ANAKARALA

ANAKARALA
45. Berdamai dengan Masa Lalu


__ADS_3

Hari ini, adalah hari persidangan untuk kasus pele**han sek**al yang pernah di alami Alara beberapa tahu lalu.


Sebelumnya kasus itu sudah di nyatakan selesai. Karena pelakunya sudah tertangkap. Tapi Alara meminta untuk kasusnya di buka kembali. Karena dia punya saksi dan bukti yang kuat, untuk menangkap dalang dari semua kejadian yang terjadi waktu itu.


Proses persidangan sedang berlangsung. Alara datang di temanin mama, ayah Alaisa, Shafan dan Akara. Tersangka (papanya Kaisa) berusaha menyangkal semua bukti yang ada. Pengacara papanya Kaisa, memberikan penjelasan dan bukti yang menyatakan bahwa, kliennya tidak melakukan hal tersebut.


Hakim meminta pihak yang menggugat untuk menghadirkan saksi atau bukti yang bisa lebih memberatkan pihak tergugat.


Alara dan yang lain menunggu kedatangan Kaisa. Alara melihat ke pintu masuk, dan berharap Kaisa segera datang. Shafan mulai jengkel dengan situasi ini.


"Gue bilang juga apa. Dia nggak bakalan berani ngelawan papanya. Buktinya sampai sekarang dia belum datang-datang." Gumam Shafan.


"Udah la fan. Kita tunggu aja dulu, Lo jangan tambah bikin cemas Alara dong fan." Tegur Akara.


"Bagaimana pihak penggugat, apakah ada bukti lain atau saksi? Jika tidak ada, maka sidang ini akan kita tutup." Ucap Hakim.


"Mohon beri kita waktu beberapa menit lagi hakim. Kita lagi menunggu kedatangan saksi." Pinta pengacara Alara.


Pengacara papa Kaisa ikut mendesak hakim. Pengacara bilang, waktu tunggunya sudah cukup lama dan saksi yang pihak penggugat bilang belum datang-datang. Pengacara papa Kaisa memberikan saran pada hakim untuk segera mengambil keputusan. Hakim masih bersedia mengunggu lima menit lagi.


Alara sudah mulai pasrah dengan apa yang akan terjadi. Dia menyerahkan segala keputusan pada hakim. Dia sudah tidak berharap kehadiran Kaisa lagi. Mungkin memang benar kata Shafan, kalau Kaisa nggak bakalan berani buat melawan papanya.


Waktu tunggu untuk kehadiran saksi Alara, tinggal dua menit lagi. Tiba-tiba pintu terbuka. Papa Kaisa terkejut dengan kedatangan Kaisa, bagaimana bisa Kaisa berhasil meloloskan diri dari sekapan anak buahnya. Alara dan yang lain jadi lega.

__ADS_1


"Mohon maaf atas keterlambatan saya." Ucap Kaisa, dengan napas yang masih terputus-putus karena dia berlari untuk sampai ke pengadilan.


"Dasar anak buah nggak berguna. Menahan satu cewek aja masih nggak becus." Grutu papa Kaisa dalam hati.


Kaisa menyampaikan semua keterangan yang dia ketahui tentang perbuatan papanya. Dan bukan hanya itu, Kaisa mengasih rekaman suara, yang semakin memberatkan papanya.


Kaisa merekam pembicaraan papanya sewaktu papa Kaisa, meminta anak buahnya, untuk mengurung Kaisa, sampai persidangan berakhir. Karena papanya tidak mau Kaisa bersaksi atas perbuatan yang telah ia lakukan.


Dari semua bukti yang ada dan di tambah saksi, hakim memutuskan, hukuman penjara seumur hidup untuk tersangka.


Papa Kaisa tidak terima dengan keputusan hakim. Petugas langsung memborgol tersangka. Kaisa meminta waktu bicara dengan papanya sebentar.


"Kaisa minta maaf ya pa. Bukan Kaisa nggak sayang sama papa. Justru karena Kaisa sayang sama papa, makanya Kaisa harus lakukan hal ini pak. Sampai kapan papa akan sanggup menyembunyikan hal ini pak. Kaisa yakin, papa pasti bisa lewatin ini semua pa. Semoga setelah ini papa bisa kembali kejalan yang benar lagi ya pa. Kaisa minta maaf sama papa, ini semua terjadi karena kesalahan Kaisa. Kalau Kaisa nggak buat ulah, pasti papa juga nggak bakalan berbuat seperti itu ke Alara. Kaisa sayang sama papa." Tutur Kaisa sambil terus menangis.


Papa Kaisa sudah di bawa sama petugas, Alara menghampiri dan memeluk Kaisa yang masih saja menangis.


"Makasih ya Kai. Kamu udah tepatin janji kamu." Ucap Alara lega.


"Gue yang makasih, karena lo udah berlapang dada mau maafin gue Ra." Timpal Kaisa sembari melepas perlahan pelukan Alara.


"Maafin gue Fan, Ka. Maafin saya Tante, Om. (Sambil menundukkan kepala nya di hadapan mama Alara dan ayah Alaisa). Masalah Alara udah selesai. Papa udah mendapatkan hukumannya. Sekarang giliran gue yang harus menyerahkan diri, atas apa yang udah gue perbuat pada keluarga Alaisa." Gumam Kaisa.


"Kalau soal itu udah nggak perlu Kai. Dengan kamu udah sadar, dan menyesal atas apa yang kamu perbuat dan kamu mau berubah ke arah yang lebih baik, itu udah lebih dari cukup Kai. Jadi kamu nggak usah menyerahkan diri kamu ya Kai." Kata Alara meyakinkan Kaisa.

__ADS_1


"Tapi Ra...." Ucapan Kaisa terputus karena ayah Alaisa angkat bicara.


"Apa yang kamu lakukan pada keluarga saya memang sangat keterlaluan. Tapi di balik itu semua, apa yang dibilang Alara itu benar. Saya sebagai suami dari istri saya dan ayah dari Alaisa, memaafkan kamu. Saya yakin Alaisa dan istri saja juga setuju dengan keputusan ini. Jadi kamu mulai membenahi diri, dan melakukan cita-cita kamu, layaknya anak-anak di usia kamu nak." Jelas ayah Alaisa sembari tersenyum.


"Saya sebagai mama Alara juga udah maafin kamu nak. Semoga kedepannya hal ini jangan sampai terulang lagi." Timpal mama Alara.


"Makasih banyak Om, Tante dan semuanya🙏. Saya sangat berterima kasih." Ucap Kaisa dengan haru. Dia tidak menyangka orang yang dia benci selama ini hati nya sangat baik.


Kaisa pamit pergi duluan, kemudian baru di susul dengan Alara dan yang lainnya.


***


Sepulang dari pengadilan, Alara izin sama mamanya untuk pergi ke suatu tempat dulu.


Alara sampai di makam Alaisa.


"Hi La. Maaf ya aku baru sempat datang lagi semenjak kunjungan terakhir waktu itu."


"La, aku cuma mau bilang sama kamu, kalau kejadian yang menimpa kamu dan aku dimasa lalu, semuanya udah selesai La. Semuanya udah terbongkar. Dan berita yang lebih membahagiakan lagi, kamu masih virgin La."


"Dugaan kamu selama ini benar. Makanya waktu aku suruh kamu buat tes keper***nan waktu itu, kamu nggak mau. Hanya aku saja yang jadi ikut tes waktu itu La." Ucap Alara dengan raut wajah yang tadi bahagian, tiba-tiba berubah menjadi lesu. Hal itu terlihat dari sorot mata Alara.


"Karena semuanya udah selesai, sekarang kamu bisa benar-benar tenang di sana La. Kamu nggak perlu merasa sakit kepala lagi, karena trauma masa lalu yang belum terpecahkan waktu itu. Tapi sekarang sudah terungkap semuanya. Bahagia di sana ya La. Aku akan selalu mendoakan kamu La." Tutur alara dengan menghela napas kemudian baru bisa tersenyum lega.

__ADS_1


...Bersambung...


__ADS_2