Anak Yang Tidak Diakui

Anak Yang Tidak Diakui
Minta uang


__ADS_3

Fuad dan mamanya menuju ke rumah orang tua Dewi. Mereka berharap bisa bertemu dengan Dewi dan membawa pulang Dewi ke rumah mereka.


Hampir setengah jam mereka mengetuk rumah orang tua Dewi dan berharap Dewi keluar tetapi tidak ada siapapun yang keluar. Sampai akhirnya tetangga sebelah rumah memberitahu kalau ayahnya Dewi masuk rumah sakit dan dari kemarin tidak ada yang datang ke rumah.


Akhirnya Fuad dan mamanya pulang ke rumah mereka.


"Fuad! Mama tidak mau tahu, cari Dewi sampai dapat kalau perlu kamu ke rumah sakit lagi supaya bisa bawa Dewi pulang."


"Nanti sajalah ma agak malaman ke rumah sakit lagi. Kalau sekarang bisa jadi Dewi belum sampai rumah sakit."


"Aduh bodoh banget sih kamu. Memang siapa yang minta kamu ke rumah sakit sekarang!"


Mama masuk ke kamarnya. Fuad berjalan ke dapur dan minta bi Atik membuatkan kopi.


"Bi, Sisi mana?"


"Tadi non Sisi pergi saat nyonya dan den Fuad pergi ke rumah sakit."


"Oh ya sudah, terus kamar saya sudah bersihkan bi?"


"Sudah den. Sudah bibi bersihkan tadi setelah non Sisi pergi."


"Bi, mana kopi saya!"


"Ini den kopinya."


Fuad mengambil kopi yang diberikan oleh bi Atik dan berjalan ke arah teras rumahnya.


Dewi baru saja bangun. Ia merasa capek karena semalaman tidak tidur dan saat ini ia merasa mual. Dewi segera berlari ke kamar mandi dan memuntahkan semua isi perutnya.


Dewi merebahkan lagi badannya. Dewi merasakan lemas setelah muntah-muntah.


Harusnya aku cek kandungan ke dokter. Tidak perlu menunggu Fuad ataupun menghubungi Fuad untuk menemani aku. Mungkin memang aku tidak akan bisa punya suami siaga. Fuad lebih siaga dengan Sisi ketimbang dengan aku.


Setelah merasa enakan, Dewi keluar kamar. Dan melihat pembantu mbak Ayu.


"Bi, mbak Ayu belum pulang?"


"Belum mbak Dewi. Mbak Ayu jemput anak-anak les."


"Oh ya sudah bi. Aku berangkat ya bi ke rumah sakit. Nanti kasih tahu saja sama mbak Ayu untuk ke rumah sakit jemput ibu."


"Apa mbak Dewi ngga bareng saja sama mbak Ayu ke rumah sakit?"


"Ngga bi, aku ada urusan yang lain dulu. Ya sudah ya bi, aku pamit. Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam mbak. Hati-hati di jalan."


Dewi menaikkan jempol tangannya ke atas kepala biar pembantu mbak Ayu melihat.


Harus antri 3 orang lagi setelah itu bisa langsung ke rumah sakit ganti shift jaga.


Dewi masuk setelah namanya di panggil oleh suster.

__ADS_1


"Ma, pa, Fuad berangkat ya."


"Kamu mau kemana?"


"Fuad mau nemenin Dewi di rumah sakit. Ayahnya sakit. Kasihan kalau Dewi harus nunggu ayahnya sendirian. Dewi lagi hamil."


"Tumben ada pikiran kamu? Lagi sadar dan sudah insyaf atau lagi ada sesuatu yang kamu sembunyikan dari papa?"


"Ngga ada pa. Fuad tidak menyembunyikan apapun. Lagipula tadi siang Fuad sudah jenguk ayahnya Dewi bareng mama. Dan malam ini Dewi jaga ayahnya lagi. Daripada Dewi hanya bengong saja kan kalau ada Fuad jadi Dewi bisa istirahat atau ngobrol sama Fuad."


"Ok, Terus mobil yang di depan itu mobil siapa? Dan mobil kamu kemana?"


"Mobil ada di rumah teman. Aku tukeran mobil pa."


Papa hanya bisa menghela napas melihat Fuad yang tidak berubah.


Fuad pergi tapi ternyata tidak ke rumah sakit melainkan ke kost Sisi.


Dewi sudah sampai rumah sakit. Mama dan mbak Ayu pulang ke rumah.


"Dewi, ayah tadi mimpi, cucu ayah laki-laki."


"Amin ayah, semoga mimpinya ayah terkabul."


"Besok ayah sudah boleh pulang. Tapi kalau ayah minta kamu sama Fuad tinggal di rumah kita saja bagaimana? Supaya ada yang nemenin ayah dan ibu."


"Iya nanti Dewi kasih tahu sama Fuad ya ayah."


"Sisi, aku ngga bisa nginap di kostmu. Aku harus nemenin Dewi di rumah sakit?"


"Bukan, bukan begitu Sisi. Tapi aku harus bawa Dewi pulang ke rumah. Mama sudah minta aku jaga Dewi supaya dia tidak kabur-kaburan terus."


"Kan bisa besok pagi-pagi kamu ke rumah sakit dan jemput Dewi. Subuh kamu kesana, tapi malam ini bisa dong temanin aku tidur?"


"Ok, apa sih yang tidak buat Sisi."


Sisi tersenyum dan memeluk Fuad. Dan membisikkan sesuatu hal yang membuat mata Fuad berbinar karena senang.


"Dewi, telpon Fuad. Ayah mau ketemu sama dia."


"Tapi ayah, ini sudah malam. Lebih baik ayah tidur. Besok pasti Fuad datang ke sini. Percaya deh sama Dewi."


"Ngga mau percaya sama kamu. Memangnya kamu Tuhan?"


Ayah dan Dewi tertawa bersama karena omongan ayah yang konyol.


"Sudah tidur ayah. Biar besok bisa pulang."


"Iya Dewi. Jaga cucu ayah baik-baik ya. Kamu jangan kecapean. Kamu juga harus tidur. Kan bisa tidur di sofa."


"Tenang saja ayah. Dewi bisa tidur dimana saja."


"Kamu ngga ada ngidam gitu. Pengen apa, pengen makan apa."

__ADS_1


"Ada sih."


"Pengen apa?"


"Hmmm, Dewi pengen ayah tidur... tidur... jangan banyak bicara, istirahat, kalau ayah ngomong terus, besok dokter cek lagi sebelum pulang ternyata ngga boleh pulang gimana?"


"Iya, iya, bawel. Memang anak ayah yang ini bawel banget." Ayah memcubit pipi Dewi."


"Aduh, sakit ayah. Tiduuuurrrr!"


"Iyaaaaaa!"


Tidak berapa lama akhirnya ayah tidur. Dewi mengambil handphonenya dan ternyata sepi. Tidak ada pesan ataupun panggilan dari Fuad maupun orang tuanya Fuad. Dewi bernapas lega sejenak. Karena tiba-tiba ada pesan masuk dari Fuad.


Kirimkan uang sekarang! Aku butuh malam ini. Uang 2 juta. Kalau kamu tidak mau transfer uang sekarang, dipastikan besok aku akan ke rumah sakit dan bilang di depan ayahmu bahwa kita akan cerai!


What! Dewi kaget membaca pesan dari Fuad.


Gila kali ya ini orang, selama nikah tidak pernah keluar uang. Hanya saat pesta pernikahan saja. Sebenarnya sanggup tidak sih jadi kepala keluarga dan sebentar lagi ada anak.


Dewi mengusap perutnya yang mulai terlihat buncit.


Lihat tuh bapakmu, masa harus ibu terus yang kasih uang? Semoga nanti kamu tidak seperti bapakmu ya sayang. Ibu hanya bisa berdoa saja agar bapakmu berubah menjadi lebih baik.


Maaf, aku tidak ada uang sebanyak itu. Ini untuk kamar rawat ayah saja yang bayar mbak Ayu dan mbak Shinta. Uangku sudah terpakai tadi untuk ke dokter kandungan, itupun tadi pinjam sama ibu.


Dewi membalas pesan Fuad.


Tidak menunggu waktu lama. Fuad menelpon Dewi.


"Ini sudah akhir bulan. Masa sampai sekarang gaji kamu belum masuk."


"Ya aku ngga tahu. Kartu ATM ku kan di pegang sama kamu. Aku mana tahu sudah masuk atau belum gajiku. Dan baru Senin aku masuk kerja."


"Kamu kan bisa minta uang sama mbakmu atau ibumu lagi. Kenapa juga harus ke dokter kandungan? Dan tadi siang kamu kemana? Tadi siang aku sama mama ke rumah sakit tapi kata ibumu, kamu sudah pulang. Aku sama mama ke rumah ternyata kamu tidak ada? Tidur dimana kamu? Tidur sama laki-laki lain? Jangan-jangan anak yang kamu kandung sekarang bukan anak ku!"


"Jaga ucapan kamu! Jelas-jelas aku hamil karena perbuatan kamu di puncak! Dan aku tidak pernah sekalipun tidur dengan laki-laki lain kecuali kamu setelah kita menikah!"


"Alasan saja kamu. Jangan pernah berharap aku akan mengakui anak yang kamu kandung itu! Kamu itu sama saja dengan p*****r yang tidur sama laki-laki lain!"


"TERSERAH KAMU! KAMU ITU PENGECUT BERANI BERBUAT TAPI TIDAK BERANI BERTANGGUNG JAWAB DAN MENANGGUNG RESIKO!"


"Lihat saja Senin, aku akan permalukan kamu di kantormu!"


"Silakan saja, aku tidak takut!"


Fuad mematikan sambungan telponnya. Dewi benar-benar marah atas ucapan Fuad. Dewi mengusap air matanya dan bangkit berdiri ke kamar mandi untuk mengambil wudhu. Dewi sholat.


"Sisi, kita pulang saja. Aku tidak ada uang. Gaji Dewi juga belum masuk. Dan dia tidak ada uang sama sekali."


"Terserah kamu. Tapi aku tidak mau pulang. Kalau kamu mau pulang silakan saja."


"Pakai uangmu dulu, saat gaji Dewi masuk nanti aku ganti."

__ADS_1


"Ok."


Fuad dan Sisi pergi ke club malam sampai menjelang subuh.


__ADS_2