
"Fuad, mau sampai kapan kamu bisa berhasil bawa Dewi ke rumah!"
"Ma, sabar kenapa sih. Ini juga lagi Fuad usahain. Nanti sore Fuad ke kantor Dewi langsung."
"Mama tidak percaya sama kamu. Mama ikut ke kantor Dewi."
"Ya ma."
Mama masuk ke dalam kamar. Tidak berapa lama keluar lagi.
"Fuad, antar mama ke toko perhiasan."
"Mama mau ngapain ke toko perhiasan?"
"Mama mau jual perhiasan mama. Memangnya papamu kasih uang ke mama sejak pergi dari rumah! Kamu pikir mama di tinggalin uang sama papa! Ini semua karena Dewi! Sampai saat ini papa tidak pulang ke rumah. Di telpon tidak di angkat. Di samperin ke kantor selalu tidak ada di tempat. Dewi harus mengganti semua perhiasan yang mama jual buat biaya hidup kita. Kamu sendiri kapan mau cari kerja?"
"Sudahlah ma. Ayo, jadi pergi ke toko perhiasan tidak? Nanti sekalian beli makanan ya ma. Fuad lapar."
"Jangan bawel, ayo jalan."
"Fuad ngga mau jalan ma. Fuad mau naik mobil. Kalau jalan capek." Fuad berusaha menggoda mamanya."
"Ngga usah bercanda, bukan waktunya bercanda. Biar cepat selesai dan langsung ke kantor Dewi. Mama mau buat perhitungan sama Dewi."
"Sabar ma. Sabar."
Mama dan Fuad pergi ke toko perhiasan.
Dan mereka lanjut ke kantor Dewi.
"Sore pak. Saya mau bertemu Dewi. Saya mama mertuanya Dewi."
"Dewi yang mana ya bu? Ada banyak nama Dewi di kantor ini. Bagian apa?"
"Dewi, bagian media."
"Oh mbak Dewi. Mbak Dewi hari ini tidak masuk kerja. Dia masuk rumah sakit."
"Rumah sakit mana ya pak? Karena saya coba telpon ke handphone Dewi tidak aktif. Saya dari luar kota."
"Saya kurang tahu bu."
Mama dan Fuad akhirnya keluar dari kantor Dewi.
"Kemarin-kemarin dia gini juga? Jarang masuk kantor?"
"Sebelumnya masuk terus ma. Hanya saja ada supir yang sudah jemput Dewi. Jadi Fuad tidak punya kesempatan untuk membawa Dewi pulang ke rumah."
Fuad tidak berani menceritakan kepada mama mengenai kejadian kemarin malam. Fuad sempat kaget saat tahu ternyata Dewi di opname di rumah sakit.
__ADS_1
"Ini hari Kamis. Senin kita ke sini lagi. Kalau bilang ada mama, tidak mungkin Dewi akan menghindar pasti dia akan menemui kita."
"Mama yakin?"
"Yakin. Sekarang kita ke kantor papa."
Mereka berdua kemudian ke kantor papa. Sampai di kantor, mama dan Fuad langsung berjalan ke ruang kerja papa.
"Bu, bu, maaf. Bapak tidak ada di tempat. Baru saja keluar kantor, bisa jadi sisipan sama ibu."
"Bapak di kantor memangnya sibuk terus?"
"Iya bu, Tadi pagi bapak baru pulang dari luar kota langsung ke kantor."
"Bapak sering keluar kota?"
"Hampir sebulan di luar kota bu."
Mama segera pergi.
"Ayo cepat jalannya. Siapa tahu kita ketemu sama papamu di parkiran."
"Ya ngga bisa cepat juga ma. Kita kan harus nunggu lift."
"Papamu tidak bertanggung jawab kalau seperti ini!"
"Mbak Ayu, mbak Ayu ngga kasih tahu ibu sama ayah kan kalau aku di rumah sakit?"
"Ngga, nanti yang ada mereka khawatir sama kamu. Terus mbak mau tahu kenapa kamu bisa sampai seperti ini?"
Dewi menceritakan kejadian semalam sama mbak Ayu. Dan mbak Ayu terlihat marah.
"Senin, kamu mengajukan resign saja. Mbak ngga mau kamu ketemu dengan Fuad. Dan bisa jadi Fuad tahu bahwa ayah dan ibu sudah pindah rumah."
"Itu yang Dewi takutkan juga mbak. Tapi Dewi ngga mungkin resign mbak. Dewi butuh uang untuk biaya lahiran nanti."
"Ngga usah dipikirin, yang penting kamu dan calon bayi kamu selamat."
"Mbak Ayu enak ngomongnya, secara uangnya mbak Ayu banyak."
"Memangnya uang kamu habis?"
"Ya ngga, tapi buat biaya hidup kan ngga mungkin minta sama ayah dan ibu juga mbak Ayu sama mbak Shinta."
"Ngga usah dipikirin dulu. Yang penting kamu sehat."
"Iya mbak ku sayang."
Mama dan Fuad sudah sampai rumah lagi. Dan ternyata papa sudah ada di rumah.
__ADS_1
"Papa, kapan pulang?
"Sudah dari tadi. Sekarang mama dan Fuad, duduk. Ada yang mau papa bicarakan."
"Pa, Fuad mau tiduran dulu. Capek dari tadi antar mama ke toko perhiasan, ke kantor Dewi dan ke kantor papa."
"Duduk!"
Akhirnya mama dan Fuad duduk.
"Mulai hari ini, papa menjatuhkan talak ke mama. Dan semua biaya hidup kalian berdua tetap menjadi tanggung jawab papa."
"Papa, kenapa? Kok tiba-tiba menjatuhkan talak ke mama. Apa salah mama! Apa karena Dewi!"
"Tidak hanya sekedar masalah Dewi tetapi banyak hal. Dan papa tidak akan menanggung hidup Fuad. Karena dia laki-laki, dia harus bisa bertanggung jawab untuk istri dan anaknya! Harus bisa mandiri."
"Pa, kita sudah tua, sebentar lagi punya cucu. Coba dipikirkan ulang pa."
"Tidak, keputusan papa sudah bulat. Kita cerai!"
Mama menangis, Fuad yang melihat mamanya menangis tidak tinggal diam. Fuad menghampiri papa dan menonjok muka papa.
"Fuad! Kenapa kamu memukul papa! Dasar anak tidak tahu di untung! Ini akibat mama terlalu memanjakan Fuad! Jadi tidak ada rasa hormat kepada orang tua."
"Buat apa hormat sama papa! Papa sudah menyakit hati mama! Apa salah mama, pa! Lebih baik Fuad bunuh papa sekalian!"
"Fuad, Fuad, jangan nak, sabar. Sabar."
"Asal kamu tahu Fuad! Keluarganya Dewi sudah mengirimkan pengacara dan memberi tahu semua hal sampai kejadian tadi malam. Mereka tidak main-main. Mereka berniat menjebloskan kamu ke penjara! Dan papa menyerahkan sepenuhnya kepada mereka. Papa tidak mau bertanggung jawab lagi atas semua hal yang terjadi dalam hidup kamu, Fuad!"
Mama segera berdiri dan merangkul Fuad.
"Rumah ini, sudah hak milik mama. Terserah mama, mau dipakai atau dijual. Papa hanya bisa kasih uang bulanan untuk urusan rumah dan kebutuhan pokok saja. Papa pamit pergi. Semoga setelah kepergian papa, baik mama dan juga Fuad dibukakan hati dan otaknya supaya bisa berpikir dengan jernih. Semua kartu kredit yang mama pegang sudah di tutup, jadi sudah tidak bisa di gunakan lagi."
Papa berdiri dan membawa koper, berjalan keluar rumah dan pergi. Mama melihat kepergian papa dan terdiam.
"Ma, maafin Fuad, gara-gara Fuad, mama dan papa bercerai."
"Sudah, biarkan saja papamu pergi. Mungkin memang harus begini pernikahan mama dan papamu."
Mama melepaskan rangkulannya dan berjalan masuk ke dalam kamar.
Fuad menggebrak meja.
"Ma, Fuad pamit keluar!"
Fuad segera masuk ke dalam mobil dan pergi.
Dewi, Dewi, hidup kamu tidak akan tenang. Jangan bilang aku tidak bisa menghancurkan hidup kamu! Sekarang kamu bisa tenang minggu ini karena aku tidak tahu kamu di rawat di rumah sakit mana!
__ADS_1