Anak Yang Tidak Diakui

Anak Yang Tidak Diakui
Tito


__ADS_3

Dewi terbangun karena pintu kamarnya diketuk oleh ibu


"Wi, Dewi, Dewiii!! Buka pintu. Kamu sudah dijemput!"


Jam berapa sih, masih juga pagi. Ibu pakai teriak pula."


"Wi, buka pintunya. Kamu sudah di jemput."


"Iya, iya bu. Sebentar lagi kumpulin nyawa."


"Cepat Wi, kasihan itu yang jemput kamu."


Dewi membuka pintunya


"Kenapa sih bu. Pagi-pagi sudah teriak bangunin orang. Jam berapa inj?"


"Eh, dibangunin bukannya terima kasih. Jam 07.30. Dan itu ada Tito di depan jemput kamu. Tito lagi ngobrol sama ayah."


"Hah! Ya sudah bu, aku mandi dulu."


Tidak berapa lama Dewi keluar kamar. Sudah rapi dan siap berangkat.


"Dewi, kamu ngga sarapan dulu?"


"Tidak usah, Dewi bawa roti saja bu."


"Ya sudah. Sekalian bawa roti untuk Tito."


"Tidak usah, dia pasti sudah sarapan."


"Pelit banget sih jadi orang.."


"Ya emang orang masa Dewi monyet? Kalau Dewi monyet, ayah sama ibu apa dong?"


"Ayah sama ibu manusia."


"Hahahah, tidak ada ceritanya anak monyet lahir dari manusia."


"Udah cepatan kasihan Tito, nunggu kamu dari jam 06.30?"


"Wew, mau ngapain dia? Bantuin ibu masak atau beberes rumah."


"Sudah sana."


Dewi keluar rumah dan melihat Tito yang masih mengobrol dengan ayahnya.


"Ayo berangkat."


"Iya. Pak, Bu, terima kasih buat pagi ini. Saya sama Dewi berangkat dulu. Selamat pagi."


"Iya nak Tito, hati-hati bawa mobilnya."


Tito dan Dewi masuk ke mobil


"Dewi, tumben hari ini pakaian kamu rapi biasanya kemeja flanel saja."


"Iya, hari ini ada meeting sama bos besar. Kalau pakaiannya tidak rapi bisa kena sp."

__ADS_1


"Dewi. nanti makan siang aku jemput ya. Makan siang sama aku."


"Bukannya gue tidak mau tapi gue meeting sama bos besar bisa sampai lewat jam makan siang. Lagian kenapa elo jadi ngomong aku, aku segala."


"Salah memangnya kalau pakai kata aku?"


"Tidak salah, tumben saja."


"Sudah sampai, nanti aku sore aku jemput."


"Tidak usah. Kasihan motor gue. Kedinginan belum dipanasin."


"Ok, besok aku jemput dan antar kamu."


"Tidak usah. Gue tidak mau merepotkan elo."


"Aku tidak merasa kamu merepotkan."


Akhirnya Tito sampai kantornya Dewi. Dan Dewi segera turun dari mobilnya Tito.


"'Cie yang diantar sama pacar. Terima kasih ya Allah, Engkau sudah menunjukkan jalan kepada Dewi dan memberikan seorang laki-laki sebagai pacar."


"Reseh banget sih elo! Tidak usah tanya-tanya dan pengen tahu siapa dia. Elo hari ini lembur. Tidak ada alasan saudara elo meninggal lagi."


"Galak amat."


Dewi mulai bekerja.


Tito baru sampai kampus. Dan menghampiri teman-temannya.


"Tito, elo kemana aja sih? Dari kemarin hilang terus."


"Gaya elo mengejar cinta. Yang ada paling juga putus lagi pas tahu elo yang temperamental."


"Entar dulu, terus masalah Irene gimana?"


"Gue sudah putus sama Irene."


"Ah kacau elo."


"Dia yang mulai selingkuh. Daripada gue pukulin anak orang lebih baik gue putusin."


"Nah itu, itu jeleknya loe."


"Tapi kan gue tidak mukulin Irene."


"Iya memang loe tidak mukul Irene. Tapi sudah elo rusak."


"Irene mau ya sudah."


"Jiwa elo sakit."


Tito kecil selalu melihat ibunya yang dipukulin oleh ayahnya. Kenangan itu membekas di diri Tito.


Ayah seorang pelaut yang pulang setahun sekali atau dua tahun sekali dan hanya satu atau dua bulan di rumah. Membuat masa kecil Tito dan kakak-kakaknya jarang bertemu dengan sang ayah. Yang mereka lihat bahwa ibunya selalu diam saat dipukuli oleh ayahnya dan tidak ada keinginan dari ibunya untuk bercerai dengan ayahnya. Tito anak bungsu dari 5 bersaudara.


Dan ternyata ayahnya punya istri lain selain ibunya. Dan hal itu yang terpatri di dalam diri Tito dan kakak-kakaknya.

__ADS_1


Mereka bukan keluarga yang kekurangan uang tapi mereka kekurangan kasih sayang dari kedua orang tua mereka.


Kakaknya-kakaknya Tito mempunyai istri lebih dari satu. Sedangkan kakak perempuannya sudah 2 kali menikah.


Tito, laki-laki dengan tubuh yang berisi dan tinggi, dengan kepala yang selalu botak, kulitnya yang berwarna coklat dengan garis muka yang tegas dan tampan. Ketampanan Tito didapat dari ayahnya yang masih ada keturunan Arab.


Bermula dari telpon yang salah sambung dengan Dewi, dan bertemu yang akhirnya membuat Tito menyukai Dewi, gadis tomboy yang sudah bekerja.


Tito sangat menginginkan Dewi menjadi pacarnya ditambah dengan sikap Dewi yang cuek membuat Tito merasa tertantang untuk mendapatkan Dewi.


Dewi sudah selesai meeting. Dan ternyata Dewi dipromosikan untuk menjabat sebuah divisi baru untuk majalah.


"Dewi selamat ya, elo megang divisi baru. Hebat, gue salut sama elo."


"Pusing gue mas Andri. Gue belum pernah kerja di majalah. Bagaimana bisa gue handle itu majalah. Kadang-kadang si bos tidak mikir."


"Bukannya elo suka tantangan?"


"Gue memang suka tantangan cuma kalau dadakan begini bisa amsyong gue."


"Ya elo nikmatin sajalah."


"Si bos suka aneh-aneh. Segala buat divisi baru. Enak ya jadi bos, mesin photocopy uangnya banyak. Apa yang dia mau langsung dibuat."


"Jangan kebanyakan ngedumel yang ada nanti elo tambah dikasih kerjaan yang lain."


"Berarti, meja gue pindah dong. Tidak di IT lagi? Terus gue sendirian gitu untuk divisi baru? Cari wartawan terus ISBN gimana?"


"Ya gampang, elo tinggal buat dummy majalah terus elo kasih itu dummy majalah ke LIPI biar dapat nomer ISBN."


"Nah itu, masalahnya selama ini gue kerja di IT. Segala harus buat dummy majalah."


"Ya kita lihat saja. Kan ini masih promosi. Belum tentu juga elo yang dapat. Ada Ina sama Martin yang dapat promosi juga."


"Ah iya, kenapa gue jadi pusing. Kan belum tentu juga gue yang dapat. Mas Andri elo lapar tidak?"


"Bentar lagi pulang, ini sudah jam 5. Elo lembur?"


"Tidak hari ini Felix sama Dayat yang lembur."


"Oh gue pikir elo lembur."


"Gue mau pulang cepat, gegara itu anak kecil, gue di bangunin sama ibu gue di rumah."


"Anak kecil yang tadi pagi antar elo kerja?"


"Wah, ini pasti mulutnya Felix ember."


"Hahahah, anak kecil tapi kata Felix ganteng, ada Arab-arabnya."


"Hah! Kok bisa sampai tahu ganteng? Jangan-jangan elo suka sama laki ya? Pakai acara nanya gue suka sama laki-laki atau perempuan."


"Eh, gue udah punya bini, anak gue udah 2. Tidak mungkin lah gue suka laki. Emangnya eike suami apaan?"


"hahahah, mas Andri mulai ngondek. Hati-hati tuh tangan belibet nanti. Mas, gue cabut duluan ya. Kasihan motor gue, semalaman di tinggal di kantor."


"Hahahah, iya gue ngerti. Sudah punya pacar jadinya motor ditinggal di kantor.. Lama-lama nanti elo diantar jemput sama tuh bocah."

__ADS_1


"Bodo amat. Ngomong sama elo tidak ada habisnya. Bye mas Andri."


__ADS_2