Anak Yang Tidak Diakui

Anak Yang Tidak Diakui
Part 2


__ADS_3

"Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam. Pesanan ayah mana?"


"Sabar ya ayah. Baru juga masuk rumah. Dewi sudah belikan semua yang ayah mau."


"Bagus, sekalian buatin ya Wi."


"Iya ayahku sayang."


"Dewi, mana titipan ibu."


"Sebentar ibu. Ini lagi dikeluarin dari kantong plastik."


"Kok baru sampai rumah. Kamu kemana?"


"Macet, antriannya panjang."


"Oh ibu kira kamu pacaran."


"Hah pacaran? Sama apa? Sama motor iya. Ibu mikirnya kejauhan."


"Dewiii, mana susunya ayah!"


"Tuh, pacar ibu ngga sabaran. Iya ayah ini lagi diseduh. Tangan Dewi cuma dua ayah."


"Dewi, ibu mau bicara sama kamu."


"Bu, sebentar ya. Dewi kasih susu buat ayah dulu."


"Biar ibu kasih. Kamu mandi sana. Bau asem."


"Iya, siap bu bos."


"Dewiii! Mana susu ayah."


"Ini ayah."


"Loh kok ibu yang bawa? Dewi kemana?"


"Lagi mandi. Biar Dewi tarik napas dulu ayah."


"Bu, ibu sudah tanya sama Dewi, dia sudah punya pacar belum? Mbaknya sudah menikah semua. Tinggal Dewi yang masih anteng aja Bu."


"Belum. Ibu baru mau tanya nanti. Biar Dewi mandi dan istirahat dulu."


"Menurut ibu, Dewi ngga jadi LGBT kan?"


"Astaghfirullah al adzim, ayah negatif banget sih."


"Ya karena sudah umur 28 tahun, masih aja sendirian."


Dewi mendengarkan ayah dan ibu yang masih berbicara mengenai dirinya.


Ayah sadis amat sih nuduh gue LGBT. Gimana berubah biar seperti mbak Ayu dan mbak Santi.


Terserah lah. Yang pasti gue masih suka sama laki-laki.


Handphone Dewi berbunyi lagi dari Tito. Laki-laki yang akhirnya bertemu di supermarket.


Eh gila ini laki. Pulsanya banyak banget ya. Nelpon terus ngga berhenti.


"Ya halo, ada apa lagi?"


"Dewi tadi kan kita belum kenalan secara benar. Hanya bertemu di Happy Mart terus kamu sibuk belanja."


"Masalahnya apa?"

__ADS_1


"Tidak ada masalah. Aku hanya mau mengenal kamu lebih jauh."


"Mengenal aku lebih jauh? Memangnya kamu kenal aku sedekat apa?"


"Sorry kalau aku ganggu kamu."


"Ya memang ganggu. Dari siang sampai malam telpon aku. Orang minum obat aja kalah."


"Aku mau kenal kamu biar bisa lebih dekat."


"Kan sudah kenal tadi. Dekat juga kan? Maksudnya mau gimana sih? Aku jadi bingung sendiri sama kata-kata kamu. Kalau mau ngomong, ngomong saja jangan di maintain kata-katanya biar tidak bingung sendiri. Sudah gini aja. Kamu catat dulu kata-kata yang mau kamu omongin sama aku. Biar tidak ada kata-kata yang di ulang. Aku yang dengar sampai bingung sendiri."


"Iya, maaf ya Dewi."


"Iya sudah dimaafkan. Lebaran masih jauh sudah minta maaf."


"Karena aku sudah ganggu kamu. Menelpon kamu terus."


"Oh gitu ya."


"Ya sudah. Ngga usah dibahas. Aku capek baru pulang kerja. Jadi besok-besok saja ya nelpon lagi."


"Iya maaf. Karena aku pikir kamu masih kuliah dengan gaya pakaianmu seperti itu."


"Aku sudah kerja. Sudah lulus kuliah dari 3 tahun lalu."


"Oh, sudah berumur ya."


"Bisa jadi. Tergantung kamu melihatnya darimana? Ya sudah ya, aku mau istirahat."


"Ya malam Dewi."


"Malam juga."


Dewi mematikan handphonenya.


"Dewi, kamu mau makan malam tidak? Kalau mau makan keluar dari kamar jangan di dalam terus seperti ayam mau mengerami telurnya."


"Iya bu, mau. Sebentar."


Huft, pasti ibu mau tanya aku sudah punya pacar atau belum.


"Sini makan. Kamu pulang kerja pasti belum makan kan? Kecuali ada yang ngajak kamu makan?"


"Ibu kenapa sih nanya itu mulu."


"Loh, ibu tanya ada yang ngajak kamu makan? Memangnya salah."


"Ya tidak salah. Hanya saja pasti tujuannya ke sana. Sudah punya pacar belum? Kamu suka sama laki-laki atau perempuan?"


"Wajar dong kalau ibu tanya. Umurmu sudah 28 tahun tapi kok belum ada pacar atau teman laki-laki yang main ke rumah."


"Terus nanti ujungnya mbak Ayu umur 28 sudah menikah. Mbak Santi umur 26 sudah menikah. Kamu kapan? Benar tidak dugaan Dewi?"


"Salah. Ayah sama ibu mau tahu kamu tadi bicara dengan siapa? Kok judes banget."


"Idih ibu nguping pembicaraan aku ya?"


"Bukan nguping tapi ibu dengar. Lagian juga kamu itu aneh. Perempuan suaranya seperti laki."


"Bersyukur bu, anaknya masih ada suaranya. Memang ibu mau anaknya yang bungsu ini bisu."


"Astaghfirullah al adzim. Ayah sama anak kalau ngomong asal aja."


"Sudah makan saja. Jangan pakai bicara nanti keselek."


"Ibu juga iseng. Nanya itu mulu. Harusnya senang. Dewi masih bisa nemenin ayah sama ibu. Mbak Ayu dan mbak Santi kan sudah tinggal sama suaminya."

__ADS_1


"Ya tidak gitu juga."


"Ya jadi panjang deh. Katanya suruh makan tapi diajak ngomong terus kapan Dewi makannya."


"Iya, iya."


Setiap makan malam pasti tanya hal yang sama sampai bosan rasanya. Memangnya kenapa sih kalau perempuan umur 28 belum menikah. Ada yang salah ya? Dewi geleng-geleng kepala.


"Dewi, besok ibu sama ayah nginap di rumah Mbak Ayu ya. Kamu besok sendirian di rumah."


"Iya bu."


Dewi membereskan meja makan dan mencuci piring.


"Ayah, ibu. Dewi masuk ke kamar ya. Mau tidur. Capek banget otaknya."


"Yang capek itu badan masa otaknya."


"Badannya juga capek tapi lebih capek otaknya karena tadi buat website."


"Oh pakai adonan apa buat website?"


"Pakai chip, pakai kabel, pakai listrik sama pakai komouter."


"Oh ibu kira seperti buat kue."


"Aduh ibu-ibu."


"Aduh Dewi-Dewi."


"Kenapa bu?"


"Tidak papa, tes kuping saja."


"Sudah ah, Dewi masuk."


"Jangan lupa sholat sama tahajud. Minta sama Allah agar kamu didekati sama calon suamimu."


"Iya bu, nanti kalau Dewi ketiduran. Dewi titip doa ya bu."


"Tuh ayah. Lihat kelakuan si Dewi."


"Ibu juga sih. Terlalu ngepush Dewi. Ada saatnya nanti Dewi pasti dapat suami. Jangan samakan Dewi dengan mbak-mbaknya."


"Ya itulah didikan ayah. Karena ingin punya anak laki-laki. Anak perempuan dibentuk jadi anak laki-laki, akhirnya sekarang cuek benar."


"Iya, ayah salah. Ayah minta maaf sudah salah didik Dewi."


Duh, mulai deh ayah sama ibu berantem lagi karena gue.


Dewi keluar kamar.


"Ayah, ibu sudah tidak usah berkelahi Ada laki-laki yang lagi dekatin Dewi. Tunggu saja dan jangan tanya-tanya dulu. Karena baru kenalan. Jadi kalau maksa harus nikah ya Dewi ngga bisa."


"Alhamdulillah."


"Amin"


"Sudah, ayah sama ibu tidur. Besok Dewi antar ke rumah mbak Ayu."


"Tidak usah, supirnya mbak Ayu akan jemput ayah sama ibu."


"Oh ok. Sudah tidur-tidur. Biar Dewi yang kunci pintu dan matikan lampu. Jangan lupa sholat ya ayah, ibu."


"Kamu tuh selalu deh balikin omongan ibu."


"Bu, sudah malam jangan bicara lagi. Di timpuk nanti sama pembawa berita."

__ADS_1


Ibu dan ayah masuk kamar. Dewi mengunci semua pintu dan mematikan lampu. Lalu masuk ke kamarnya."


__ADS_2