
Mentari pagi menyinari bumi dengan kilauan nya. Mengukir warna indah di langit, membuat hati tenang melihatnya.
Alara dapat telpon dari Akara.
"Hello....?" Ucap Alara.
"Ra..., nanti kita nggak jadi main basket bareng ya Ra." Ucap Akara dengan nada lembut.
"Kenapa Ka....?" Tanya Alara.
"Papa aku, minta aku untuk hari ini full day di kantor." Jawab Akara.
"Lembur....?" Timpal Alara.
"Iya, Ra. Lembur." Jawab Akara.
"Ya udah. Aku nggak papa kok. Kamu jangan sampai kecapaian ya Ka. Aku nggak mau kamu sakit." Kata Alara khawatir.
"Oke tuan putri." Jawab Akara dengan nada senang. "Kamu juga ya landak! Jangan pikirin hal lain terus, cukup pikiran aku aja biar nggak pusing." Rayu Akara.
"Mala tambah pusing kalau aku mikirin kamu seharian kodok! Ledek Alara sembari tertawa kecil.
"Jijik tahu nggak. Masa aku bayangin kodok sepanjang hari." Sambung Alara lagi.
"Ya udah. Terserah kamu aja Ra. Aku pergi kerja dulu ya. Takut keburu papa yang datang duluan ke kantor. Nanti aku kena marah lagi." Tukas Akara.
"Ya, udah betek aja kamu kayak cewek." Ledek Alara lagi.
"Aku nggak betek landak! Cuman kesal aja dikit, karena kamu bilang gitu." Jawab Akara dengan nada kesal tapi menahan tawa.
"Ya udah. Buruan berangkat. Nanti papa kita marah lagi." Pinta Alara dengan tertawa puas.
"Nah, itu baru senang aku dengarnya. Oke landak. Aku mau kerja dulu ya sama papa kita." Jawab Akara berusaha menahan tawa.
__ADS_1
"Dah... kodok." Ucap Alara sembari menutup telponnya.
Mereka memang pasangan yang aneh. Padahal udah resmi pacaran. Tapi ya gitu, masih aja gengsian. Caople yang unik.
***
Karena rencana sama Akara batal, dan mumpung hari ini hari Minggu, Alara mau habisin waktu berdua sama Syafa.
Alara sudah siap mau pergi main keluar dengan Syafa. Karena masih pukul tujuh pagi, Syafa belum bangun.
Alara membangunkan Syafa. "Dek...,(Mengusap lembut rambut Syafa) udah pagi. Bangun ya. (Syafa masih setengah sadar) hari ini, kakak ada waktu seharian sama Syafa. Kita jalan-jalan. Ucap Alara.
Kalimat terakhir Alara berhasil membangunkan Syafa.
"Beneran kak....?" Tanya Syafa sambil duduk.
"Iya benar." Jawab Alara sembari tersenyum.
"Sekarang Syafa mandi, lalu siap-siap. Setelah itu kita langsung berangkat." Pinta Alara sembari mengendong Syafa ke kamar mandi.
Syafa telah siap dan mereka segera berangkat menuju taman bermain dekat komplek rumah Alara.
Alara mengunakan sepeda untuk menuju taman. Karena jaraknya juga tidak terlalu jauh dari rumah Alara.
Sampai di taman, Syafa sangat senang. Dia mencoba semua permainan yang ada di taman dan terakhir Syafa main ayunan. Alara membantu mengayun Syafa. Dan kemudian bergantian. Syafa juga pengen mengayun Alara. Mereka saling tertawa lepas.
Syafa tiba-tiba kebelet pipis. Dia minta ditemenin sama Alara ke toilet dekat taman.
Alara mau masuk nemenin Syafa tapi syafa menolak.
"Nggak papa kak. Syafa sendiri aja kedalam. Syafa kan udah gedek." Ucap Syafa sembari tersenyum.
"Ya udah. Jangan lama-lama ya sayang!" Seru Alara.
__ADS_1
"Ya kak Ara." Jawab Syafa
Alara menunggu Syafa. Tiba-tiba ada orang yang pukul punggung Alara dari belakang. Alara sempat berkelahi dengan empat penjahat bertubuh kekar itu. Tapi kondisi Alara sudah mulai lemah. Jadi, dia sudah tidak bisa lagi melawan mereka. Akhirnya Alara tumbang ke tanah. Salah satu penjahat menyuntikan bius ke tubuh Alara. Agar Alara benar-benar pingsan.
Setelah itu mereka membawa Alara masuk mobil.
Syafa melihat Alara diculik dan berlari mengejarnya. Tapi mobil sudah melaju dengan cepat.
Syafa berlari sambil menangis menuju rumah. Sampai di rumah, dia bilang pada pak Kedi dan bibik. Mereka semua panik. Bibik menelpon Alaisa. Alaisa langsung ke rumah Alara untuk menenangkan Syafa yang sudah cemas dan terus menangis.
Alaisa mencoba menelpon Akara. Tapi Akara tidak mengangkatnya. Akara sibuk berkerja.
Penjahat membawa Alara ke gubuk dekat hutan pinggiran kota. Mereka mengikat kaki dan tangan Alara. Alara pingsan cukup lama. Sekarang hari sudah mau gelap lagi.
Di rumah, Alaisa mencari cara untuk melacak keberadaan Alara. Tapi masih belum dapat solusinya. Kalau pergi ke kantor polisi, pasti di suruh lapor setelah 24 jam Alara dinyatakan menghilang. Alaisa mencoba menghubungi Akara lagi. Tapi masih belum diangkat.
Alara telah sadar. Dia berusaha melepas ikatannya. Sedikit lagi Alara berhasil melepas ikatan kakinya. Tapi tiba-tiba, dua penjahat masuk untuk melihat keadaan Alara. Ikatan Alara lepas, lalu dia berusaha melawan para penjahat itu. Namun gagal karena mereka berempat, dan badan mereka kekar-kekar. Salah satu penjahat menampar Alara. Karena terus saja memberontak. Alara kembali dibius. Sewaktu dibius, pandangan Alara menjadi buram tapi masih sedikit sadar.
Alara melihat ada seseorang yang masuk melewati pintu menuju dirinya. Dia memakai baju rapih. Dan orang itu menyuruh semua penjahat itu untuk pergi. Di dalam ruangan itu tinggal Alara dan dia.
Alara melihat dia, membuka jaketnya. Kemudian membuka sepatunya. Setelah itu penglihatan Alara menghilang. Alara kembali pingsan kerena sudah tidak bisa menahan pengaruh bius yang masuk ke tubuhnya.
Hari sudah pagi, Alara bangun. Dan terkejut dengan kondisinya. Baju dan celana Alara tidak terpasang rapih. Kemudian alara merapihkan pakaiannya. Setelah itu mencoba untuk berdiri. Ketika ingin berdiri, Alara merasakan nyeri di bagian vaginanya.
Alara syok melihat ada darah yang mengalir di kakinya. Dia berusaha berjalan keluar, untuk pulang. Di luar gubuk itu, Alara sudah tidak melihat para penjahat itu lagi. Alara terus berjalan menelusuri semak-semak. Karena gubuk itu berada agak jauh dari pusat kota, dan Alara sampai di jalan aspal. Dia berusaha menghentikan setiap kendaraan yang ia temui.
Tapi tidak ada kendaraan yang mau berhenti. Darah Alara semakin banyak keluar. Alara mulai lemas dan sudah tidak sanggup lagi untuk berjalan. Ada satu mobil lagi yang lewat. Alara tetap berusaha menghentikan mobil itu. Karena sudah tidak sanggup, alara pingsan di tengah jalan.
Sebuah mobil berhenti. Dia keluar untuk melihat orang yang tergeletak dijalan. Dia terkejut melihat kondisi perempuan yang ada di hadapannya. Dia segera memasukan Alara ke dalam mobil, dan membawanya ke rumah sakit, dengan kecepatan mobil yang cukup tinggi.
Alara sampai di rumah sakit dan segera ditangani dokter. Dokter meminta untuk segera menghubungi keluarga pasien. Pria itu, mencari ponsel dalam tas yang dibawa Alara. Tapi dia tidak menemukan ponsel Alara. Dokter memanggil pria itu. Dokter bilang, Alara kekurangan banyak darah. Dia butuh transfusi darah secepatnya. Pria itu memeriksa golongan darahnya dan ternyata cocok dengan Alara. Dia mendonorkan darahnya untuk wanita yang sama sekali tidak dikenalnya itu.
...Bersambung...
__ADS_1