
Selesai sholat subuh. Dewi segera keluar kamar.
"Pagi bu."
"Pagi. Dewi ibu mau tanya? Semalam ada tamu ya?"
"Iya bu. Fuad datang, mau jemput Dewi tapi kan sudah larut malam. Lagi pula ayah sama ibu sudah tidur. Masa Dewi harus bangunin ayah sama ibu untuk pamit?"
"Ya ngga papa. Kenapa tidak suruh Fuad saja menginap disini?"
"Fuad semalam diantar temannya untuk jemput aku. Akhirnya dia bilang akan jemput aku pagi ini sama ibunya. Kenapa juga harus sama ibunya."
"Ya ngga papa. Mungkin ibunya juga kangen sama kamu. Nanti kalau mereka jemput ya sudah kamu pulang dulu ke rumahnya Fuad."
"He-eh. Bu, Dewi bantu apa?"
"Ngga usah, pagi ini ayah minta nasi goreng putih. Jadi ngga ribet."
"Ribet ngga sih bu, bumbu untuk nasi goreng putih?"
"Gampang, pakai bawang putih, bawang merah, kecap asin, saus tiram, lada, minyak wijen, garam, sudah itu saja."
"Heheheh, ribet juga itu sih. Takarannya gimana?"
"Ya masukin aja. Memangnya kamu lihat ibu masak di timbang? Kan ngga. Cemplang cemplung saja bahan dan bumbunya."
"Bu, Dewi pamit sebentar ya mau ke ATM ambil uang buat ayah sama ibu."
"Masih pagi, ngga usah. Ayah dan ibu masih ada uang kok. Kamu pakai saja untuk keperluan kamu. Ini taruh kopi ayah di meja. Sebentar lagi ayahmu pulang dari Masjid."
"Fuad, bangun. Fuad ayo bangun!" Mamanya Fuad mengetuk pintu kamar Fuad dengan keras."
"Iya ma, sebentar lagi. Ini mau ke kamar mandi dulu."
"Buka pintunya."
Sisi bergegas menyalakan kran kamar mandi di kamar Fuad.
Mama mendengar suara air. Lalu berjalan ke dapur.
"Bi, semalam Fuad pulang jam berapa?"
"Jam 2, nyonya. Den Fuad pulang sama..."
"Sama Dewi! Kurang ajar itu menantu. Lihat saja nanti."
"Eh, bukan nyonya, maksud bibi den Fuad pulang diantar sama temannya."
"Oh, saya kira sama istrinya."
"Ngga nyonya." Bibi tidak berani memberitahu nyonyanya karena di kamar Fuad ada perempuan lain.
"Bi, bilang sama Fuad, saya tidak jadi ikut jemput Dewi. Mana ada menantu manja pakai acara di jemput segala. Nanti ngga usah masak banyak ya bi. Nanti kasih tahu Dewi, ada surat dari saya. Itu tugas Dewi selama saya dan tuan ke luar kota."
__ADS_1
"Iya nyonya."
"Ma, ayo kita harus berangkat sekarang. Penerbangan kedua loh."
"Iya, mama sudah siap. Bi, ingat ya, surat dari saya untuk Dewi. Saya sama tuan berangkat sekarang. Itu nanti Fuad dibangunin. Suruh jemput Dewi. Istri macam apa ninggalin suami!"
"Iya nyonya. Hati-hati di jalan.'
"Hmm."
Mama dan papanya Fuad keluar rumah. Mereka pergi ke luar kota. Mereka tidak tahu bahwa Fuad membawa Sisi pacarnya menginap.
"Fuad, bangun. Ini sudah jam 9. Aku lapar."
"Iya, aku juga lapar."
"Orang tuamu masih ada di rumah?"
"Ya, nanti aku lihat. Sudah jam 9 ya, Harus jemput Dewi."
Sisi cemberut mendengar Fuad yang akan menjemput Dewi.
"Biar sajalah istri kamu di rumah orang tuanya. Kamu juga tidak masalahkan?"
"Ya masalah, karena aku belum dapat uang dari dia. Kan aku sudah bilang, aku mau manfaatin dia, karena dia kerja. Jadi aku sama kamu tidak pusing lagi."
"Iya tahu, awas saja kalau kamu menggauli dia."
"Tapi dia kan sedang hamil anak kamu. Ngga mungkin kamu menggaulinya sekali saja."
"Itu sekali ya dan langsung hamil. Dewi itu subur." Fuad tertawa.
"Oh, berarti aku tidak subur! Gitu maksud kamu! Ya sudah, kamu jemput saja Dewi dan kita pisah!"
"Hei, tenang. Kamu lapar jadi galak yah. Sebentar aku keluar dulu. Tanya sama bibi, mama ada di rumah atau sedang keluar."
"Hmmm."
Fuad membuka pintu kamarnya dan menutup kembali. Lalu berjalan ke dapur.
"Bi, ada makanan apa?"
"Ada roti saja den. Tadi pagi papa dan mamanya den Fuad hanya sarapan roti saja."
"Buatin nasi goreng 2 ya bi. Terus mama ada di rumah?"
"Mama sama papa den Fuad tadi pagi jam 5 sudah berangkat ke luar kota."
"Berapa hari?"
"Nyonya tidak kasih tahu berapa hari di luar kota."
"Terus, bibi kasih tahu mama kalau aku bawa perempuan lain?"
__ADS_1
"Ngga den. Di tunggu sebentar ya. Bibi buatkan nasi gorengnya dulu."
"Ok, sama minta kopi 2."
Fuad berjalan ke kamarnya dan membuka pintu.
"Si, keluar saja. Mama dan papa pergi keluar kota. Sudah berangkat tadi pagi."
Sisi menganggukkan kepalanya dan keluar kamar mengikuti Fuad dan duduk di kursi makan.
"Fuad, orang tua kamu di luar kota berapa lama?"
"Ngga tahu."
"Berarti aku bisa tinggal di rumah ini sampai orang tua kamu pergi. Hari ini aku harus bayar kost. Uang yang kemarin kamu kasih masih kurang 1 juta lagi. Gimana?
"Ya nanti aku kasih. Sementara waktu kamu tinggal di sini dulu."
"Biii, mana makanannya. Saya sudah lapar nih!"
Bibi segera mengantar nasi goreng dan kopi.
"Ini den nasi goreng dan kopinya. Den, tadi pagi nyonya pesan, den Fuad harus jemput non Dewi hari ini."
Fuad menganggukkan kepalanya.
"Bi, saya minta mie goreng bisa?"
"Tapi non, mie gorengnya habis. Ya bibi belilah ke warung. Saya sebentar lagi jadi istrinya Fuad. Saya Sisi."
"Iya non Sisi, tapi maaf non. Nyonya tidak menitipkan uang hanya stock bahan makanan saja yang dikasih. Nyonya biasanya begitu non, jadi saya tidak dipegangin uang. Kalau non minta dibelikan mie, ya saya minta uangnya untuk beli."
"Haduh ribet bener sih. Kan bisa pakai uang bibi dulu. Nanti saya ganti. Saya malas jalan ke kamar."
"Iya non Sisi. sebentar saya belikan dulu."
"2 ya bi, pakai telor ceplok."
"Iya non."
Bibi pergi meninggalkan Fuad dan Sisi di ruang makan."
"Fuad, mama kamu sudah minta kamu jemput Dewi. Terus aku bagaimana? Aku tidur dimana? Kalau aku balik ke kost kan tidak mungkin. Kamu bilang semalam hanya ada 500ribu."
"Ngga usah pusing. Nanti kamu tidur di kamar tamu. Aku tetap jemput Dewi biar bisa minta uangnya 2 juta untuk bayar kost kamu."
"Tapi aku tidak mau tidur di kamar tamu. Sementara kamu tidur sama Dewi."
"Sisi, bisa tidak diam dulu! Aku lagi makan! Ini kamu makan saja nasi gorengnya."
"Ngga mau. Kamu saja yang makan!"
Fuad menarik napas panjang.
__ADS_1