Anak Yang Tidak Diakui

Anak Yang Tidak Diakui
Loncat pagar


__ADS_3

"Non Dewi, bangun non." Bi Atik mengetuk pintu kamar Dewi.


Dewi segera bangkit dari tempat tidurnya. Dan melangkah membuka pintu kamar.


"Iya bi Atik. Selamat pagi."


"Non, sholat subuh. Iya bi. Ini lagi mau siap-siap juga untuk sholat. Terima kasih sudah diingatkan."


Bi Atik masuk ke kamarnya karena ia sudah mengambil wudhu. Dewi segera ke kamar mandi, untuk mandi dan sekalian mengambil wudhu.


"Bi, bibi masak apa?"


"Ini bibi lagi masak nasi sama buat tempe goreng juga ayam mentega untuk makan non Dewi."


"Kok buat saya? Buat semuanya dong bi, termasuk bibi juga."


"Untuk den Fuad dan non Sisi, nunggu mereka bangun, non. Takutnya bibi seperti kemarin. Saat bibi sudah siapkan nasi goreng, non Sisi minta mie goreng instan. Sedangkan nyonya tidak kasih bibi uang belanja lagi karena sudah disiapkan. Jadinya bibi beli pakai uang bibi."


"Oh, sampai seperti itu bi?"


"Iya non. Nah ini sudah matang semua, sekarang non Dewi makan ya sebelum den Fuad bangun."


"Loh kenapa bi? Nanti sarapan bareng-bareng saja sama mereka."


"Sudah non, nanti bibi kasih tahu. Sekarang non makan saja di kamar non ya."


"Eh, iya bi."


Bibi segera memberikan sepiring nasi dengan tempe goreng dan ayam mentega kepada Dewi.


Dewi masuk ke kamarnya membawa makanan dengan bingung.


Ya sudahlah aku makan. Tapi kenapa aku harus makan duluan? Masih sepagi ini juga? Aneh? Apa jangan-jangan? Ah tidak boleh suudzon sama orang, pagi-pagi tidak boleh mikir macam-macam.


Dewi segera menghabiskan makanannya dan keluar dari kamar. Terlihat bibi yang sedang membersihkan ruang tamu yang berantakan dan banyak sampah.


"Bi, biar Dewi yang mengepel ya?"


"Ngga usah. Non Dewi istirahat saja, Non Dewi kan sedang hamil."


"Ngga enak bi. Aku malah bisa sakit kalau diam saja. Lagipula sepertinya anak ini ngerti, aku tidak merasakan apapun maksudnya seperti orang-orang yang ngidam."


"Alhamdulillah, berarti dedenya ngerti sama ibunya."


Dewi masuk kembali ke kamarnya dan mengambil handohonenya. Ada pesan masuk dari mas Andri.


"Dewi, hari ini sudah bisa masuk kerja? Ada meeting divisi. Dan kamu harus datang. Maaf jadi mengganggu waktu cutimu."


"Iya mas, hari ini aku bisa masuk kantor." Dewi membalas pesan mas Andri.

__ADS_1


Dewi melihat jam, sudah jam 06.30. Dewi mengganti bajunya dan bersiap untuk pergi kerja.


"Bi, Dewi hari ini masuk kerja. Dewi minta kunci gerbangnya bisa?"


"Tapi non. Tunggu sebentar ya. Bibi bangunkan den Fuad dulu. Kuncinya di pegang den Fuad."


"Biar Dewi saja yang bangun bi."


"Jangan non. Biar bibi saja. Non tunggu saja disini. Duduk di situ saja non." Bibi minta Dewi duduk di kursi makan.


Bibi mengetuk kamar Fuad berkali-kali tetapi tidak ada jawaban. Dewi gelisah karena sudah jam 07.00. Dewi tidak mau telat sampai kantor.


Dewi menghampiri bibi yang masih mengetuk kamar Fuad.


"Bibi, sudah tidak usah. Dewi loncat pagar saja. Karena ini sudah jam 07.10. Dewi harus berangkat takutnya telat sampai kantor."


"Tapi non, bahaya kalau non sampai loncat pagar. Apalagi non sedang hamil." Bibi terlihat cemas.


"Tenang saja bi. Aku bisa kok melompati pagar. Eh maksudnya manjat pagar heheheh."


"Ya, bibi antar sampai depan ya. Bibi takut non nyangkut."


"Hahahah, layangan kali bi, pakai nyangkut."


Dewi keluar rumah diikuti oleh bibi Atik.


"Aduh hati-hati non! Non lagi hamil."


"Tenang bi, tenang. Ngga usah teriak-teriak panik."


Fuad mendengar suara berisik segera keluar kamarnya dan berjalan keluar.


Untungnya saat Fuad baru keluar. Dewi baru saja turun dari pagar.


"Bibi! Itu kenapa Dewi bisa kabur! Bibi mau saya pecat! Kan semalam saya sudah bilang sama bibi jangan sampai Dewi keluar rumah!"


Dewi yang mendengar suara teriakan Fuad kepada bibi Atik segera membalas.


"Fuad! Dari tadi bibi sudah mengetuk pintu kamar kamu! Tapi kamu tidak keluar dari kamar. Aku harus ke kantor sekarang karena ada meeting!


Fuad segera berlari untuk menarik Dewi masuk ke rumah. Tapi Fuad lupa kalau pintu gerbangnya belum dibuka.


"Shhiiiittt! Fuad berusaha meraih Dewi tapi karena jarak Dewi berdiri dari pagar terlalu jauh membuat Fuad tidak bisa menarik Dewi. Fuad langsung memanjat pagar. Tapi terlambat. Saat Fuad sudah di atas pagar, taxi yang Dewi pesan sudah datang. Fuad segera loncat dari atas pagar untuk mengejar Dewi dan ternyata terlambat. Fuad jatuh dan kakinya terkilir.


"Br*****k! Aduuh, kaki pakai acara terkilir! Bibi! Ambilkan kunci pagar diatas meja di kamar saya! Cepat!"


"Iya den." Bibi segera berlari ke dalam rumah dan membuka pintu kamar Fuad.


"Astaghfirullah!" Bibi kaget saat membuka pintu kamar melihat Sisi yang masih tertidur dan badannya t*******g.

__ADS_1


Bibi segera mengambil kunci pagar dan berlari keluar rumah untuk membuka pagar.


Fuad segera masuk dengan terpincang-pincang. Dan bibi menutup kembali pagar. Melihat Fuad yang berjalan dengan terpincang-pincang membuat bibi segera membantu Fuad.


Fuad mendorong bibi yang hendak membantunya berjalan. Dan bibi terjatuh.


"Aduh den, sakit."


"Ini karena bibi tidak mau menuruti perintah saya. Untungnya hanya saya dorong karena kaki saya terkilir. Tunggu saja pembalasan saya ke bibi dan Dewi karena telah melanggar saya!


" Maaf den, tapi tadi bibi lihat pesan masuk di handphone non Dewi. Memang non Dewi harus pergi ke kantor. Kasihan non Dewi kalau sampai telat!"


"Bibi kerja di rumah ini! Jadi harus ikutin aturan saya sebagai majikan! Dan saya tahu, bibi sengaja membantu Dewi untuk keluar dari rumah! Iyakan!"


"Ngga den. Bibi ngga sengaja. Bibi benaran lihat kalau non Dewi harus ke kantor. Kasihan non Dewi."


"Iishh." Fuad menendang bibi dengan kakinya yang terkilir, untungnya bibi segera menghindar sehingga kaki Fuad hanya menendang angin saja.


"Cepat masuk, buatkan makanan untuk saya dan Sisi! Setelah itu bibi keluar dari rumah saya!"


"Iya den." Bibi segera masuk dan berjalan menghindar dari Fuad.


Bibi berjalan dengan cepat tanpa mempedulikan rasa sakitnya karena terjatuh tadi. Saat melewati kamar Fuad. Sisi sudah berdiri di depan kamar tanpa sehelai baju.


"Astaghfirullah, non Sisi. Malu non. Pakai bajunya."


"Urusan apa kamu! Suka-suka saya mau pakai baju atau tidak! Cepat siapkan makanan, saya sudah lapar!"


"Iya non. Permisi!"


Sisi melihat Fuad yang masuk ke dalam rumah dengan berjalan pincang.


"Kamu kenapa? Kok jalannya pincang!"


"Dewi kabur, dan dibantu sama bibi! Alasan kalau ada meeting di kantor!"


"Terus kamu tidak berusaha kejar dia! Lalu bagaimana rencana kita?! Berantakan!"


"Bisa diam tidak! Aku belum bisa mikir! Dan kenapa kamu keluar kamar tidak pakai baju! Mau buat aku malu! Masuk ke kamar dan pakai bajumu!"


"Biasanya di kost juga begini!"


"Eh di kost, kamu bebas karena kamu di dalam. Ini bukan kost tapi ini rumahku! Dan apa kata bibi kalau melihat kamu seperti itu!"


"Bibi ngga papa tuh! Tadi juga sudah lihat!"


"Masuk kamar! Fuad menarik tangan Sisi untuk masuk kamar."


Ini semua gara-gara Dewi! Sial, pagi-pagi Fuad sudah marah. buat mood berantakan! Sisi membatin.

__ADS_1


__ADS_2