Anak Yang Tidak Diakui

Anak Yang Tidak Diakui
Keluarga yang aneh


__ADS_3

"Non Dewi, kalau non Dewi capek mau tidur duluan juga ngga papa. Biar bibi yang selesaikan semuanya lagipula tinggal cuci piring. Nyonya dan Tuan sudah masuk ke kamar. Den Fuad dan non Sisi pergi."


"Ngga papa bi. Aku tunggu bi Atik selesaikan, nanti kita bisa ngobrol-ngobrol."


"Jangan non. Non kan lagi hamil. Jangan tidur malam-malam, harus istirahat. Seharian tadi kan non membereskan rumah yang disuruh sama nyonya."


"Iya bi. Ya sudah kalau gitu. Aku masuk ke kamar ya bi."


"Iya non Dewi."


Kasihan non Dewi, katanya mantu tapi diperlakukan seperti pembantu. Semoga non Dewi cepat sadar, dan bisa keluar dari rumah ini.


"Dewiii!!! Bangun!!!"


Mama Fuad mengetuk kamar Dewi berkali-kali. Sampai akhirnya Dewi terbangun dan melihat jam.


Bi Atik yang mendengar majikannya teriak menggedor pintu kamar Dewi segera keluar.


"Maaf nyonya, non Dewi sudah bangun, dan mungkin belum selesai sholat.


"Iya ma. Sebentar."


Dewi segera merapikan mukena dan sajadahnya lalu membuka pintu.


"Bagus ya kamu! Kamu pikir kamu tinggal dimana? Di rumahmu? Yang semuanya sudah disiapkan sama ibumu! Cepat masak untuk sarapan. Dan kamu tidak bisa kemana-mana sebelum semua pekerjaan rumah selesai!"


"Maaf ma, hari ini Dewi masuk kantor. Dan ini baru jam 5 pagi. Dan Dewi adalah menantu mama, istri dari Fuad! Dewi sudah bangun dari tadi dan baru selesai sholat."


"Sudah berani melawan ya. Siapa yang bilang kamu menantu saya? Mana sumbangsih kamu sebagai menantu? Yang ada gara-gara kamu uang Fuad habis!"


"Mama, selama Dewi nikah sama Fuad, Dewi tidak pernah pakai uang Fuad sepeser pun, yang ada ATM Dewi untuk terima gaji di pegang Fuad! Dan apa pantas seorang menantu dipekerjakan seperti ini! Kalau mama memang mau Dewi pisah sama Fuad, silakan saja! Dewi tidak takut pisah dari Fuad!"


Plakkk!


Mama langsung menampar Dewi. Membuat Dewi sedikit limbung.


"Mama, ayah ibu Dewi tidak pernah menampar Dewi. kenapa mama menampar Dewi! Dewi lagi hamil anaknya Fuad, cucu mama!"


Bi Atik yang melihat kejadian ini, langsung mendekati majikannya.

__ADS_1


"Nyonya, maaf. Bibi disini memang pembantu. Tapi jangan siksa non Dewi. Kasihan non Dewi, bibi juga punya anak perempuan, bibi pasti marah, anak bibi ditampar seperti yang nyonya lakukan sama non Dewi!"


"Eh! Kamu siapa? Kalau kamu tidak mau kerja di rumah ini lagi, silakan angkat kaki! Dan jangan pernah mengharapkan gaji kamu saya kasih! Buat apa kamu membela Dewi! Yang kasih gaji kamu memangnya Dewi!"


Papanya Fuad datang karena mendengar keributan di belakang.


"Ada apa sih ma. Pagi-pagi sudah teriak-teriak. Malu sama tetangga! Mama sudah sholat? Ayo sholat dulu ma, keburu habis waktunya. Dan Dewi mungkin juga harus siap-siap untuk berangkat kerja. Bi Atik tolong siapkan sarapan ya buat kami semua."


"Untungnya ada papa. Kalau tidak, habis kamu sama saya!" Mamanya Fuad menunjuk ke muka Dewi dan mengeplak kepala Dewi


"Aduh! Mama tangannya enteng sekali ya!"


"Mama! Kamu apa-apaan sih! Ayo cepat sholat subuh biar otak kamu terang. Dewi itu menantu kita. Dewi sedang hamil cucu kita! Kenapa mama sadis sekali sih."


Papa menggandeng tangan mama untuk segera pergi.


"Non Dewi, biarin saja nyonya mau bicara apa. Non di kamar bibi saja. Nanti kalau nyonya marah-marah lagi, biar bibi yang lawan. Bibi ngga suka perlakuan nyonya sama non. Nanti bibi yang urus. Bawa tas non ke kamar bibi, jadi nanti mereka lihat kalau kamar non sudah tidak ada tas. Mereka tidak akan cek kamar bibi.


"Iya bi, makasih ya."


Dewi masuk ke kamarnya dan membawa tas untuk bekerja lalu masuk ke kamar bibi.


Aku ngga bisa tinggal disini. Tapi apa kata ayah dan ibu jika aku tetap tinggal di rumah? Apa maksud mama tadi kalau uang Fuad habis? Selama ini Fuad tidak pernah kasih aku uang. Untuk periksa kandungan saja, aku menggunakan uangku. Bagaimana caranya aku keluar, dan pasti nanti akses keluar rumah akan ditutup semua supaya aku tidak kabur.


"Den Fuad, non Dewi sudah berangkat kerja."


"Hah, berangkat kerja! Bibi jangan bohong sama saya ya!"


"Bibi ngga bohong den. Lihat saja ke kamarnya. Tidak ada non Dewi."


Fuad membuka kamar Dewi dan masuk.


Baju-bajunya Dewi masih ada, hanya tas ranselnya yang tidak ada. Semua masih lengkap. Baguslah. Setidaknya hari ini dia kerja dan pulang membawa uang gajinya.


"Bi, aku mau kopi, tolong dibuatkan, sekalian rotinya."


"Semuanya sudah siap di meja makan den."


Fuad masuk. Ternyata sudah ada mama dan papanya.

__ADS_1


"Fuad, mama minta kamu jaga Dewi. Jangan sampai dia kabur!"


"Iya ma, kata bibi, Dewi sudah berangkat kerja."


"Fuad, kamu kapan mau kerja! Kamu laki-laki dan sudah menikah. Istri kamu lagi hamil!"


"Tumben papa ngurusin hidup Fuad! Biasanya papa tidak peduli!"


"Papa bicara begini supaya kamu tanggung jawab. Tidak selamanya kamu hidup terus sama papa dan mama. Dan mama terlalu manjain kamu. Dan mulai hari ini, Dewi tidak boleh tidur di kamar belakang. Dewi harus tidur di kamar kamu! Karena Dewi istri kamu. Jangan di kira papa tidak tahu kalau kamu bawa perempuan lain dan tidur di kamar kamu!"


"Maksud papa bicara seperti itu kenapa? Apa papa sudah merestui pernikahan Fuad dan Dewi? Papa berharap kalau anak yang dikandung Dewi adalah anak Fuad? Mama tidak yakin kalau perlu anak itu tidak usah dilahirkan. Mama tidak pernah merestui pernikahan Fuad dengan Dewi. Waktu itu untuk menyelamatkan muka Fuad di depan orang tuanya Dewi!"


Mama bangkit berdiri dan meninggalkan Fuad dan papa. Fuad pun akhirnya pergi juga dan masuk ke kamar.


Bibi yang menyaksikan perseteruan majikannya hanya bisa mengelus dada.


Selama non Dewi di rumah ini, aku akan tetap disini. Tetapi apabila non Dewi sudah keluar dan tidak tinggal disini lagi, aku juga akan keluar dan cari pekerjaan lain. Keluarga yang aneh!


"Bibi, saya mau pergi sampai malam. Kalau Dewi sudah pulang, suruh beresin kamar Fuad. Dan Dewi tidak boleh tinggal di kamar Fuad!"


"Iya nyonya."


Satu persatu penghuni rumah pergi. Setelah di rasa aman. Bibi membuka kamarnya dan melihat Dewi yang sedang membuka laptop.


"Non, sudah aman. Non bisa makan. Ini bibi bawakan sarapan.


"Iya bi, Terima kasih." Dewi menerima sepiring makanan yang diberikan oleh bi Atik.


"Non, jika boleh bibi beri saran. Non jangan tinggal di rumah ini. Lebih baik non keluar dari rumah ini. Bibi tidak mau non kenapa-napa. Ada kalanya nanti bibi harus belanja dan non sendirian, kalau sampai terjadi kdrt yang kasihan non sendiri."


"Iya bi. Dewi lagi mikir, Dewi harus tinggal dimana?" Karena Dewi tidak mungkin tinggal di rumah orang tua Dewi, pasti Fuad akan menjemput dan bermulut manis di depan ayah dan ibu. Kasihan ayah, kondisi kesehatannya menurun jangan sampai ayah Dewi tahu masalah Dewi."


"Ya coba nanti cari cara bagaimana. Karena kalau non keluar dan tidak tinggal di rumah ini lagi, bibi mau keluar juga. Bibi sudah dapat kerjaan di tempat lain. Di sini bibi memang hanya pembantu tetapi mereka semua tidak memanusiakan bibi. Dan gaji bibi tiap bulan tidak terima full karena katanya nyonya buat tabungan. Bibi sudah ikhlas terima gaji segitu dan tidak mengharapkan uang tabungan."


"Memang disini bibi digaji berapa?"


"Bibi di gaji 1 juta non. Awalnya nyonya bilang di gaji 1.5 juta tapi yang 500 tidak pernah diberikan."


"Ya ampun bi. Ya sudah, nanti Dewi bantu bibi cari kerjaan di tempat lain. Dewi mau beres-beres pakaian Dewi dan pergi dari sini. Apa bibi mau ikut?"

__ADS_1


"Iya non, bibi ikut saja. Bibi ada uang tabungan sendiri sampai akhir bulan nanti. Dan awal bulan, bibi masuk kerja di tempat yang baru."


"Ya sudah kalau gitu, kita siap-siap ya."


__ADS_2