
Fuad masih ingat saat sekolah dulu. 5 kali Fuad nembak Dewi tetapi Dewi selalu menolak. Dan Fuad kaget ternyata Tito pacarnya Dewi.
Besok gue ikut saja ke puncak. Gue akan rebut Dewi dari Tito. Tidak ada yang boleh menjadi pacar Dewi selain gue. Dan tadi Dewi bilang belum sreg sama Tito.
Tito sudah balik lagi ke studio setelah mengantar Dewi.
"Tito, itu tadi cewek elo?"
"Iya baru tadi jadian. Makanya besok gue mau ajak dia ke puncak nginap di villa. Kalian ikut bawa cewek kalian. Masing-masing nanti dapat kamar. Biar gue bisa lebih dekat sama Dewi."
"Somplak elo. Tito."
"Gue pengen nyobain perawan. Eh iya, Fuad, elo serius teman SMA Dewi? Dan tadi elo bilang 5 kali nembak dia ngga dapat. Elo besok ikut aja. Gue pengen tahu elo panas ngga lihat gue sama Dewi bercumbu. Hahahahha."
"Rusak elo. Dewi itu anak baik-baik. Jangan di rusak anak orang lah."
"Hahahhahaha, gaya elo. Nah elo besok ikut ngga? Bawa cewek elo ya."
"Iya besok gue ikut, tapi gue nyusul ya. Gue berangkat sendiri saja. Karena ada urusan besok. Selesai urusannya gue langsung ke atas. Villa yang biasa kan?"
"Iya. Sip lah."
Tito dan kelompok bandnya berlatih sampai larut malam.
Pagi-pagi ibu sudah marah-marah sama Dewi.
"Dewi, kamu itu anak perempuan yang sudah besar. Hampir 30 tahun, harusnya rajin bangun pagi."
"Iya ibu. ini juga mau bangun."
"Bilangnya mau bangun, sudah bangun, ibu keluar kamar kamu terus kamu tidur lagi. Bantu ibu, cuci piring, cuci baju, ngepel. Kamu nanti kalau nikah harus bisa mengerjakan semuanya termasuk masak."
"Haduh, iya ibu ini Dewi bangun dan duduk. Ini mau ke kamar mandi. Dewi lagi banyak kerjaan di kantor juga bu."
"Ya resiko kalau mau punya uang harus kerja, kalau ngga mau kerjaannya banyak ya ngga usah kerja. Kamu kalau seperti ini terus ngga akan bisa punya pacar apalagi suami. Harus rajin."
"Iya ibu, iya. Tuh handphone aku bunyi. Dari Tito."
"Ya sudah angkat saja."
"Halo Tito, kenapa?"
"Nanti sore aku jemput. Teman-teman bandku akan ikut ke puncak. Dan mereka bawa pacarnya. Jadi tenang saja. Kita ke puncak tidak berdua saja."
"Hmmm, iya. Nanti sorekan? Dan langsung pulang tidak nginap?"
"Kita lihat nanti. Bisa pulang, bisa nginap."
"Ya, ok. Ini ada ibu, kamu minta ijin sama ibu. Aku boleh pergi ngga?"
"Mana ibumu. Biar aku minta ijin untuk bawa anaknya jalan-jalan ke puncak.
" Sebentar. Ibu, ini Tito mau ngomong."
"Iya nak Tito, ada apa? Kata Dewi mau ngomong?"
"Iya ibu, Tito mau minta ijin. Nanti sore mau ajak Dewi pergi sama Tito dan teman-teman ke puncak. Dan pulang besok pagi. Boleh tidak bu?"
"Iya boleh, tapi hati-hati ya. Jaga Dewi baik-baik."
"Baik bu. Terima kasih."
__ADS_1
"Dewi nih. Ibu sudah ijinkan kamu pergi sama Tito ke puncak."
"Ya bu. Makasih."
"Itu Tito masih mau ngomong sama kamu."
"Iya bu. Iya Tito. Ibu sudah mengijinkan. Apalagi? Aku mau ke kamar mandi ini."
"Ok. Aku jemput jam 5 sore ya."
"Ok."
"Ya sudah. Love you Dewi."
"Thank you."
Dewi mematikan handphonenya.
"Sudah ayo bangun. Mandi. Bantuin ibu masak."
"Iya ibu."
Dewi segera masuk kamar mandi. Biar ibunya bisa keluar dari kamarnya.
Huft ngapain sih ke puncak. Dan tumben ibu mengijinkan aku pergi dengan cowok. Tito juga baru aku kenal. Aku ngga yakin sama dia.
Selesai mandi, Dewi segera keluar kamar membantu ibunya memasak.
Fuad ingin bersama Dewi. Nanti malam sudah dipastikan ia akan melihat Tito yang berdekatan dengan Dewi. Fuad memikirkan bagaimana caranya agar Dewi bisa bersama dirinya dan pergi meninggalkan Tito. Fuad sudah mendapatkan ide. Dan Fuad akan buat Dewi menerima dirinya, bukan sekedar pacar tapi suami.
Jam 5 sore, Tito sudah sampai rumah Dewi. Setelah berpamitan kepada bapak dan ibu. Mereka berdua pergi untuk menjemput teman Tito yang lain.
Dewi kaget karena teman band Tito ikut dan mereka membawa pacar-pacarnya.
Bagus deh kalau Fuad tidak ikut. Jadi aku tidak merasa bersalah sama Fuad. Malas sekali sebenarnya ikut mereka ke puncak. Mau ngapain juga ke puncak.
Sampai di puncak. Teman-teman Tito dan pacarnya mengobrol. Dewi hanya bisa mendengar obrolan mereka.
"Dewi, kamu kok mau sama Tito? Tito itu penjahat k*****n loh. Hati-hati hahahahah."
"Maksudnya apa ya Ria?"
"Nanti kamu juga tahu. Tito kuat loh."
"Hush, sembarangan saja kalian. Jangan di dengar omongan mereka."
"Tito, sudah jam 9 malam. Fuad jadi kesini tidak?"
"Jadi, dia sedang dalam perjalanan."
"Oh, kirain ngga jadi."
"Halo, gue datanglah."
"Wuih, panjang umur loe."
Dewi kaget melihat Fuad datang.
"Eh, gue bawa minuman nih. Yang 1 botol ini buat yang cowok. Yang 1 botol buat yang cewek."
"Wah, asik nih. Buat tarikan nanti di kamar. Nah loe narik siapa Fuad?"
__ADS_1
"Narik delman. Tadi gue sudah buka dikit. Perjalanan buat gue dingin jadi gue minum dikit biar jangan kedinginan."
Yang cowok langsung menenggak minuman yang dibawa oleh Fuad. Yang cewek juga sama mereka langsung minum dari botol yang diberikan oleh Fuad. Kecuali Dewi. Ia tidak suka minuman yang dibawa oleh Fuad.
Satu-satu teman Tito dan oacarnya masuk ke kamar.
"Dewi, ayo kita ke kamar ini sudah jam 12 malam."
"Tapi kenapa harus kekamar. Masih ada Fuad. Kita ngobrol-ngobrol dulu saja."
"Aku pengen tidur sama kamu Dewi."
"What!! Maksud kamu apa?"
"Dewi, tenang-tenang. Ini karena minuman. Tito, kamu minum air putih ini. Biar jangan mabuk. Kasihan Dewi kan kalian mau merayakan hari jadi kalian pacaran."
Tito menerima air putih yang diberikan Fuad dan segera menghabiskan air itu. Tiba-tiba Tito tertidur.
Dewi bingung melihat Tito yang sudah tertidur di sofa.
"Fuad, kamu kasih minum apa ke mereka? Kenapa mereka seperti itu? Dan Tito kenapa langsung tertidur."
"Dewi, aku menyelamatkan kamu dari niat Tito yang mau menodai kamu. Aku tahu Tito."
"Oh, gitu. Ya Terima kasih. Aku masuk kamar ya. Aku mau tidur. Tapi aku mau tidur sendiri. Kamarnya yang mana?"
"Ayo aku antar kamu ke kamar."
Dewi mengikuti Fuad yang menunjukkan kamar untuk tidur.
Fuad membuka pintu kamar dan mempersilahkan Dewi masuk. Saat Dewi masuk ke kamar. Fuad langsung masuk juga dan segera mwngunci pintu kamar.
"Loh, kamu kenapa ikutan masuk? Dan kenapa pintu kamarnya dikunci!"
"Dewi, aku suka sama kamu dari dulu. Tidak boleh ada yang bisa memiliki kamu selain aku."
Fuad langsung memeluk Dewi. Dewi berusaha untuk melepaskan dirinya dari Fuad. Tapi Dewi kalah kuat dengan Fuad. Dewi berterjak sekuat tenaga.
"Silakan teriak Dewi. Tidak ada yang bisa mendengar karena kamar ini kedap suara. Dan kamu harus jadi milikku."
"Fuad, kamu jangan macam-macam sama aku."
Fuad langsung menampar Dewi dan memukul perut Dewi membuat Dewi tidak berdaya karena perutnya di tonjok oleh Fuad. Dan Fuad tidak mau membuang waktu. Fuad segera mengikat tangan dan kaki Dewi dengan cepat.
Fuad memperkosa Dewi yang masih kesakitan di perutnya. Dewi hanya bisa menangis.
Fuad yang sudah selesai melampiaskan nafsunya sudah memakai bajunya dan Fuad membantu Dewi membersihkan dirinya. Dewi benar-benar muak dan marah dengan Fuad.
"Aku akan bertanggung jawab atas kejadian tadi. Dan aku akan antar kamu pulang sekarang juga."
"Terserah kamu. Puas kamu! Sudah menodai aku."
"Aku tidak mau kamu jadi milik orang lain. Aku menunggu saat ini. Agar kamu mau menikah sama aku."
"Aku tidak mau menikah sama kamu! Kamu sudah melakukan kekerasan fisik sama aku."
"Ya kalau aku tidak menampar dan memukul perutmu. Aku tidak akan bisa mendapatkan kamu. Dan ternyata kamu masih perawan. Terima kasih sudah memberikan sama aku."
Dewi meludahi muka Fuad. Dan Fuad menampar pipi Dewi berkali-kali membuat Dewi pingsan.
Jam 3 pagi. Fuad menggendong Dewi dan memasukkan Dewi ke dalam mobilnya.
__ADS_1
Fuad akan membawa Dewi ke rumahnya.