Iya ibuku sayang. Dewi masih di kantor."
"Tapi kok ibu dengar suara mbakmu Ayu."
"Oh tadi si mbak Farida. Suaranya memang mirip sama mbak Ayu."
"Oh. Ya sudah. Kamu hati-hati ya. Kalau Fuad belum sampai kantormu di tunggu dulu. Bisa jadi macet."
"Siap ibu."
Dewi langsung keluar kamar.
"Mbak Ayu, untung tadi ibu ngga banyak tanya. Dewi bilang, itu teman kantor Dewi yang suaranya mirip sama mbak Ayu."
"Lain kali kasih tahu ke mbak, kalau ibu telpon."
"Gimana bisa. Dewi lagi tutup laptop setelah selesai kerjakan tugas kantor. Tiba-tiba ibu telpon dan kasih tahu kalau Fuad ke rumah cari Dewi."
"Ya sudah, besok kamu kerja bareng sama mas mu. Dan titip pesan sama orang kantor kalau ada Fuad, bilang saja kamu sudah resign."
__ADS_1
"Iya mbak. Jujur saja Dewi takut untuk kerja. Fuad kan tidak punya kerjaan. Bisa jadi dia tungguin Dewi seharian. Terus Dewi harus gimana."
"Tumben kamu ngga punya solusi. Setahu mbak, kamu selalu ada solusi untuk setiap masalah. Kenapa sejak menikah otak kamu jadi bebal."
"Yeeee. Oh iya mbak. Si bi Atik gimana?"
"Maksudnya gimana?"
"Ya, mbak ok kah kalau dia kerja sama mbak?"
"Mbak sih ok, ok saja. Nah si bi Atiknya sendiri mau tidak kerja disini. Kan baru mulai tadi siang."
"Dewi sih berharap bi Atik betah kerja sama mbak Ayu. Jadi mamanya Fuad tidak akan bisa melacak keberadaan bi Atik. Kasihan bi Atik kalau harus balik ke rumah sana. Amit-amit jangan sampai deh."
Fuad sampai di rumahnya, terdengar teriakan mama dan papa yang berantem.
"Papa! Mama! Kenapa sih kalian selalu berantem!"
"Semua ini gara-gara istri kamu Fuad! Bi Atik kabur! Terus mana Dewi! Istri kamu! Apa yang kamu sudah dapat dari Dewi! Mau sampai kapan kamu minta uang sama papa dan mama!"
"Mama! Jangan menjelek-jelekkan Dewi. Selama ini papa diam dan mengikuti kemauan mama dan juga kamu! Fuad! Kamu sudah mencoreng muka papa dan mama di depan orang tuanya Dewi. Dan mama! Selalu membela Fuad! Jelas-jelas Fuad yang salah! Fuad! Kamu harus bertanggung jawab sebagai seorang suami dan sebentar lagi kamu akan menjadi papa dari anakmu! Dewi sedang mengandung anakmu! Tapi apa yang kamu lakukan! Kembalikan kartu ATM Dewi! Baca ini!"
Fuad segera membaca email tersebut. Dan jika Fuad tidak meminta maaf sama orang tua Dewi terutama kepada Dewi, maka akan di laporkan ke polisi atas tuduhan kekerasan dalam rumah tangga dan perkosaan.
"Ma, ini gimana?"
"Terserah kamu! Mama pusing! Besok pagi kamu ke kantor Dewi. Ajak Dewi kesini. Kalau kamu tidak bisa bawa Dewi pulang kesini, jangan pulang ke rumah! Ngerti kamu! Jangan ngurusin Sisi dulu!"
Fuad mengusap mukanya dengan kasar.
"Iya ma. Ma, ada makanan tidak? Fuad lapar."
"Itu di meja makan. Habis makan kamu bantu mama cuci piring!"
Fuad berjalan ke ruang makan. Dan mengambil makanan. Selesai makan, Fuad membantu mamanya mencuci piring.
Papa menghampiri Fuad dan mamanya.
"Ma, Fuad! Papa akan pergi ke luar kota. Saat papa pulang nanti, papa mau mama dan Fuad berbuat baik sama Dewi. Jangan pernah berpikir bahwa Dewi mengandung anak pria lain! Dan semua kartu kredit mama dan Fuad, papa blokir. Pakai uang yang ada di ATM mama saja! Fuad, kamu harus kerja!"
__ADS_1
"Pa, papa mau kemana! Tenang dulu pa, jangan seperti ini. Mama sudah minta sama Fuad untuk ke kantor Dewi besok pagi."
"Bereskan dulu masalah kalian berdua dengan Dewi! Cukup buat papa selama ini menutupi kelakuan bejad Fuad!"
Papa berjalan keluar rumah. Mama yang sedang mencuci piring segera berlari mengejar papa. Tapi ternyata terlambat.
"Papa! Papa!" Mama berteriak memanggil papa yang sudah pergi.
Fuad menghampiri mamanya dan mengajak masuk ke dalam rumah.
"Fuad, papa kamu. Papa kamu pergi! Kamu dengarkan ini semua karena ulah kamu! Mama tidak mau tahu! Kamu cari Dewi sekarang juga dan bawa Dewi ke rumah ini!"
"Besok saja ma. Fuad tidak mau meninggalkan mama sendirian dalam kondisi seperti ini. Mama tenangin diri dulu. Kan tadi papa bilang keluar kota."
"Iya papa kamu keluar kota tapi sampai kapan!"
Sisi datang ke rumah Fuad.
"Loh tante, tante ada apa? Kenapa tante nangis! Fuad! Ini ada apa?"
"Keluar kamu! Kamu tidak bisa tinggal disini! Karena Fuad, suami Dewi! Dan kamu perusak rumah tangga Fuad dan Dewi!"
"Ma! Mama ngomong apa sih! Kemarin-kemarin mama setuju kalau Fuad menikah lagi dengan Sisi. Terus kenapa sekarang berubah! Sisi beda ma, Sisi bukan Dewi yang hanya bisa membuat runyam rumah kita. Sisi pacar Fuad yang sebentar lagi akan jadi istri Fuad. Mama sendiri yang bilang kalau mama tidak percaya bahwa anak yang dikandung Dewi bukan anak Fuad! Mama kenapa jadi plin-plan! Aaaarrrggghhh, terserah mama saja!"
Fuad meninggalkan mamanya yang masih duduk di ruang tamu dan masuk ke kamar dan mengunci pintu.
Fuad berulang kali menelpon Dewi tapi nomer Dewi tidak aktif. Fuad membuka medsos Dewi dan terlihat bahwa Dewi sedang online. Fuad mengirimkan pesan melalui medsos Dewi. Fuad berharap Dewi segera membaca dan membalas pesannya.
Fuad mendengar pintu kamarnya diketuk oleh Sisi.
"Fuad, buka pintunya. Aku mau masuk. Fuad! Fuad! buka pintunya!"
Fuad hanya diam. Ia tidak mau membuka pintu walau pun Sisi sudah berteriak-teriak di luar sana. Setelah beberapa belas menit, Fuad tidak mendengar suara Sisi lagi.
Ah sial! print out email dari kakak iparnya Dewi ada di luar lagi. Tadi ada nomer handphone kakaknya Dewi. Arrrrggghhh!
Fuad berteriak sekuat tenaga.
Gara-gara perempuan sial. Hancur rumah tangga orang tua gue karena elo. Lihat saja, akan ada pembalasan untuk elo, Dewi! Dan gue bersumpah, hidup elo tidak akan bahagia!
__ADS_1