Anak Yang Tidak Diakui

Anak Yang Tidak Diakui
Part 14


__ADS_3

1 bulan kemudian Dewi dan Fuad melangsungkan pernikahan. Teman-teman kantor Dewi datang ke acara pernikahan.


"Dayat, elo tahu kenapa tiba-tiba Dewi nikah. Apa dia hamil duluan?"


"Ngga tahu gue, mas Andri. Sejak pindah divisi dia tidak pernah cerita-cerita lagi."


Banyak yang mempertanyakan perihal Dewi menikah secara mendadak.


Tamu-tamu sudah habis. Dewi langsung masuk kamarnya diikuti oleh Fuad.


"Puas kamu! Setelah apa yang telah kamu perbuat sama aku. Aku sempat mendengar orang-orang membicarakan aku bahwa aku hamil diluar nikah."


"Ya satu hal aku puas akhirnya aku bisa mendapatkan kamu dan menikah dengan kamu. Tidak usah pedulikan orang lain. Mereka hanya bisa membicarakan keburukan orang lain dan yang terpenting kamu sudah dah sebagai istriku."


"Keluar kamu! Ini kamarku!"


Muka Dewi merah karena Fuad sudah membuat dirinya hancur dan ia harus tetap bekerja. Entah apa yang akan terjadi nanti saat ia masuk kerja.


"Ini kamarku juga. Sekarang kita sudah sah jadi suami istri. Dan ada anak aku di rahim mu."


"Jangan pernah menyentuh aku!"


"Aku berhak menyentuh mu karena kamu istriku.


Fuad menanggapi semua omongan Dewi dengan santai.


Tito tadi datang ke pernikahan Dewi dan Fuad. Tito dapat melihat muka Dewi yang tidak bahagia saat di pelaminan tadi. Ingin rasanya Tito naik ke pelaminan dan menghantam Fuad. Tetapi di cegah oleh temannya.


Seminggu sebelum Tito berangkat berlayar, teman di studio tempat biasa mereka latihan memberitahu bahwa Fuad akan menikah.


Sampai rumah Tito merebahkan dirinya. Ia mendengar ibunya yang menangis seperti biasa.


Ok, lusa aku akan berlayar. Dan aku akan kembali setelahnya. Aku harap kamu sudah bercerai dengan Fuad. Aku akan menjaga cintaku untuk kamu, Dewi.


Dewi sudah tertidur dan tidak mengganti bajunya. Fuad melihat wajah Dewi yang masih ada riasan di wajahnya dan sudah tertidur.


Akhirnya aku bisa mendapatkanmu dan ada anak aku di rahimmu. Kamu boleh tetap bekerja dan harus bekerja karena aku masih belum bisa menafkahi hidupmu dan anak kita. Fuad tersenyum licik.


"Ayah, sudah tidur?"


"Belum bu. Kenapa?"


"Apakah Fuad akan membawa Dewi keluar dari rumah ini? Kok tiba-tiba perasaanku tjdak enak. Sepanjang hari, tidak ada sedikit pun senyum di wajah Dewi. Kecuali saat teman-teman kantornya datang, Dewi senyum."


"Itu hanya perasaan ibu saja. Bukannya perempuan memang seperti itu. Terlalu pintar menyembunyikan perasaannya."


"Ayah selalu seperti itu."


"Nah ibu? Pertanyaan yang sama saat anak-anak menikah. Kok perasaan aku tidak enak. Tapi ternyata? Ayu dan Sinta baik-baik saja sampai saat ini dan suami mereka sayang. Jadi jangan terlalu mikir macam-macam."


"Bukan begitu ayah. Untuk Dewi kan beda. Ia hamil duluan. Dan Fuad bersedia bertanggung jawab atas perbuatan Tito.'

__ADS_1


"Ya terus maunya bagaimana sekarang. Sudah kejadian juga dan takdirnya Dewi. Sudah tidur. Sudah malam. Yang ada nanti sakit."


"Iya."


Jam 3 pagi Dewi terbangun.


Astaghfirullah al adzim. Kok ada Fuad disini? Bukannya ini kamarku? Ya Allah, aku lupa ganti baju. Ini masih pakai baju pengantin.


Dewi segera bangun dan membersihkan wajahnya yang masih dengan makeup. Setelah itu Dewi masuk ke kamar mandi. Selesai mandi dan berpakaian Dewi keluar dari kamar mandi.


Dewi membangunkan Fuad untuk sholat subuh tetapi Fuad tidak bangun akhirnya Dewi sholat sendirian.


Saat Dewi sholat Fuad terbangun dan melihat Dewi yang sedang sholat. Fuad menunggu Dewi sampai selesai sholat.


"Dewi, kamu kenapa tidak membangunkan aku untuk sholat."


"Aku sudah bangunkan kamu tapi kamu tidak bangun-bangun. Kalau kamu niat sholat subuh. Saat kamu bangun, kamu langsung ke kamar mandi dan mandi kemudian sholat. Ini kenapa malah nanya kenapa aku tidak bangunkan kamu untuk sholat."


"Aku kan imammu harusnya kamu membangunkan aku! Otakmu dipakai tidak?"


"Ah, capek ngomong sama kamu!"


Awal pagi mereka sudah ribut. Dewi segera keluar dari kamarnya. Ibu dan mbaknya sudah di dapur sedang memasak untuk sarapan pagi.


"Wuih pengantin baru. Gimana kaget ya ada orang lain tidur di sebelah kamu?"


"Apaan sih mbak. Udah deh, pagi-pagi jangan buat mood aku makin berantakan."


Dewi meninggalkan dapur dan keluar rumah. Ia duduk di teras rumah.


" Lagi dapat tamu kali."


"Gimana ceritanya dapat tamu? Dia kan lagi hamil."


"Sudah jangan banyak ngobrol kalau mau bantuin ibu ya sudah masak, kalau tidak mau ya sudah sana masuk kamar tidur atau temani adikmu di luar."


Kedua mbaknya Dewi langsung terdiam daripada ibunya marah.


Gue jadi istrinya Fuad. Apa yang akan terjadi nanti? Orang tua Fuad sudah minta bahwa Gue harus tinggal sama mereka setelah pernikahan. Neraka buat gue. Kelihatan ibunya garis keras. Gue mesti gimana? Jangan-jangan nanti gue bisa mati di tangan Fuad. Tangannya enteng banget. Dan gue tidak tahu dia sudah kerja atau belum?"


Dewi mengacak-acak rambutnya sendiri. Dewi tidak menyadari ayahnya sudah berdiri dari tadi di pintu rumah.


"Dewi, kamu kenapa? Kok ngacak-ngacak rambut. Kenapa ngga ngacak-ngacak suamimu saja biar makin lengket."


"Ayah. Ngga papa Kalau ayah sama seperti mbak Ayu dan Sinta. Dewi masuk saja."


Ayah tahu suasana hati Dewi sedang jelek.


"Kenapa mesti masuk. Kan enak duduk di teras menikmati udara pagi. Kamu kan jarang pagi-pagi duduk di teras menghirup aroma tanah yang kena tetesan embun."


"Tumben ayah puitis. Ngga seperti biasanya."

__ADS_1


"Ayah memang puitis makanya ibumu mau sama ayah."


"Berbahagialah ibu dan mbak Ayu juga mbak Sinta menikah sama orang yang mereka cintai tidak seperti aku menikah karena paksaan dan keadaan. Dan harus aku terima. Apalagi nanti pasti banyak yang nyinyir."


"Harus belajar sabar dan ikhlas dan tidak boleh marah-marah harus dibawa senang. Kamu sedang hamil. Kasihan nanti anak kamu akan jadi anak yang sedih."


"Ayah, Dewi kalau tidak sabar dan ikhlas. Dewi tidak mau menikah. Lebih baik Dewi sendiri dan membesarkan anak Dewi tanpa ada suami. Ngga pusing."


"Hush, tidak boleh berbicara seperti itu. Pamali. Kapan kamu akan masuk kerja lagi."


"Minggu depan. Dewi dapat jatah cuti 1 minggu. Senin minggu depannya lagi Dewi masuk kerja."


Tiba-tiba ibu muncul.


"Ayah, Dewi ayo kita sarapan bareng. Ajak suamimu Dewi. Kok dari tadi belum keluar kamar. Semua kakakmu sudah menunggu."


"Iya bu."


Dewi segera masuk ke rumah dan ke kamarnya. Ternyata Fuad masih tertidur dengan pakaian yang sama.


Coba, gimana mau jadi imam gue. Ngga sholat. Jam segini masih tidur.


Dewi membangunkan Fuad.


"Bangun. sudah siang. Diajak sarapan sama ayah dan ibu juga mbak dan mas. Mereka sudah menunggu di meja makan."


"Nanti saja. Aku masih ngantuk."


"Hei, ini keluargaku. Kamu harus menghargai ibuku yang sudah menyiapkan makan pagi. Bangun dan cepat mandi!"


Dewi berteriak di kuping Fuad. Dan tanpa sengaja Fuad menampar pipi Dewi.


"Aduh! Sakit tahu!"


"Maaf, maaf Dewi, aku tidak sengaja!"


"Bangun dan mandi cepat!"


Fuad segera bangun dan masuk ke kamar mandi


Dewi keluar dari kamar dan duduk.


"Loh Fuad mana?"


"Sedang mandi. Nanti nyusul."


Tidak berapa lama Fuad keluar kamar.


"Pagi semua. Maaf saya kesiangan bangun pak, bu, mas dan mbak."


"Ayo sarapan. Kita nunggu kamu dari tadi."

__ADS_1


Akhirnya mereka makan sama-sama.


Fuad melihat hal kecil dari keluarga Dewi dimana kalau belum lengkap formasi keluarga di meja makan tidak akan ada yang mulai makan kecuali jika pergi.


__ADS_2