Anak Yang Tidak Diakui

Anak Yang Tidak Diakui
part 11


__ADS_3

"Sore Bu. Maaf Tito baru datang."


"Ngapain kamu ke sini? Berani kamu datang ke sini setelah apa yang kamu perbuat terhadap Dewi. Pergi kamu! Jangan pernah menginjakkan kakimu lagi di rumah ini!"


"Maaf Bu, Tito mau menjelaskan kejadian di puncak semalam."


"Sudah pergi. Kamu telah merusak masa depan anak saya! Saya pikir kamu anak laki-laki yang baik ternyata kamu merusak anak saya. Dan merusak kepercayaan saya!"


Dewi yang mendengar suara ibunya berteriak keluar dari kamar.


"Ibu, sudah. Jangan marah-marah nanti ibu sakit."


"Dewi! Masuk kamu. Dan kamu tidak usah lagi bertemu dengan anak ini! Dia sudah kurang ajar!"


"Dewi, tolong. Aku benar-benar tidak tahu kejadian semalam. Kamu kenapa? Cerita Wi, jelaskan sama ibumu. Aku mohon.'


" Sudahlah Tito, tutup buku. Aku tidak mau mengingat lagi kejadian semalam. Cukup buat aku dipermainkan oleh kamu dan temanmu."


"Tapi Wi, aku tidak melakukannya. Aku bangun, kamu sudah tidak ada."


"Dewi! Masuk. Dan Tito, keluar kamu dari rumah saya!"


Ibu menutup pintu dengan dibanting.


Tito hanya terdiam dan mukanya marah. Ia marah kepada Fuad.


Gue cari elo Fuad! Elo sudah merusak hubungan gue sama Dewi. An***g elo!


Tito masuk ke dalam mobilnya dan pergi dari rumah Dewi. Tito pergi ke rumah Fuad. Ia ingin tahu apa yang telah dilakukan oleh Fuad terhadap Dewi.


"Ibu, Tito tidak salah. Ibu harusnya mendengarkan penjelasan Tito dulu."


"Tidak usah ngajarin ibu! Masa depanmu hancur akibat ulah Tito! Masuk kamu ke kamarmu!"


"Ibu, Dewi bukan anak kecil lagi. Ibu harus dengar penjelasan Dewi."


"Sudah, ibu tidak mau dengar. Masuk kamu ke kamarmu!"


Dewi masuk ke kamarnya. Ibunya tidak bisa dibantah apabila sedang marah. Apa yang telah dikatakan Fuad kepada orang tuanya.


"Halo Dewi. Kamu bagaimana kabarnya?"


"Ngapain telpon gue pakai nomer yang beda? Biar gue angkat gitu telpon dari elo!"


"Hei tenang. Gue akan tanggung jawab perbuatan gue sama elo! Kapan elo mau nikah sama gue? Atau nunggu 1 bulan lagi biar ketahuan elo hamil atau tidak?"


"Jahat mulut elo! Sudah fitnah Tito di depan orang tua gue. Gue lebih respek sama Tito dari elo!"


"Dewi, dengar! Gue tidak akan membiarkan orang lain memiliki elo. Karena elo hanya buat gue bukan buat orang lain!"

__ADS_1


"Dari dulu sekolah sampai sekarang elo sama saja! Ba*****n!"


"Terserah. Yang penting gue sudah dapatin semua dari elo dan gue akan nikahin elo segera. Lebih cepat lebih baik supaya elo dan keluarga elo tidak malu karena hamil di luar nikah!"


"Rusak otak elo!"


Dewi menutup telpon dari Fuad.


Kenapa aku harus dipertemukan oleh Fuad. Dan gimana nanti kalau akhirnya aku harus menikah dengan Fuad.


Dewi menangis memikirkan hidupnya jika harus menikah dengan Fuad.


Tito sampai rumah Fuad dan ternyata sudah kosong.


"Bu, permisi. Apakah benar itu rumahnya Fuad anak pak Yanto?"


"Iya benar, tapi mereka sudah pindah. Sudah sebulan yang lalu. Rumah ini sudah dijual."


"Kalau boleh tahu, pindah kemana ya bu?"


"Wah kurang tahu ya mas tepatnya dimana. Katanya di perumahan anggara. Mereka pindah juga kita ngga ada yang tahu. Dengar-dengar Fuad menghamili anak orang. Dan tidak mau bertanggung jawab."


"Oh baik bu. Terima kasih."


"Ya sama-sama mas."


Tito masuk ke dalam mobilnya.


Tito geram terhadap Fuad. Ia menelpon Dewi


"Halo Dewi?


"Ya Tito."


"Dewi, aku minta maaf karena sudah menyusahkan dirimu dan membuat orang tuamu marah. Sebenarnya apa yang terjadi Dewi. Please cerita."


"Sudah terjadi, mau gimana lagi? Aku diperkosa sama Fuad. Dan kamu tidak salah. Aku akan cerita sama ayah ibuku. Kamu tidak perlu kuatir. Dan mulai saat ini kamu tidak perlu lagi bertemu denganku karena aku tidak mau menyusahkan kamu."


Dewi mematikan handphonenya.


Aaaahhh, salah aku apa ya Allah. Sampai Kau kasih cobaan yang berat ini? Aku merasa diriku kotor. Dan aku jijik dengan diriku.


Dewi menangis sampai ia tertidur.


Pagi-pagi ibu mengetuk kamar Dewi.


"Dewi, bangun Wi. Sudah siang. Kamu kerja tidak?"


"Iya bu, Dewi sudah bangun. Ini sedang siap-siap kerja."

__ADS_1


Dewi tidak membuka pintu kamarnya. Ia sudah bangun dari subuh tadi. Selesai berpakaian Dewi keluar kamar.


"Pagi ayah, ibu. Dewi berangkat kerja ya. Assalamu'alaikum."


"Loh, kamu tidak sarapan dulu? Nanti sakit."


"Ngga bu. Dewi ada meeting di kantor pagi ini dan nanti saja makannya sekalian makan siang."


"Kamu mau ayah antar?"


"Ngga usah ayah. Dewi naik motor saja seperti biasa."


"Dewi, jangan lagi berhubungan dengan Tito ya. Ibu tidak mau terjadi ulangan lagi."


"Hahahah, ibu. Memangnya Dewi masih sekolah ada ulangan. Yang benar itu jangan sampai kejadian lagi."


"Iya gitu maksud ibu. Apapun yang terjadi kamu tetap anak ayah dan ibu."


"Iya ibu, ayah. Dan tolong, jangan paksa Dewi untuk punya pacar dan sebagainya. Dewi mau kerja dulu yang benar ayah, ibu. Kalau Allah menghendaki pasti Dewi akan punya pacar dan suami sekaligus. Sudah ah, sudah kesiangan. Dewi berangkat dulu. Assalamu'alaikum ayah, ibu."


"Wa'alaikumsalam. Hati-hati di jalan."


"He-eh."


Dewi keluar dari rumah dan menyalakan motornya Ia berangkat kerja.


Dewi tidak menyadari bahwa ada seseorang yang mengikuti Dewi ke kantor.


Oh, jadi disini kantor kamu Dewi sayang. Ok. Nanti sore aku akan jemput kamu. Mulai hari ini tidak ada yang boleh menyentuh Dewi.


Fuad yang berhenti di depan kantor Dewi segera berjalan kembali.


"Pagi Dewi. Kenapa elo? Kok cahayanya redup. Tidak seperti biasanya."


"Pagi mas Andri. elo pikir gue lampu senter yang baterainya habis."


"Nah, ini baru Dewi yang gue kenal. Dewi sang bos kecil."


"Apaan sih mas. Udah ah, gue harus meeting pagi ini. Rusuh dah ah."


Dewi menyiapkan meeting di hari ini. Kepalanya agak pusing. Ada ketakutan dalam diri Dewi. Karena saat kejadian kemarin Dewi baru selesai mendapat tamu bulanan seminggu yang lalu.


"Dewi. Wi. Kok bengong?"


"Eh, pak Ibnu. Pagi pak? Ngga bengong kok pak . Dewi mau menyiapkan bahan untuk meeting tapi karena ini hal baru buat Dewi jadi agak mikirnya keras. Lebih tepatnya bingung heheheheh."


"Ngga usah bingung. Daripada kamu stress sendiri. Lagi pula saya mau kasih selamat buat kamu karena dipindah divisi."


"Ya si pak Ibnu. Anyway, makasih ya pak."

__ADS_1


Dewi segera pergi ke ruang meeting setelah pak Ibnu berlalu dari mejanya.


__ADS_2