
Malam ini Dewi sudah tinggal di rumah orang tua Fuad.
"Dewi, nanti habis makan, tolong kamu bereskan meja makan dan di cuci piringnya. Mama tidak mau ada piring dan gelas yang kotor. Kamu tinggal disini dan kamu harus ikuti peraturan yang ada di rumah ini. Pembantu disini untuk memasak, mencuci baju dan menyetrika baju dan mengepel lantai. Untuk urusan membersihkan meja makan dan mencuci piring, kamu yang lakukan."
"Tapi ma, kalau siang Dewi ada di kantor bagaimana merapikan meja makan dan mencuci piring kotor? Kecuali Dewi di rumah saja, bolehlah Dewi yang lakukan."
"Ya kalau kamu kerja ya tidak usah. Untuk urusan pagi dan malam. Dan tidak ada makan di luar kalau malam untuk menghindari membersihkan meja makan dan mencuci piring dan gelas kotor."
"Maaf ma. Dewi bekerja dan tidak tentu pulang jam berapa karena Dewi bekerja dan jam pulangnya selalu telat."
"Terserah kamu, kamu atur sendiri."
Papa, mama dan Fuad meninggalkan Dewi yang masih duduk di bangku meja makan.
Keluarga yang aneh. Si Fuad kenapa tidak belain gue sih!
Dewi menggerutu dalam hati.
Dewi membereskan meja dan membawa piring juga gelas kotor ke dapur.
"Ya ampun. Ini kenapa dapur berantakan banget terus segala panci sama wajan kotor semua! Ini sengaja ya?!"
"Ngga usah teriak, kamu harus kerjakan!"
Tiba-tiba mama Fuad sudah berdiri di belakang Dewi.
"Cuci semuanya yang bersih! Kalau belum bersih harus kamu cuci ulang. Dan kamu harus pel lantai dapurnya supaya tidak licin. Ngerti kamu!"
"Iya ma."
Dewi melakukan semua yang diminta mama. Hampir 2 jam Dewi mencuci piring, gelas, wajan dan panci kotor juga mengepel lantai.
"Akhirnya selesai juga."
"Jangan bilang sudah selesai. Mama akan cek lagi. Kamu tunggu disini."
"Astaghfirullah. Mama, Dewi sampai kaget."
Mama Fuad mengecek satu persatu gelas dan piring yang tadi Dewi cuci juga peralatan masak.
"Ok, sudah bersih. Sekarang kamu boleh istirahat."
"Iya ma. Terima kasih, selamat malam."
"Hmmm."
__ADS_1
Dewi keluar dari dapur dan menuju kamarnya.
Saat Dewi masuk kamarnya, ia tidak menemukan Fuad. Saat mencuci piring, Dewi merasakan handphonenya bergetar di saku celananya.
Dewi membuka handphonenya dan ternyata ada panggilan masuk dan pesan dari Fuad.
"Dewi, kamu tidur duluan saja. Saya keluar ada perlu."
"Ok." Dewi membalas pesan Fuad.
Fuad pergi bertemu dengan teman-temannya dan minum-minum.
Tidak lama Dewi sudah tertidur. Dewi terbangun jam 3 pagi dan ia tidak melihat Fuad di sebelahnya. Dewi segera mengambil handphonenya dan menelpon Fuad. Ternyata yang mengangkat handphonenya Fuad seorang perempuan.
"Halo Fuad, kamu dimana? Kok belum pulang?"
"Fuadnya sudah tidur. Kamu siapa?"
"Lah elo siapa? Kenapa handphonenya Fuad diangkat sama kamu?"
"Gue duluan yang nanya! Kenapa balik nanya! Gue Sisi, pacarnya Fuad!"
"Hah! Pacar? Eh, gue istrinya dan sedang hamil anaknya Fuad!"
"Oh, elo istrinya Fuad, yang kemarin baru nikah? Kasihan deh elo! Siap-siap aja elo ngga dianggap sama Fuad. Karena Fuad tidak suka sama elo. Makanya jadi perempuan jangan kegatelan!"
Belum sempat Dewi menyelesaikan omongan, Sisi sudah menutup handphone Fuad.
Dewi benar-benar marah. Tapi ia ingat nasehat ayah dan ibu untuk bersabar.
Sisi melihat Fuad yang masih tertidur dan tersenyum. Kemudian Sisi melanjutkan tidurnya kembali di sebelah Fuad.
Ah, daripada marah ngga jelas lebih baik gue sholat, sebentar lagi azan subuh. Dan lebih baik hari ini gue pergi ke kantor.
Dewi berjalan ke kamar mandi. Selesai mandi dan wudhu, terdengar azan subuh. Dewi segera sholat subuh. Selesai sholat subuh, Dewi keluar kamar dan berjalan menuju ke dapur.
"Pagi mbak. Kenalkan saya Dewi, istrinya Fuad."
"Iya nyonya. Lebih baik nyonya masuk ke kamar. Karena kalau nyonya besar keluar kamar dan lihat nyonya disini pasti nanti disuruh-suruh. Saya Atik, nyonya."
"Oh gitu. Ngga papa saya bantuin mbaknya masak."
"Ngga usah nyonya. Dengerin Atik. Sekarang, cepatan masuk kamar dan kalau diketuk pintunya diam saja. Jangan keluar kamar dan nanti Atik ceritain. Keluar kamar nanti jam 7 kurang 15 menit saja."
"Oh iya mbak Atik. Terima kasih."
__ADS_1
Dewi bergegas masuk kedalam kamarnya kembali. Dewi mengambil handphonenya dan ia mengirimkan pesan kepada ibunya.
Setengah jam kemudian Dewi mendengar kamarnya di ketuk oleh mamanya Fuad. Tetapi Dewi ingat pesan mbak Atik untuk diam saja. Mama membuka pintu kamar Dewi. Dan untungnya tadi Dewi sudah mengunci pintu kamarnya.
"Dewi, bangun. Ayo cepat bangun! Kamu perempuan dan sudah jadi istri anak saya. Kalau lagi hamil tidak boleh malas! Kamu bukan tinggal di rumah kamu. Ayo cepat bangun."
Dewi berusaha untuk tidak menjawab.
"Huh, punya mantu tapi pemalas. Jam segini masih saja tidur!"
Akhirnya mama meninggalkan kamar Dewi dan menuju ke dapur.
"Bibi, nanti yang cuci piring biar si Dewi saja. Biarkan panci dan wajan yang kotor tidak usah dibersihkan. Punya mantu pemalas!"
Bibi yang mendengar nyonya besarnya menggerutu hanya diam saja.
"Atik, nanti kalau waktunya makan, Dewi belum bangun juga tidak usah dibereskan mejanya dan tidak usah dicuci juga. Kamu kerjakan yang lain saja. Ngerti kamu!"
"Iya nyonya."
"Oh iya bi. Motor Fuad ada dj garasi tidak?"
"Tidak ada nyonya. Den Fuad belum pulang."
"Gini nih. Punya istri tapi istrinya tidak bisa mengurus suaminya. Yang ada suaminya keluyuran. Gimana mau langgeng kalau punya istri pemalas. Jam segini belum bangun juga!"
Mama berjalan keluar dari dapur dan menuju kamar Dewi. Sekali lagi mama mengetuk kamar Dewi tetapi tidak ada jawaban dari Dewi.
"Dewi bangun! Sudah siang ini. Jadi istri itu jangan malas! Harus bangun sepagi mungkin?"
Papanya Fuad keluar kamar karena mendengar istrinya berteriak dan mengetuk kamar Dewi dengan keras membuat pagi ini berisik."
"Mama kenapa sih pagi-pagi sudah berisik."
"Ini mama lagi bangunin Dewi tapi dari tadi tidak ada jawaban. Jadi perempuan kok malas banget. Sudah gitu si Fuad pergi dari semalam dan sampai sekarang belum balik pulang."
"Ya mau gimana lagi? Pilihan Fuad sendiri, berharap dapat istri yang bekerja, jadi dia bisa main seperti biasa. Dan karena istrinya sudah bekerja. Tidak ada lagi uang bulanan buat Fuad.. Biar Fuad berusaha sendiri untuk menghidupi istri dan dirinya."
"Ya memang tidak usah dikasih uang lagi. Biar Fuad minta sama istrinya. Paling ngga Fuad bisa tanggung jawab. Terus uang bulanan Fuad mau papa kasih ke siapa?"
"Kasih ke mama sebagian dan sebagiannya lagi papa simpan. Feeling papa, pernikahan Fuad dan perempuan tidak akan lama. Kalau dihitung, anak Fuad ada 5 orang termasuk yang sekarang. Dan baru sekarang Fuad mau menikahi perempuan itu
"Ya bagaimana mau lama. Wong istrinya saja sampai saat ini belum bangun! Ya maulah, karena perempuan itu sudah bekerja, jadi Fuad tidak pusing memenuhi kebutuhannya. Tinggal minta sama perempuan itu. "
"Braaaakkk!"
__ADS_1
Mama menggebrak pintu kamar Dewi. Dewi sampai terkejut karena kaget. Dan Dewi mendengar semua omongan papa dan mamanya Fuad dan membuat Dewi menjadi sakit hati.
Ya Tuhan. Sebenarnya ada apa sama keluarga ini? Kenapa doa mereka jelek sekali. Aku sedang mengandung cucu mereka. Dan mereka dari tadi bilang perempuan, perempuan. Aku punya nama. Nama aku Dewi bukan perempuan. Mereka sama sekali tidak mau menyebut namaku. Sabar-sabar.