
Fuad dan Sisi keluar kamar setelah mamanya mengetuk kamarnya berulang kali.
"Mau sampai kapan kalian di dalam kamar!"
"Sampai papa berangkat kerja ma. Fuad tidak mau papa tahu mengenai Sisi yang menginap disini."
"Sana cepat kalian makan setelah itu ayo ikut mama."
"Mau kemana ma? Sisi belum mandi. Kami berdua baru bangun."
"Sudah sana cepat mandi, jangan lama-lama. Setelah itu makan dan kita berangkat. Mama ingin tahu apa benar Dewi di rumah sakit."
"Apa ma!" Dewi di rumah sakit? Dewi sakit apa? Kok tidak kasih tahu ke aku, suaminya! Malah kasih tahu ke mama. Mau cari muka sama mama! Dasar perempuan tidak tahu terima kasih! Sudah bagus aku mau tanggung jawab!"
"Bukan Dewi yang sakit, tapi ayahnya. Mama sudah suruh dia pulang tapi katanya dia jaga ayahnya. Ibunya pulang. Hari ini mama mau jemput dia supaya jangan ada alasan a b c d lagi. Istri itu harus bisa merawat suaminya! Sana cepat mandi, kamu pasti sama Sisi main gulat semalamankan?"
"Ngga mama, Sisi sedang datang bulan."
"Oh. Fuad lebih baik kamu menikah dengan Sisi secepatnya. Jangan di tunda-tunda."
"Terus bagaimana dengan Dewi? Kondisinya Dewi sedang hamil Ma."
"Biar nanti mama yang bicara sama Dewi. Sana cepat mandi."
"Iya ma."
Dewi sedang menyuapi ayahnya makan.
"Wi, sudah kenyang. Sudah berhenti."
"Satu sendok lagi ayah. Biar nanti kalau dokter datang, muka ayah tidak pucat lagi jadi bisa pulang hari ini."
"Tapi ayah sudah kenyang. Telpon ibumu minta bawakan kopi sama singkong rebus ya."
"Ngga sekalian minta martabak telor sama kue dongkal biar lebih lama lagi di rumah sakit."
"Heheheh, iya, iya maaf. Wi, gimana kandungan kamu? Apa cucu ayah baik-baik saja?"
"Baik ayah. Kira-kira ayah mau cucu laki atau perempuan?"
"Ayah sih maunya laki-laki. Dari mbak mu anaknya perempuan semua."
__ADS_1
"Amin, semoga ya ayah. Dewi punya feeling sih ini anak laki-laki tapi nanti terserah Allah saja kasihnya apa. Laki atau perempuan yang penting sehat dan normal."
"Iya, kalau ternyata anak kamu perempuan yang ada kamu buat anak lagi biar anaknya laki-laki. Ayah tidak mau ya. Kamu harus urus anakmu sampai anakmu cukup umur untuk punya adik lagi."
"Iya ayah, tenang saja."
Tidak akan ada anak lagi dengan Fuad, ayah. Sebentar lagi Dewi mau dicerai sama Fuad.
Dewi tersenyum miris dengan perkataannya sendiri.
"Assalamu'alaikum ayah, Dewi."
"Wa'alaikumsalam ibu. Baru aja Dewi mau telpon. Ayah minta dibawain kopi, sama singkong rebus."
"Hush, sembarangan saja. Ayah memang sudah tahu ini dimana?"
"Sudah, ayah lagi di rumah sakit. Ayu mana? Katanya ibu nginap di rumah Ayu."
"Ayu nanti siang kesini pas jam besuk, Dewi bisa pulang sekarang untuk istirahat, nanti sore biar Dewi kesini lagi untuk jaga ayah. Ngga papakan ayah? Kalau nanti malam yang jaga si Dewi."
"Ayah senang kalau yang jaga ibu sama Dewi. Atau ngga ibu saja. Dewi kan ada suami masa suaminya ditinggal sendirian? Ngga enak sama Fuad dan keluarganya."
"Ya kalau gitu ajak saja si Fuad kesini sekalian jagain ayah juga."
"Iya hati-hati."
Dewi keluar dari kamar ayahnya. Sebentar lagi jam besuk. Dari kejauhan Dewi melihat Fuad, mamanya Fuad. Dewi cepat-cepat bersembunyi. Dewi malas bertemu mereka.
"Dewi itu harus kita manfaatkan Fuad. Kata kamukan gaji dia besar, gajinya harus bisa kamu ambil. Setidaknya nanti kamu bisa menghidupi Sisi dari uang gaji Dewi. Tapi benar itu anak kamu? Bukan anak dari laki-laki lain?"
"Iya ma, duduk sebentar disini ma. Fuad memang sengaja menghamili Dewi supaya tidak ada yang mau menikah sama Dewi. Fuad mau balas dendam sama Dewi. Fuad masih sakit hati dari SMA dulu."
"Ya sudah, nanti kalau ada Dewi sekalian minta sama orang tuanya agar Dewi ikut pulang sama kita. Banyak yang harus Dewi beresin di rumah. Mama capek kalau harus beresin rumah walaupun ada bi Atik."
"Iya ma. Ya sudah ayo masuk. Kalau sampai ternyata tidak ada Dewi bagaimana ma?"
"Ya berarti Dewi bohong dan akan mama buat Dewi jera dan kalau perlu tidak usah lagi datang ke rumah orang tuanya. Jadi mama akhirnya bisa pecat bi Atik. Karena tugasnya nanti dikerjakan sama Dewi semua. Kan mama tidak perlu lagi kasih gaji."
Fuad dan mamanya berdiri dan berjalan ke kamar ayahnya Dewi.
Dewi yang mendengar semua omongan Fuad dan mamanya merasa kesal. Dan melanjutkan keluar dari rumah sakit. Tapi Dewi tidak pulang ke rumah, tetapi pergi ke rumah mbak Ayu, kakaknya. Karena Dewi yakin, pasti Fuad dan mamanya akan datang ke rumah orang tuanya.
__ADS_1
"Fuad dan ibu, mari masuk."
"Iya."
Fuad dan mamanya masuk.
"Jadi ayah sakit apa bu?"
"Ini biasa sakit kambuhannya kemarin ibu panik, pulang dari sholat subuh di masjid sampai rumah pingsan, akhirnya dibawa ke rumah sakit."
"Terus, sampai berapa lama di rumah sakit?"
"Belum tahu, karena dokternya juga belum datang."
"Bu, Dewi mana?"
"Dewi baru saja pulang. Biar dia istirahat karena semalaman jagain ayahnya."
"Oh gitu, gini bu dan bapak. Saya minta apakah Dewi bisa untuk malam ini tidak jaga ayahnya dulu? Dewi kan sudah punya suami, Fuad. Biar bagaimanapun Dewi harus mengurus suaminya. Dewi kan sudah menjadi tanggung jawab Fuad."
"Iya sih, coba nanti saya minta sama Dewi untuk tidak jaga ayahnya malam ini. Saya mohon maaf ya bu, Fuad."
"Memangnya kakaknya Dewi tidak ada bisa bantu jaga?"
"Mereka kan sudah punya anak bu. Jadi kasihan kalau pagi-pagi cucu saya mau sekolah tidak ada yang mengurus."
"Tapikan Dewi juga sedang hamil cucu saya dan juga cucu ibu dan bapak. Terlalu riskan kalau sampai Dewi sakit."
"Iya tadi saya sudah bicara sama Dewi sebelum ibunya datang. Saya minta kalau Dewi mau jaga sekalian ajak saja Fuad."
"Hmmm, ya sudah kalau gitu. Kami berdua pamit ya. Semoga bapak lekas sembuh dan bisa balik pulang secepatnya biar Fuad ada yang mengurus Dan saua minta ijin untuk ke rumah menjemput Dewi. Biar nanti Dewi yang telpon ibu. Apakah dia malam ini bisa jaga atau tidak."
.
"Baik bu, silakan. Hati-hati di jalan. Oh iya Fuad, ibu minta tolong untuk bawa Dewi ke dokter kandungan ya."
"Ya bu, nanti Fuad bawa ke dokter kandungan. Saya dan mama, pamit ya bu, ayah."
Fuad dan mamanya keluar dari kamar.
"Fuad, sekarang ke rumah Dewi dan kita bawa langsung pulang ke rumah kita.
__ADS_1
"Iya ma."